Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 144


__ADS_3

Tak segan segan Bi Siti berucap pada keduanya, " Bisa tidak kalian menghargai Wulan."


Menatap ke arah wanita tua itu, Alenta mulai menjawab, namun tertahan oleh Sarla yang menyuruh mertuanya tidak menjawab.


"Kalau begitu, biar saya saja yang menemui Wulan," ucap Bi Siti dengan lantangnya.


Sedangkan Alenta hanya diam, ia tak bisa memecat pembantu di rumahnya karena yang berhak adalah Daniel.


Mau tidak mau Alenta mengijinkan wanita tua itu.


"Ya sudah, kalau bibi memaksa ingin bertemu Wulan ya sudah sana."


Perkataan yang seakan mengusir Bi Siti di ruangan Daniel, membuat wanita tua itu mendelik kesal lalu berkata," Saya pergi dulu, nyonya. "


Alenta mulai mengusap pelan tangan menantunya itu, ia berkata, " sudah kamu tak usah mendengarkan perkataan wanita tua itu ya, memang dia dari dulu seperti itu songong."


Sarla hanya menganggukkan kepala, setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut mertuanya itu.


Sarla penasaran dengan keadaan Daniel, " bagaimana dengan keadaan Daniel sekarang bu, apa ada harapan dia cepat sadar lagi?"


"Ibu kurang tau, karena dokter belum menjelaskan semuanya."


Menundukkan pandangan, Sarla sedikit merasa menyesal, "Bu, maafkan Sarla ya, karena Sarla Daniel jadi masuk ke rumah sakit. "


"Loh, kenapa kamu malah menyalahkan dirimu sendiri? Ibu sudah tahu semuanya," balasan sang mertua membuat Sarla sedikit bernapas lega.


"Jadi ibu tahu semuanya tentang Wulan?" tanya Sarla yang terlihat penasaran.


"Tentu Sarla, makanya ibu kurang suka dengan dia, seharunya sebagai seorang istri dia mengakui kesalahnya, bukan malah terus membuat kebohongan. Apa dia tidak pernah berpikir kedepannya."


Sarla baru tahu jika Wulan menutupi semuanya, tanpa berkata jujur pada Daniel dan mertuanya, padahal sempat Sarla membatu Wulan, tapi bantuannya itu malah dianggap sepele oleh Wulan.


Memang dari awal Sarla sudah mendunga jika keinginan Wulan ada maksud tertentu.


Menarik napas mengeluarkan secara pelahan.


Sarla berusaha diam tak mengungkit masalah Wulan, jika ia mengatakan semua itu yang ada dia mengadu domba Wulan dan juga sang mertua.


Rasa mulai itu kembali lagi, saat Sarla mencium wangi obat yang dibawa suster.


"Huek, Huek. "


Sarla berlari menuju ke kamar mandi, seperti biasa ia memuntahkan isi perutnya.


Alenta melihat Sarla bergegas pergi mengikuti langkah menantunya itu, dimana ia begitu kuatir.


Mengetuk pintu kamar mandi, Tok .... Tok .... Tok.


"Sarla, buka. Kamu kenapa?"


Sarla menatap cermin, tubuhnya semakin terasa lemas dan tak berdaya, ia mencoba membersihkan wajah.


Keluar dari kamar mandi, Alenta mulai bertanya pada sang menantu, "kamu sakit Sarla?"

__ADS_1


Sarla memegang kepalanya, ada rasa pusing pada kepalanya, membuat langkah kakinya tak berdaya. Hingga. Brukkk.


Tubuh Sarla terkulai lemah di atas lantai, wanita yang menjadi istri kedua Daniel itu jatuh pingsan.


"Sarla, bangun sayang. "


Menepuk nepuk pipi Sarla beberapa kali, sang menantu tak bangun bangun juga.


"Ya ampun Sarla kamu ini kenapa?"


Alenta panik, ia berdiri lalu memanggil para perawat atau suster yang berada di rumah sakit.


"Suster, dokter tolong. "


Di saat berteriak, akhirnya suster datang. " Suster tolong, menantu saya. "


"Ibu tenang dulu ya, biar kami bantu. "


Sarla mulai diperiksa oleh dokter, dimana Alenta menjaga sang menantu dengan begitu baik.


"Kenapa dengan menantu saya, dok?"


Dokter itu tersenyum dan memberikan kabar baik, " selamat ya bu, sebentar lagi punya cucu."


Alenta terkejut dengan perkataan sang dokter. " Yang benar dok?"


Dokter di rumah sakit tersenyum, lalu menganggukkan kepala, sedangkan Alenta merasa bahagia. Ia tak pernah merasakan rasa sesenang ini.


"Terima kasih ya dok. "


Alenta mengajak sang dokter bersalaman, dimana Sarla kini terbangun karena mendengar tawa sang mertua. " Bu."


Memanggil sang mertua, " Sarla akhirnya kamu bangun juga sayang. "


"Aku dimana?"


"Tentu saja di rumah sakit, kamu baru saja mendapatkan pemeriksaan dokter!"


"Pemeriksaan dokte? Memangnya aku kenapa?"


"Kamu hamil sayang!"


Sarla bukannya merasa senang, ia malah kecawa jika mertuanya tahu akan kehamilannya.


Memeluk erat Sarla, Alenta tak henti henti mengucapkan kata terima kasih.


"Kamu memang menantuku yang terbaik. Pokonya setelah ini, ibu akan menjaga kamu dan bayi dalam kandungan kamu."


Sarla hanya memperlihatkan senyuman tipisnya, lalu berkata, " ibu, Sarla ingin bertemu dengan Daniel?"


"Tentu saja sayang, ibu berharap jika Daniel cepat bangun dan mendengar kabar baik ini. "


Sarla sedikit terdiam melamun, memikirkan nasibnya kedepan, setelah melahirkan seorang anak dia akan pergi jauh dan menjalankan hari hari barunya lagi.

__ADS_1


Alenta dengan bahagianya mendorong kursi roda sang menantu, ia membawa Sarla ke ruangan Daniel.


Dimana lelaki itu masih terkulai lemah, tak berdaya, mendekat dan berkata. " Daniel. "


Sang ibu kini memegang dada anaknya dan berkata," kapan kamu sadar Daniel, ibu ingin memberi kabar baik untuk kamu jika Sarla tengah mengandung anak kamu. "


Sarla meneteskan air mata, melihat ayah dari bayi yang ada dalam perutnya masih belum sadar.


"Daniel, bangun, aku minta maaf. "


Berulang kali mengantakan hal itu, berharap jika Daniel bangun, Sarla terlihat menyesal jika Daniel sampai sekarang belum bangun juga.


Sampai.


Suara batuk itu terdengar, Sarla yang menaruh harapan kini berubah jadi kenyataan, Daniel bangun kedua matanya terbuka lebar.


Alenta melihat Daniel sadar, kini memanggil para suster dan berteriak memanggil mereka semua.


"Suster, suster. "


Suster dan dokter datang, mereka memeriksa keadaan Daniel.


"Daniel akhirnya kamu bangun juga, nak."


Dokter keluar dari ruangan dan berkata pada Alenta, " Alhamdulilah, anak ibu sudah pulih. Saya sarankan jangan terlalu banyak bertanya, karena benturan dikepalanya takut membuat anak ibu drop kembali. "


"Baik dok. Oh ya, apa tidak ada yang harus di kuatirkan dengan kondisi anak saya yang sekarang."


"Sebenarnya ada, hanya saja ibu jangan kaget, biar saya jelaskan di ruangan."


"Baik dok kalau begitu. "


"Ayo bu, ikut saya. "


Alenta menitipkan Daniel kepada Sarla, " sayang, menantuku, kamu jaga dulu Daniel ya, biar ibu yang mendengar penjelasan dokter."


"Baik bu. "


"Mudah mudahan tidak ada hal yang serius dialami Daniel, karena ibu sedikit ketakutan karena mendengar ucapan dokter. "


"Mudah mudahan saja bu, Sarla juga berharap jika Daniel tidak mengalami hal yang serius. "


Wanita tua itu mulai pergi dari hadapan Sarla, dimana ia terburu buru melangkahkan kaki mengikuti sang dokter.


"Mudah mudahan tidak terjadi apa apa dengan Daniel, " gumam hati Sarla.


Wanita yang menjadi istri kedua Daniel kini menjalankan kursi rodanya. Masuk ke dalam ruangan sang suami.


Nampak Daniel menatap ke arah kiri dan kanan, mungkin ia sedang mencari seseorang. " Daniel, ini aku Sarla. "


Daniel mengerutkan dahi saat melihat Sarla mendekat ke arahnya, " siapa kamu?"


Deg ....

__ADS_1


" Aku Sarla Daniel, istri kamu?"


__ADS_2