
Saat mendengar perkataan Sarla, Lani terlihat kesal, ia menutup wajahanya dengan kedua tangan dan berkata dalam hati.
"Di saat seperti ini, bisa bisanya Kak Sarla masih menanyakan Lilia, padahal saat ini aku tengah merasakan keterpurukan kehilangan mama, apa dia tidak punya rasa simpati terhadapku sedikit pun."
Tatapan Lani masih mengisaratkan kebencian, membuat manik bola mata itu menatap tajam ke arah Sarah yang mempelihatkan rasa kuatir.
"Lani, apa kamu mendengar pertanyaan kakak?" Sarla duduk di samping adik tirinya, memegang punggung tangan sang adik dengan berkata." Disituasi sedang berduka ini, kenapa Kak Sarla masih saja mempedulikan Lilia, aku juga adik kakak. Adakah rasa simpati dan rasa kuatir Kak Sarla kepadaku. "
Gunawan mendengarkan keluhan Lani, kini mendekat mengusap lembut kepala anak itu, " kamu yang tenang ya sayang, Kak Sarla menanyakan Lilia bukan karena tak kuatir dengan kamu Lani. Kak Sarla hanya ingin memastikan jika Lilia juga aman sama seperti kamu sekarang.
Kedua mata itu tak berkedip, masih menatap tajam ke arah Sarla, menghempaskan tangan sang kakak. Lani kini membuang muka, ia terpikirkan akan niat jahatnya.
Semua terdiam, dimana Sarla menatap ke arah sang papah. Dimana Lani kini membalikkan badan menatap ke arah keduanya. " Apa kalian ingin tahu keberadaan Kak Lilia sekarang ada dimana?"
"Tentu Lani, dia ada dimana?"
"Asal papah dan Kak Sarla tahu, kematian Mama Dera semua gara gara Kak Lilia!"
Jawaban yang membuat keduanya terkejut, apalagi Sarla, ia terlihat mengerutkan dahinya masih tak percaya dan merasa semua itu hanya kebohongan dan rekayasa yang dibuat buat sengaja oleh Lani.
"Kenapa? Apa kalian tidak percaya dengan Lani?"
Sarla dan Gunawan saling menatap satu sama lain, dimana mereka berusaha bertanya dengan raut wajah masih tak percaya. " Bukan kami tidak percaya Lilia kan masih kecil, dia tak mungkin melakukan kejahatan kriminal yang tak mungkin terpikirkan oleh anak seusianya. Lani, Kak Sarla tahu kamu sangat membenci Lilia, tapi tidak harus memfitnahnya seperti itu. Oke."
Lani malah tersenyum manis, terlihat ia belum puas dengan karangan cerita yang akan ia sampaikan pada Sarla dan Gunawan.
Gunawan mendekat, ia mengerti jika yang dibutuhkan Lani sekarang sebuah kasih sayang dan dekapan.
"Lani, papah tahu, apa yang kamu rasakan saat ini. Tapi jangan sampai .... "
Lani yang kesal kini berteriak, " stop, jangan menganggap aku seperti anak kecil lagi, aku tahu kalian ini tak suka dengan mama dan aku. Tapi pelease percaya kepadaku saat ini juga. "
__ADS_1
Sarla berusaha menenangkan Lani, ia tahu jika adik tirinya itu belum sepenuhnya menerima kepergian sang mama.
"Kakak mengerti apa yang kamu rasakan, tapi Kakak mohon tenangin dulu hati dan pikiran kamu, oke."
Sarla berusaha menunjukkan kasih sayangnya, memegang bahu Lani, " kamu tenang ya sayang. " Perlahan Sarla memeluk tubuh Lani. Namun pelukan itu tiba tiba dihempaskan begitu saja oleh Lani.
"Maafkan, aku bukan anak kecil. Ketika sedang sedih mendapatkan pelukan cuman cuman."
Mendengar hal itu, Sarla terlihat diam membisu, ia tak mengerti dengan jalan pikiran adik tirinya.
"Lani, jika memang Lilia melakukan semua ini, apa kamu bisa menjelaskan kejadiannya."
Gunawan mencoba menguji Lani, apakah nada bicaranya akan lancar atau terlihat gugup, saat Lani menceritakan semua kejadian yang sebenarnya.
"Lani, ayo ceritakan. "
Sebuah kesempatan untuk Lani yang pastinya menciptakan kebohongan.
Sarla mencoba tersenyum dan mengusap pelan tubuh Lani dengan penuh kasih sayang. " Kak Sarla, bisa tidak jangan perlakukan Lani seperti anak kecil. "
Tegas Lani, sepertinya anak itu sudah terlanjur benci dan sakit hati terhadap Sarla. Sampai tangan Sarla yang menyentuh tubuh Lani sedikitpun, malah terkena bentakan dari anak berusia sepuluh tahun itu.
Gunawan mencoba menasehati Lani, dengan harapan agar Lani mengerti apa maksud dari Sarla. " Lani, kak Sarla sangat sayang pada Lani. "
"Pers*tan dengan kasih sayang, yang pada akhirnya ia cari muka di depan papah, pembodohan sekali, " gerutu hati Lani.
Sarla masih menampilkan wajah tenangnya, ia tampak sabar menghadapi sifat sang adik tiri.
"Lani, coba cerita," ucap Gunawan, sudah siap mendengarkan cerita Lani. Berharap jika cerita itu bukan rekayasa dan kebohongan semata.
"Lani, ayo cerita, " ucap lagi Gunawan dengan wajah sendu, ia tetap mempelakukan Lani dengan lembut.
__ADS_1
"Baiklah aku akan menceritakan semuanya, " balas Lani, menarik napas mengeluarkan secara perlahan.
Kedua tatapan Sarla dan Gunawan begitu serius, mereka seakan tak sabar ingin mendengar cerita Lani.
"Awal kejadian, Lilia kabur dari rumah selama dua hari, Lani dan mama berusaha mencari keberadaan Lilia, tapi, Lilia susah sekali ditemukan, sampai Lilia datang dengan segerombolan pereman dan juga anak anak jalananya."
Sarla memotong pembicaraan adik tirinya itu, " Jadi saat Lilia kabur dari rumah selama dua hari dia langsung mempunyai teman? Seperti pereman dan anak jalanan?"
Lani kesal jika ceritanya dipotong begitu saja, ia menatap tajam ke arah Sarla, sampai Sarla mengerti kode mata itu.
" Mm, maaf Lani, coba kamu ceritakan lagi. " ucap Sarla, dimana ia bergumam dalam hati, " dari carita awal sudah terlihat bohongnya. Lilia itu anak yang tidak sembarangan mempunyai teman. Apalagi Lani mengatakan jika Lilia mempunyai teman seorang pereman setelah kabur dari rumah, cerita yang tidak masuk akal. "
"Lani tidak tahu bagaimana bisa Lilia berteman dengan pereman itu, tapi yang jelas, Lilia memerintah pereman itu dengan seenaknya, dia menyuruh para pereman lelaki itu untuk memperkosa mama. "
Gunawan kini mempertanyakan dimana keberadaan Lilia, pada Lani.
"Lani, sekarang papah tanya sama kamu? Apa kamu tahu keberadaan Lilia ada dimana?"
Lani berusaha menutupi kegelisahaanya itu, ia berusaha tetap tenang, agar kedua orang yang sangat ia benci percaya.
"Lani, " Panggilan Sarla membuyarkan lamunan Lani, dimana anak itu hanya menjawab, " Lilia pergi bersama anak anak jalanan ke sebuah gedung tua yang sudah terbengkalai sejak lama. "
"Apa kamu bisa menunjukkan gedung tua itu, " ucap sang papah dengan harapan jika anak ketiganya mau menunjukkan tempat keberadaan Lilia sekarang.
"Bisa saja, tapi setelah beres pemakaman."
Sarla memaklumi perkataan anak kecil itu, " baiklah."
Lani sengaja mengatakan semua itu, agar pencarian Lilia tidak terburu buru, karena ada hal yang akan ia lakukan setelah ini.
"Lilia, setelah pemakanan aku akan membuat kamu hancur dan dibenci orang orang yang sangat menyayangimu. " Gumam hati Lani, terlihat Sarla tak percaya dengan adik tirinya itu, karena ia sudah lama mengenal watak Lani sejak dulu.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya direncanakan Lani?" Gumam hati Sarla.