
"Wulan, sepertinya kita tidak jadi pergi ke restoran untuk malam ini, " ucap Daniel, membuat hati Wulan tak senang.
Wanita bermata sipit itu, memegang tangan Daniel, " masa hanya karena poto Sarla kamu sampai menggagalkan acara makan malam kita, rasanya tak adil tahu tidak. "
Daniel meraih pipi istrinya, melihat bibir cemberut Wulan, " pikiranku sekarang tak menentu, biar besok saja ya. "
Dengan terpaksa Wulan menuruti perkataan suaminya, terlihat kekecawaan dirasakan Wulan.
Wanita itu kini melangkahkan kaki pergi dari hadapan Daniel, mencoba meredamkan amarah yang kini dirasakannya.
"Sialan, hanya karena sebuah poto Sarla, Daniel sampai terlihat stres begitu. Apa sih yang spesial dari dia. Sampai aku istri pertamanya diabaikan. "
Gerutu hati Wulan.
Wulan kini menghubungi sosok laki laki yang bekerja sama dengannya.
"Halo."
"Halo Wulan, ada apa?"
"Bodoh, kenapa kamu mengirim poto di situasi yang tidak tepat, disaat aku dan Daniel ingin pergi ke luar!"
"Memangnya kenapa? Kalau seperti itu kan, kamu jadi bisa bersenang senang. Dan Daniel melupakan Sarla saat itu juga "
"Bersenang senang dari mananya, yang ada suamiku itu terlihat begitu stres, dia bilang pikirannya sekarang tak karuan, sampai berani menggagalkan acara makan malam denganku. "
"Ternyata suamimu itu masih mencintai Sarla, jadi dia berbicara seperti itu. "
"What, mana mungkin. Dia yang bicara bahwa dia sudah melupakan Sarla. Jangan ngawur kalau bicara. "
"Aku tidak ngawur, kamunya saja bodoh Wulan, laki laki sudah tidak mencintai kamu, malah kamu pertahankan. "
Melemparkan ponsel pada atas kasur, kesal ketika Wulan mendengar kata bodoh.
"Kurang ajar. "
*********
Ceklek.
Pintu kamar dibuka, Wulan mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
Ia sengaja membelakangi tubuh Daniel, dimana lelaki itu tertidur tanpa berucap satu patah katapun.
"Sialan, bisa bisanya Daniel mengabaikanku begitu saja." Ucap Wulan dalam hati.
**********
Alenta yang masih berada di dalam kamar, hanya menatapi surat perjanjian, perlahan ia baca isi dari surat itu.
"Perjajian bisa berubah jika pihak pertama merasa nyaman. "
Membaca akhir dari surat perjanjian kontrak antara Sarla dan Daniel sedikit membuat Alenta tertawa. " Daniel, bibir kamu bisa berkata tidak, tapi berbeda dengan hati kamu. "
Menutup kembali surat perjanjian itu, Alenta mulai merabahkan tubuhnya untuk tertidur, karena besok waktunya ia menggabil anak Sarla.
Pagi menjelang.
Semalaman berusaha tidur, Alenta malah terbangun dan terbangun lagi, ia terlihat gelisah, perasaanya tak karuan.
Wanita tua itu bergegas untuk segera bersiap siapa pergi ke rumah sakit menyerahkan berkas berwarna biru pada sang menantu.
Keluar dari dalam kamar, Alenta terkejut melihat sosok menantunya itu sudah berdiri di kamarnya. " Astaga, Wulan, ngapain kamu berdiri di pintu kamar ibu?"
Pertanyaan Alenta membuat Wulan tersenyum kecil, ia langsung mengambil berkas berwarna biru dari tangan mertuanya.
Wulan mengabaikan perkataan mertuanya, dia membalikkan badan lalu pergi dari hadapan wanita tua itu.
"Wulan, kembali kamu. "
Alenta mengejar sang menantu yang sudah lancang mengambil berkas biru yang akan Ia serahkan pada Sarla.
Menarik rambut Wulan yang tak mau mendengar panggilannya. " Aw. Ibu sakit."
Alenta membulatkan kedua matanya mengambil berkas berwarna biru itu," sini. Kamu ini tak sopan ya, main ambil begitu saja. "
Wulan menyunggingkan bibir atasnya, mendengar ucapan sang mertua yang terus berucap tanpa ada jeda. Wulan hanya bisa menutup kedua telinga, lalu berucap dengan nada sedikit meninggi, " Bu, Wulan mengambil berkas berwarna biru itu karena perintah dari Daniel. "
Mendengar hal itu tentulah membuat Alenta terdiam, " Apa. "
"Ibu ini budek ya, Wulan itu disuruh pergi dengan membawa berkas itu ke rumah sakit oleh Daniel, jadi ibu tinggal di rumah saja biar aku yang mengurus semuanya, " jelas Wulan, membuat Alenta tak setuju dengan perkataannya.
"Tidak bisa, yang datang ke rumah sakit menyerahkan berkas ini tetaplah ibu, sebaiknya kamu diam saja di rumah," tolak Alenta di hadapan sang menantu.
__ADS_1
Wulan tampak kesal setelah mendengar perkataan mertuanya itu," ibu itu susah ya kalau dibilangin, sebaiknya ibu ini nurut, karena semua atas perintah dari Daniel. "
Menggelengkan kepala, Alenta tetap bersikeras ingin pergi menemui menantunya untuk terakhir kali," sudah kamu bilang saja pada suamimu itu, ibu yang menemui Sarla sekarang juga."
Wulan melipatkan kedua tangannya, merasa kesal dengan Alenta yang tetap bersikeras pergi menemui sarla.
"Ya sudah kalau begitu, siap sipa saja. Daniel marah, " ucap Wulan, seperti sengaja menakut-nakuti sang ibunda.
"Ibu tak peduli. " wanita tua itu melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Wulan, begitu cepat hingga Wulan tak bisa mengejarnya lagi.
"Bu."
Panggilan Wulan pun tak didengar sama sekali oleh Alenta, wanita tua itu terus melangkahkan kakinya menuju ke dalam mobil.
Namun saat membuka pintu mobil, sosok Daniel tengah duduk, sontak Alenta terkejut lalu bertanya, " kenapa kamu ada di dalam mobil ibu. "
Daniel kini keluar sembari menatap sama ibunda," Ibu tak mendengarkan apa yang dikatakan Wulan?"
Wanita tua itu membuang muka dari hadapan anaknya, bibir cemberut sembari menggenggam berkas berwarna biru itu.
Daniel berusaha mengambil berkas berwarna biru untuk segera menyerahkan kepada Wulan," Jangan pernah sentuh berkas ini, Ibu tidak mau orang lain yang mengantarkan ini selain ibu kepada Sarla. "
"Bu, jika ibu yang mengantarkan berkas ini kepada Sarla, yang ada ibu malah membua harapan untuk Sarla. "
Perkataan Daniel membuat Alenta mengerutkan dahi, " Apa maksud ucapan kamu itu, jarapan apa Daniel, ibu ini sudah merelakan srala pergi dari kehidupan kamu. "
"Ibu jangan bohong, ibu pasti menghampus tanda tangan aku kan?" tanya Daniel yang terlihat curiga dengan sang ibunda.
"Tidak, ibu tidak menghapus tanda tangan kamu!" jawab Alenta, gelagat wanita tua itu terlihat mencurigakan.
"Sudahlah bu, jangan bohong." Tekan Daniel dihadapan ibu kandunganya.
"Bohong, ibu tidak berniat membohongimu sama sekali, itu semua hanya pikiran negatifmu saja Daniel."
Daniel mencoba merampas berkas berwarna biru itu dari tangan ibunya sendiri, namun pegangan tangan Alenta yang memegang berkas itu begitu kuat.
"Bu, cepat kembalikan berkas itu," ucap Daniel memperlihatkan raut wajah kesalnya di hadapan sang ibunda.
"Tidak akan, sudahlah Daniel untuk apa kamu terus-menerus meminta berkas ini kepada ibu, sebaiknya Ibu saja yang mengantarkan berkas ini kepada Sarla. Jangan kamu sampai menyuruh Wulan yang malah akan membuat perdebatan nantinya. "
Mendengar perkataan sang Ibunda yang menyebut nama Wulan, membuat wanita bermata sipit itu berjalan ke arah suami dan juga mertuanya.
__ADS_1
"Kenapa ibu membenciku sampai segitunya, padahal ibu sebagai orang tua tenang saja, setelah aku menyerahkan berkas itu, tak akan ada kata kata yang akan aku lontarkan pada Sarla. " Timpal Wulan.