
Tatapan mata Alenta, mengisatkan betapa ia tak menyukai perkataan kasar dari mulut Wulan.
Wulan berusaha mengambil berkas berwarna biru itu, merebut hingga Alenta tersungkur jatuh ke atas lantai. " Wulan, berani kamu. "
Daniel terkejut, ia berusaha menolong sang ibunda untuk berdiri. " Wulan. "
Wanita bermata sipit itu tidak mempedulikan suaminya yang terlihat murka, Iya lalu membuka lembaran kertas surat perjanjian pernikahan kontrak antara Daniel dan juga Sarla.
"Sudah aku duga. "
Alenta gagal menyatukan Sarla dan Daniel, karena surat perjanjian itu dibaca oleh Wulan.
"Daniel, coba kamu lihat ini." ucap Wulan, mempelihatkan tulisan yang akan membuat Daniel terkejut.
Alenta terburu buru mengambil berkas itu dari tangan Wulan, namun. " Hey, santai saja bu, aku mau menyuruh suamiku ini membaca surat perjanjian. "
"Wulan."
Alenta yang memanggil nama menantunya, membuat Wulan tersenyum kecil. " Kenapa? Bu. "
"Kembalikan berkas itu, " bentak Alenta.
Wanita tua itu terlihat marah besar terhadap menantunya, ia mempelihatkan kekesalnnya saat itu. Berusaha mendekat dan menjabak rambut Wulan.
Daniel berusaha memisahkan keduanya, " cukup. Jangan bertengkar lagi. Hentikan."
Keduanya tidak mau berhenti, malah saling menjabak satu sama lain, dimana Daniel murka berusaha mengerahkan tenaganya untuk memisahkan sang ibu dan juga istrinya.
"Bisa bisanya kalian bertingkah seperti anak kecil, kalian itu tidak punya malu apa?"
Menundukkan wajah, sang ibu tiba tiba memegang dada, merasakan sesuatu yang menyakitkan.
"Ahk, dadaku rasanya sakit sekali. "
Alenta terjatuh ke atas tanah, wanita tua itu jatuh pingsan. " Bu, ibu."
Daniel berusaha membangunkan sang ibunda, mengoyang goyangkan bahunya, memegang pipi. Detak nadi dan jatung masih setabil.
"Bu, bangun. Bu."
Tak ada respon sama sekali dari wanita tua itu, tampak Wulan kuatir, " Biar kita bawa ibu ke rumah sakit. "
"Wulan sebaiknya aku saja yang membawa ibu ke rumah sakit, dan kamu sebaikanya mendatangi Sarla, memberi tahu kata talak dan memberikan berkas itu padanya."
__ADS_1
"Baiklah."
Wulan mulai menaiki mobil untuk segera pergi menemui Sarla. Dimana Daniel bergegas membopong sang ibunda membawa wanita tua itu pergi ke rumah sakit.
********
Didalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk menemui Sarla, Wulan berusaha tenang, ia berharap jika mertuanya tidak kenapa kenapa.
"Walaupun aku kesal pada mertuaku, tetap saja aku menghargai dia. "
Hanya menempuh perjalanan dua puluh menit saja, untuk sampai di rumah sakit dimana Sarla berada.
Masuk ke dalam ruangan, sontak Sarla terkejut begitupun dengan Gunawan.
"Hai, Sarla. Apa kabar?" Pertanyaan Wulan membuat Sarla hanya diam tak menjawab sama sekali, seperti terkejut karena yang datang bukanlah Daniel dan juga ibu mertua.
"Sarla." panggil kembali Wulan, dimana Gunawan menepuk punggung anaknya. Membuat lamunan Sarla membuyar.
"Kamu kenapa Sarla, terkejut karena melihatku?" pertanyaan Wulan membuat kedua pipi Sarla memerah.
Wulan semakin mendekat, melihat bayi mungil yang sudah lama ditunggu suaminya.
"Lucunya."
Senyuman Wulan mengambarkan, jika ia masih meyimpan kekesalan pada Sarla.
"Boleh aku menggendong anak Daniel ini?"
tanya Wulan, ingin melihat lebih dekat anak yang dilahirkan madunya.
Sarla berusaha berpikir Positif, ia kini menyerahkan anaknya pada Wulan.
Anak itu sudah ada digendongan Wulan, dimana Wulan hanya menatap sinis.
"Anak yang lucu. "
Terlihat sekali jika Wulan tak menyukai anak Sarla, ia menyerahkannya lagi pada Sarla.
"Owh ya, sesuai permintaan kamu. Daniel sudah menandatangani surat perjanjian kontrak, dan ini berkasnya. "
Sarla perlahan mengambil berkas berwarna biru itu, melihat isi di dalamnya. Sudah ditanda tangani oleh Daniel.
"Oh ya, Ibu tidak bisa datang ke sini karena masuk ke rumah sakit. "
__ADS_1
Sarla terkejut dengan berita yang dikatakan Wulan, " kenapa dengan ibu?"
Tanya Sarla tampak cemas.
"Ibu mengalami serangan jantung, ia syok karena aku merebut berkas biru itu dari tangannya!" Mendekat dan berkata kembali. " Kamu tahu, wanita tua itu sudah mengganti berkas itu dalam waktu semalam. Dengan berkas yang sudah jauh hari ia persiapkan, aku juga tak mengerti dengan wanita tua itu, entah apa rencannya. "
Mendengar penjelasan dari Wulan membuat Sarla begitu kuatir. Wulan masih menantap Sarla, ia kini memanggil Bi Siti. " Bi Siti. "
"Iya nyonya. "
"Bi, tolong gendong bayi itu. Soalnya aku kurang suka sama bayi. "
Mendengar perkataan Wulan membuat Sarla terkejut, dimana Wulan kembali berucap, " owh ya, selama bayi ini bersamaku, kamu jangan harap bayi ini akan bahagia. "
Mengepal selimut rumah sakit, Sarla kini menjawab, " gila kamu Wulan, walaupun kamu tidak menyukai bayi yang aku lahirkan, kenapa kamu menyetujui perjanjian denganku waktu itu. "
Wulan malah tertawa terbahak bahak, " Bodoh kamu, itu hanya pancingan saja, agar kamu sadar diri jika Daniel itu tidak akan menjadi suamimu seutuhnya. "
"Heh, Wulan. Aku tidak ada niat sama sekali hidup bersama lelaki yang sudah beristri. " Mendengar perkataan Sarla, malah membuat Wulan membuang ludah." Jangan munafik kamu. Selama kamu menikah dengan Daniel, pasti kamu mempunyai perasaan dengan suamiku. "
" Mbak Wulan, kalau memang aku mempunyai perasaan pada Daniel, kemungkinan besar aku akan mencari cara agar suamimu itu tetap mengigatku, tapi kamu lihat sendirikan, aku tidak ada niatan saat Daniel hilang ingatanpun karena kecelakaan. "
Wulan terlihat tak mau kalah debat dengan Sarla, ia malah berkata, " sudahlah, itu hanya keluar dari mulutmu saja, tidak pada hatimu."
Gunawan kini menimpal perkataan Wulan, " kamu ini wanita, seharusnya sesama wanita kamu harus menghargai bukan malah menghina dan merasa paling benar. "
Wulan menatap ke arah lelaki tua berambut putih itu, " Waw, ternyata Sarla mendapatkan pembelaan. "
"Sebagai seorang ayah, aku tak suka jika anakku dihina dan dicaci maki oleh orang lain. "
Semakin Gunawan membela anaknya, semakin Wulan menghina Sarla.
"Sudah cukup, hentikan. Jangan berdebat. "
Gunawan dan juga Wulan kini menghentikan perdebatan mereka berdua. Saat Sarla membentak keduanya.
"Mbak Wulan apa bisa Mbak menepati janji mbak untuk menyayangi anakku, jika mbak tidak bisa aku tidak akan menyerahkan anak ini. "
Tawa kini terdengar jelas dari mulut Wulan, " hey, perjanjian tetap perjanjian, tidak boleh kamu seenaknya begitu, karena urusan mengasuh itu tidak ada hak lagi denganmu. Jadi terserah aku dong. "
Sarla merasa sakit hati dengan perkataan Wulan, ia ketakutan jika bayi yang ia lahirkan malah diperlakukan tidak baik.
Wulan kini menatap jam pada tangannya, " sudah jam dua sore. Sarla, aku pamit dulu, dan surat talak nanti aku akan memberi tahu Daniel yang tak mengakui kamu sebagai istrinya. "
__ADS_1
Wulan pergi dengan raut wajah bahagianya, dimana Sarla hanya bisa pasrah dan menangis, perjanjian tidak bisa dibatalkan seenaknya, karena sudah tertulis dalam berkas.