
"Apa bibi tahu tempat aborsi di daerah sini?"
Kadua mata sang pembantu membulat, mendengar apa yang dikatakan Wulan," Apa nyonya tidak salah berucap?"
Wulan sempat ragu mengatakan hal beresiko bagi dirinya, karena pastinya akan mengundang semua pertanyaan dan masalah besar. Ia menempelkan telunjuk jari tangan pada bibir tipisnya itu.
"Hust, jangan keras keras. Jangan sampai terdengar orang di luar, yang tahu hal ini hanya aku dan bibi."
Pembantu itu, menganggukkan kepala berusaha menutup mulut, agar orang orang di rumah tak mencurigainya.
"Bagaimana bi, apa bibi bisa membantu saya?" Tanya kembali Wulan dengan penuh harapan, karena dengan cara seperti ini, Wulan bisa menutup aibnya sendiri. Ia tidak mau berpisah dengan Daniel yang sudah menjamin kehidupannya.
Walau mungkin Daniel selalu menuntut Wulan menjadi ibu rumah tangga yang baik, bukan menjadi wanita karir.
Kedua tangan Wulan menggengam erat kedua tangan pembantunya itu, berharap jika wanita tua yang sudah mengetahui kehamilannya membantu Wulan saat itu juga.
Karena harapan ada ditangannya, demi melangsungkan rumah tangga yang baik dengan Daniel.
Menundukkan wajah, seorang pembantu bernama Bi Santi berusaha memikirkan perkataan Wulan.
"Bi, gimana?" Wajah Wulan terlihat begitu menyimpan penuh harapan, hanya ada sosok seorang Bi Santi yang selalu mengerti kehidupannya.
Bi Santi tak tega dan tak kuasa jika harus menggugurkan bayi dalam kandungan, karena semua itu adalah perbuatan dosa yang sangat besar.
"Kenapa mau dihilangkan bayinya, Non. Padahal kasihan, bukanya Pak Daniel itu mengiginkan sekali seorang anak. Nyonya kenapa mau menggugurkannya."
Wulan bingung harus menceritakannya bagaimana lagi, karena sejatinya ia benar benar diambang kehancuran. Dan rasa takut yang terus menghantuinya.
"Panjang ceritanya bi, jika bibi ingin tahu. Semuanya, " balas Wulan, membuat Bi Santi sang pembantu akhirnya setuju.
Karena tak tega melihat wajah memelas Wulan, wanita paruh baya itu memberi tahu tempat aborsi. Wulan merasa lega karena akan ada yang membantunya.
"Terima kasih ya, bi." ucap Wulan, memeluk pembantunya.
"Loh, nyonya kenapa peluk saya. Saya ini nggak sembanding dengan nyonya," balas sang pembantu merendahkan diri dihadapan majikannya.
"Sudah tak apa, Bibi sudah saya anggap ibu saya sendiri. Bibi tahu sendirikan saya ini hanya anak yatim," keluh Wulan, meluapkan kesedihanya pada Bi Santi.
Wanita paruh baya itu mulai memahami sang majikan, dimana ia terus melindungi Wulan yang jelas jelas salah dalam mengambil tindakan.
"Bibi di sini bakal selalu ngertiin Nyonya Wulan, jadi Nyonya jangan bersedih lagi," ucap Wanita paruh baya itu menenangkan pikiran Wulan, yang terlihat panik dan gelisah.
"Iya bi, terima kasih."
Bernapas lega akhirnya Wulan bisa tidur nyenyak.
"Bibi, mau ke dapur dulu. Ya nyonya."
Wulan menganggukan kepala, dimana pembantunya itu berpamitan.
__ADS_1
"Ya sudah bi."
Kini Wulan hanya sendiri di dalam kamar, ia menatap layar ponselnya, melihat beberapa pesan datang.
(Hai, sayang.)
Nomor baru lagi, Wulan sudah menduga jika nomor baru itu pasti milik Angga, karena baru kemarin Wulan menbelokir nomor mantan selingkuhannya.
(Apa kabar, oh ya kenapa kamu malah membelokir nomorku.)
(Sayang apa kamu tidak rindu kepadaku.)
(Oh ya, gimana kabar perut kamu, pastinya kamu sekarang sedang mengidamnya.)
Beberapa kali pesan datang, seperti sebuah teroran baru dari Angga, membuat rasa tak nyaman pada diri Wulan.
"Dia lagi dan dia lagi, bukannya kemarin sudah aku transper uang senilai sepuluh juta. Tapi dia terus menerus menganggu hidupku."
(Sayang, kenapa kamu tidak membalas pesanku.)
(Ada apa denganmu sayang, apa kamu terluka, atau ada sesuatu yang membuat perasaanmu tak tenang.)
(Bagaimana dengan bayi kita, apa dia baik baik saja. Aku berharap jika bayi kita baik baik saja.)
Wulan berusaha tak meladeni pesan dari Angga, membelokir kembali nomor telepon lelaki itu.
Ada rasa sesal yang mendera pada hati Wulan, karena dulu terlalu mempercayai Angga, yang pada akhirnya lelaki itu ternyata berkhianat. Sekarang lelaki itu marah meneror Wulan habis habisan.
(Mau berapa kali kamu membelokir nomor ponselku, tetap saja. Aku akan terus menghubungi kamu.)
Membaca pesan dari Angga, membuat Wulan frustasi, bagaimana bisa semua masalah besar ini menimpa Wulan.
(Kenapa kamu tidak membalas pesanku, kamu takut.)
Jari tangan ingin sekali membalas pesan dari Angga, tapi Wulan berusaha tetap tenang. Ia tidak mau terkecoh akan acaman Angga yang sewaktu waktu membuatnya gila.
(Wulan sayang.)
(Baiklah, aku akan mengerim Video syur kita.)
"Sialan, lelaki ini. Mengapa bisa dia melakukan hal seperti ini."
(Sayang.)
Wulan benar benar sudah tak tahan dengan ancaman Angga.
(Sebanarnya apa lagi yang kamu inginkan dariku, bukanya sudah jelas cukup aku mengambulkan keinginan kamu.)
(Santai saja sayang, aku tidak akan terlalu membebani kamu.)
__ADS_1
(Jika kamu tidak mau membebaniku, kenapa kamu terus menghubungiku lagi.)
(Karena aku rindu kamu.)
(Cukup sampai disini, hubungan kita sudah berakhir. kita bukan seperti dulu lagi.)
(kenapa sayang? Apa kamu kecewa karena aku meninggalkan kamu di hotel.)
(Sudah cukup, jangan bahas masalah itu lagi. Kita sudah putus.)
(Sayang, masa ia kamu menyia nyiakan cinta kita.)
Wulan sudah lelah dengan omongan basa basi yang terlontar dari mulut Angga.
Ia membiarkan pesan berdatangan begitu saja.
Merebahkan tubuh, merasakan getaran dalam perutnya, kehamilannya entah sudah mengijak berapa bulan. Karena sudah berapa kali, ia bermain dengan Angga tanpa pengaman.
Karena dasar napsu tanpa memikirkan dosa membuat Wulan menjadi wanita terhina, yang bisanya beselingkuh di belakang Daniel.
"Aku benar benar bersalah akan hal ini, apa aku akan tega menggugurkan bayi dalam kandungan ini?"
Wulan menangis sejadi jadinya, ia harus berusaha tega menggugurkan bayi yang tak berdosa dalam perutnya.
"Sayang, apa kamu mendengar suara mama. Kenapa kamu ada di perut mama." Wulan mengusap pelan perutnya, ia tak tahu harus berbuat apa.
Hingga suara ponsel berbunyi, karena rasa kesalnya, Wulan kini mengangkat tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Ada apa lagi? Sudah cukup jangan pernah hubungi aku lagi."
"Halo Wulan, kamu ini kenapa?"
"Daniel."
Wulan terkejut dengan suara Daniel, ia mengira jika yang menelepon itu adalah Angga.
"Halo, sayang. Ada apa ya?"
"Wulan, apa maksud kamu berkata seperti itu?"
Bukan jawaban terlontar dari mulut, Daniel. Yang ada sebuah pertanyaan, dimana Wulan berusaha mencari ide agar dirinya tidak di curigai sang suami.
"Halo, Wulan, aku bertanya kepada kamu. Kenapa kamu diam saja?"
"Mm, iya sayang, maafkan aku. Tadi aku kira kamu sahabat aku, soalnya tadi dia rese banget ngirim pesan tak jelas!"
Wulan berharap jika Daniel, mempercayai perkataannya, karena ini adalah alasan satu satunya.
"Sahabat, sejak kapan kamu mempunyai sahabat kenapa aku baru mendengarnya sekarang."
__ADS_1
Balasan Daniel membuat Wulan bertambah bingung." kamu ini gimana sih sayang, masa iya aku tidak punya teman."
"Lalu sahabat kamu itu, laki laki atau perempuan?"