
Memukul kepala sendiri, lalu berkata, " Bodoh kamu Lani, Kenapa juga kamu mau menuruti perkataan Kak Sarla, harusnya tadi itu membantah. "
Lani terus menerus menggerutu kesal dirinya sendiri, ia bolak balik kesana kemari perasaannya tak tenang, karena mengigat sang mama.
"Gimana ini, aku takut terjadi apa apa dengan mama, apalagi tadi melihat mama berantem dengan papa. "
Lani benar benar tak tenang saat itu, ia terus menerus memukul pintu kamar, agar terbuka.
Namun, cukup disayangkan. Pintu kamar itu tidak terbuka sama sekali, membuat rasa jengkel pada diri Lani. "Kenapa sih, ini pintu susah sekali di buka."
Perasaanya sudah diambang kebingungan, memukul kepala beberapa kali dengan kedua tangan, Lani hanya bisa menarik napas kasarnya.
"Ahkkk."
Sedangkan kedua kakak beradik yang berencana ingin melihat pemandangan kedua orang tuanya bertengkar, terburu buru melangkahkan kaki.
"Ayo, kak Sarla. "
"Oke, tunggu dulu kakak, Lilia. "
Lilia memegang tangan sang kakak yang sedikit lambat berjalan," Nyonya Sarla. "
Sarla menghentikan langkah kaki, mendengar suara pembantunya memanggil namanya.
"Ayo kak, sebelum perdebatannya selesai. "
Sarla melepaskan tangannya dari genggaman Lilia, " kenapa kak?"
"Kamu duluan saja, kakak mau nyamperin dulu bibi."
"Oke."
Lilia yang tampak bersemangat kini berlari melihat pertikaian terjadi, " aku sudah nggak sabar. "
"Nyonya Sarla? "
Sarla berhenti, lalu menatap ke arah pembantunya itu?" Ada apa bi?"
Wanita tua itu menyerahkan kunci kamar tamu kepada Sarla, " ini Nyonya. "
"Oh iya. Sudah aman. "
"Aman nyonya. " Pembantu itu menunjukkan jempol tangan dihadapan sang majikan, dimana Sarla tersenyum dibalik cadarnya.
"Oh ya, Nyonya." Sarla menatap ke arah pembantunya, dimana wanita tua itu meneruskan perkataanya. " Tuan Daniel tadi menghubungi bibi!"
Sarla terkejut dengan perkataan pembantunya itu, " Menghubungi bibi? Kok, Daniel bisa tahu nomor bibi?"
Wanita tua itu tersenyum kecil, seperti ada hal yang lucu terjadi, hingga ia menatap Sarla malu malu. " Kenapa bi?" Sarla penasaran, hingga sang pembantu menceritakan semuanya.
"Semenjak kedatangan Nyonya Wulan istri pertama Tuan Daniel ke rumah, Tuan sedikit over protektif kepada nyonya, tuan sampai meminta nomor telepon para pembantu di rumah. Katanya buat jaga jaga, takut nyonya kenapa kenapa?"
Mendengar cerita dari pembantunya, membuat Sarla kurang respect dengan Daniel. Karena sikap suaminya begitu berlebihan.
"Hanya itu saja. "
__ADS_1
"Ada lagi nyonya, tuan sampai memasang cctv!"
Sarla baru menyadari hal itu, " dimana. Bukannya dari dulu sudah ada cctv."
"Iya tapi ini beda lagi!"
Pembantu itu kini mengatakan semuanya kepada Sarla dengan berbisik, " di kamar mandi dan juga ranjang tempat tidur, cctv bersembunyi. "
Membulatkan kedua mata, itu semua benar benar keterlaluan sekali, dan pastinya tak pantut di contoh.
"Daniel, sampai segitunya bi, astaghfirullahaladzim, benar benar keterlaluan sekali. "
"Iya nyonya, dan lagi saya risih dengan pesan dan panggilan telepon dari tuan, benar benar menganggu pekerjaan saya. "
"Memangnya Daniel, menghubungi Bibi sering?"
"Bukan sering lagi Nyonya, tapi terlalu, sampai setiap detik!"
Sarla menggelengkan kepala setelah mendengar perkataan pembantunya itu.
"Terima kasih informasinya bi. "
Wanita tua itu menghentikan Sarla yang mulai menyusul Lilia, " Nyonya tunggu. "
"Kenapa bi. "
"Jangan bilang tuan ya, bibi takut di pecat. "
"Bibi jangan kuatir, jika bibi berpihak pada Sarla, semua aman."
Sarla mulai pergi untuk segera menyusul adiknya, Iya berlari penasaran dengan perdebatan antara mama tiri dan juga papah kandung.
Sarla melihat adiknya tengah mengintip di balik tembok, iya langsung menyusul saat itu juga.
"De, gimana sekarang mereka?"
"Loh kakak kemana aja, seruu tahu!"
Lilia tampak begitu bahagia melihat perdebatan kedua orang tuanya, ia mentertawakan keduanya.
"Mereka kaya anak kecil kak?"
Lilia yang mengajak kakaknya berbicara malah melamun.
"Kak Sarla. "
"Iya."
Lamunan wanita bercadar itu kini membuyar, ia bertanya lagi pada sang adik. " Apa de. "
"Kakak ini kenapa sih, Lilia tanya malah melamun!"
"Maaf sayang. "
Sarla melamun karena memikirkan perkataan pembantu di rumahnya, saat membahas tentang Daniel, ia merasa malu jika benar Daniel memasang cctv pada kamar tidurnya.
__ADS_1
"Kak Sarla, coba lihat. "
Sarla mengabaikan perkataan adiknya lagi, ia pergi untuk mencari tahu cctv di dalam kamar mandinya, begitu pun rajang tempat tidur karena rasa pensarannya.
Lilia yang terus memanggil sang kakak, kini membalikkan badan kearah belakang. "Lah, kemana Kak Sarla. "
Menggaruk belakang kepala yang tak terasa gatal, Lilia tampak heran dengan kelakuan sang kakak yang tiba tiba saja hilang, tanpa mengusap pamit.
Ia berusaha tak mempedulikan sang kakak, lanjut menonton pertengkaran kedua orang tuanya.
"Papah ini kenapa sih, enggak mau mendengarkan penjelasan mama, mama ini berkata apa adanya, tapi kenapa papah tidak percaya pada mama."
"Apa adanya bagaimana, jelas papa dengar dengar telinga papa sendiri, apa yang mama katakan pada Sarla. "
Dera tampak kebingungan sendiri, ia tak punya harapan membela dirinya lagi.
" Pokonya detik ini, semua biaya perawatan mama tidak akan papa tanggung. "
Deg ....
Hanya karena masalah sepele, Dera sampai menanggung derita, jika ia tidak akan mendapatkan jatah. Menyedihkan sekali.
"Papah, masa papa tega sama mama?"
"Papah bukan tega, tapi ini pelajaran untuk mama, agar mama sadar!"
Lelaki tua itu pergi dari hadapan sang istri, ia terlihat masih menyimpan kemarahannya, pergi begitu saja tanpa berucap satu patah kata lagi.
"Papah."
Dera seakan berada diambang kesedihan, ia harus merasakan bagaimana rasanya tak mendapatkan uang jatah perawatan dari sang suami.
Mengejar kembali lelaki tua itu, Dera tiba tiba terjatuh dari atas lantai, ia menjerit kesakitan dimana Gunawan tak mempedulikan istrinya.
"Papah tega baget sih. Bisa bisanya seperti ini pada mama. "
Menangis, menjerit merasakan kesedihan. Dimana waktunya Lilia muncul dengan menepuk kedua tangannya.
" Benar-benar pemandangan yang seru ternyata. "
Lilia seperti orang dewasa yang tengah merebut hak miliknya, " Lilia, dasar anak tengil. Ngapain kamu tepuk tangan?"
Dera kesal dengan hadirnya sang anak tiri yang tiba-tiba muncul di hadapanmu, " Kenapa mama. Apa aku tidak boleh tersenyum bahagia di hadapanmu, bukannya ini yang kamu inginkan. "
" kamu ini masih anak kecil. Kenapa kamu melakukan hal sedewasa ini, kamu itu tidak tahu masalah yang terjadi. "
Lilia berusaha memperlihatkan wajah polosnya, " mama, masa iya Lilia tak tahu masalahnya. "
Dera berusaha berdiri, dia ingin sekali meraih telinga anak, menjewernya saat itu juga, lalu memukul b*kong Lilia.
Namun sifatnya yang seperti anak kecil, Lilia goyang-goyangkan b*kongnya sembari menepuk-nepuk, lalu mengatakan hal yang membuat Dera murka sekali.
"Ini balasan untuk seorang wanita perebut suami orang. "
Mendengar hal itu tentunya membuat Dera terkejut.
__ADS_1