Terpaksa Menikah Pria Beristri

Terpaksa Menikah Pria Beristri
Bab 234


__ADS_3

"Loh, kok nyonya sampai kaget begitu, kenapa? Saya salah ya nyonya. "


Berkacak pinggang mempelihatkan betapa berkuasanya Wulan di rumah Daniel, " tentu saja saya kaget lah, kamu lihat ini. " Wulan menunjukkan bibir yang terlihat memerah dan juga tebal.


Ita mendekat, menyipitkan kedua matanya dan bertanya, " kenapa dengan bibirnya memangnya nyonya. "


Wulan memukul jidat Ita, lalu berucap dengan nada sedikit meninggi, " kamu ini bego, apa memang kelewat pintar jadi tololl."


Ita hanya mempelihatkan kepolosannya, agar sang nyonya terlihat begitu kesal. Mempelihatkan senyumannya dengan tertawa pelan.


"Hey Ita, saya ini tidak mengajak kamu tertawa loh."


Ita menutup mulut, lalu menyipitkan kedua mata, Wulan yang melihat tingkah pembantunya itu kini berucap. " Ita, kamu paham tidak dengan perkataan saya. "


Ita menggelengkan kepala di depan Wulan, " Mm, astaga, bisa bisanya kamu ini. "


Wulan berusaha menahan diri untuk tetap sabar, menenangkan hati. Agar tidak membuat perlakuan tidak baik pada pembantunya itu.


"Wulan, Wulan. Kamu harus tetap sabar saat menghadapi pembantumu itu," gumam hati Wulan sembari menatap ke arah Ita.


"Nyonya, apa ada yang nyonya ingin katakan?" pertanyaan Ita kini membuat Wulan menggerutu kesal.


"TIDAK ADA. "


Wulan pergi, dengan bibir jontornya, ia sesekali menahan rasa perih. Sampai Ita dengan sengaja berucap, " Nyonya, tunggu. "


Wulan membalikkan badannya," apa lagi?"


"Cabainya sampai habis nyonya!" balas Ita, membuat Wulan menyungingkan bibirnya yang terlihat tebal.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Wulan menghembuskan napas kasarnya.


"Tadi kata nyonya pedas, tapi kok habis!" balas Natasha menyindir sang majikan secara halus.


Mendengar hal itu pastinya membuat Wulan geram dan semakin kesal, " Sudahlah Ita cukup, jangan memacing emosiku. "


"Memancing, siapa yang macing nyonya. Perasaan Ita dari tadi ada di sini loh berdiri, hadapan nyonya. "


Wulan mengacak rambutnya dengan kasar, " ahk. Pusing aku Ita, jika berbicara dengan kamu. "


Wulan pergi dengan langkah kaki yang begitu cepat, sedangkan Ita hanya tertawa terbahak bahak.

__ADS_1


"Nyonya Wulan pasti setres. "


Wulan kini masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel melihat layar yang terus berkedip." Siapa yang menelepon."


Membuka pesan, ternyata itu adalah Daniel. ( Wulan, apa kamu sudah meminta maaf pada Sarla.)


Sudah pusing di tambah lagi pusing, " Daniel ini, selalu memetingkan Sarla. "


Wulan merasa jika bibirnya masih berdenyut, karena rasa panas dari cabai. "Sudah bibir tebal ditambah lagi Daniel, bahas terus Sarla. Bikin kepalaku pusing. "


Wulan berusaha tidur, ia sudah cape berhadapan dengan orang orang yang terus menyuruhnya untuk mengatakan kata maaf pada Sarla.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mengatakan kata maaf pada dia. " Gerutu Wulan dalam hati.


*******


Sarla yang masih berada di dalam rumah, terus memikirkan Wulan, ia merasa bimbang, " kalau saja aku t berpikir panjang saat itu, mungkin bayi yang aku lahirkan akan baik baik saja. Saat berada di pelukanku. "


Gunawan mendekat dan berkata, " apa yang sedang kamu pikirkan Sarla?"


Pertanyaan sang papah membuat Sarla menundukkan pandangan, kedua matanya tampak berkaca-kaca. Sarla berusaha mengusap kasar air mata yang hampir saja jatuh, mengenai kedua pipinya.


"Sarla kamu menangis?"


"Sarla, Kamu jangan bohong kepada papah, jika kamu tengah memikirkan sesuatu. Papah sudah melihat dari kedua mata kamu, kamu begitu sedih


dan juga kecewa."


Sarla tak menyangka, jika sang papah bisa menebak kesedihan yang ia rasakan saat ini.


Gunawan memegang kedua bahu anaknya, menatap dengan kedua mata yang terlihat ikut bersedih.


Sarla ingin sekali menceritakan apa yang sebenarnya ia rasakan pada sang papah, tentang perasaanya yang terlihat begitu kecewa.


Namun, di sisi lain yang merasa berat menceritakan semua itu, karena beban yang ditanggung oleh sang Papa bukanlah beban yang begitu ringan, tapi beban yang begitu berat.


Sampai pada akhirnya, Sarla berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan sang papa, walau sebenarnya hatinya begitu rapuh.


karena sang papa yang masih memikirkan, Lani yang tak tahu entah bagaimana kabarnya.


Membuat perasaanya gundah, dan ia berusaha tetap tegar.

__ADS_1


"Pah. Maafkan Sarla ya, sebenarnya Sarla hanya ingin meluangkan waktu saat ini, hanya sendirian saja."


Perkataan anak pertamanya itu, membuat sang papah pada akhirnya mengalah dan berusaha tak ikut campur dengan apa yang dirasakan anak pertamanya itu.


"Wulan. Papah pergi dulu ya, papah berharap kamu tidak terlalu memikirkan kesedihanmu belarut larut. "


Sarla hanya bisa menganggukkan kepala, medengar pengertian dari Gunawan.


Mengusap kasar wajah, Gunawan pergi dengan langkah kaki yang begitu cepat.


Setelah kepergian sang papa, Wulan berusaha mengatur napasnya. Mengusap perlahan dada bidang, ya berulang kali mau mengucap kata istighfar. untuk bisa menenangkan hatinya dari kegundahan yang ia rasakan saat ini.


Padahal saat lama sih berharap sekali jika orang mengirim pesan kepadanya, hanya untuk sekedar meminta maaf dan tidak mengulangi kesalahan yang sudah ia lakukan.


Sarla berharap sekali jika hal itu terjadi, ya tidak akan mencobloskan Wulan ke dalam kantor polisi.


Namun pada kenyataannya, Wulan begitu egois dengan dirinya sendiri.


"Wulan, kamu benar-benar seorang wanita yang tidak mempunyai rasa empati sedikit, kamu lebih mementingkan diri kamu sendiri daripada orang di sekitar kamu yang begitu menginginkan kamu."


Satu pesan tiba-tiba saja datang mengagetkan Sarla, membuat Sarla terburu-buru mengambil ponselnya untuk melihat Siapa yang mengirim pesan padanya.


Ternyata pesan dari Daniel sang mantan suami, yang kini membuat hidupnya penuh dengan lika liku dan juga keresahan.


(Sarla, apa Wulan mengirim pesan permohonan maaf kepadamu. Aku berharap cinta istriku yang minta maaf kepadamu. )


Sarla menutup layar ponselnya, ia merebahkan tubuh untuk segera beristirahat, melupakan segala sesuatu yang terasa menunumpuk pada kepalanya.


Daniel hanya berharap jika mantan istrinya itu mau membalas pesan yang ia kirim.


Namun pada kenyataannya, tidak ada balasan dari mantan istrinya itu.


Daniel begitu frustasi, karena ia tak mau hidupnya mau bekam di dalam penjara, hanya karena kesalahan yang tak pernah IA perbuat.


Bi Siti yang melihat keresahan dari majikannya itu, kini berpura-pura ke toilet kepada Daniel.


karena ia berniat untuk menghubungi sang nyonya yang berada di dalam rumah. Berharap jika panggilan teleponnya mampu dijawab oleh Wulan.


"Tuan, Bibi izin ke toilet ya. "


Daniel hanya mengagumkan kepala setelah mendengar apa yang dikatakan oleh pembantunya itu, Ingin rasanya masalah itu cepat menghilang dari pikiranya, namun pada kenyataannya itu terlalu sulit dan benar-benar tak bisa dilakukan oleh Daniel.

__ADS_1


karena ia tahu jika ia terus bersikap egois, hidupnya sendiri yang akan menjadi rugi, " apa yang harus aku lakukan saat ini. "


__ADS_2