
"Stop."
Tangan yang tadinya memegang tangan sang ibunda kini terlepas, karena Daniel terkejut mendengar suara Sarla berteriak.
Lelaki berbadan kekar itu kini berdiri dihadapan Sarla dengan raut wajah kesal, " apa maksud kamu, Sarla. "
Sarla hanya menundukkan pandangan, tak berani berucap satu patah katapun. " Sarla. " kini Daniel menyebut nama Sarla lagi, namun Sarla tetap diam membisu.
"Sarla, aku bertanya padamu, kenapa?"
Sarla berusaha tetap tenang, " aku tidak mau bayiku ini di sentuh oleh ibumu yang sedang sakit ini, jadi mengertilah, dia masih dalam tahap menyembuhan. Jadi orang tua yang bijak, kamu tidak mendengar apa kata dokter tadi!"
Daniel yang terlapau kesal, kini menunjuk wajah yang tertutup cadar itu, " Sarla. Kamu. "
Alenta berusaha mengerakan tangannya agar Daniel tidak memarahi Sarla lagi, berusaha dengan sekuat tenanga, mengoyangkan kursi roda.
"Apa, hah. Aku ini mengatakan sesuai apa yang dikatakan dokter. "
"Sarla, tapi dia ibuku, walau hanya menyentuh. Itu tidak akan jadi masalah, kamu saja yang terlalu berlebihan. "
Daniel kini menggerakan lagi tangan Alenta, untuk memegang bayi mungil itu, sampai Sarla hilang kendali.
"Daniel." Tangan Alenta tiba tiba dihepaskan Sarla dimana kursi roda terlihat mengeser sedikit.
"SARLA."
Sarla tak mempedulikan teriakan Daniel, ia hanya ingin melihat bayinya sehat kembali.
"Nak, kamu aman dengan mama ya sayang. "
Daniel menatap sang ibunda, lalu mengusap perlahan kepala rambut Alenta.
"Ibu, baik baik saja kan. "
Alenta menitihkan air mata, hingga rintikan air mata itu terlihat oleh Daniel jatuh ke dasar pipi.
Menghembuskan napas, Daniel bangkit lalu mendekat kearah Sarla. Menarik cadar yang tertutup itu, hingga terbuka.
" Daniel. "
Ita yang melihat pemandangan itu sontak terkejut dan berkata, " astaga Nyonya Sarla. "
Daniel terlanjur kesal, kini menampar Sarla. Plakk ....
"Baru kali ini aku menampar kamu Sarla. Karena kamu kurang ajar terhadap ibuku. "
Alenta tak ingin melihat pemandangan itu, ia ingin menahan tapi tak kuasa.
"Daniel, kamu tidak berhak menyakitiku, karena kamu buka siapa siapaku lagi, akan kutuntut kamu. "
__ADS_1
"Silahkan saja, aku tak takut. "
Sarla kini mengambil cadar dan kerudung yang selalu menutupi kepala rambut dan juga wajahnya. Dari tangan Daniel, sampai dimana Daniel melemparkan kerudung itu.
"Daniel, keterlaluan kamu. "
Daniel, hanya tersenyum sinis tak peduli dengan perkataan Sarla, " kamu pantas mendapatkan perlakuan ini, karena kamu tidak menghargai ibuku."
Memunggut kerudung dan memasangkannya kembali, dokter datang dan berkata. " Pak Daniel dan Bu Sarla, saya berharap kalian tidak menggunakan kontak fisik dan hanya kontak mata saja. Karena ditakutkan, keadaan bayi kalian malah semakin memburuk. "
Baru saja perdebatan itu selesai, dokter mengatakan hal yang sama percis dikatakan Sarla, Daniel mulai bertanya kembali, " kenapa dokter baru mengatakan hal itu kepada saya sekarang?"
Dokter terkejut dan mejawab, " bukannya dari awal anda masuk ke ruangan bayi anda saya sudah memberitahu, apa anda lupa!"
Daniel mencoba mengigat apa yang dikatakan Dokter sebelum masuk ke ruangan bayinya.
Dan ingatan itu datang secara tiba tiba, ternyata Daniel terlalu terburu buru, hingga ia lupa amanah sang dokter.
"Apa anda ingat? "
Pertanyaan dokter membuat Daniel menganggukkan kepala, yang salah atas semuanya ternyata dirinya sendiri.
"Maafkan saya dok, saya lupa!"
Dokter mulai mengecek kembali bayi mungil itu, Sarla seorang ibu yang begitu cemas, kini bertanya lagi. " Dokter, bagaimana keadaan bayi saya. Jadi kapan saya bisa membawanya pulang. "
Dokter kini menjawab, " kami akan memantau kesembuhan bayi ibu, melihat perkembangan dan daya tahan tubuhnya, jika semua baik, insa allah bayi ibu bisa pulang. "
"Oh ya Bu Sarla, disarankan anda memberikan bayi anda asi dari sekarang, kami tidak menyarankan pengunaan susu formula terlebih dahulu."
"Baik dok. "
"Jika anda kesulitan, bisa tanyakan lagi pada saya. "
Dokter kini menyuruh suster untuk memberikan kantung asi pada Sarla, " Bu Sarla, kami akan membantu anda. "
"Terima kasih sus. "
.
Suster dan dokter pergi dari ruangan, dimana Sarla menatap tajam ke arah Daniel, rasa kesal menggebu gebu.
Dimana Daniel merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan.
Ita hanya diam, ia tak mau ikut campur setelah melihat kejadian tadi.
Sarla yang dipanggil oleh suster, kini pergi dari ruangan bayinya.
"Sarla."
__ADS_1
Panggilan dari Daniel membuat Sarla menjawab, " kenapa lagi. Kamu mau menyalahkan aku, atau mau menamparku lagi, Daniel kamu memang laki laki terpamental tak pernah berpikir jerni dan selalu mengandalkan emosi, oh ya. Apa kamu tidak malu pada dirimu sendiri Daniel?"
Sarla meluapkan semua kekesalannya, ia juga masih merasakan rasa sakit pada pipinya karena tamparan keras yang dilayangkan Daniel.
Belum rasa malu dan seakan direndakan begitu saja di depan orang orang di dalam ruangan.
"Sarla."
Kembali lagi Daniel memanggil nama Sarla, membuat Sarla berusaha tetap menanggapi perkataan mantan suaminya.
"Ada apa lagi?"
Pertanyaan Sarla membuat Daniel menjawab, " maafkan aku. "
Kata maaf itu tak mampu menyebuhkan luka dan rasa sakit pada pipi Sarla, apalagi hati Sarla.
"Maaf." Ucap pelan Sarla terlihat tak terima, ia kini pergi dari hadapan Daniel dan juga mertuanya.
"Sarla, aku minta maaf. Kenapa kamu tak menjawab. " Teriakan kembali dilayangkan oleh Daniel.
"Sarla."
Tetap Sarla pergi menjauh, mengikuti langkah kaki suster.
Daniel mengepalkan tangan, memukul tembok. " Ahk sialan, dasar bodoh kamu Daniel, bisa bisanya kamu menyakiti wanita yang kamu cintai." Mengerutu kesal dirinya sendiri dalam hati.
Sang ibunda ingin sekali mendekap anaknya dan menenangkan dari kekesalan yang dirasakan Daniel saat itu.
Namun apa daya tangan tak sampai, Alenta tak bisa berbuat apa apa, dia hanya bisa menangis karena tubuhnya yang tak berdaya. Membuat ia duduk dan menyaksikan tangisan anaknya itu.
"Daniel, andai ibu bisa merangkul kamu saat ini, mungkin kamu akan tenang."
Ita mendekat ke arah Alenta, ia tahu apa yang dirasakan majikannya saat itu.
"Nyonya Alenta, sebaiknya kita keluar dari ruangan ya."
Alenta berusaha menganggukkan kepala, dimana Ita membawa sang majikan pergi dari ruangan bayi Sarla.
Daniel melihat Ita membawa sang ibunda kini bertanya, " mau kamu bawa kemana ibu, Ita. "
"Anu, Tuan. Nyonya belum makan, jadi saya ingin menyuapi nyonya sekarang. "
Daniel menatap ke arah sang ibunda, " Biar saya saja yang menyuapi ibu. "
"Baik Tuan. "
Mereka bertiga kini keluar, dimana Sarla datang setelah mengambil alat yang disarankan dokter untuk memompa asi.
Sarla tak mengeluarkan suara sedikitpun, ia masuk lagi ke ruangan bayinya. Tatapan Sarla begitu dingin, tak mempelihatkan jika ia sudah memaafkan Daniel.
__ADS_1
Tiba dimana Alenta berusaha menghentikan Daniel, dengan mengeluarkan suara sedikit sedikit.