
Tiba-tiba saja suara Gunawan terdengar begitu jelas, Dera langsung membalikkan badan, kedua pipinya memerah.
Gunawan mulai merapikan jas kantornya, Kebetulan sekali akan berangkat untuk segera bekerja, sebelumnya berangkat pergi ke kantor. Terlebih dahulu Gunawan menghampiri pembantu barunya.
Sarla dan juga Lilia tampak seperti menghargai sang papa, sedangkan Dera berusaha mengambil hati suaminya sendiri, ya duduk berdempetan dengan Gunawan.
"Apa bisa, kamu tak usah terlalu dekat denganku." jawaban Gunawan begitu mengejutkan bagi Dera, apalagi di hadapan semua orang.
Dera menggerutu kesal dalam hati, ia lalu bangkit dari tempat duduknya, " bisa-bisanya Gunawan melakukan hal memalukan ini di hadapan semua orang kepadaku,"
Melipatkan kedua tangan, berusaha menahan amarah karena rasa kesal akibat perkataan dari Gunawan.
Lelaki tua itu langsung bertanya di hadapan Wina," Apa kamu siap bekerja di rumah ini, dengan Tiara."
Gunawan menanyakan ketidaksiapannya sang pembantu baru, dengan tegasnya Wina langsung menjawab. " tentu saja saya siap bekerja di rumah ini. "
Gunawan melihat ke arah anaknya Lilia yang terlihat ketakutan saat melihat wajah pembantu baru itu, sesekali ia bergidik jari, melayangkan kedua tangannya untuk tidak mempekerjakan pembantu itu.
" Baiklah sekarang juga saya akan mempekerjakan kamu di rumah ini!"
Mendengar jawaban Gunawan membuat Lilia pergi berlari menuju ke kamarnya, terlihat raut wajah anak itu begitu kecewa dengan sang Papah yang menyetujui pembantu baru itu untuk bekerja di rumahnya.
Sarla berusaha berlari mengejar sang adik, di mana Lilia langsung menutup pintu kamarnya dengan begitu keras.
"Lilia, sayang kamu kenapa?"
"Kak Sarla, aku benci sama papa kenapa bisa-bisanya papa mempekerjakan wanita tua itu di rumah kita!"
"Apa salahnya sayang dia juga kan butuh pekerjaan. "
"Tapi. Aku takut sekali Kak dengan wajahnya yang buruk rupa itu. "
" Sudah Kamu jangan kuatir kan ada kakak yang menjaga kamu selalu. "
Lilia berusaha menenangkan hatinya. Ya perlahan mendekat pada pintu, perlahan membuka pintu kamarnya sendiri. " kamu jangan seperti itu kasihan dia, wanita tua itu pasti membutuhkan pekerjaan di rumah kita."
"Tapi tetap saja Lilia takut."
" Sudah kamu jangan seperti itu, kakak tidak suka loh kalau kamu memandang seseorang itu dari fisiknya, apalagi sampai kamu bilang takut sama dia, dia kan tidak berbuat jahat kepada kamu Lilia."
"Ya tetap saja Lilia takut dan tak suka melihat ia bekerja di rumah ini."
__ADS_1
Dengan cara apa lagi Sarla, menyadarkan adiknya itu agar tidak ketakutan melihat wanita tua yang buruk rupa bekerja di rumahnya.
Gunawan kini beranjak berdiri, ia mulai menyusul anak keduanya.
"Lilia, kenapa kamu malah lari ketakutan seperti itu?"
Pertanyaan sang papa membuat Lilia, mengerutkan dahinya. " apa papa tidak menyadari. Papa sudah mempekerjakan orang yang menakutkan di rumah ini. "
Gunawan mulai memegang kedua bahu anaknya," sayang kamu tidak boleh seperti itu bagaimanapun dia juga sama seperti kita manusia biasa, hanya saja dia mempunyai kekurangan pada wajahnya. "
" Tapi aku takut. Pah. "
"Kamu itu belum terbiasa, nanti lama-lama kamu juga nyaman kok dengan pembantu baru itu. "
Mendengar perkataan dari sang Papah membuat Lilia pada akhirnya menurut, " Ya sudah kalau begitu."
Gunawan yang sudah menyadarkan Lilia pada akhirnya beranjak pergi untuk berangkat bekerja.
Ia menghentikan langkah kakinya melihat ke arah wanita tua itu, " Oh ya. Tolong jangan terlalu dekat dengan Lilia jauhi dia. "
Gunawan tampak kuatir ternyata pada anak keduanya Lilia, sampai ia memberitahu sang pembantu baru.
Dera yang mendengar hal itu tentu saja bahagia, karena rencananya berjalan dengan lancar, Iya bisa mempekerjakan sama suruhan di dalam rumah suaminya.
"Oh ya, aku peringatkan kepada kamu untuk bekerja dengan baik, biar aku bisa membayar kamu dengan gaji yang lumayan besar. "
"Baik."
Dera menyuruh tari untuk mengantarkan pembantu baru itu ke dalam kamarnya.
"Ini kamar kamu ya."
Tari memperlihatkan letak kamar Wina, di mana Iya sesekali menatap ke arah wajah Wina.
"Apa kamu jijik dengan wajah saya?"
"Tidak, saya ganya kasihan saja dengan kamu, kenapa kamu bisa dekat dengan Nyonya Dera!"
"Apa maksud kamu."
Tari tak mau memperpanjang masalah ataupun percakapannya dengan Wina. Iya kini menghindar dari hadapan pembantu baru yang direkomendasikan oleh Dera.
__ADS_1
Wina masuk ke dalam ruangan yang terlihat begitu kecil, dia meletakkan tasnya. Dimana sosok Dera tiba-tiba saja datang.
" Aku berharap kamu bisa menyelesaikan tugasmu dengan baik, kalau sampai kamu tidak menyelesaikan tugasmu dengan baik aku bisa saja tidak menggajimu. " Ucap Dera menyandarkan bahunya pada dinding di kamar Wina.
Tari tanpa sengaja mendengar percakapan mereka berdua.
" Saya akan lakukan yang terbaik untuk anda, asalkan gaji saya benar-benar besar." balas wanita tua itu menatap tajam ke arah Dera.
"Kamu tenang saja dengan masalah itu, itu hal yang sepele bagiku." ucap Dera. Iya tak tahu jika keuangan kini dipegang oleh anak tirinya sendiri, sang papa sengaja mempercayai anak pertamanya untuk mengatur keuangan rumah.
Tari terburu-buru pergi setelah mendengar percakapan keduanya, di mana Wina menyadari jika pembantu yang ada di rumah Gunawan mendengarkan percakapan mereka berdua.
" Ya sudah aku mau pergi dulu keluar rumah, jangan sampai orang lain mengetahui tentang rencana kita, jika itu terjadi aku tak segan-segan memfitnah kamu membuat kamu ke dalam penjara."
Sebuah ancaman yang membuat Wina tak takut sama sekali, iya hanya tersenyum sinis lalu menundukkan pandangannya.
Tari yang berlari tak sengaja menabrak Sarla, di mana wanita yang tengah hamil itu hampir saja." Ya ampun Nyonya Sarla, maafkan atas kecerobohan saya, hampir saja anda terjatuh gara-gara saya."
Sarla mengusap dada bidangnya, dia juga merasa bersyukur jika dirinya tidak terjatuh." Kenapa bibi lari-lari sih, ada apa?"
Tari mulai menjelaskan semua yang ia dengar di dalam kamar pembantu baru itu," Saya ingin menceritakan tentang Nyonya Dera dan juga pembantu baru itu. "
Namun saat Tari mulai menceritakan tentang Dera dan pembantu baru yang ia rekomendasikan untuk bekerja di rumah Gunawan, Dera tiba-tiba saja memanggil nama Tari begitu saja.
"Tari."
Deg ....
Panggilan itu membuat tari sedikit ketakutan, " Nyonya Dera memanggil. "
Sarla mencoba menenangkan Tari, agar tidak panik saat berhadapan dengan Dera," Bibi tenang saja ya. Jangan takut, oke. Hadapi dulu Mama Dera."
Pada akhirnya Tari berusaha bersikap tenang, yang memenuhi panggilan dari Dera.
Tampak Dera tak memperlihatkan kecurigaannya terhadap Tari," kamu ini ke mana saja, dari tadi saya panggil-panggil kamu."
"Maaf nyonya, saya tadi ada di dapur sedang memasak. "
"Lemot, ya sudah cepat bawakan tas saya yang ada di kamar, saya mau pergi keluar sebentar. "
"Baik nyonya. "
__ADS_1