
Sarla menatap pada jendela ruang tamu, melihat rintikan hujan terus saja turun. Membuat kakinya ingin segera melangkah menuju ke rumah sakit menemui sang suami.
Pembantu di rumah menatap kesedihan sang majikan, wanita tua itu mendekat lalu bertanya?" Nyonya, ngapain masih di sini. Bukannya tidur."
Sarla segera mungkin mengusap kasar air matanya, lalu menatap ke arah pembantunya itu.
" Saya hanya ingin menunggu hujan reda, bi. "
Wanita tua itu menggelengkan kepala, setelah mendengar apa yang dikatakan sang majikannya.
"Nyonya, Kalau terus berdiri menunggu di sini, saya kuatir dengan keadaan nyonya."
Terlihat wanita tua itu begitu perhatian terhadap sang majikan, Iya berusaha memberitahu Sarla untuk segera beristirahat.
" sekarang Nyonya beristirahat dulu, biar besok kita ke sana melihat keadaan Tuan Daniel."
Sebenarnya sarla ingin pergi sekarang juga menemui sang suami yang terkulai lemah di rumah sakit, ada rasa sesal yang mendera pada hatinya, karena sudah mengizinkan Daniel untuk segera pulang ke rumah Wulan.
"Nyonya, ini semua demi kebaikan nyonya, kalau Nyonya sehat Tuan Daniel pasti senang."
Mendengar nasehat yang terlontar dari mulut sang pembantu, membuat Sarla berpikir.
"Benar juga apa kata bibi. Ya sudah saya mau istirahat dulu ya Bi, besok saya akan berangkat menemui Daniel di rumah sakit. "
"Ya sudah kalau begitu sok mangga. "
Sarla melangkahkan kaki menuju ke kamar, untuk segera merebahkan tubuhnya, agar esok dia bangun dengan keadaan segar saat menemui sang suami.
Namun setiap kali menutup kedua mata untuk terlelap tidur, Sarla dibayang-bayangi oleh wajah sang suami yang terlihat muram.
Bangkit dari tempat tidur, Sarla mulai mengacak rambutnya, malam ini ia tak bisa menutup kedua matanya, karena pikirannya terus tertuju pada Daniel.
Lilia mulai terbangun dari tidurnya, Iya melihat sang kakak yang terlihat frustasi, bangkit dari tempat tidur lalu bertanya dengan mengucap-ngucak kedua matanya. " Kak Sarla kenapa, malah duduk sendirian di ujung kasur. "
Sarla berusaha mengusap air matanya agar tak terlihat oleh sang adik, jika Iya tengah merasakan rasa sedih dan juga Sesal.
"Loh, ade kamu malah bangun, ayo tidur lagi?" Sarla berusaha menyembunyikan kesedihannya itu agar tidak membuat sebuah pertanyaan dari mulut Lilia kepadanya.
"Tapi kok, Lilia lihat kakak kaya lagi sedih?"
__ADS_1
Sarla menunjukkan sebuah senyuman dihadapan adiknya, agar anak berumur 10 tahun itu tidak curiga.
Sarla berusaha mencubit pingang adiknya, mengajak Lilia bercanda. " Ayo siapa coba yang sedih. Toh kakak sekarang baik baik saja. "
Lilia akhirnya percaya, jika sang kakak sedang baik-baik saja. Wanita bermata bulat itu, kini mendekat memeluk sang adik untuk segera tidur.
Ingin rasanya Sarla menitihkan air mata di depan orang-orang yang sekarang peduli terhadapnya, namun orang-orang itu bagi sarla tidak ada.
mereka hanya dekat ketika ada maunya, membuat Sarla merasa dalam hidup ini teman ataupun keluarga seperti orang lain di hidupnya.
Sarla mulai menutup kedua matamu, berusaha untuk tidur menunggu hari esok agar bisa pergi menemui sang suami.
*****
Di tengah kesedihan yang melanda hati Sarla, ada Wulan yang kini berusaha pasrah akan hidup dan matinya.
Dokter mulai keluar dari ruangan Wulan, dokter lelaki itu kini menghampiri Ita.
"Permisi, apa suami pasien ada di sini?"
Ita menggelengkan kepala setelah mendengar pertanyaan sang dokter, " sebenarnya suaminya mengalami kecelakaan, jadi saya yang mewakili nyonya Wulan saat ini."
Ita berusaha memikirkan pilihan yang akan ia pilih, untuk kebaikan sang majikan, sampai ia bertanya karena ketidaktahuannya.
" Memangnya kalau tidak disesar apa berbahaya untuk Nyonya Wulan dan juga bayinya. "
"Ada dua kemungkinan, yang satu beresiko dan yang satu tidak."
Ita bertanya kembali kepada sang dokter. " Resiko seperti apa?"
"Kematian!"
Perkataan sang dokter membuat Ita terkejut ketika mendengar kata kematian. " maka dari itu Saya menyarankan kepada anda untuk memilih dua pilihan dari kertas ini. "
Ita nampak kebingungan sekali, ya tak tahu harus berbuat apa lagi. Dengan terpaksa Ita mencari jalan keluar untuk sang majikan agar selamat.
"Oh ya, dok. Bayinya akan selamat apa tidak dok."
" saya tidak bisa memastikan hal itu, karena Yang Maha menyelamatkan hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, sedangkan saya hanya seorang perantara sebagai dokter."
__ADS_1
Mendengar perkataan sang dokter, membuat Ita terpaksa mengambil keputusan yang menurutnya baik untuk sang majikan.
"Ya sudah dok, kalau begitu saya pilih Caesar saja. urusan anaknya biar Allah saja yang menentukan antara hidup dan matinya."
"Baik kalau begitu."
Awalnya Ita ingin memberitahu nyonya besar, Namun karena dokter yang terus menunggunya untuk memberi jawaban, membuat dia mengambil keputusan.
Ita hanya bisa berdoa agar Wulan baik-baik saja.
di dalam ruangan Wulan, terlihat begitu kesakitan, ya benar-benar kebingungan sendiri, tak ada salah satu orang pun yang menemaninya. Ada pun itu Ita.
Memegang kepala yang terasa begitu sakit membuat Wulan terlihat gelisah, para suster datang lagi, untuk segera memindahkan pasien Wulan ke ruangan operasi.
" Kalian mau di bawa aku ke mana?"
"Anda akan segera dioperasi sekarang juga. "
Wulan tanpa menolak, karena bayi dalam kandungannya masih berumur 7 bulan.
"Suster, Saya tidak mau dioperasi cepat lepaskan saya, anak saya belum waktunya lahir."
bulan terlihat meronta-ronta, ya tidak mau dibawa ke ruang operasi karena tak ingin kehilangan anaknya yang belum waktunya lahir ke dunia.
suster berusaha menenangkan pasien Wulan," Ibu harus tenang dulu ya, operasi tidak akan membuat bayi dalam kandungan ivu itu meninggal. "
" Tetap saja bayi dalam kandunganku ini belum waktunya untuk lahir," hardik Wulan tak ingin dibawa ke ruang operasi, Iya berusaha menolak permintaan Para suster dan juga perawat.
" Tapi bu semua ini darurat, jadi anda tak usah khawatir, anda harus tenang."
Karena Wulan yang panik membuat tensi darahnya naik, para suster berusaha menenangkan Wulan agar segera mungkin dioperasi.
Namun wanita yang menjadi istri pertama Daniel ini terus memberontak, di mana Ita langsung mendekat dan berkata, " Nyonya harus tenangnya jangan emosi seperti ini, kasihan bayi dalam kandungan Nyonya. Biarkan saja dokter mengoperasi Nyonya walaupun bayi dalam kandungan Nyonya belum saatnya keluar, saya yakin baik itu akan bertahan hidup walau dah usianya masih 7 bulan dalam kandungan. "
Mendengar perkataan Ita membuat Wulan. Memegang perutnya yang lumayan terlihat besar.
" Benar itu?"
Ita mengganggukan kepala berusaha merayu sang Nyonya agar menurut perkataan dokter dan juga suster.
__ADS_1