Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 64 sengajanya Daniel


__ADS_3

Rafa memperlihatkan senyuman lebarnya, ia tampak senang dengan perkataan lelaki yang berada di hadapannya itu, apa yang dikatakan Pak Gunawan seperti membuat peluang untuk rapat mendapatkan harapan, bisa bersama wanita yang sangat ia cintai, ialah Sarla. 


Tak peduli jika Sarla itu bekas sang paman. Bagi dirinya mendapatkan Sarla seperti mendapatkan bongkahan berlian. 


Pak Gunawan mulai duduk di atas kursi, ikut serta dalam keharmonisan keluarga Alenta. Dimana keduanya mempunyai gelar sebagai Duda dan juga janda. 


Daniel yang sudah sampai di kamar mandi, kini menggerutu kesal dirinya sendiri, Iya memukul tembok kamar mandi dengan perasaan kesal. 


Entah kenapa dengan hatinya itu,  bisa-bisa marah dan melampiaskan semuanya dengan memukul-mukul tembok. 


" Mana mungkin aku bisa mencintai Sarla."


Menahan diri, bagaimanapun ia harus menyelesaikan kontrak pernikahan dengan wanita bercadar itu. 


Daniel harus berpegang teguh pada dirinya sendiri, tidak boleh mencintai ataupun menyayangi wanita yang menjadi istri keduanya itu. 


Mengacak rambut dengan kasar, penampilan Sarla begitu aneh, tapi tidak pada setiap mata yang melihatnya. Mereka memuji Sarla begitu anggun dan berbeda dari wanita  lain. 


Daniel sengaja mengirim pesan pada istrinya. 


( Apa kamu bisa datang ke sini,  Sarla.) 


Menunggu balasan dari istri keduanya itu, Daniel mulai duduk menata pemandangan di atas restoran. 


(Dimana?) 


Bagaimanapun itu Sarla tetap menghargai suaminya membalas pesan Daniel. 


(Saya ada di atas gedung restoran.) 


(Baik saya akan ke sana.) 


Sarla mulai izin ke toilet sebentar kepada Ibu Rafa dan juga yang lainnya, terlihat mereka mulai menikmati hidangan dengan mengobrol bersama. 


Sedangkan Sarla berusaha mencari keberadaan suaminya itu, " Kenapa dengan si Daniel ini." Gerutu Sarla dalam hati. 


Wanita bercadar itu mulai sampai di tempat tujuan yang ditunjukkan oleh Daniel, dia melangkahkan kakinya pada anak tangga.  


Dimana sosok Daniel Tengah duduk menatapi pemandangan di atas gedung restoran itu. 


" Daniel Kenapa kamu mengajak saya ke sini?"

__ADS_1


Pertanyaan Sarla mengagetkan Daniel, dimana lelaki bergelar CEO itu, tiba-tiba saja menarik tangan istrinya itu.


Semakin dekat kedua tatapan mereka semakin dalam. " Apa yang anda pikirkan.  Kenapa anda menatap saya seperti itu."


Tangan kekar itu mulai memeluk erat pinggang Sarla, di mana Iya merasa tak nyaman. 


" Maaf sebelumnya ini tempat umum apa bisa anda melepaskan pelukan anda pada pinggang saya."


" Loh kenapa kalau tempat umum.  Kita kan sudah suami istri."


Sarla merasa kesal dengan perlakuan Daniel kepada dirinya, wanita bercadar itu berusaha melepaskan genggaman erat sang suami. 


Memang gedung itu terlihat sepi tak ada satu orang pun, semua orang kebanyakan di dalam gedung. 


" Tetap saja. Rasanya tak pantas jika dilihat orang lain walaupun kita suami istri."


Daniel Malah semakin sengaja, dia memeluk tubuh istrinya dengan begitu erat. 


"Lepaskan, kamu memaksaku untuk melakukan semua ini. "


" Sudahlah nikmati saja apa yang aku lakukan,"


Namun pelukan Daniel begitu erat, membuat Sarla benar-benar tak nyaman. 


Daniel kini memeluk sarla dengan begitu erat, di mana wanita itu tidak bisa memberontak lagi, karena pelukan Daniel tak bisa dicegah. 


"Tetap seperti ini."


Bagi Sarla yang merasakan pelukan Daniel, membuat ia merasa tak nyaman.  Beberapa kali ia menyingkirkan tubuh Daniel, akan tetapi pelukan suaminya begitu semakin erat. 


" Tolong lepaskan pelukan anda, kalau tidak saya akan menjerit."


" silahkan kalau kamu memang ingin menjerit, saya tidak akan peduli,  bagi saya saat ini ingin memeluk kamu."


Entah apa yang ada di pikiran Daniel, Padahal tadi Dia terlihat begitu jutek tak peduli dengan sarla sekarang dia tiba-tiba saja mesra. 


"Tolong lepaskan pelukan anda dari tubuh saya, saya benar-benar merasa tak nyaman sekarang. "


Di meja makan, terlihat sekali Rafa tanpa gelisah karena Sarla dan juga Daniel tidak kunjung kembali. Sedangkan ia merasa bosan mendengar cerita yang terlontar dari mulut Pak Gunawan, karena hanya Alenta yang begitu serius mendengarkan cerita lelaki tua itu. 


Menatap jam tangan, sudah  tiga puluh lima menit, keduanya tak kunjung kembali. 

__ADS_1


Pada akhirnya Rafa bergegas mencari keberadaan keduanya, ya penasaran kemana perginya Daniel dan Sarla. 


Rafa tampak curiga dengan keberadaan Daniel dan juga sharla, di mana ia melangkahkan kaki menuju anak tangga. 


Mencari keberadaan keduanya, karena tak mungkin keduanya berada di dalam kamar mandi begitu lama.


Melangkahkan kaki menuju anak tangga, Rafa kini melihat pemandangan yang tak terduga. 


Di mana kedua Insan itu tengah berpelukan, seperti tak ada rasa malu sedikitpun, bagaimana jika ada seseorang yang datang melihat kemesraan mereka berdua yang tak pantas dipertontonkan. 


Rafa memegang dadanya merasakan rasa sakit yang luar biasa, ia memperhatikan keduanya, di mana sarla berusaha memberontak akan pelukan dari suaminya sendiri. 


Rafa, kini mengintip ingin mendengar percakapan kedua Insan itu. 


"Daniel, saya sudah memperingatkan kepada kamu jangan pernah memeluk saya di tempat umum."


"Di sini begitu sepi, karena tak mungkin ada orang yang akan memperhatikan kita."


Tangan kekar itu mulai mengambil cadar yang menutupi  wajah Sarla, dimana para pengunjung tiba-tiba saja datang.  Sedangkan cadar itu terlepas oleh Daniel dengan sengaja. 


Rafa terburu-buru menyelimuti wajah dan kerudung yang hampir terbuka oleh Daniel. 


"Rafa."


kedua mata membulat, Rafa kesal dengan perlakuan sang paman yang keterlaluan, di mana ia tidak bisa menjaga aurat seorang wanita yang tertutup begitu rapi. Seharusnya sebagai lelaki Daniel harus bisa menahan obsesinya untuk memperlihatkan sang istri kepada orang lain.


" Siapa suruh kamu datang ke sini Rafa?"


saat itulah para pengunjung datang melihat pemandangan di atas gedung yang begitu indah.


Rafa tak mampu berbicara kembali, ya menutup kepala Sarla dengan jaketnya, " ayo Sarla kita pergi dari sini, Kamu jangan terlalu mendengarkan apa perkataan Pamanku yang tidak tahu diri ini."


Padahal Daniel ingin sekali memperlihatkan kecantikan sarla kepada orang-orang yang melihatnya, Iya senang melihat rambut yang terurai panjang, apalagi tergibas angin di atas gedung.


Membuat kesan tersendiri saat ia menatapnya, Daniel mulai menyusul kepergian Rafa dan juga istrinya.


Dimana Rafa mengantarkan sarla menuju ke toilet, " cepat kamu benarkan kerudungmu itu sebelum rambutmu itu banyak yang melihat, sungguh disayangkan aku sebagai seorang lelaki jika melihat wanitaku dipandang oleh laki-laki lain yang bukan muhrimnya. "


Sarla terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membenarkan kerudung yang sengaja ditarik oleh Daniel.


Ada air mata yang berlinang saat itu, keluar dari kedua mata, Sarla berusaha tetap tenang tidak terkecoh akan perlakuan Daniel kepada dirinya

__ADS_1


__ADS_2