
Sarla menatap dalam dalam wajah wanita yang menjadi mertuanya itu, memang dia tak pernah menampilkan wajahnya pada orang lain, hanya pada lelaki yang kini menjadi suaminya.
Sang ibu melambaikan tangan, melihat Sarla melamun," apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada bu!" jawab Sarla, tersedak akan ucapannya.
"Coba jawab, kenapa?" tanya sang ibunda dengan tutur kata ya yang lembut.
"Memang Sarla tak pernah membuka cadar saat di rumah, semenjak kematian ibu. Papah pun tak tahu wajah Sarla, apalagi adik adik Sarla. Dan saat ini Sarla hanya mempelihatkan wajah Sarla pada Daniel saja, karena sudah berjanji pada ibu, jika sudah menikah baru diperlihatkan pada satu orang saja, tapi .... "
Alenta memegang punggung tangan Sarla, dan berkata," ibu tahu apa yang kamu rasakan, maafkan ibu ya, tak bisa mendidik Daniel dengan benar."
Mendengar hal itu, Sarla kini menjawab," ibu tidak salah apa apa, kok. Sarla saja terlalu berlebihan."
"Kamu tidak berlebihan, kamu memang anak baik Sarla, beruntung Daniel mendapatkan kamu. Hanya ibu sayangkan, Daniel menikahi kamu secara kontrak. Kamu wanita hebat bisa membahagiakan orang tua kamu sedangkan diri kamu, kamu biarkan menderita asal keluarga kamu tersenyum. Ibu juga tak menyangka awal kamu bertemu dengan Daniel, kamu menolak dia mentah mentah, menyuruh dia meminta izin, yang dimana, Wulan ternyata ...."
Wanita tua itu, tak meneruskan perkataanya, membuat wanita bercadar silver itu mengerutkan dahi. " kenapa?"
"Ahk, masalah itu, mungkin kamu tak usah tahu, takutnya hanya simpang siur. "
Sarla tak memperpanjang ucapannya, ia hanya diam dan berusaha tetap tak ingin tahu masalah yang terjadi. Memang dalam ucapan Daniel atau pun Alenta, membuat rasa penasaran menyeruak pada hati dan pikiran Sarla.
Daniel yang berada didepan pintu mendengar obrolan Sarla dan ibunya, merasa menyesal, perasaanya tak karuan. Seakan menjalar pada hati dan pikiran Daniel.
"Apa aku keterlaluan kepada Sarla?" Gumam hati lelaki berkulit sawo matang itu.
Dia mulai melangkahkan kakinya pergi dari depan pintu kamar ibunya.
Berjalan menuju ke kamarnya sendiri, merebahkan tubuh, sifat cemburunya kini sedikit mereda.
Tring. Satu pesan datang. ( Paman, apa bisa paman bersikap lembut pada Sarla).
Pesan yang datang membuat sang CEO murka, bagaimana bisa sang keponakan berkata sedemikian, ( Kenapa kamu berkata seperti itu? Kamu hanya keponakanku. Tak ada hak sedikitpun kamu mengatur Kehidupanku bersama istriku.)
__ADS_1
( Memang aku keponakanmu paman. Tapi tetap saja, jika aku melihat wanita yang sangat aku cintai kamu sakiti. Rasanya tak ikhlas sekali.)
Mendengar hal itu membuat, Daniel semakin ingin tahu ada hubungan apa keponakannya dengan sang istri, karena mendengar dari perkataannya begitu menyakinkan.
(Tetap saja, walau dia wanita yang kamu cintai, dia tetap milik om sepenuhnya, kamu tahu itu.)
Perkataan yang membuat kepalan tangan Daniel kini layangkan pada kasurnya.
"Sialan, apa maksud si rafa ini, bisa bisanya ia berkata seperti itu."
(Ya aku tahu, tapi akan ada waktunya nanti, kamu berpisah dengan wanita yang sangat aku cinta. )
( Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu, belum tentu aku akan melepaskan Sarla.)
( ya aku berkata seperti ini memang pada kenyataan, sebentar lagi Kamu akan meninggalkan Sarla setelah ia melahirkan anak kamu kan.)
Daniel tak menyangka jika perjanjian kontrak akan sampai pada telinga ke telinga yang lain, padahal Ia sudah menyuruh semuanya untuk tutup mulut rapat rapat agar tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan kontraknya.
Daniel semakin penasaran, Siapa yang sudah memberitahu tentang pernikahan kontraknya dengan Sarla.
( jangan sok tahu kamu anak muda, perjanjian itu hanya ditulis di atas kertas, bisa saja aku mengubah surat perjanjian itu kapanpun.)
Rafa tak menyangka dengan perkataan Daniel yang begitu licik, bisa-bisanya lelaki yang menjadi pamannya itu. Ingin seenak yang ia mau,( Aku pastikan surat perjanjian itu tidak akan bisa dirubah,)
( Oh jadi kamu ingin jadi pahlawan kesiangan, atau seorang penyelamat dadakan.)
Daniel mengirim emoji tertawa dalam pesan lagi ya tulis, Rafa yang melihat isi pesan itu, seketika melemparkan ponselnya.
Sedangkan Daniel merasa senang dengan apa yang ia lakukan, tak peduli jika orang itu menderita atau tidaknya, yang dia pikirkan sekarang. kebahagiaan dirinya sendiri.
Ponsel Rafa berbunyi seketika, di mana anak muda itu mulai turun dari ranjang tempat tidurnya, mengambil ponsel yang baru saja ia lemparkan.
(Rafa, kamu sebagai keponakanku ternyata menarik juga. Bagaimana kalau kita beradu untuk bisa mendekatkan hati saya,)
__ADS_1
(Beradu, Maksud Paman.)
(Ya, beradu dalam hal wanita.)
Rafa seperti tertarik dengan perkataan sang paman, hingga di mana ia mulai menyetujui keinginan sang Paman untuk bersaing mendapatkan hati sarla.
( Bagaimana Rafa? Apa kamu setuju? Jika kamu memang tidak setuju berarti kamu paman anggap lemah dan kalah.)
Mendengar hal yang diucapkan sang paman, seperti membuat sebuah sindiran keras, untuk beradu dengannya.
( Baiklah kalau begitu aku akan terima tantanganmu paman, hanya untuk mendapatkan hati Sarla bukanlah hal yang sulit bagiku. Aku akan berusaha keras mendapatkan hatinya agar bisa pergi jauh dari kehidupanmu paman,)
Daniel semakin senang dengan Rafa yang menerima tantangannya itu, seperti sebuah permainan yang akan mereka mainkan.
( Jadi jika aku menang apakah sarla akan menjadi milikku selamanya.)
Membaca pesan dari sang keponakan membuat hati Daniel merasa tak Ridho, karena perlahan demi perlahan hati dan yang sedikit terbuka untuk Sarla. Rafa yang menunggu jawaban dari Daniel, sudah saya sabar ingin membaca pesan balasan.
( baik aku akan setujui semuanya, jadi Paman tak usah kuatir bahwa aku ini bukan laki-laki yang lemah dan hanya bisa meminta belas kasihan paman.)
Mlu endengar perkataan Rafa membuat Daniel sedikit muak, tentunya ada rasa benci menyelimuti hatinya ketika foto di Rafa dan sarla saling berpelukan.
Padahal itu hanyalah sebuah editan, yang sengaja dibuat oleh Rafa, Ketika nanti Rafa bisa meminang sarla menjadi istrinya. pastinya ia akan menunjukkan sebuah pot ukiran patung yang akan membuat dirinya senang dan juga bahagia,
( Baguslah kalau kamu memang menyadari semuanya, Aku tak akan susah payah membuat semuanya menjadi rumit.)
(Oke baiklah kalau begitu.)
persaingan akan dimulai besok! di mana Daniel sudah membuat sebuah permainan yang akan membuat keponakannya kewalahan, dan pastinya tidak akan bisa mendapatkan Sarla sampai kapanpun.
( tapi ingat ya jangan berbuat curang, Aku ingin semuanya murni, jangan minta bantuan apapun hanya kita berdua yang bersaing.)
Apa jawaban Daniel saat itu?
__ADS_1