Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 165


__ADS_3

"Tidak bisa bu, pokoknya aku tak terima jika suamiku mengantarkan dia. " Tegas Wulan pada ibu mertua. Dimana Alenta menggelangkan kepala lalu menjawab, " memangnya hanya Daniel saja yang mengantarkan Sarla, kamu juga ikut. Ibu gak suruh Daniel saja kok. "


Wulan tampak malu pada dirinya sendiri, " oh aku kira ibu suruh Daniel saja tanpa menyuruhku. "


"Makannya dengarin dulu ibu bicara jangan asal ngomong, " balas Alenta, sedikit bernada tinggi. Ia kesal dengan Wulan yang selalu egois dalam semua hal.


"Ya iya. " Wulan sedikit memajukkan bibirnya.


Daniel lalu menatap ke arah Sarla, secara diam diam tanpa orang sadari, " sayang, memangnya kamu mau mengantarkan wanita itu ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya?"


Pertanyaan Wulan membuat Daniel menjawab. " Jika ada kamu aku mau mengantarkan dia, jika tidak ada malas sekali. Memang suaminya kemana, istri hamil di tinggalin. "


Deg .....


Semua terdiam, tak ada yang menjawab satupun perkataan Daniel. Apalagi Wulan, " sayang sebaiknya kita terusin makan dulu. " ucap Wulan mengalihkan topik pembicaraan.


Daniel sudah menduga jika semua orang akan terkejut dengan jawabannya.


Daniel berdiri ia pergi terlebih dahulu meninggalkan semua orang yang tengah menikmati makanannya masing masing.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Wulan, memanggil sang suami.


"Aku mau pergi ke luar sebentar!" jawab Daniel membalas perkataan istrinya.


"Loh, makannanya masih banyak, belum kamu habisakan?" tanya Wulan kembali. Namun Daniel tak menjawab, sepertinya ia sudah pergi jauh.


Menatap ke arah Sarla dan juga ibu mertua, " semua ini karena ibu, bukanya ibu sudah berjanji kepadaku, jika Sarla ada di sini. Tidak akan mendekatkan Daniel lagi dengan Sarla. Tapi kenapa ibu malah ingkar janji."


Wulan tampak terlihat murka, ia kesal dengan ibu mertua, lalu menatap ke arah Sarla. " Aku harap kamu tidak merayu Daniel, Sarla."


"Aku sudah katakan pada kamu, aku tidak serendah yang kamu katakan, " ucap Sarla berusaha membela harga dirinya sendiri.


"Sudah sudah, jangan bertengkar, Wulan. Ibu tidak berniat mendekatkan Daniel dengan Sarla, ibu hanya ingin Sarla merasakan dikehamilannya ini diperhatikan suaminya sendiri, agar bayi dalam kandungan Sarla menjadi sehat dan pikiran Sarla terjaga, " timpal ibu mertua.


Memukul meja makan, lalu berdiri. " Alah alasan saja ibu ini. "


Wulan pergi dari hadapan mereka berdua, menyusul sang suami yang terlihat bete karena kehadiran Sarla.


"Sarla."


"Sudah bu, tak usah dibahas lagi. "


"Tapi."


"Maaf bu, Sarla pergi duluan. "


"Makannya?"

__ADS_1


"Sudah kenyang!"


Kini hanya ada Alenta duduk dengan makananya, semua orang pergi. Dengan kemarahannya masing masing.


Alenta mulai menaruh makanannya, ia merasa tak ada napsu jika melanjutkan makan sendirian.


Berdiri, lalu menatap ke arah Sarla yang sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Sarla maafkan ibu yang terlalu memaksakan kamu untuk tinggal di rumah ini."


Sarla menutup pintu lalu menguncinya, ia merebahkan tubuh dengan menangis, baru pertama kali hamil, sudah mendapatkan hal yang sangat menyedihkan.


"Daniel. Padahal aku berusaha melupakanmu, berharap jika hati ini tidak memendam rasa sedikitpun, tapi saat aku mengandung anakmu, benih cinta itu pun tiba-tiba muncul. "


Sarla melampiaskan kemarahannya di dalam kamar sendirian.


Dimana ketukan pintu terdengar, mengagetkan Sarla.


Tok .... Tok ....


Ketukan pintu mengagetkan Sarla, dimana ia mengusap kasar air matanya, menutupi kesedihan yang ia rasakan saat itu.


"Sarla, ini ibu. Apa kamu bisa membuka pintu untuk ibu. "


Tutur kata lembut sang ibunda yang memanggil namanya, membuat Sarla luluh dan menjawab. " Iya bu. "


Membuka pintu kamar, Alenta tersenyum. Namun Sarla masih menundukkan wajahnya.


Sarla mempersilahkan sang ibu mertua untuk masuk ke dalam kamar, di mana aja masih menundukkan wajah. Karena tak ingin jika sang ibu melihat kesedihannya saat itu.


Duduk di ranjang tempat tidur, Sarla kini duduk di samping ibu mertua.


"Kenapa, Ibu lihat kamu habis menangis, apa kamu sakit hati?"


Sarla menggelengkan kepala, ia berusaha menutupi kesedihannya." coba katakan pada ibu?"


Memberanikan diri untuk menatap sang ibunda, " Sarla baik baik saja kok bu. "


Mempelihatkan senyuman, berharap wanita tua itu percaya akan perkataan Sarla.


Entah kenapa sejak ia hamil bawaannya itu selalu ingin menangis, ketika melihat sesuatu yang membuat dirinya sensitif.


"Ibu mengerti posisi kamu saat ini, ayo katakan. Jangan kamu pendam sendiri?"


Alenta terus menekan menantunya untuk mengatakan semua yang dirasakan Sarla saat itu.


"Sarla."

__ADS_1


Sarla ragu, ia tak tahu harus mulai dari mana.


"Sarla, dulu ibu juga seperti kamu. Ketika hamil selalu cengeng, apapun di pendam, setiap kali bawaannya sesitif mulu. "


Sarla menatap kearah mertuanya itu, mendengarkan cerita yang terus dituai.


"Ayo katakan pada ibu, ibu tahu apa yang sedang kamu rasakan saat ini."


Sarla tiba-tiba saja memeluk sang ibunda dengan begitu erat, dia menangis sejadi-jadinya, hatinya merasa begitu sakit.


"Sarla tidak apa apa kok bu, mungkin ini hanya bawaan bayi saja. '


" kalau kamu sudah siap untuk bercerita cerita saja pada ibu ya, Ibu tahu sekarang kamu ini belum siap menceritakan semua yang kamu rasakan. "


"Tidak ada bu, Sarla hanya ingin memeluk ibu saja. "


Memeluk wanita tua yang menjadi mertuanya itu terasa hangat, Sarla perlahan merasakan rasa nyaman, dimana kesedihannya itu mereda.


Mungkin saat ini yang ia butuhkan, suatu dukungan dan support dari orang-orang sekitar.


pelukan itu kini terlepas, Sarla mengusap perlahan air matanya yang terus jatuh mengenai pipi.


Ia tersenyum, dimana senyumannya itu bukanlah sebuah senyuman keterpaksaan.


Sampai sosok Bi Siti datang mengagetkan keduanya," Bi Siti ngapain di sini?"


Alenta menatap wanita tua itu dengan tatapan kesal. " Maaf nyonya, saya hanya ingin memberi tahu jika di depan ada orang yang mencari keberadaan nyonya. "


"Siapa?"


"Saya kurang tahu!"


"Ya sudah saya ke sana sekarang. "


Alenta menatap ke arah Sarla, memegang kedua bahu menantunya. " Sarla, ibu pergi dulu ya, mau menemui orang yang mencari ibu, kamu jangan sedih lagi ya. Ibu tak suka, melihat menantu kesayangan ibu ini bersedih."


"Iya bu. "


Alenta kini beranjak berdiri untuk segera menemui orang yang tengah mencari keberadaannya.


Bi Siti yang masih berada di dalam kamar Sarla, membulatkan kedua matanya. Iya kini mendekat ke arah Sarla.


"Saya berharap jika keberadaan kamu di sini tidak mengganggu rumah tangga Nyonya Wulan."


Sarla hanya terdiam, mengabaikan perkataan wanita tua yang menjadi pembantu di rumah Daniel.


"Kamu dengan tidak apa kata saya?"

__ADS_1


Sarla, beranjak berdiri, lalu menjawab perkataan Bi Siti. " Anda itu hanya pembantu di rumah ini, saya harap anda tidak banyak ikut campur urusan saya, sok-sokan menjadi pahlawan Mbak Wulan."


"Hey."


__ADS_2