
Bagaimana seorang anak bisa menjadi amat jahat seperti itu, bukankah dia tubuh dengan kasih sayang, Lilia anak berumur sebilan tahun yang dikenal periang dan ramah di rumahnya, kini berubah derastis menjadi sosok anak yang pendendam.
Saat kematian sang ibunda, dimana kecelakaan itu terjadi, memory anak beumur sebilan tahun itu tidak bisa dibohongi, ia menyimpan semua rasa sakitnya, karena ulah sang ayah yang sudah menghianati keluarganya, hanya untuk wanita bernama Dera.
Gunawan menikahi Dera sudah lama, hingga melahirkan seorang anak bernama Lani, namun nasib Lani tak seberuntung anak anak yang lainnya. Lani lahir dengan keadaan cacat tak bisa berjalan.
Kejadian tabrakan itu disaksikan oleh Lilia, dimana ia berada di tempat kejadian bersama sang ibunda yang tengah mengendarai mobil.
Kejadian itu disebabkan karena sang ibunda merasa sakit hati dan tak terima karena dikhianti.
Saat berniat pergi ke mall, mereka berdua melihat kemesraan sang ayah bersama wanita lain.
Membuat sang ibunda tak bisa mengontrol diri, dan menyebabkan kecelakaan yang sangat patal
"Bi tolong, Lani. "
Permintaan Lani kepada sang pembantu, agar mau menolongnya untuk berdiri, akan tetapi pembantu itu malah menatap ke arah sang Nona yang tak lain ialah Lilia.
"Nona."
Lilia tahu apa maksud dari pembantunya, hingga ia menatap tajam membulatkan kedua bola mata," jika Bibi memang ingin menolong Lani silakan saja, aku tidak akan melarang, hanya saja aku akan memberitahu Papa untuk memecat bibi hari ini juga."
Deg ....
Ucapan Lilia tentulah membuat sang pembantu ketakutan, wanita yang sudah lama bekerja di rumah Lilia kini menelan ludah hanya bisa berdiri menatap dengan penuh rasa kasihan terhadap Lani.
Melipatkan kedua tangan, tersenyum sinis lalu berucap," Bagaimana rasanya ketika kamu kesakitan seperti itu tidak ada satupun orang yang peduli padamu."
Lilia benar-benar membalaskan dendamnya kepada Lani, di saat kecelakaan itu, tidak ada satupun orang yang menolong sang ibunda apalagi Lilia melihat sang Papah yang membawa Dera dan juga Lani melewati mobil mereka.
Tidak ada hati nurani sedikitpun diperlihatkan oleh sang Papah kepada istri sahnya, lelaki yang bernama Gunawan itu rela Kehilangan sang istri daripada harus menolongnya.
Hanya saja keberuntungan berpihak kepada Lilia, dalam kecelakaan itu Lilia masih sadarkan diri dan bisa bertahan hidup seperti sekarang. Karena Iya terpental dari dalam mobil sedangkan ibunya menabrak truk kontainer yang melintas ke arah mobil sang Ibunda.
__ADS_1
Jika mengingat kejadian kecelakaan itu, selalu membuat hati Lilia benar-benar sakit, iya selalu teringat akan teriakan sang Ibunda di dalam mobil.
"Lilia, kamu itu tidak berhak menghukumku seperti ini, karena kecelakaan itu murni ulah ibumu sendiri yang tidak berhati-hati."
Plakk ....
Tamparan keras mendarat pada pipi Lani dari tangan Lilia," memang kecelakaan itu murni, tapi penyebab kecelakaan itu adalah KALIAN SEMUA." William mendekat menatap ke arah wajah sang adik tiri," jika Ibu tidak melihat kalian di mall, kemungkinan Ibu masih hidup di dunia ini."
Lani memegang pipinya, sakit bukan main tamparan yang dilontarkan Lilia, " Tapi tetap saja itu bukan kesalahan .... "
Belum perkataan Lani terlontar semuanya, Lilia kini menjawab, " CUKUP. Jangan membela diri, kalian tetap salah di mataku. "
Suara klakson mobil terdengar, di mana Lilia langsung melihat kedatangan Papanya dengan sang ibu tiri, ia menunjuk jari tangannya ke arah wajah Lani," awas aja jika kamu mengadu kepada nenek sihir itu, aku akan lebih kejam menyakitimu."
Sebuah ancaman yang terlontar dari mulut Lilia membuat Lani sedikit ketakutan, " aku tidak takut dengan ancamanmu itu?"
Lilia tak segan-segan menyakiti adik tirinya, ia meremas rambut panjang Lani, menariknya dengan begitu keras, " kamu bilang apa tadi. kamu tidak takut? Lihat saja setelah ini, camkan perkataanku ini."
Gunawan baru saja keluar dari dalam mobil bersama istrinya, dimana ia terkejut melihat Lani duduk di atas lantai dengan keadaan menangis. "Lani, kamu kok ada di sini." Lani tak bisa berucap satu patah kata pun, Iya hanya menangis merasakan rasa sakit akibat perlakuan di Lilia kepadanya.
Gunawan yang kerepotan dengan Dera istrinya, memanggil pembantu di rumah, untuk membantu Lani berdiri.
"Bi, bi. "
Sebelum pembantu itu keluar rumah, Lilia sudah memberi kode untuk tidak mengatakan siapa yang sudah membuat Lani menangis.
Pada akhirnya pembantu itu menurut kepada Lilia, karena ia tak mau dipecat begitu saja dari pekerjaan yang sudah membuatnya nyaman.
Lilia berusaha memperlihatkan raut wajah kuatirnya di depan sang papah, agar tidak memperlihatkan bahwa dirinya sudah memperlakukan Lani tidak baik.
"Nona Lani."
Pembantu itu mulai membantu Lani untuk berdiri, namun Lani malah menepis tangan sang pembantu," Nona Kenapa tidak mau dibantu oleh bibi. Ayo berdiri."
__ADS_1
Lani tampak diam dan menangis terisak-isak, ya tak mau mengucapkan satu patah katapun, sedangkan sang ibunda malah meringis kesakitan, setelah pulang dari rumah sakit.
"Ya sudah bi. Tolong bawa Dera masuk ke dalam kamar ya. "
"Baik tuan."
pembantu itu kini mendorong kursi roda yang dipakai oleh majikannya, di mana Lilia memperlihatkan jempol tangannya," kerja yang bagus." gumam hati Lilia.
Gunawan mulai mendekat ke arah anak yang dilahirkan oleh Dera, di mana anak itu kini sudah bertumbuh besar, memperlihatkan wajahnya begitu persis dengan Gunawan.
" Lani sayang, Kamu kenapa malah menangis, Ayo berdiri. Biar Papa bantu kamu ya."
Lani menganggukkan kepala setelah mendengar apa yang dikatakan Papanya, di mana Gunawan dengan sigap membantu anaknya untuk segera berdiri. " hati-hati sayang kakimu belum sembuh total. "
Betapa perhatiannya sang Papah kepada Lani, di mana Lilia mendekatkan berkata," Kenapa dengan Lani Pah?"
Lilia mulai berdrama berpura-pura tidak tahu jika Lani menangis dengan posisi duduk di atas lantai.
" Lani ada apa dengan kamu? Kok kamu bisa duduk di atas lantai sambil menangis?"
Lani tak menjawab satu patah katapun kepada Lilia, ya malah memperlihatkan kebenciannya. Di mana sang Papah mulai berkata," Lilia. Tolong ambilkan kursi roda untuk Lani ya."
Lilia berpura-pura sok baik di hadapan Papanya, memperlihatkan perhatiannya kepada sang adik tiri, agar tidak dicurigai oleh sang papa, bahwa Lilia selalu melakukan hal jahat kepada Lani.
"Aw, sakit pah. "
Lani meringis kesakitan, di mana Lilia menjunggikan bibirnya, merasa ilfil dengan apa yang diperlihatkan oleh adik tirinya.
Lilia mulai menyodorkan kursi roda untuk sang adik, di mana ia berkata," sudah Pah, biar Lilia saja yang bawa masuk Lani ke dalam kamar. "
"Baiklah kalau begitu."
Senyum kemenangan kini terpancar dari kedua ujung bibir Lilia.
__ADS_1