
Bi Siti hanya tersenyum, ketika melihat Wulan kebingungan sendiri. Iya tahu jika namanya meminta maaf itu bukanlah hal yang mudah, apalagi kepada madunya sendiri.
Mungkin akan berpikir berulang-ulang, hingga hati dapat menerima dan ikhlas dengan semuanya," Nyonya, nyonya. "
Bi Siti kini melangkahkan kakinya untuk pergi ke dapur. Di mana para teman-temannya menatap dan saling mendelik kesal padanya. Namun Bi Siti tak mempedulikan hal itu. Ia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang pembantu, " mm, Bi Siti, seorang penyelamat bagi Nyonya Wulan. "
Melipatkan kedua tangan, menyenderkan badan, Bi Siti tetap tak meladeni sahabatnya, " Kenapa diam aja bi, padahal tadi aku lihat bibi jagoan loh mau membela Nyonya Wulan."
Dalam dunia pekerjaan apapun pasti ada orang yang selalu berkata seperti itu, Bi Siti yang berhadapan dengan orangnya, hanya bisa mengandalkan diam, dari pada melawan, yang ujungnya bertengkar.
"Bi Siti. Dari tadi aku ngomong loh, tapi nggak dijawab."
Bi Siti menaruh pisaunya, ia menatap ke arah sahabatnya," lalu aku harus jawab apa?"
"What, Bi Siti ke marah ya!"
Bi Siti berusaha menahan emosi, baru juga ditanya sudah memancing keributan, mengusap dada bidang dan kini menjauh.
"Bi Siti."
Teriakan Ita tak di dengar sama sekali oleh Bi Siti, wanita tua itu tak suka mencari perkara atau meladeni orang orang yang hanya memperbesar masalah.
Cukup diam, namun jika diamnya di usik terus menerus baru Bi Siti bertindak. "Kenapa Bi Siti itu tak bisa dipancing emosinya, dia itu cukup sabar menghadapi kita kita. "
"Ya elah Ita, namanya juga wanita tua, sudah ujur dan tua, malas pastinya meladeni kita. "
Tawa dilayangkan keduanya, dimana Nani, tak sengaja menumpahkan sayur bekas makan tuan rumah ke wajah mereka berdua.
"Astaga, Nani. Apa yang kamu lakukan?"
"Bodoh, kamu Nani!"
Nani ingin sekali tertawa, melihat kemarah mereka berdua, namun ia urungkan niatnya karena tak ingin membuat kemarahan keduanya.
"Maaf aku enggak sengaja. " Nani mempelihatkan wajah sedihnya, ia merasa bersalah karena tak sengaja menumpahkan sayur bekas.
"Maaf, maaf, enak saja," mereka berdua kini pergi dari hadapan Nani, di mana Nani tersenyum sinis lalu menghampiri Bi Siti.
__ADS_1
"Bi Siti."
wanita tua itu membalikkan wajahnya ke arah Nani," kamu."
"Bi Siti lagi apa?"
"Kamu ini kalau nanya suka aneh, sudah tahu bibi lagi kerja!"
"Bi, kenapa sih bibi gak mau membalas kejahatan mereka berdua?"
Pertanyaan Nina membuat Bi Siti tertawa lalu menjawab," buat apa, buang buang tenaga."
"Benar juga sih, cuman mereka kan keterlaluan."
"Sudah biarkan saja, toh pengenya mereka ke gitu, nanti juga kena batunya sendiri."
Nina tersenyum, dihadapan wanita tua yang sudah lama menjadi pembantu di rumah Daniel, ia terkesan pendiam dan tak suka meladeni orang-orang yang selalu mengusik kehidupannya.
"Bi Siti."
Terkejut, mendengar Wulan memanggil namanya, Bi Siti kini bangkit dan bertanya," Non, ada apa?"
Nina selalu melihat Bi Siti sibuk mengurusi Wulan, dimana sang Nyonya yang selalu tak dianggap oleh Daniel sebagai istrinya.
Setiap kali, Daniel bertemu dengan Wulan, tak ada kemesraan di antara keduanya, mereka selalu bertengkar dan membahas soal anak, sedangkan sekarang. Setelah Wulan sudah mengandung, sepasang suami istri itu tetap saja bertengkar.
Hingga pertengkaran mereka selalu terdengar oleh para pembantu, jika memang Daniel tidak cocok lagi dengan Wulan. Kenapa Daniel masih mempertahankannya, seperti cinta mereka yang sudah kandas dan tak saling peduli lagi.
Lamunan Nina seketika membuyar, ketika Bu Siti menyuruhnya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda," Nina. Tolong beresin ini ya. Bibi mau nyamperin dulu nyonya Wulan. "
Nina selalu menuruti apa perkataan Bi Siti, karena bagi dirinya teman yang terbaik dalam pekerjaannya saat ini, hanyalah wanita tua itu. Bi Siti selalu mengajarkan hal yang tidak diketahui Nina, apalagi soal pekerjaan di rumah dengan telatennya. Bk Siti selalu membuat Nina mengerti tentang arti pekerjaan yang sesungguhnya di mana ia sekarang bisa menikmati pekerjaan di rumah Daniel, walau sebagai seorang pembantu Nina tetap mensyukuri semuanya.
Kedua orang yang sudah menghina Bi Siti kini datang menghampiri Nina mereka sudah mengganti pakaian mereka berdua, mengusap mengusap rambut yang terlihat basah. "si Nina ini mau saja diperintah oleh Bi Siti."
Nina tetap diam tak menjawab, ia hanya mendengarkan musik dalam handset yang sengaja ia tempelkan pada kedua telinganya.
"Heh, Nina, kami itu lagi ngomong sama kamu."
__ADS_1
keduanya dengan lantang membuka headset yang dikenakan oleh Nina, " mau ngomong apa sih kalian?"
keduanya berkacak pinggang, tak suka dengan perkataan yang terlontar dan mulutnya Nina.
" beraninya kamu berkata seperti itu?"
Tangan kanan keduanya mulai memukul Nina, di mana Nina dengan keahlian memukulnya menahan kedua tangan wanita yang ada di hadapannya saat itu.
"Mau apa kalian, mau pukul saya?"
keduanya tanpa kesal berusaha melepaskan tangan dari genggaman erat tangan Nina," lepaskan tangan kami berdua atau kamu akan ...."
Nina sudah lelah dengan perkataan keduanya yang begitu munafik, selalu menjahati orang lain tak bisa melihat ketenangan ataupun kebahagiaan orang di rumah Daniel.
Dengan sengaja Nina langsung melintikan kedua tangan wanita itu, dimana." Aduh ampun Nina."
Selama ini Nina sudah cukup bersabar menghadapi keduanya, tapi makin ke sini keduanya semakin menjadi-jadi, karena tidak ada perlawanan dari Nina ataupun Bi Siti, makanya mereka dengan santainya selalu menjahati keduanya.
Mereka berpikir bahwa bi siti dan Nina itu adalah orang-orang yang lemah, yang bisa seenaknya mereka sakitin.
karena mereka tak keberanian untuk melawan.
"Nina cepat lepaskan tanganku in,i kamu ini mau membuat tanganku putus."
Nina semakin menjadi-jadi. Iya tak peduli dengan perkataan sahabatnya itu, "aku tak peduli. Jika tanganmu ini putus. "
"Kurang ajar kamu Nina."
keduanya meringis kesakitan, karena sudah tak kuat menahan Nina yang terus memutarkan tangan mereka berdua.
" Nina ampun Kami tidak akan melakukan kesalahan lagi."
Mereka memohon-mohon kepada Nina. Di mana Nina tetap saja tidak percaya dengan ucapan dan juga rengekan keduanya.
" Tidak akan melakukan kesalahan lagi, apa benar itu? Aku takut ucapan kalian itu hanyalah sebuah omong kosong belaka. "
" kami berjanji Nina tidak akan melakukannya lagi, tolong lepaskan tanganmu dari tangan kami ini, menyakitkan sekali Nina, aku tidak mau jika dalam hidupku tidak mempunyai tangan. Tolonglah Nina. "
__ADS_1
karena mendengar permintaan maaf dan juga rengekan dari keduanya, pada akhirnya Nina Melepaskanmu tangan keduanya. Mereka terlihat ketakutan sekali setelah menatap kedua bola mata Nina yang membulat sembari melototi mereka berdua.