Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Ban 79


__ADS_3

Sarla mulai berjalan untuk mengejar Lilia, dimana Lani malah berpura pura terkena pecahan gelas kaca.


"Aw."


Anak kecil itu seperti sengaja mengalihkan perhatiannya agar sarla mendekat ke arahnya, di mana Lilia diabaikan, oleh sang kakak.


"Lani. Sayang, sakit ya."


Dera memegang tangan anaknya, melihat dasar keluar berceceran," pasti ini menyakitkan sayang, maafkan mama ya."


Wanita tua itu, meminta maaf pada anak satu satunya, ia memeluk erat Lani, dimana Sarla mendekat. " Lani, biar kakak obatin, mana yang luka."


Bukan datang ke kamar Lilia, Sarla malah memperhatikan Lani yang jelas jelas ada ibunya, " Aduh sakit, kak."


"Sakit ya, kasihan sekali, yang sabar ya. Biar kakak obatin."


Lani mulai menganggukkan kepala, dimana Sarla mengobati lukanya dengan perlahan. Lilia yang menunggu kedatangan sang kakak, merasa sakit hati dengan apa yang ia lihat, dimana Sarla begitu perhatian terhadap Lani, tak mempedulikannya dirinya yang sebagai adik kandung.


"Kak Sarla, lebih mementingkan anak cacat itu dari pada adik kandungnya sendiri."


Lilia mulai menutup pintu kamar, agar tak melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit, ia berusaha menahan diri, untuk tak terkecoh akan perlakuan kakaknya terhadap Lani.


Lilia berusaha mengungkapkan kebusukan adik dan juga ibu tirinya di hadapan sang kakak, walau mungkin belum sekarang, tapi Lilia akan berusaha mengungkapkan semua.


*******


Sarla dengan begitu teladannya mengobati luka pada tangan adik tirinya, dimana Dera hanya menatap dan tak melakukan apapun, karena ia terlanjur panik dan sedih melihat anaknya terluka.


"Sudah selesai, nanti lukannya bakal cepat kering kok, jangan kuatir ya." Ucapan Sarla membuat Lani tersenyum kecil. Ia mulai mengucapkan kata terima kasih pada kakaknya sendiri. " Terima kasih kakak Sarla."


Lani mulai memeluk sarla dengan begitu erat, terlihatnya menginginkan kasih sayang dari kakak tirinya, di mana Dera hanya terdiam melihat tingkah sang anak.


"Ngapain coba Lani peluk peluk dia. " Gumam hati Dera.


Wanita itu mulai berteriak memanggil pembantu di rumah, menyuruh pembantu di rumah untuk segera membereskan pecahan gelas di atas lantai.

__ADS_1


Dera mulai membantu Lani untuk berdiri, terlihat sekali ia sedikit kewalahan, karena pinggangnya yang terasa sakit akibat terjatuh.


Sarla berusaha menurunkan rasa egonya untuk membantu Dera, membawa ibu tirinya masuk ke dalam kamar, karena melihat kakinya yang terluka.


Begitupun dengan jalannya yang pincang, sedangkan Lani berusaha berdiri dengan memakai tongkat yang selalu ia pakai, ikut serta membantu ibunya yang dibawa ke dalam kamar.


Sebenarnya rasa kesal masih menyelimuti hati Sarla, karena ia belum puas memberi pelajaran kepada ibu tirinya, dengan terpaksa Sarla harus menunggu ke pulihan sang ibu tiri.


Setelah membantu membaringkan sang ibu tiri ke atas kasur, Sarla bergegas mengambil obat P3K yang baru saja ia pakai untuk mengobati adik tirinya.


"Mau apa kamu Sarla?"


Terlihat sekali Dera begitu ketakutan, sampai di mana Sarla menjawab," anda tenang saja saya tidak akan melakukan hal yang membuat anda terluka. "


Dera kini terdiam, ia tak mampu berucap satu patah katapun, dimana Sarla mengobati luka pada kakinya.


Terdengar rengekan pada mulut Dera, saat Sarla mengobati luka ibu tirinya. " Sakit ya pastinya?"


Selesai mengobati luka sang ibu tiri, Sarla mulai pergi dari kamar Dera. Dimana ia bergegas menemui Lilia.


Ada rasa sesal menyelimuti hati dan pikiran Sarla pada saat itu, dimana ia ingin meminta maaf kepada adik kandungnya Lilia.


Sarla membalikkan badannya menatap ke arah adik tirinya," Lani, kenapa?"


"Tidak kenapa kenapa! Lani sebenarnya ingin ditemani oleh Kak Sarla, apa Kakak mau menemani Lani hari ini. "


Anak berumur delapan tahun itu seperti sengaja mengalihkan perhatian, kepada Sarla, agar Sarla tidak menghampiri adik kandungnya.


Dimana Lani haus akan perhatian dan kasih sayang seorang kakak, dia juga ingin merasakan dekapan dan juga kehangatan yang selalu diberikan Sarla kepada Lilia.


Karena sebagai adik tiri, Lani selalu Iri kepada Lilia. " Please. "


Lani memperlihatkan wajah memelasnya di hadapan Sarla, dengan harapan Sarla mau menemaninya.


"Kak Sarla maukan menemani Lani?"

__ADS_1


sang Ibu merasa heran dengan kelakuan anaknya, yang tiba-tiba saja mendekati Kakak tirinya yang jelas-jelas tak pernah akur dengan Dera.


Sarla memandang fisik Lani yang kurang sempurna, tinggal di mana ia merasa kasihan. Menganggukkan kepala menyetujui bahwa dirinya akan menemani sang adik.


"Baiklah."


Lani mulai memegang tangan Kakak tirinya, untuk segera mengajak bermain di luar, Sarla sebenarnya merasa menyesal, karena iya tak bisa membuat Lilia senang saat ia datang.


"Kak Sarla ayo." Ajakan Lani membuat Lilia tersadar dari lamunannya, ia tersenyum dan berkata." Oke baiklah."


Mereka tertawa riang, bercanda gurau di luar rumah, dimana Lilia mendengar tawa itu.


Perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya, penasaran dengan suara tawa Lani. Membuka gordeng, melihat pemandangan yang membuat hatinya seakan teriris iris, sakit sekali.


Di saat Lilia membutuhkan sang kakak, Sarla malah menikmati kedatangannya dengan Lani, padahal adik kandungnya sendiri pun merasa sendirian, " kak Sarla jahat."


Air mata berusaha Lilia tahan, tapi tetap saja karena melihat pemandangan menyakitkan itu, Lilia menangis sejadi jadinya.


Tangan yang memegang gordeng kini mengusap pelan air mata yang terus berjatuhan itu, tatapan kebencian mulai diperlihatkan Lilia pada sang kakak, " tega sekali Kak Sarla."


Lani sebenarnya menyadari jika Lilia tengah menatapnya, dimana anak mungil itu, tersenyum tipis.


"Kak Sarla, boleh Lani peluk."


Perkataan Lani membuat Sarla menganggukkan kepala, dimana anak berumur delapan tahun itu kini memeluk Sarla.


"Lani sayang sekali pada kak Sarla."


Sarla sontak membalas perkataan Lani, dengan pelukan erat dan kasih sayang. " Kak Sarla juga sayang sekali pada Lani."


Lani merasa dirinya hidup kembali, dimana rasa sakir hati karena fisik dan juga kasih sayang yang kurang membuat sifat lembut dan baiknya hilang seketika. Seakan Lani mewarisi sifat ibunya yang serakah dan juga jahat.


Dera berusaha berjalan, menghampiri Lani, dimana ia penasaran dengan anaknya yang pergi dan tak kunjung kembali." Lani kemana ya?"


Mencari dengan berjalan jingkat, karena masih merasakan rasa sakit akibat pecahan beling, Dera kini melihat Lani tengah bahagia bersama Sarla," Tumben sekali Lani sebahagia itu."

__ADS_1


Dera ikut tersenyum dan bahagia melihat keadaan anaknya yang semakin ke sini semakin berani, mengambil hati orang orang di rumah, hingga suatu saat nanti, Lani akan menjadi pusat perhatian papahnya dan Lilia pastinya akan tersingkirkan saat itu juga.


Dera menatap Kesana kemari, hingga ia melihat sosok gadis mungil tengah mengintip pada jendela.


__ADS_2