Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 104


__ADS_3

"Nyonya, ada apa?" pertanyaan Bi Siti membuat Wulan langsung menyuruhnya untuk duduk.


Mereka berdua kini saling berhadapan," setelah Wulan pikir-pikir, Bi. Wulan menyetujui rencana bibi.


"Benarkah itu, syukurlah kalau Nyonya setuju dengan ide yang bibi katakatan."


Bi Siti berharap jika idenya itu, berjalan dengan lancar, agar semuanya kembali seperti semula, Daniel bisa mempehatikan Wulan seperti dulu.


"Ya sudah, cepat hubungi Sarla." Suruh wanita tua itu pada sang majikan.


Wulan mulai mengambil ponsel, ia mencari nomor Sarla, namun tak ada, memukul pelan jidatnya dan berkata," Ya ampun, Wulan lupa minta nomornya."


"Ya gimana dong?"


Wulan mencoba mencari cara, untuk bisa mendapatkan nomor ponsel Sarla, dimana ia baru ingat pada Rafa, keponakan Daniel.


"Rafa bukannya, keponakan Daniel ya?" bertanya kepada Bi siti yang sudah tahu keluarga Daniel sejak lama," Iya, tapi apa hubungannya dengan Rafa."


"Kemarin aku lihat Rafa dan Sarla saling menyapa, sepertinya mereka seumuran. Bisa saja si Rafa ini punya nomor Sarla!"


Wulan mulai mencari nomor ponsel Rafa, ia kini menghubungi nomor keponakan Daniel," Halo, Rafa."


"Iya, Tante. Ada apa?" Rafa, bertanya pada Wulan dengan nada lembutnya.


" Apa kamu punya nomor Sarla!" Jawaban Wulan, membuat Rafa terkejut. Membuat sebuah pertanyaan dalam benak lelaki bermata sipit itu.


"Untuk apa? Bukannya dia madu tante!" Rafa malah bertanya, membuat kekesal dalam diri Wulan memuncak, saat mendengar kata madu.


"Rafa, tante hanya ada urusan penting sama dia, tante bolehkan minta," balas Wulan dengan harapan ia bisa mendapatkan nomor ponsel Sarla.


Rafa tampak kebingungan sendiri, antara memberikan atau tidak, karena ia takut jika nanti Sarla kena marah, dan lagi ia Rafa tak mau wanita yang sangat ia cinta terluka.

__ADS_1


"Rafa, dari tadi tante panggil kamu diam saja," ucap Wulan berusaha bersikap lembut, tak memperlihatkan kemarahannya, sedangkan Bi Siti dengan begitu fokusnya mendengarkan dan melihat Wulan mengobrol.


"Oh, kebetulan sekali, tak ada tante, Rafa kemarin sudah hapus nomor ponsel Sarla," Rafa sengaja berbohong ia tak mau jika wanita yang ia cinta dicaci atau dihina oleh Wulan.


"Ya, tante kira kamu punya nomor ponsel Sarla, kalau nggak ada yang udah nggak papa,"


Wulan padahal berharap sekali jika Rafa mau memberikan nomor ponsel Sarla yang ia lihat dekat sekali dengan keponakan Daniel itu.


"Maaf ya, Tante Wulan."


Panggilan teleponpun dimatikan sebelah pihak, Wulan tampak kecewa, ia meletakan ponselnya lalu berkeluh kesah." Ya, bi. Nomor ya nggak ada?"


"Mm, gimana kalau nanti tuan pulang bibi bantu buat rampah ponsel Tuan Daniel sebentar!"


"Ide yang bagus sih bi, mudah mudahan saja berhasil. "


"Iya, non. "


"Oke bi."


Wulan merasa senang, jika pembantunya itu begitu kompak dan menjadi seorang teman untuk membantu setiap masalah dan rencana yang akan mereka lakukan.


"Wulan, senang kalau bibi bisa bantu Wulan seperti ini." Bi Siti tersenyum dengan perkataan majikannya yang begitu menghargai akan bantuanya.


"Nyonya tenang saja, bibi akan selalu bantu. Apapun itu."


"Makasih ya, bi. selalu ngertiin Wulan saat Wulan benar-benar kesepian ataupun saat Wulan bayak masalah."


wanita tua itu menganggukkan kepala lalu berkata," Nyonya jangan kuatir, jangan terlalu banyak dipikirkan, masalah seperti itu, kita pasti bisa melewatinya."


Mereka tertawa senang sembari mengobrol dengan rasa kenyamanan pada diri mereka masing-masing, di mana langkah kaki datang menemui Wulan dan juga Bi Siti.

__ADS_1


" kalian ini bisa diam tidak dari tadi berisik terus." Hardik Alenta, yang baru saja pulang dari perkumpulan arisan bersama teman-temannya.


Wulan yang mendengar kekesalan mertuanya itu, kini hanya terdiam tak memperdulikan amarahnya.


"Kamu lagi Wulan, jangan karena kamu sedang hamil kamu bisa seenak-enaknya bersantai di dalam kamar. "


Wulan terkejut dengan perkataan Ibu mertuanya itu, di mana Bu Siti ikut bicara," loh bukannya orang yang sedang hamil itu harus banyak istirahat ya."


Alenta seakan tak menerima dengan perkataan Bi Siti, di mana ia langsung berkata," kata siapa? orang kalau lagi hamil itu harus banyak bergerak biar nanti persalinannya lancar, jangan sok tahu kamu, harus banyak istirahat segala, enak saja. Ngomong aja kalau emang males."


sifat Alenta yang tadinya lembut benar-benar berubah 100%, Iya memperlihatkan kebenciannya yang begitu dalam kepada menantunya sendiri.


"Saya peringatkan kamu ya Wulan. Saya tidak suka melihat kamu yang sedang hamil ini bersantai-santai. Harusnya kamu itu mengerjakan pekerjaan rumah, mengepel, menyapu. Masak. Biar nanti anak kamu pas lahir, nggak nyusahin kamu terus, kamu tahu sendiri kan anak dalam kandungan itu, bukan cucu saya. Kalau saja dia itu cucu saya sendiri, pasti Saya akan memperlakukan kamu berbeda dari yang sekarang kamu."


Benar-benar sikap sifat yang egois, diperlihatkan oleh mertuanya itu. Wulan tak menyangka hanya karena satu kesalahan dan memiliki anak dari laki-laki lain, wanita tua itu benar-benar membencinya. Apalagi perlakuannya itu seperti bukan orang tua.


Wulan malas sekali menjawab perkataan Ibu mertuanya, ia berusaha diam menundukkan pandangan di mana Alenta kini bertanya lagi kepada menantunya itu." kamu ini budek ya, apa tuli, dari tadi Saya.ngomong sama kamu. "


walau bagaimanapun Wulan berusaha membela dirinya sendiri, tak mau terhina di hadapan mertuanya sendiri. "tapi kan bu, sudah ada pembantu di rumah ini. Jadi untuk apa Wulan mengerjakan pekerjaan rumah?"


"Pembantu ya pembantu, beda sama kamu. Kamu kan cuma numpang hidup di sini, Makanya kamu itu harus kerja, di dunia ini tidak ada yang gratis. Apa apa itu pakai uang bukan pakai daun. "


Sangat menyakitkan sekali, apa yang dikatakan Ibu mertuanya itu, padahal dari awal setelah ketahuan dia hamil. Kenapa Daniel malah menyiksanya bukanlah langsung menceraikan Wulan.


Bi siti mulai membela kembali majikannya, dia berdiri lalu berkata," Bu. Sebaiknya Nyonya tidak mengatakan hal itu kepada orang yang tengah hamil, takutnya nanti, Nyonya malah mengganggu kejiwaan Nyonya Wulan. Tolonglah Nyoya hargai Nyonya Wulan, agar dia bisa membesarkan bayi dalam kandungannya secara baik, tidak banyak tekanan yang menimpa dirinya."


Nasehat bijak terlontar dari mulut Bi Siti, di mana Alenta tak menerima dengan perkataan Bi Siti, ia tak suka jika dinasehati sama seperti Daniel.


"Alah. Sudahlah Bi, jangan sok ceramah dan menasehati saya, saya ini Nyonya rumah di rumah anak saya ini, sedangkan dia hanya seorang istri Pertama Daniel yang sudah melakukan penghianatan yang begitu kejam, dia itu pantas diperlakukan tidak baik oleh saya sendiri."


Tak mau kalah, Bi Siti kini menjawab.

__ADS_1


__ADS_2