
Bi siti berusaha menenangkan majikannya itu," Nyonya harus tenang."
Angga tetap mengukir senyumnya di depan Wulan, seperti sengaja melakukan hal itu, agar Wulan tampak terlihat stress.
"Wulan, dadah. "
"Pergi, Angga."
Menangis, histeris. Wulan kini memeluk Bi Siti. "Sabar Nyonya Wulan."
Angga berjalan keluar dari ruangan rumah sakit, ia tersenyum sinis, saat menatap ke arah Wulan dalam kepergiannya.
"Wulan, aku akan tetap mengusik hidupmu bagaimanapun itu, karena dalam rahimmu itu ada anakku yang harus kamu lahirkan, Aku ingin melihat Daniel hancur. "
Varel menyelidiki lelaki yang terus masuk keluar dari ruangan Wulan, Iya penasaran sekali dengan lelaki itu, karena setiap kali keluar dari ruangan Wulan tanpak depresi dan tertekan.
"Sebenarnya siapa lelaki itu, kenapa dia sering datang ke ruangan Bu Wulan. Apa tujuannya."
Ponsel Varel kini bergetar, dimana Daniel menelepon. " Halo, Varel. "
"Iya, pak Halo. "
"Oh ya, Varel. Sekarang kamu ada di mana?"
" Sesuai perintah Pak Daniel saya berada di rumah sakit. "
"Bagus kalau begitu. "
" kamu tenang saja ya Varel, soal bayaran, tak usah takut, saya akan membayar kamu dua kali lipat dari pekerjaanmu yang sekarang."
Saat ini, Varel ingin bercerita pada Daniel tentang lelaki yang keluar masuk dari ruangan Wulan.
Namun, Daniel malah langsung mematikkan panggilan telepon.
"Pasti, setiap kali, Pak Daniel menelepon hanya sekejap saja, selebihnya ia seakan tak peduli. "
Varel sudah tahu akan sifat Daniel, karena ia sudah hampir sepuluh tahun bekerja bersama Daniel, setelah kepergian seorang lelaki yang mengundurkan diri karena masalah sepele yang entah Varel tak tahu masalah apa.
Varel mulai masuk ke dalam ruangan, membuka pintu ruangan, sampai Wulan terkejut dan terburu buru meredamkan kekesalannya, agar tak napak terlihat oleh orang lain apalagi sang asisten.
"Varel, kenapa kamu datang ke sini terus. "
__ADS_1
"Maaf bu, saya diperintahkan Pak Daniel."
"Sekarang Daniel ada di mana?"
"Untuk masalah itu saya tidak tahu!"
Menggenggam erat kedua tangan, ingin rasanya marah kembali pada kenyataan hidup, jika Daniel tidak mau menemani Wulan di rumah sakit saat dalam keadaan hami.
Sakit rasanya hati Wulan saat ini, bagaimana bisa ia kuat menjalani semuanya, jika sang pujaan hati tak pernah menemani.
"Apa ada sesuatu yang dibutuhkan Ibu Wulan?"
Wulan menganggukkan kepala dan berkata," tidak Varel, saya ingin Daniel ada di samping saya saja."
Varel mengerti akan hal itu, tapi bagaimana lagi, Pak Daniel sekarang berubah entah karena apa?
"Varel, apa dia selalu bersama Sarla."
Varel bingung harus menjawab apa kepada Bu Wulan, karena jika ia memberitahu yang sebenarnya kemungkinan besar Wulan akan sakit hati. Dan Varel tidak ingin tersalahkan akan hal itu, maka dari itu hanya bisa menggelengkan kepala menjawab dengan ketidaktahuannya.
" Tidak Bu Wulan."
"Kamu jangan berbohong Varel. Aku ingin mendengar kejujuran dari kamu soal Daniel yang sekarang sering berjalan berdua dengan Sarla."
Menelan ludah, Varel mulai memotong pembicaraan Wulan," Nyonya, saya mau pergi keluar ruangan. "
Wulan tidak percaya dengan perkataan Varel, ya kini menahan sang asisten agar tidak pergi dari ruangannya, " sudah Varel Kamu jangan pergi tetap disini Temani saya bersama Bu Siti. "
Sebagai asisten kepercayaan Daniel Varel harus menurut kepada Wulan, walau sebenarnya ia sangatlah Malas saat menurut kepada Wulan.
Karena istri dari atasannya, selalu memerintah hal yang tak wajar, yang pastinya mengganggu dan membuat Varel tak nyaman.
"Saya ingin menunggu anda di luar ruangan saja, Bu Wulan."
" Varel, sudahlah. Tunggu saya di sini, karena Bi Siti ingin keluar sebentar. "
"Yakan Bi."
Bi Siti, tak mengerti apa yang dikatakan Wulan, padahal ia tidak mau keluar sama sekali karena makanannya di rumah sakit sudah dijamin oleh Varel. yang membawa ke sana kemari untuk mencukupi kebutuhan Wulan atas perintah Daniel.
"Bi Siti benarkan. "
__ADS_1
Wulan dengan begitu sengajanya mengusir sang pembantu yang selalu menemaninya di dalam ruangan.
Tetap saja Varel pada pendiriannya Ia tetap menolak ajakan Wulan.
"Saya pergi keluar ruangan Bu Wulan."
"Varel, kamu ini kenapa sih. "
Wulan menekan sang asisten, dimana Bi Siti seperti orang kepo yang ingin selalu tahu.
Di saat ajakan Wulan pada Varel, suara ponsel Wulan terdengar nyaring, Wulan langsung menganggkat panggilan itu," Halo. "
"Halo, sayang. "
Ternyata suara Angga, lelaki yang selalu mengganggu kehidupan Wulan, kini menelpon dirinya kembali lagi.
Wulan malas meladeni mantan selingkuhannya itu, ya langsung mematikan panggilan telepon berusaha tak peduli dengan ucapan yang terlontar dari mulut Angga. " Kenapa lelaki bernama Angga itu selalu mengusik kehidupanku, makanya aku sudah memberikan segala-galanya kepada dia, tapi kenapa sampai sekarang dia selalu mengusik kehidupanku setiap menit detik dan waktu."
Bi Siti keluar, namun kini ditahan kembali oleh Wulan agar tidak pergi dari ruangannya." Bi Siti, sudah jangan pergi dari ruangan ini, aku lebih membutuhkan Bi Siti daripada Varel. "
Varel kini bernapas lega mengusap pada dada bidangnya ia terburu-buru pergi dari ruangan Wulan.
"Saya permisi keluar sebentar ya nyonya. "
Wulan menganggukan kepala menyetujui Varel keluar dari ruangan. Padahal ada hal yang ia ingin bicarakan dengan Varel, namun terganggu oleh telepon Angga yang ternyata masih menyelidiki dirinya.
Hidup Wulan yang berada di rumah sakit kini tengah diperhatikan oleh Angga, terlihat sekali dari nada bicara Angga yang mengetahui ke akal dan niat busuk yang akan Wulan lakukan.
Wulan sekarang benar-benar, diteror kehidupannya oleh Angga selingkuhannya sendiri.
"Bi Siti, tetap di sini ya aku masih butuh Bi Siti."
wanita tua yang selalu menenangkan Wulan pada akhirnya duduk kembali di posisinya yang seperti tadi.
Varel, kini mengirim pesan kepada Daniel memberitahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah sakit, ya tidak mau menjadi salah satu fitnah jika varel terus-menerus berada di rumah sakit.
Bagaimana pun Varel harus bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang lelaki yang tak mudah tergoda oleh wanita manapun apalagi wanita yang sudah bersuami seperti Wulan, karena dari gerakan Wulan seperti ada sesuatu yang ingin mengajak diri Varel dalam pelukan wanita itu.
Apalagi sorot mata Wulan menandakan jika Iya Tengah frustasi dan ingin melampiaskan semuanya kepada laki-laki lain, apalagi sekarang Daniel lebih peduli kepada istri keduanya daripada Wulan sendiri yang tengah mengandung dan bersusah payah untuk berjuang membesarkan anak yang tidak diakui oleh Daniel sendiri.
Setidaknya Wulan sekarang haus akan kasih sayang, laki laki
__ADS_1