
Setelah keluar dari ruangan Danie, Sarla mulai mengirim pesan kepada mertuanya,( Bu, Sarla pamit pulang ya.)
Alenta baru saja selesai menandatangani berkas yang begitu menumpuk, iya lalu melihat layar ponselnya tampak berkedip. Mengambil lalu membaca isi pesan itu.
Sontak, Alenta terkejut dengan pesan itu, ( Sayang kok kamu mau pulang, jadi yang menunggu Daniel sekarang siapa?)
Sarla berjalan menuju ke mobilnya, kini berhenti untuk melihat jawaban dari mertuanya itu.
Dengan perasaan tak enak hati, karena memang Sarla tak seharunya pergi, membuat ia berusaha membalas tanpa mengecewakan sang mertua.
( Yang menunggu Daniel saat ini ada Rafa, dia berkunjung.)
Alenta sebenarnya sudah tahu akan hal yang dikatakan oleh menantunya, tetapi tetap saja yang diinginkan Alenta hanya sosok Sarla yang menemani.
(Ya sudah kalau begitu, hati-hati di jalannya sayang, kamu harus bisa menjaga kandunganmu itu.)
Sarla mengukir senyumannya itu dari kedua ujung bibir, iya lalu menjawab pesan dari sang mertua. (Iya mah, mama juga di sana hati hati ya kerjanya, jangan telat makan.)
Sarla mengakhiri kiriman pesan itu bersama dengan mertuanya, ia mulai menaruh ponsel pada saku celana, untuk segera naik mobil dan fokus menjalankannya sampai di rumah.
Alenta membaca pesan yang penuh perhatian, dari menantu keduanya itu, membuat ia tampak bahagia, karena sudah lama ia tak pernah mendengarkan kata-kata perhatian dari siapapun.
Sarla merasa tak kuat menahan kedua air matanya, dia mencoba tetap tegar namun tak bisa. Sampai pada akhirnya iya tak kuat lalu menumpahkan semua air mata yang berlinang.
Sarla menangis terisak-isak, membasahi cadarnya, masalah dengan Lilia dan juga ayahnya belum selesai, apalagi masalah Daniel yang mengalami Amnesia.
Sudah cukup lengkap penderitaan yang dialami oleh sarla. Wanita itu hanya bisa pasrah menjalani kehidupannya, untuk membesarkan bayi dalam perutnya sendirian.
Pulang ke rumah, Lilia sang adik tetap saja mengunci pintu kamarnya.
Sarla sengaja meninggalkan sang adik, untuk menemui Daniel sementara waktu.
Sarla juga mengirim pesan kepada sang papah. (Papah, apa bisa papah tak usah terlalu menekan Lilia. Papah harusnya mengerti jika Lilia itu tak mempunyai sosok seorang ibu. )
Gunawan melihat balasan dari Sarla, membuat ia mengacak rambutnya dengan begitu kasar, lalu berkata. " kenapa keluargaku malah hancur seperti ini, Dera dan juga Lani belum juga, ditambah lagi Lilia yang begitu membenciku."
(Papah akan berusaha sebisa mungkin, untuk merubah sifat papah, yang tak pernah adil kepada Lilia.)
Membaca pesan dari sang papah, membuat Sarla pada akhirnya bisa bernapas lega.
Sebagai seorang anak pertama Sarla harus kuat, menghadapi semua cobaan yang ada, walau terkadang ia rapu dan hampir menyerah.
"Lilia, sayang ini kakak apa kamu tidak mau ke luar untuk melihat udara malam hari ini?"
__ADS_1
Sarla mencoba membujuk sang adik, namun beberapa kali memanggil adiknya itu, Lilia tak ada keluar sama sekali.
"Lilia, kenapa kamu begitu susah di bujuk." Gumam hati Sarla.
Tak putus asa Sarla mencoba merayu Lilia dengan berbagai jajanan. " Lilia ayolah, kamu memang tidak tertarik apa, kakak mau beli sesuatu loh."
Bujukan Sarla berulang kali dilayangkan, dengan bebagai cara, tetap saja tak berhasil.
"Harus dengan cara apa lagi ya, agar adikku ini. Keluar dari kamarnya, kenapa dia begitu susah sekali. "
Sarla yang kini putus asa mulai melangkahkan kaki pergi dari kamar sang adik, hingga dimana pintu kamar terbuka.
"Kak Sarla."
Membalikkan badan Sarla menatap ke arah adiknya itu," ayo Kak katanya mau ngajak Lilia jalan jalan. "
Sarla tersenyum lebar melihat sang adik sudah bersiap-siap, " baiklah ayo. "
Mereka mulai bergegas pergi, menuju ke taman hiburan di malam hari, terlihat Lilia sudah melupakan kesedihan. Ya mulai merangkul sang adik lalu berkata, " Maafkan Lilia ya kak, Lilia ini egois. "
"Iya." Sembari mengusap pelan air mata Lilia, Sarla berusaha membuat sang adik tersenyum lagi.
"Terima kasih ya kak. Selalu ada di saat Lilia bersedih. "
Obrolan kedua adik kakak itu terhenti, saat seseorang memanggil nama Lilia.
"LILIA."
Kedua adik kakak itu menatap ke arah sumber suara itu dan terlihat sang papah melabai lambaikan tangannya.
Berlari memeluk Lilia dengan penuh isak tangis, " maafin papah ya. Sayang. Beri papa kesempatan untuk bisa memperbaiki semuanya, papah sayang sama kamu Lilia. "
"Lilia juga sayang sama papah."
Melihat obrolan keduanya, Sarla hanya bisa tersenyum lalu berkata, " akhirnya mereka tidak lagi bertengkar. "
Sarla sadari ada sosok wanita berpakaian hitam memperhatikan dirinya, Sarla penasaran, lalu berlari mendekat ke arah wanita tua itu.
"Hey tunggu. "
Dengan sekuat tenanga Sarla mengejar wanita tua itu, rasa penasarannya menggebu. Ia meraih tangan wanita tua yang berlari tergopoh gopoh.
Hingga wanita tua itu berdiri dihadapan Sarla, ia menundukkan pandangan, menatap Sarla pun seakan enggan.
__ADS_1
"Siapa kamu? Kenapa aku melihat kamu memperhatikan kami."
Suara itu tak terdengar sama sekali, wanita tua itu hanya diam lalu pergi. Namun Sarla tak memberiakan ia pergi menahan dengan sekuat tenanga.
Lilia mulai menyusul begitupun dengan sang papah.
"Sarla sedang apa kamu di sini. "
Wanita tua itu hampir lari, tapi Sarla menahannya.
Gunawan mendekat ke arah wanita tua itu, lalu bertanya?" Siapa dia? Kenapa kamu menahannya, apa kamu kenal dengan dia?"
Lilia bersembunyi dibalik kaki sang papah, ia seakan ketakutan melihat sosok wanita tua itu menatap ke arahnya.
"Kamu kenapa sayang," ucap Gunawan kepada anak keduanya.
"Lilia takut pah, mukannya seram, " balas Lilia, wanita tua itu berusaha pergi, namun tertahan oleh Sarla.
"Lepaskan saya. " ucap Wanita tua itu, berusaha memberontak, tetapi Sarla tidak tinggal diam ia malah membuka penutup wajah wanita tua itu.
Lilia yang melihat raut wajah wanita tua itu langsung menutup kedua matanya, ya tak percaya dengan penampakannya.
Mengambil kain yang menutupi wajahnya dari tangan sarla, wanita tua itu bergegas berlari untuk menghindar dari hadapan Sarla.
"Tunggu."
Sarla mulai mengejar wanita tua itu kembali, namun tertahan oleh sang papah. "Pah."
" sudah ngapain kamu mengejar orang yang tidak kamu kenal?"
"Tapi pah, Sarla penasaran sekali dengan orang itu, dia itu selalu memperhatikan aku dan Lilia. "
Sang papah mencoba menenangkan anak pertamanya itu, " mungkin itu hanya perasaan kamu saja, sudah sebaiknya kita pulang Ini sudah malam."
"Ya kak, Lilia ingin tidur, ngapain juga kakak ngejar wanita buruk rupa itu, " timpal Lilia, dimana sang papah menasehati anak keduanya.
"Lilia nggak boleh bengitu ya sayang. "
"Tapi pah, mema .... "
Belum perkataan Lilia terlontar semunya, sang papah kini menghentikan ucapan anak keduanya itu. " papah tadi bilang apa. "
"Ya, pa. "
__ADS_1
Mereka mulai bergegas pulang ke rumah. Namun di saat perjalanan, Sarla membalikkan wajah, menatap wanita tua itu yang sudah pergi menjauh dari hadapannya, ia berusaha tidak mencari tahu lagi.