
"Sarla, ngapain dia turun."
Daniel mulai menyusul istrinya, saat membuka pintu mobil, suara kuncing terdengar nyaring.
Membuat ia menggelengkan kepala, " Daniel, lihat ini lucu."
Daniel tak suka dengan hewan hewan bemodal lucu seperti itu, " jauhkan hewan itu padaku."
"Tapi, ini menggemaskan Daniel."
"Tak ada, tak ada. "
Sarla sengaja mempelihatkan kucing jalanan itu pada wajah Daniel, " ayo lihat Daniel, betapa menggemaskannya dia."
Perlahan kedua mata Daniel mulai melirik ke arah hewan kecil bernama kucing itu," meong."
"Bau, Sarla."
Mengibas ngibaskan tangan di dekat hidungnya, Daniel menyuruh Sarla untuk membuang kembali kucing itu, " cepat buang kucing itu."
Sarla menggelengkan kepala, ia tidak menuruti perkataan Daniel, " Sarla, kucing itu bau kotor dan tidak mungkin bisa kita urus."
Sarla melihat wajah sedih kucing yang ia pegang, di mana ia langsung memeluk kucing itu dan berkata, " Daniel beri aku kesempatan untuk merawat kucing ini aku berjanji akan memandikan dia dan tidak akan membuat dia bau seperti sekarang. "
"Tidak, aku tidak suka dengan kucing, sebaiknya kamu buang saja itu kucing."
Sarla memohon dengan menempelkan kedua tangannya menatap ke arah Daniel, " kumohon beri aku kesempatan untuk mengurus dia. "
Daniel menarik napas, memikirkan perkataan Sarla, dimana Sarla mempelihatkan lagi kucing mengemaskan itu, " coba kamu lihat ini."
Kucing itu mengeong, mengeluarkan air kecingnya hingga mengenai wajah jutek Daniel.
"Stup*t."
Sarla bukan malah takut, ia tertawa terbahak bahak melihat Daniel mendapatkan sebuah semburan air kecing dari kucing jalanan yang ia temukan.
Tawa Sarla tak membuat Daniel marah, tangan kekarnya malah menarik cadar yang dikenakan sang istri, wajah indah mampu membuat Daniel melupakan kekesalan.
Dengan sengajanya Daniel langsung mengusapkan wajahnya pada cadar panjang Sarla.
" Daniel. "
Daniel tertawa terbahak-bahak setelah melihat Sarla kesal dengannya, wajah jutek yang kini diperlihatkan Daniel membuat ia selalu terpesona dan juga suka.
Semakin kesini Daniel semakin tak ingin kehilangan Sarla, berat rasanya jika Daniel harus kehilangan akan sosok wanita seperti Sarla.
"Anda ini gimana sih?"
__ADS_1
Pertanyaan Sarla membuat Daniel, tak bisa diam, ia tertawa terus menerus.
Hingga dimana kedekatan mereka berdua semakin akrab. Perlahan demi perlahan ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, keduanya sepertinya jatuh cinta.
Hanya saja perjanjian tak bisa diingkari, harus sesuai isi dalam kontrak.
Daniel mulai menyalahkan mobilnya untuk segera pulang ke rumah, hatinya merasa tenang.
Di setiap perjalanan ada rasa bahagia dirasakan lelaki bergelar CEO itu.
Menatap sekilas kearah Sarla, di mana istri keduanya begitu sibuk bermain dengan seekor kucing. " kamu suka hewan itu?"
Pertanyaan Daniel membuat Sarla menganggukkan kepala," kucing ini begitu menggemaskan. "
" Tapi ada yang lebih menggemaskan dari kucing itu," ucapan Daniel membuat Sarla mengerutkan dahinya.
"Apa?"
Sarla begitu penasaran dengan perkataan suaminya, " apa yang lebih menggemaskan daripada kucing ini?"
Daniel mulai mengambil kaca kecil, mempelihatkan pada Sarla, " coba kamu lihat ini?"
Sarla melihat wajahnya pada cermin itu, " ada kan yang lebih menggemaskan dari pada kucing itu."
Mendengar dari perkataan Daniel, Sarla tersenyum, ia kaget dengan gombalan model Suaminya ini.
Mengambil kaca itu, menaruhnya begitu saja. Kedua pipi memerah, malu dengan gombalan Daniel.
"Ya, saya lihat tadi!"
Menundukkan wajah berpura pura bermain dengan kucingnya.
Sarla mulai mengalihkan obrolan, dimana ia bertanya. " Kenapa anda malah menjemput saya ke kampus, bukannya anda harus menjaga istri anda yang berada di rumah sakit."
Saat Sarla membahas tentang Wulan, Iya seakan kesal dan selalu teringat dengan kehamilan istri pertamanya itu.
"Kamu tenang saja, sudah ada Bi Santi yang menjaga Wulan di rumah sakit."
"Loh, bukannya Mbak Wulan itu lagi hamil. Seharusnya kan anda yang menemani istri anda bukan malah pembantu. "
"Iya, saya sengaja meninggalkan dia agar dia Mandiri," ucap Daniel kepada Sarla.
Sarla kesal dengan lelaki seperti Daniel, karena ia seperti sosok lelaki yang tak peduli.
"Kalau saya nanti hamil, apa saya akan ditingalkan oleh anda?"
Daniel tersenyum sinis, menjawab!" mm, kalau anak saya akan saya perhatikan kamu. Tapi jika anak itu bukan anak saya, dan membuat keraguan pada hati saya, jelas saya akan mengabaikanmu. "
__ADS_1
Deg ....
Sarla mulai berpikir ke hal yang negatip, dimana ia berpikir bahwa anak dalam kandungan Wulan bukan darah daging Daniel.
Namun ia tetap berpikir jerni, tak mau berprasangka tak baik, karena urusannya hanya sementara bersama Daniel. Selebihnya bukan urusannya lagi.
"Kenapa anda berkata seperti itu?"
"Kamu tanya kepada saya kenapa saya seperti ini? Apa kamu dari tadi mencerna perkataanku tidak."
"Ehh, ya. Saya mencerna perkataan anda!"
"Ya sudah jangan banyak tanya."
Perkataan jutek Daniel masih diperlihatkannya di depan Sarla, "Apa anda bisa bernada ceria seperti tadi. "
Tatapan sinis membuat Sarla bergidig ngeri, walau pun Daniel tanpan. Tetap saja bagi Sarla menyeramkan.
"Kamu kenapa ketakutan jika nada bicaraku seperti ini?"
"Mm, tidak!"
Mengeremkan mobil begitu mendadak, Daniel kini memegang pipi Sarla, dimana Sarla meronta, memukul pipi Daniel.
Beberapa kali, membuat Sarla pada akhirnya pasrah.
ciuman mesra itu ternyata sudah mendarat, Sarla seakan di hipnotis oleh tatapan Daniel, yang membuat wanita mana pun akan terpesona.
"Saya sudah katakan pada kamu, jangan banyak bertanya soal Wulan. "
Mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Daniel, Sarla kini menganggukkan kepala, dia hanya menurut, karena dirinya hanya sebagai seorang istri.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, mereka baru saja sampai ke rumah. Sarla tak menyangka jika ibu mertua sudah menunggunya dari tadi ke dalam rumah.
"Sarla."
Sapaan dilayangkan Alenta untuk menantu keduanya, masih ada rasa heran menyelimuti Sarla, karena tiba-tiba saja ibu mertua sudah ada di rumahnya. Bukannya sang ibu mertua menunggu Wulan di rumah sakit. Tapi sekarang kenapa wanita tua itu malah berada di rumah Sarla.
Alenta begitu menyukai Sarah, polos dan juga tingkahnya yang begitu terlihat dewasa.
"Ibu kok ada di sini?"
" kebetulan hari ini Ibu ingin menginap lagi, bersama kamu. Apa kamu ijinkan ibu untuk menginap di sini, di rumah kamu!"
" izinkan Ibu menginap di rumah ini." ucap Alrnta kepada Sarla, domana Sarla selalu memperlihatkan senyuman keramahannya kepada sang ibu.
"Rumah ini selalu terbuka untuk ibu" jawab Sarla terlihat Alenta begitu senang.
__ADS_1
"Terima kasih sarla kamu memang wanita yang sangat baik dan berhati mulia, ibu sangat beruntung mendapatkan menanti baik seperti kamu itu.
"Ibu jangan berlebihan memuji Saela, Karena bagaimanapun Sarla juga mempunyai kekurang. Sarla juga senang bisa mempunyai mertua yang begitu baik seperti ibu." punjian saling terlontar satu sama lain.