
(Sejak kapan aku ingkar janji padamu?)
Jawaban yang membuat Sarla kesal, padahal dia berharap sekali jika Wulan bisa menjadi ibunya yang baik untuk anaknya.
(Kamu gila Wulan, dimana akal sehatmu. Aku sengaja memberikan anakku padamu. Demi kamu bisa bahagia bersama Daniel, mengobati luka kematian anakmu, tapi kamu malah menyia-nyiakan semuanya, kamu EGOIS.) pekik Sarla dalam pesan yang ia kirim pada Wulan.
Wulan hanya tersenyum, ia seperti sosok wanita yang tak punya hati nurani. ( Hahha, kebahagian macam apa, hah. Kamu tahu tidak Daniel selama ini hanya berpura pura hilang ingatan demi bisa mulupakan kamu yang menolaknya. ) Balasan pesan dari Wulan, membuat Sarla sudah mengetahui semuanya.
(Aku sudah tahu hal itu, Daniel yang memberi tahu semuanya. Seharusnya saat aku menolaknya, kamu ambil cinta Daniel untukmu lagi dengan cara menyayangi anakku. Bukan malah menyakiti anak yang sudah aku lahirkan dengan susah payah.) nasehat terlontar dari pesan yang dikirim oleh Sarla.
(Persetan dengan semua itu, yang ada hayalah menyakiti hatiku saja.) balas Wulan. Air mata kini menetes dari kedua matanya.
(Menyakiti hatimu, Wulan jika Daniel memilihmu berarti dia memberi kamu harapan.)
(Harapan apa, jika pada ujungnya aku mendengar Daniel mengatakan jika aku sebagai pelampiasan karena kamu Sarla menolaknya, andai saja kamu tidak menolaknya, mungkin aku sudah dibuang seperti sampah.)
Sarla tidak tahu, bagaimana cara menasehati Wulan, jika cinta itu akan tumbuh seiiringnya waktu, dan perkataan Daniel kedepannya akan berubah lagi.
(Untuk berlaku adil, aku sudah melaporkan semua kepolisi.)
Wulan tak berani membalas pesan dari Sarla sama sekali, ia malah diam dengan menggenggam erat ponsel itu, lalu melemparkannya begitu saja.
Mengacak rambut dengan kasar, perasaan tak menentu, kini ia merasa frustasi.
Menggigit jari jemari, " sialan, ahkkk. "
Ponsel kini berbunyi kembali, Wulan meraih ponsel yang baru saja ia banting, ternyata orang yang menghubunginya sekarang adalah Daniel.
Wulan malas untuk menganggkat panggilan telepon dari Daniel suaminya sendiri, karena jika ia mengangkat panggilan telepon pasti yang dibahas masalah bayi Sarla.
Ponsel bebunyi kembali, Wulan kesal ia hampir membanting ponselnya ke atas lantai.
Namun teruruangkan niat setelah Daniel mengirim pesan. (Cepat angkat panggilan teleponku sekarang juga.)
Perkataan dari pesan Daniel, membuat Wulan terpaksa mengangkat panggilan Daniel.
"Halo, ada apa lagi?"
"Wulan kenapa kamu begitu egois, tak mau mengangkat panggilan teleponku!"
__ADS_1
"Kamu masih tanya kenapa, hah. Aku malas Daniel, aku malas jika kamu terus membahas Sarla ataupun bayinya. "
"Wulan."
"Apa. Masih mau bicara lagi jika Sarla lebih baik dari pada aku, masih mau bicara seperti itu lagi?"
"Dengarkan aku dulu bicara?"
"Mendengar kamu berbicara sama saja membuat kepalaku sakit!"
"Wulan, stop jangan adalkan emosi terus menerus. "
Perkataan Daniel membuat Wulan berhenti mengeluarkan sebuah kata kata.
"Wulan, sebaiknya kamu minta maaf kepada Sarla sekarang juga, sebelum Sarla menindak lanjut kita ke pihak polisi. "
Wulan tetap diam, ia berharap jika Daniel mengerti perasaan depresi semenjak ia kehilangan bayinya.
"Kenapa tidak kamu saja yang meminta maaf pada istri terbaikmu itu, bukannya kamu menganggap dia wanita hebat dari pada aku wanita jahat tak berguna. "
"Wulan."
"Stop Wulan. "
Begitulah jika wanita di ajak bicara, seribu bahasa apapun akan keluar.
"Sekarang bukan saatnya untuk berdebat, tapi saling introfeksi diri."
"Kamu saja yang introfeksi diri, kenapa harus melibatkan aku. "
Begitulah sifat Wulan, keras kepala egois dan tak mau mengalah, tak jauh berbeda dengan Daniel.
Setiap berdebat pasti Daniel tak pernah bisa menahan diri, terkadang tangannya selalu melayang begitu saja.
"Wulan, tapi kamu juga salah dalam masalah ini, buka aku saja, harusnya kamu itu tanggung jawab. "
"Kamu bapaknya, lah aku bukan siapa siapa bayi itu. "
Mengenggam erat kedua tangan, kesal akan perkataan Wulan, Daniel berusaha menahan diri agar tidak emosi dan menghina sang istri.
__ADS_1
"Wulan, ayolah bersikap dewasa jangan seperti anak kecil, kamu ini sudah menjadi seorang ibu. "
"Daniel, aku sudah menjadi seorang ibu karena bayi yang ada di rahimku bukan bayi dari rahim wanita lain. "
Mengusap kasar wajah, Daniel mengira jika Wulan diberi pengertian dia akan menjadi wanita yang luluh dan tak membangkang.
"Wulan, aku mengerti. Kamu sangat membenciku, karena kesalahanku sendiri, tapi pleas. Jangan membenci bayi Sarla yang tak berdosa itu, aku sadar, kamu berubah karena egoku sendiri. "
Wulan merasa tak percaya, setelah mendengar perkataan, Daniel. Yang terdengar sadar akan kesalahnya di masa lalu.
"Wulan, apa kamu masih menerima permintaan maafku. Dulu aku berharap kamu bisa berkata jujur, agar aku bisa yakin dan tetap mempertahakankamu, tapi kamu malah berbohong terus menerus menutupi egomu. Membuat aku menjadi kesal dan menaruh dendam dengan ibu. Andai saja kamu tidak berbohong dan jujur saat itu, mungkin aku menerima permintaan maafmu."
Entah cahaya dari mana datang meluluhkan hati dan pikiran Wulan, membuat Wulan menitihkan air mata.
"Aku ingin tanya pada kamu? Apa kamu masih mencintaiku?"
Pertanyaan yang sulit untuk Daniel jawab, karena hatinya saat ini masih merasa berat pada Sarla, karena wanita bercadar itu, selalu membuat suasana hatinya tentram dan damai.
Sarla sudah banyak membuat sebuah perubahan pada diri Daniel, dari hal kecil hingga besar. Membuat rasa cinta itu tumbuh.
Kedua mata dari tatapan Sarla, membuat keteduhan dalam hati Daniel, " Hem. Aku tahu kamu pasti tidak bisa menjawabnyakan. Aku sudah tahu jawaban kamu. "
"Tunggu Wulan jangan dulu mematikkan panggilan telepon, sekarang aku akan jujur pada kamu. "
Wulan menarik napas mengeluarkannya secara perlahan, ia bersiap siap mendengar kejujuran dari suaminya, yang dimana ia berharap sekali jika kejujuran itu mampu membuat hatinya tetap tenang.
Walau mungkin akan ada rasa sakit yang ia rasakan setelah mendengar kejujuran dari suaminya sendiri.
"Ayo cerita. " Wulan berusaha menekan sang suami.
"Baiklah, aku akan mengatakan sesuai kejujuranku . " Sebenarnya aku sangat mencintai Sarla, tapi ...."
Belum perkataan Daniel terlontar semuanya, Wulan saat itu langsung mematikkan sambungan telepon dari Daniel.
Wulan dengan rasa kesalnya, membanting ponsel yang ia genggam, dan berteriak. " Ahkkkk. "
Menangis histeris, dirinya hanya seorang istri yang tak di cintai, " aku sudah mendunga hal ini. "
Kini Wulan bangkit dari tempat tidur, ia masuk ke dalam kamar mandi, membasuh wajah, berusaha menyadarkan diri, jika ini saatnya Wulan pergi dari sisi Daniel.
__ADS_1
Untuk apa dipertahankan jika memang tak cinta, percuma, hanya akan membuat hati satu belah pihak terluka, dan itu tak jauh dari sebuah kebohongan semata.