
Gunawan lupa jika Lilia membenci mama tirinya itu, ia malah menyuruh Sarla untuk membujuk Dera.
"Kenapa sayang?"
Lilia mulai duduk berhadapan dengan sang papah, ia lalu menatap lelaki tua itu dan berkata!" Kalau papa menyuruh kak Sarla melakukan hal itu, yang ada Mama Dera akan besar kepala, dia tidak akan menyadari kesalahannya!"
Gunawan yang mendengar perkataan Lilia yang tegas membuat ia teringat akan alamarhum sang istri yang sudah meninggal dunia.
"Apa yang dikatakan Lilia ada benarnya, pah. Kita biarkan saja Mama Dera dengan kehidupannya sendiri, toh jika Mama Dera nanti juga butuh papa. "
Gunawan mengusap janggutnya, ia memikirkan perkataan kedua anaknya, " ya sudah. Papah, menurut saja, apa yang dikatakan kalian."
Lilia dan juga Sarla saling menatap satu sama lain, mereka berhasil membuat sang papa mendengar perkataan mereka berdua.
Adik dan kakak itu sudah bisa menguasai pikiran Gunawan yang awalanya selalu berpihak dengan Dera.
"Syukurlah papa sekarang sudah sadar," Gumam hati Sarla.
Dimana lelaki tua itu mulai menatap jam ditanganya. " Sudah pukul empat sore, bagaimana kalau kita pulang sekarang Lilia, kalau papah pulang dari kantor kita ke sini lagi."
Lilia tampak bersemangat mendengar perkataan Gunawan, ia menjawab. " Baik pah."
Sang papa mulai beranjak berdiri, lalu berpamitan pulang kepada anak pertamanya itu, " kamu jaga dirimu baik baik ya sayang, papah mengerti keadaan kamu sekarang. Setelah mendengar cerita jika Daniel mengalami amesia, papa tak tega meninggalkan kamu sendirian di rumah ini, apa kamu mau ikut papah pulang."
Sarla menggelangkan kepala, lalu menjawab. " Papah tak usah berlebihan seperti itu, Sarla bisa kok sendirian tinggal di sini tanpa Daniel."
"Tapi semakin kandungan kamu semakin besar kamu membutuhkan seseorang untuk menemani kamu Sarla. "
"Masih ada pembantu di rumah papah tak usah kuatir ya. "
Mendengar perkataan anaknya, Gunawan hanya bisa pasrah, " ya sudah jika itu yang kamu inginkan, papah tidak akan pernah memaksa kamu, jaga dirimu baik baik ya sayang."
Sarla tersenyum ia menjawab perkataan Gunawan," iya pah, terima kasih atas pengertiaannya."
Gunawan mengusap pelan kepala rambut anaknya, mencium kening Sarla lalu berucap," kamu jangan capek-capek ya banyak-banyak istirahat. "
Sarla mengganggukan kepala setelah mendengar apa yang dikatakan sang papa.
Dimana Lilia mencium punggung tangan sang kakak.
"Kamu jangan lupa apa yang tadi kakak katakan?"
__ADS_1
Lilia mempelihatkan jempol tangannya, dimana sang papah kini memanggil anak itu, " Lilia ayo."
"Iya pah."
Anak itu mulai masuk ke mobil sang papah, dimana ia melabaikan tangan, lalu tersenyum. " Dadah kakak. "
"Dadah."
Kepergian Gunawan dan Lilia membuat hati Sarla sedikit terobati.
"Sarla."
Penampakan sang ibu mertua tentunya mengejutkan Sarla, dimana ia mencium punggung tangan sang ibu mertua." Ibu sejak kapan datang ke sini. "
Sarla terkejut karena melihat wanita tua itu sudah ada dihadapannya. " Baru saja ibu datang. "
"Ayo masuk. "
Sarla mempersilakan sang mertua untuk segera masuk ke dalam rumah, di mana Alenta berjalan lalu duduk di atas sofa.
Terlihat raut wajah sang mertua tanpak muram, Sarla penasaran. Sampai ia bertanya," ada apa bu, tumben ibu datang ke sini?"
"Apa kamu mau tinggal di rumah."
Sarla sontak terkejut dengan perkataan ibu mertua, dimana ia terdiam.
"Sarla, apa kamu mau tinggal bersama ibu, Daniel dan juga Wulan?"
Kenapa harus ada tawaran seperti itu, padahal Sarla berusaha menghindar agar perpisahan nanti tak menanamkan luka.
"Sarla tidak mau bu, Sarla lebih baik tinggal di sini saja. "
Alenta memegang punggung tangan menantunya dengan memohon, agar Sarla mau mengikuti keinginan sang mertua.
"Ayolah Sarla, kamu juga kan istri Daniel. "
Sarla berusaha melepaskan tangan ibu mertua yang memegang tanganya, dimana ia berkata lagi.
"Bu, berat rasanya jika Sarla harus tinggal di rumaj ibu."
Sang ibunda berdiri, dimana ia bertanya lagi. " Kenapa? Kamu ini bagian dari keluarga kami. "
__ADS_1
"Sekarang memang ia, tapi setelah anak ini lahir. Kita tidak ada hubungan keluarga lagi. "
Alenta tampak kecewa dengan perkataan menantu keduanya itu, ia merasa jika Sarla menyerah.
"Jadi apa yang kamu katakan pada Wulan kemarin itu benar?"
"Ya bu!" Dengan tegasnya Sarla menjawab, tanpa keraguan.
"Kenapa Sarla, kenapa? Padahal ibu sangat nyaman mempunyai menantu sepertimu. " Alenta meluapkan isi hatinya, ia tak ingin kehilangan Sarla, yang begitu baik.
"Maaf bu, Sarla hanya menuruti seusai perjanjian yang ditulis Daniel!" jawab Sarla, ia tak ingin memperdebat masalah.
"Perjanjian, apa tidak bisa kamu menjadi istri Daniel seutuhnya?"
Menggelengkan kepala, lalu berucap lagi, " Maafkan Sarla bu, sepertinya Sarla tidak bisa. "
Berulang kali membujuk sarla, tetap saja wanita itu tidak mau menuruti perkataan Alenta, ia tetap bersih kuku pada pendirian dan juga surat perjanjian yang dibuat oleh suaminya sendiri.
"Apa kamu tidak merasa kasihan terhadap Daniel yang kini hilang ingatan?" tanya Alenta, mencari Alasan agar Sarla mengurungkan niatnya untuk berpisah dengan Daniel, ketika anak dalam kandungannya lahir.
Sarla mengusap perlahan perut yang mulai membesar itu," justru saat Daniel hilang ingatan tentang masalalu denganku, itulah kesempatan aku untuk pergi jauh darinya, jika Daniel tidak hilang ingatan kemungkinan besar aku akan susah pergi dari kehidupan Daniel, karena cengkraman dan juga keinginan Daniel yang sangat kuat membuat aku tak berdaya."
Alenta mendengarkan keluhan Sarla, membuat ia berkata, " jadi kamu benar-benar terpaksa setelah menikah dengan anakku?"
Sarla tak ingin lepas dari prinsipnya, iya langsung menganggukkan kepala di hadapan mertua.
Alenta mulai terduduk, ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut menantu keduanya.
Kedua air mata kini menetes, Sarla berucap kembali, " Bu, bukanya Daniel juga pernah bilang, jika dia tetap pada prinsipnya. Lalu setelah Wulan ketahuan selingkuh prinsip Daniel malah hilang begitu saja. Seharunya Daniel itu bisa tegas dalam menanggapi semua hal, jangan karena tersakiti ia langsung pindah kelain hati."
Sarla berusaha tegar mengatakan hal itu, ia menyakini dirinya jika ia tak mempunyai rasa sedikit pun pada Daniel.
Karena jika semua itu terjadi, apa bedanya Sarla dengan wanita perebut suami orang.
"Sarla, ibu tidak bisa memaksa kamu, semua itu pendirian kamu. "
"Terima kasih jika ibu mengerti. "
Alenta mulai mendekat, kembali, ia kini duduk berdekatan dengan Sarla, berbicara lembut, " untuk terakhir kalinya, seusai dalam perjanjian pernikahan kamu dengan Daniel, apa kamu mau tinggal di rumah ibu, sampai anak dalam kandunganmu ini lahir?"
Alenta mengusap pelan perut Sarla, "apa bisa Sarla, kamu menuruti keinginan terakhir, sebelum kamu pergi jauh meninggalkan ibu?"
__ADS_1