
Deg ....
Lilia berusaha menghindar, ia tak mengerti apa maksud dari perkataan Wina, pembantu baru yang tak dia sukai sama sekali.
Wina malah tersenyum kecil, " kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataanku, Nona."
Lilia mengangkat kedua bahunya lalu pergi dari hadapan Wina, ia terlihat ketakutan sekali dengan bisikan wanita tua itu.
Wina malah senang dan berbisik dalam hati," Suatu saat kamu akan mengerti Lilia."
Lilia, keluar dari rumah, duduk di kursi taman. Mengusap pelan bahunya, " menyeramkan sekali, apa maksud dari pembantu tua itu.
"Nona Lilia?"
"Ahk!" Lilia menjerit karena ketakutan, ia menutup wajahnya lalu bertanya, " kenapa nona?"
Mendengar suara Tari, membuat Lilia menarik tangan pembantunya itu." Bi Tari jangan pergi kemana mana, temanin Lilia disini."
Tari kebingungan dengan tingkah Lilia, duduk di samping majikannya itu," Nona itu kenapa? Kok kaya orang ketakutan gitu. "
"Sudah pokoknya, malam ini Bi Tari harus tidur di kamar Lilia. "
Tari sedikit menolak perkataan majikannya itu," mana mungkin nona, saya seorang pembantu tidur bersama majikan."
"Aduhh, masalah seperti itu tak apa. Yang terpenting Bi Tari menemani Lilia malam ini saja."
"Ya sudah kalau begitu."
Wina malah semakin sengaja membuat nona kecil itu semakin ketakutan. " Nona Lilia."
Teriakan Wina, membuat Lilia menarik tangan Tari, untuk masuk ke dalam kamar. Wina yang menyadari kepergian Lilia, mengikuti mereka berdua hingga ke kamar.
"Nona Lilia. "
Kedatangan Wina secara tiba tiba mengagetkan Lilia, padahal dia berusaha lari dengan cepat. Tapi Wina datang secara tiba tiba. Tari berusaha memeluk sang majikan, menghilangkan ketakutannya, lalu berkata. " Tunggu. Ada apa Bi Wina datang ke sini. "
Wanita tua itu malah tersenyum kecil, lalu menunjukkan sebuah minuman jus yang terlihat begitu segar.
"Ini Bi Wina hanya ingin mengantarkan jus ini saja."
Lilia malah bersembunyi dibalik punggung Tari," Bi, aku takut. Suruh Bi Wina pergi dari kamarku. "
"Baik Nona. "
__ADS_1
Karena printah Lilia, membuat Tari menurut.
Tari kini bangkit dari tempat duduknya, mendekat lalu berbisik pada telinga Wina. " Bi Wina sebaiknya jangan ke sini. "
"Loh, kenapa?"
"Nona Lilia takut pada bibi, jadi yang membuat makanan untuk Lilia, biar Tari saja!"
"Mm, baiklah. "
Wina mulai menyerahkan minuman yang baru saja ia buat pada Tari. Dimana wanita tua itu pergi dari kamar Lilia.
"Tunggu, Bi. "
Wina kini membalikkan badan, menatap ke arah Tari, " Ada apa?"
Menelan ludah dan berkata, " sekalian ambil saja minuman ini, soalnya Nona Lilia lebih suka jus buatan saya."
Wina mau tidak mau mengambil jus buatannya, iya langsung meminum jus buatannya itu di depan mata Lilia dan juga Tari.
"Ini, sudah saya minum. Tidak beracun. "
Tari hanya menatap sekilas ke arah Wina, dimana wanita tua itu langsung pergi menutup pintu kamar Lilia.
"Bi Tari sini. " panggilan Lilia membuat Tari mendekat.
Tanya Tari. Duduk di samping Lilia. Wajah Lilia masih mempelihatkan rasa takutnya.
"Apa dia sudah perg?" tanya balik Lilia, menatap ke arah pintu kamarnya sendiri.
"Sepertinya sudah!" jawab Tari.
"Baguslah kalau begitu. "
Lilia mulai bernapas lega, pikirannya kini tenang setelah wanita tua itu pergi dari hadapannya.
"Nona Lilia, kenapa begitu takutnya kepada
Bi Wina? Padahal wajah Bi Wina, nggak terlalu menyeramkan jika dilihat-lihat."
Lilia mulai mengungkapkan alasan kenapa dia tidak mau melihat Wina, dan dilayani oleh wanita tua itu.
"Sebenarnya."
__ADS_1
Lilia langsung menangis histeris, terkejut dengan teriakan Tari. " Loh, Nona malah menangis, kenapa. Apa Bi Tari salah bertanya ya."
Tari terlihat begitu panik, setelah mendengar teriakan sang majikan. Lilia tetap saja menangis sembari menggelengkan kepalanya." Bukan."
"Lalu apa dong, non?"
Lilia perlahan mengusap air matanya yang terus jatuh, berharap jika air mata itu tidak terus keluar tanpa ia minta sedikitpun.
"Nona Lilia, ayo dong berhenti menangisnya, saya nggak tega lihatnya. "
Pelukan hangat dilayangkan oleh Tari, berharap jika majikan kecilnya itu bisa lebih tenang dan tidak menangis lagi.
" Sebenarnya Lilia itu bukan jijik pada Bi Wina, Lilia itu selalu terbayang akan wajah ibu yang terbakar akibat kecelakaan. "
Mendengar cerita dari nona kecilnya itu, membuat Tari ikut menangis, " Lilia melihat api menyala membakar seluruh tubuh ibu, dimana orang-orang berusaha menolong Ibu, namun takdir berkata lain."
"Sudah, jangan diteruskan. Bi Tari mengerti apa yang dirasakan Nona sekarang. "
Wina ternyata tidak pergi begitu saja, ia berada di balik pintu kamar Lilia. Mendengarkan keluh kesah anak dari kakaknya.
Memegang dada, iya juga tak menyangka jika Lilia masih teringat akan kebakaran yang menimpa ibunya itu. Sampai melihat sosok Wina selalu membuat ia sok dan juga ketakutan.
Wina benar-benar merasa bersalah, dengan apa yang sudah ia lakukan, tapi ini cara untuk bisa masuk ke keluarga Gunawan.
Agar Wina bisa membalaskan rasa sakit sang kakak yang sudah tiada.
"Bi Tari, wanita tua yang bekerja di rumah ini dengan wajahnya yang buruk rupa itu, membuat Lilia selalu teringat dengan wajah ibu, karena saat kebakaran itu, Lilia mau lihat wajah Ibu terbakar dan penuh luka. "
Semakin Lilia bercerita tentang ibu kandungnya sendiri, membuat rasa sakit yang tak tertahankan pada hati Tari." Nona Lilia yang sabar ya."
"Semua ini karena ulah Mamah Dera dan juga Papah Gunawan, andai saja mereka tidak ketahuan selingkuh dan juga melahirkan seorang anak cacat seperti Lani, kemungkinan besar. Ibu sekarang masih hidup dan berada di samping Lilia dan juga Kak Sarla. "
Tari baru tahu cerita yang sebenarnya dari mulut Lilia, pantas saja jika Lani ingin memiliki kasih sayang dari Gunawan, ya sampai tega melakukan hal yang tidak baik pada Lilia dan juga Sarla.
"Nona yang sabar, kita tunggu saja hukum karma berlanjut, kemungkinan besar wanita seperti Bu Dera akan merasakan akibatnya."
Wina belum juga pergi dari balik pintu kamar Lilia, masih mendengarkan curhatan dan juga keluhan sang keponakan," Andai kamu melihat aku Lilia, Kamu mungkin akan menyangka bahwa aku ini ibumu yang sudah lama meninggal dunia, karena wajah kita sama-sama memiliki kesamaan."
Wina bergumam dalam hati dengan memegang dadanya.
Tak terasa Wina terus meneteskan air matanya, iya buru-buru pergi dari pintu kamar Sang keponakan.
Dera mengerutkan dahinya, melihat penampakan Wina yang berada di depan pintu kamar anak tirinya, " kenapa dia menangis, ada apa?"
__ADS_1
Setelah kepergian Wina yang terburu-buru, Dera kini berjalan menuju ke pintu kamar anak tirinya. " Kenapa si Wina itu menangis, apa yang sudah ia lihat?"
Pertanyaan dan rasa penasaran menggebu dalam hati. Sampai ....