
Rafa menatap kearah Natasya, ia merasa jika Natasya sudah tega membohonginya selama ini, " Natasya aku tanya padamu, apa kamu memberikan surat yang aku amanahkan pada Sarla?"
Natasya menundukkan pandangan, wajahnya terlihat memerah, malu akan pengakuan dirinya yang memang tidak memberikan surat itu pada Sarla.
"Natasya, sekali lagi aku tanya padamu. Apa benar kamu tidak memberikan surat itu?"
Rafa terus menekan Natasha agar berkata jujur, iya tidak mau ada kebohongan di antara keduanya.
Tasya masih memegang surat itu hanya tersenyum kecil, seakan ada pembelaan untuk Sarla. "Sudahlah mengaku saja Natasha?"
"Diam kamu?"
Wajah yang tertutup cadar tak sepenuhnya itu, sedikit membentak Tasya.
"Santai saja, tak usah lah marah marah!"
Jawab Tasya, sembari melebarkan bibirnya tersenyum di hadapan Natasha yang penuh tekanan.
Sarla berusaha mencari keadilan untuk dirinya sendiri, " Natasha. Ayo katakan secara jujur, apa alasan kamu tidak memberikan surat itu kepadaku?"
Kedua mata sang sahabat yang begitu dipercaya oleh Sarla, malah menyimpan kebencian," kamu tanya kenapa aku melakukan hal itu?"
"Ya kenapa? Apa alasanya, padahal saat itu aku tengah terpuruk, meminta bantuan kepada kamu, begitupun meminta nomor Rafa untuk bisa membantu perusahaan ayahku, tapi kenapa kamu malah melakukan hal seperti ini. Apa salahku? Sampai, kamu tega melakukan hal yang membuat persahabatan kita terpecah belah. " ungkap Sarla mengeluarkan perasaan kecewanya terhadap sang sahabat.
Kedua mata Natasha berkaca-kaca, setelah mendengar perkataan dan rasa kecewa terlontar dari mulut Sarla, " Kamu mau tahu apa alasannya. Aku melakukan hal seperti itu?"
"kenapa?"
Rafa masih berdiam diri di samping Natasha, dia ingin mendengar penjelasan terlontar dari mulut wanita yang ia percaya sebagai sahabatnya itu.
" Jujur Saja aku melakukan hal ini karena aku iri kepadamu, kamu bisa mendapatkan hal-hal yang baik. Sedangkan aku ….!"
Kedua mata Natasya berkaca kaca, terlihat ia menaruh rasa benci pada Sarla amat dalam.
Dimana Sarla berkata," Iri, kenapa kamu harus iri padaku, bukankah kita itu sahabat. Natasya?"
Natasya menggenggam erat kedua tangan, ia berusaha menahan rasa kesal dengan berkata." Sudah cukup, kita bukan sahabat lagi."
Sarla penasaran dengan isi surat yang diberikan Rafa, dimana ia mengambil surat itu dan kini membacanya.
Surat pernyataan cinta dan ingin melamar Sarla, " Jadi?"
"Kamu sudah mengertikan sekarang, aku cinta pada Rafa, tapi Rafa malah cinta pada kamu."
__ADS_1
Menelan ludah, Sarla tidak tahu kalau Rafa menyukainya, sedangkan dia tidak.
"Natasya, jika kamu memang menyukai dia aku tidak akan menghalangi kamu untuk bersama Rafa, aku tidak cinta sama dia. Kita ini sahabat, tak usah harus seperti ini juga."
Rafa menatap ke arah Sarla," jadi kamu memang tidak mencintaiku?"
Sarla menggelengkan kepala, dan berkata," jika surat ini sampai kepadaku, mungkin aku akan berkata demikian. Aku itu butuh pertolongan kamu Rafa, agar usaha papaku tidak bergantung pada Daniel.
Aku tidak mau menikah dengan lelaki beristri, kamu tahu itu. Namun sekarang sudah terlambat, semua hanya karena kesalahpahaman dan egois sampai kita saling menyalahkan.
Tasya seperti penyelamat dan penyelesaian masalah diantara keduanya, " Jadi kamu sudah memaafkan Natasya?"
Perkataan Tasya kini dijawab Sarla," Ya aku sudah memaafkan dia, bagaimanapun dia itu sahabatku."
"Owh, baguslah kalau begitu, kamu memang orang baik Sarla. Pantas banyak orang yang menyukaimu."
Tasya mendelik dari hadapan Natasya, seakan ia puas sudah mengungkapkan semuanya.
"Natasya, aku pulang dulu. Terima kasih atas pertemanan kita yang sudah lama ini, aku hargai kamu."
"Sarla."
Sarla tersenyum dibalik cadarnya, dimana kedua matanya terlihat menyipit. Sedangkan Natasya merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan.
Ia lupa, jika Sarla itu orang baik. Walaupun dia tahu mungkin Sarla akan lebih mengerti Natasya.
Rafa mulai menatap ke arah Natasya, terlihat ia begitu kecewa dengan berkata." kenapa kamu melakukan semua ini Natasya, apa salahku pada kamu? Kamu tega."
"Rafa, bukan maksud aku seperti itu, aku …."
"Maafkan aku Natasya, sebaiknya lamaran kita batalkan. "
"Tapi, Rafa, kenapa?"
"Kamu tanya kenapa? Kamu sudah mengecewakanku."
Sakit rasanya hati Natsya saat itu, ia benci pada dirinya sendiri. Rafa pergi begitu saja, membuat ia menangis sejadi jadinya.
"Natasya, bagaimana rasanya. Menyakitkan bukan?"
Tasya yang melipatkan kedua tangan menyindir habis habisan Natasya.
"kamu, kenapa tega melakukan hal seperti ini, hah?"
__ADS_1
"Melakukan hal seperti ini, karena aku hanya ingin menyadarkan kamu, jika apa yang kamu lakukan ini salah besar, jadi kamu harusnya berterima kasih padaku, jangan malah menyalahkanku."
Natasya ingin sekali, menjambak rambut panjangTasya, membuat wanita itu kesakitan.
Namun ia mengurungkan niatnya karena rasa malu, terhadap anak-anak kuliah yang tengah menatap perdebatannya dengan Tasya.
Menunjuk ke arah Tasya, Ia melayangkan sebuah ancaman yang lumayan membuat Tasya sedikit senang," urusan kita masih berlanjut, jangan harap kamu bisa bebas dari kebahagiaan kamu itu."
Tasya hanya bisa menunggu pembalasan dari Natasha yang sudah mengancamnya.
Wanita dengan pakaian syar'i nya kini pergi meninggalkan Tasya sendirian, Iya berjalan penuh amarah dan rasa sakit, karena pernikahannya gagal.
" Kenapa semua ini terjadi kepadaku?"
Natasha mulai mengambil ponsel dari tasnya, Ya berusaha menghubungi Rafa yang membatalkan pernikahannya.
"Aku harus meluruskan semua ini, aku tidak mau kehilangan lelaki yang benar-benar aku cintai dari dulu. Rafa, kenapa kamu malah memutuskan hubungan kita." Natasha menunggu kendaraan yang melintas di hadapan, Iya pulang sendirian menaiki taksi, saat kedekatannya bersama Rafa, Natasha selalu pulang pergi bersama dengan lelaki yang sangat ia cintai menaiki mobil.
Tapi sekarang Natasya benar benar terpuruk.
Rafa pergi begitu saja, meninggalkan Natasha di kampus.
****
Sarla mulai menaiki mobilnya, ia melihat Natasha sedang menunggu taksi untuk pulang ke rumah.
Karena rasa tak tega dan juga solidaritas yang sangat tinggi. Sarla mendekati sahabatnya itu, menurunkan kaca mobil dengan berkata," Natasha ayo kita pulang bersama. "
Natasya malah memalingkan wajah dia berusaha menjauhkan diri dari Sarla." Tidak usah, aku bisa pergi sendiri. "
"Ya sudah kalau memang itu kemauan kamu aku pergi duluan ya," Ucap Sarla yang tidak mau memaksa sahabatnya itu.
Bagaimana pun Sarla masih menghargai Natasha sebagai sahabatnya, ia tidak mempunyai pikiran untuk meninggalkan Natasha dan membenci dia.
"Kenapa taksi begitu lama?"
Suara ponsel berdering, dimana Natasha mendapat panggilan telepon dari sang ayah. " Halo yah, ada apa?"
"Natasya cepat pulang, papah sekarang ada masalah!"
Deg ....
Tentu saja mendengar perkataan sang ayah membuat Natasha terkejut, karena tidak biasanya sang ayah mengatakan hal seperti itu.
__ADS_1
"Ada apa, yah?"
"Cepat kamu pulang!"