
Gunawan tersenyum lalu mengusap pelan rambut panjang anak pertamanya itu, " Papa kebetulan baru saja membersihkan pipa air yang tak mengalir di dalam gudang. "
"Masa sih, kok Sarla nggak dengar ya dan ng gak lihat kalau Papa ada di gudang kamar mandi?"
"Memangnya kamu dari mana tadi!?" jawab Sang papah, membuang rasa gelisahnya itu di hadapan Sarla.
"Mm, baru saja habis dari gudang, " ucap Sarla, membuat sang papah berusaha menghindar.
"Kamu ini, jelas papah kan bukan di dalam kamar mandi tapi dibelakang,"
perkataan yang tak masuk akal didengar oleh sarla.
Gunawan kini terburu-buru pergi meninggalkan anaknya yang terus saja bertanya, " Pah, tunggu. "
Gunawan mengabaikan teriakan anaknya itu, di mana Sarla hanya memajukan bibir. " tapi tadi saat ada di dalam gudang, aku mendengar suara ringisan seorang wanita. Tapi siapa ya? Apa telingaku ini salah dengar. Ah sudahlah mungkin hanya halusinasiku saja, sebaiknya aku membenahi kamarku lagi agar terlihat dan juga menarik."
Sarla dengan rasa bahagianya mulai menata kamar, menyediakan untuk bayi mungilnya yang akan menjadi miliknya saat itu.
"Aku nggak sabar besok, pengadilan akan berpihak kepadaku, mudah-mudahan aku bisa belajar menjadi Ibu yang baik untuk anak sendiri."
******
Lani yang baru saja menyelesaikan makanannya, kini keluar dari dalam kamar melalui jendela. Ia memegang sebuah tas peninggalan almarhum ibunya, terlihat dalam tas itu masih tersisa uang tiga juta.
Dengan uang itu Lani berniat membayar para pereman yang sudah memperkosa ibunya, agar mengaku jika ia diperintahkan oleh Lilia.
"Aku harus bergegas menghampiri pereman itu, sebelum papah dan juga Kak Sarla curiga, jika mereka curiga, bisa bisa rencanaku gagal. Lilia lihat saja apa yang akan aku lakukan, karena kamu ibuku mati. "
Keluar dari jendela kamar, Lani dikejutkan dengan Amir satpam di rumah Gunawan.
"Nona, ngapain keluar lewat jendela. "
Perasaan Lani tak karuan, ia berusaha tetap tenang tersenyum dihadapan Amir.
"Heh, Pak Amir. " Menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah pada lelaki tua itu dan berbisik. " Pak Amir, jangan bilang papah dan Kak Sarla kalau Lani pergi keluar rumah. "
"Loh kok gitu non, nanti kalau Tuan Gunawan nanyain pada bapak gimana?"
"Alah, Pak Amir jangan kuatir, Lani hanya pergi sebentar, nanti juga balik lagi. Jadi jangan kuatir!"
"Hem, baiklah. "
Karena mendapatkan sogokan dari Lani, satpam itu kini tutup mulut, ia membantu Lani keluar gerbang tanpa orang rumah tahu.
"Ayo non. "
__ADS_1
Lani mempelihatkan jempol tangannya, dimana Amir hanya menganggukkan kepala berjaga di depan gerbang.
"Pak Amir. "
Terkejut bukan main, Amir terlihat gugup. Dengan sapaan Tari yang tiba tiba saja ada dibelakang punggungnya.
"Pak Amir lagi apa, kok kelihatan gugup gitu?" Pertanyaan Tari membuat Amir menelan ludah, " Ahk, tidak ada apa apa kok. "
Tari yang terlihat penasaran kini berjingkat jingkat, mencari apa yang dilihat Amir. " Sudah Tari, ngapain sih kamu, tidak ada apa apa?"
Tari yang terlihat penasaran, malah sengaja menyingkirkan tubuh lelaki tua itu. " Pak Amir coba, menyingkir. "
Tubuh gembul Amir membuat Tari kewalahan mendorongnya. Sampai dimana, brakkk ....
Amir terjatuh ke atas tanah, dimana Tari menatap keluar pintu gerbang jendela. " Mm, tak ada apa apa? Pak Amir ini bikin penasaran orang saja. "
Tari pergi dengan memajukkan bibir atas bawah. " Tari. Kamu. Ahk pinggangku. "
Amir berusaha berdiri dengan memegang pagar besi, terasa pada pinggang ada rasa sakit yang lumayan terasa.
"Tari, kemana kamu?" Teriak Amir, berusaha berjalan dengan merasakan pinggangnya yang sakit.
Sedangkan Tari melirik sekilas dan pergi begitu saja dari hadapan Amir.
Melihat ke arah jalanan, Lani sudah tak terlihat lagi anak itu sudah pergi jauh. "
"Untung saja Tari tidak melihat kepergian Nona Lani." Mengusap pelan dada bidangnya, Amir berusaha menenangkan diri dari kegelisahaan yang ia hadapi.
********
Tari masuk ke dalam rumah, ia mengetuk pintu kamar Lani, beberapa kali.
Namun tak ada jawaban sama sekali, " Apa Nona Lani sedang tidur ya. "
Tari kini menyelesaikan pekerjaanya, tidak mempedulikan Lani sama sekali. " Biarkan saja lah dia mau ngapain, malas juga mempehatikan anak rese itu. "
******
Lani dengan beraninya, menaiki taksi sendirian, ia pergi menuju rumah sang mama, berharap jika ditempat kejadian itu.
Pereman yang memperkosannya masih ada.
Lumayan cukup jauh, Lani berharap ia sampai tempat waktu dan pulang tanpa ada yang curiga pada dirinya.
"Mudah mudahan saja pereman itu ada. "
__ADS_1
Setelah sampai di tempat tujuan.
"Mereka, akhirnya aku bisa melihat pereman biada itu. "
Melangkahkan kaki dengan beraninya, Lani kini mendekat, dimana para pereman bangkit dari tempat duduknya.
Sepertinya mereka tengah bersantai, karena belum mendapatkan teguran dari polisi, ini saatnya Lani melayangkan aksinya.
"Heh, liat. Dia kan anak cacat yang semalam itu. "
Mereka mendekat dan menganggu Lani, "Hai anak manis ada apa, gimana kabar ibumu, apa dia sudah mati. "
Mendengar perkataan dari pereman itu, sebenarnya membuat Lani kesal, tapi ia berusaha menahan kekesalannya.
"kenapa kamu diam saja, apa ada yang kamu ingin sampaikan, atau kamu ingin bernasib sama seperti ibu kamu itu. "
Lani berusaha menyingkirkan tangan nakal para pereman itu, ia tak ingin banyak basa basi.
"Kenapa anak manis, coba kamu kenalkan nama kamu siapa?"
Lani berusaha mengakui namanya sebagai Lilia, agar pereman itu, bisa mengigat nama orang yang akan jadikan Lani tersangka.
"Namaku Lilia, " ucap Lani membohongi para pereman itu.
Mereka tertawa lepas, seakan apa yang diucapkan Lani itu sebuah lelucon. " Kenapa, apa ada yang salah dengan perkataanku. "
"Tidak ada, oh ya. Kamu manis. "
Tanpa basa basi, Lani memberikan amplop berwarna coklat itu pada para pereman, terlihat mereka mengerutkan dahi, heran dengan Lani yang memberikan sebuah amplop.
Mengambil dan bertanya? " Apa ini?"
Pertanyaan pereman itu membuat Lani tersenyum, " coba kalian lihat saja, apa isinya. "
Para pereman mulai membuka amplop itu, menatap perlahan isinya, mereka merasa heran dan kini menatap kearah Lani. " Apa maksud kamu memberikan uang ini kepada kami?"
Pertanyaan pereman itu, membuat Lani tersenyum lebar, " itu untuk kalian, jika kalian nanti memberikan kesaksian di depan polisi. "
Semua pereman tertawa, mereka mendekat dan mencekram pipi Lani, " apa maksud kamu, jadi kami akan masuk penjara. "
"Ya itu imbalan kalian, jika menuruti perkataanku. "
"Bocah tengik bisa bisanya kamu bermain dengan kami. "
Tiba tiba saja suara mobil polisi terdengar, para pereman itu kabur, sedangkan Lani berusaha berjalan cepat menggunakan tongkatnya untuk segera bersembunyi.
__ADS_1