
Mendengar restoran seafood, membuat Lilia merasa tak nyaman, " restoran seafood? Tapi pah."
Baru saja Lilia ingin mengatakan bahwa dia alergi pada makanan seafood, sang papa malah mengangkat panggilan telepon.
"Jadi kamu sengaja mengajak aku ke restoran seafood, karena kamu tahu aku ini alergi terhadap makanan itu?"
Lani tertawa, iya tak lupa menutup mulutnya dengan telapak tangan, " mm. Betul sekali, Siapa suruh kamu mengganggu kebahagiaanku bersama papa."
"Dihh, dia itu bukan papahmu tapi Papaku!"
Lani tak mau kalah dengan perkataan Lilia, ia sengaja menginjak kaki Lilia.
"Ahkkk."
Lilia menjerit meringis kesakitan," Bagaimana rasanya pasti sakit kan?"
"Kurang ajar!"
Awalnya Lilia ingin membalas perlakuan adik tirinya itu, namun ia sadar jika Lani tak senormal dengan dirinya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Hem, aku hanya merasa kasihan terhadapmu, makanya aku hanya menatapmu tanpa membalas perlakuanmu!"
"Apa maksud kamu?"
" Sebagai anak cacat. Apa kamu tidak menyadari diri kamu sendiri!"
" kurang ajar sekali kamu mengatakan perkataan itu. "
"Lantas aku harus mengatakan apa? Oh ya aku tahu sepertinya aku harus mengatakan bahwa kamu itu anak tidak normal, anak haram."
Mendengar perkataan Lilia membuat Lani murka, sang adik tiri langsung mengacak rambut kakaknya, tanpa menyadari resiko yang terjadi.
"Aduhh sakit. " Lilia meringis kesakitan, karena jambakan tangan Lani yang begitu menyakitkan.
"Rasakan ini, siapa suruh kamu berani menghinaku!"
Lani malah semakin menjadi-jadi, sampai Gunawan menyadari perkelahian kedua anak-anaknya.
Lelaki tua itu langsung menutup panggilan telepon, dari asistennya.
"Lani, Lilia. Hey, Kenapa kalian malah bertengkar. Papa bilang hentikan."
Mereka berdua tak mendengar teriakan Gunawan di dalam mobil, sampai di mana Gunawan menghentikan mobilnya begitu saja.
Keduanya terkejut, mereka langsung menghentikan aksi jambak saling jambak rambut. " kalian ini kenapa, Kenapa kalian malah bertengkar?"
Keduanya menundukkan wajah, Lani kini angkat bicara, " Kak Lilia yang mulai duluan, dia menghina Lani bahwa Lani ini cacat. "
"Hey, bukannya kamu yang duluan, kamu sudah menginjak kakiku sampai bengkak. "
__ADS_1
"Kak Lilia kok tega fitnah Lani?"
Lani begitu pintar dalam akting, sampai di mana Gunawan mengusap kasar wajahnya," Sudah hentikan kalian jangan berdebat lagi, papah nggak suka."
"Tapi pah, Lilia!"
Gunawan mulai memperlihatkan telapak memberikan kode agar tidak ada yang mengelak ketika dia berbicara.
"Lani, Lilia. kalian sebagai adik kakak harus saling memahami satu sama lain, bukan malah bertengkar hanya karena masalah sepele, Papa benar-benar tak suka jika melihat kedua anak gadis Papa ini hanya memperebutkan hal yang tidak penting."
Lani dan juga Lilia sekilas menatap satu sama lain, terlihat mereka berdua tak bisa disatukan, yang satu keras kepala, dan yang satu lagi egois.
"Ya sudah, kalau kalian masih cemberut seperti itu, sebaiknya kita tak jadi pergi ke toko perhiasan."
Siapa yang tak terkejut mendengar perkataan sang papa, di mana Lilia dan juga Lani menimpa perkataan Gunawan," Ya jangan dong Pak jangan pergi lagi dulu ke rumah, sebentar lagi kan toko perhiasan hampir sampai."
" Siapa suruh kalian bertengkar, sekarang Papa minta kalian saling memaafkan satu sama lain."
Gunawan yang mengatakan hal itu, membuat keduanya saling mendelik kesal.
"Lilia, Lani. Apa kalian mendengar perkataan papa?"
keduanya begitu kompak." Iya pah."
"Bagus, ya sudah sekarang kalian saling memaafkan satu sama lain, cepat. "
Lani dan Lilia mulai bersalaman satu sama lain, dalam hati mereka masih menampilkan kebencian.
"Malas sekali, aku harus meminta maaf pada Lilia. " Gerutu hati Lani.
Sesampainyan di toko perhiasana, kedua anak itu terlihat begitu senang, mereka tak ingin kalah satu sama lain.
Memilih milih dan saling memamerkan satu sama lain.
*******
Dera kembali mencari keberadaan Lani, di mana ia tidak melihat suami dan juga anaknya. " Loh, kemana mereka bedua?"
Dera memanggil Tari, di mana pembantunya itu langsung mendekat dan bertanya?" Ada apa nyonya?"
"Apa kamu melihat Lani dan juga suami saya!"
"Oh mereka, baru saja pergi menaiki mobil. "
"Pergi?"
"Iya!"
"Ya sudah kalau begitu, Tari mulai pergi dari hadapan Dera, ia kembali menjalankan rutinitasnya di dapur.
Sedangkan Dera mendengar suara bel berbunyi. " Siapa yang datang ya."
__ADS_1
Dera mendekat ke arah pintu rumah, mengintip pada jendela rumah, sosok wanita yang tak asing baginya sudah berdiri di depan pintu rumah.
Dera perlahan membuka pintu rumah, melihat talenta datang dengan memperlihatkan senyuman lebarnya.
"Owh, besan. "
"Bu Dera, apa kabar. "
Mereka saling menyapa satu sama lain, Dera langsung mempersilahkan Alenta untuk duduk di atas sofa ruang tamu.
" ke mana aja Bu Alenta, Aku baru datang? Danielnya kemana?"
Dera menatap ke sana kemarin, di mana Alenta menjawab." saya datang kesini sendirian. "
"Owh, sendirian. Kok tega ya anaknya ibu nggak datang ke sini, dia nggak ingat apa istrinya sedang hamil. "
Alenta mempelihatkan senyuman, ia tak suka dengan Dera ibu tiri Sarla.
" Kebetulan Daniel sedang sibuk jadi ia tidak bisa datang ke sini," balas Alenta pada Dera.
"Owh pantas saja. "
Mereka saling tersenyum, walau sebenarnya dalam hati menaruh kekesalan.
"Owh ya, kemana Sarla ya. Saya ingin bertemu dengan menantu saya. "
"Aduh, saya hampir lupa. Ya sudah Bu Alenta duduk saja yang manis, nanti saya panggilkan Sarla ke sini."
Dera mulai bangkit dari tempat duduknya untuk segera memanggil anak tirinya itu, terlihat Alenta merasa tak nyaman dengan Dera yang terlihat begitu tak ramah.
Dera mempercepat langkah kakinya untuk segera sampai di kamar Sarla.
Mengetuk pintu beberapa kali, Dera terus memanggil-manggil anak tirinya itu. " Sarla."
Sarla merasa tak ingin diganggu, mengabaikan teriakan Dera.
"Kenapa si Sarla ini lama sekali buka pintu. "
Dera mulai menendang nendang pintu kamar Sarla," Sarla, di luar ada mertua kamu. "
Mendengar Dera menyebut sang mertua, membuat Sarla membuka pintu kamarnya.
"Huh, di sebut mertua datang. Baru buka pintu kamar. "
Sarla hanya tersenyum kecil lalu menjawab. " Tadi tidak kedengaran. "
"Alasan saja," memajukkan kedua bibir, Dera lebih dulu pergi.
Sedangkan Sarla mulai menyusul, ia bergumam dalam hati, " ada apa ya. Ibu datang ke sini. "
Dera mulai menyuruh wanita tua itu untuk segera membuatkan minuman, " heh, Wina. Tolong kamu buatkan minuman untuk kamu di depan."
__ADS_1
Wina malah menatap tajam ke arah Dera, " kenapa kamu malah menatap saya seperti itu, Hah. Kesal kamu terhadap saya. "
Wina sengaja memperlihatkan kekesalannya di hadapan Dera, agar wanita tua yang menjadi ibu tiri Sarla, mendapatkan tekanan, karena Wina terus menangih.