
Setelah pulang dari rumah sakit, Wulan tampak pusing mendengar tangisan dari bayi yang tengah digendong oleh pembantunya.
"Aduhh, berisik bi. Itu bayi bisa disuruh diam gak sih Bi, aku dengarnya benar-benar pusing," gerutu Wulan di depan Bi Siti.
Bi Siti berusaha menjauhkan bayi itu dari hadapan Dera, iya berusaha menenangkan, di mana bayi itu malah menangis terus menerus.
Dera yang baru saja duduk di atas, terlihat semakin kesal, karena tangisan bayi itu terdengar terus menerus pada kedua telinganya.
Wulan berusaha bangkit dari tempat duduknya, memperlihatkan kemarahan di hadapan Bi Siti," aduh Bi. Itu bayi nangis terus dari tadi, tutup mulutnya coba aku pusing dengarnya. "
Bi Siti seakan kewalahan dengan tangisan bayi dalam gendongannya," Nyonya sepertinya bayi ini lapar. "
"Ya sudah kasih saja makan, tuh di dapur ada air keran, " Cetus Wulan. Mengatakan hal yang tak terduga.
"Nyonya air keran itu bahaya," balas Bi Siti.
"Lalu?" tanya kembali Wulan, yang tak tahu menahup tentang mengurus seorang bayi, apalagi bayi itu adalah bayi dari istri kedua dan yang.
"Bayi ini butuh susu, nyonya!" jawab Bi Siti berharap jika sang nyonya mau mengerti perkataannya.
"Ya sudah cepat kasih dia susu," perintah Wulan.
"Uangnya?" tanya wanita tua itu, membuat Wulan berkacak pinggang.
"Bi, kan di kulkas ada susu kental manis, sudah bibi tinggal seduh saja itu!" jawab Wulan, ia kini duduk dan tak memberikan uang sepeserpun pada Bi siti.
"Tapi nyonya, bayi tidak boleh diberi susu sembarangan, kasihan perutnya, " ucap Bi Siti, terus-menerus memberi pengertian pada Wulan.
Namun Wulan seperti acuh dengan perkataan Bi Siti. Ia malah beranjak pergi untuk segera masuk ke dalam kamar.
"Nyonya."
Wulan kini membalikkan badannya, " ada apa lagi sih bi?" tanya Wulan sedikit bernada tinggi.
"Bayinya!" balas Bi Siti, mempelihatkan raut wajah mungil bayi itu.
"Aku tak peduli, sebaiknya bibi saja yang mengurus bayi itu, saya cape mau tidur, " ucap Wulan. Berjalan begitu cepat.
Bi Siti hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah majikannya yang benar-benar mengabaikan bayi Sarla darah daging suaminya sendiri.
"Nyonya ini kenapa, kok tega sama bayi ini, " Bi Siti menatap sekelias kearah bayi mungil itu, menciumnya lalu berkata, " padahal anak ini tidak salah apa apa, walau pun benci pada ibunya tapi tidak pantas bayi ini diperlakukan tidak baik. Karena dia tak tahu apa apa. "
Bayi itu terus menangis, hingga Bi Siti membawanya ke dapur, melihat di dalam kulkas apakah ada susu. Karena memang ia sekarang tidak memegang uang sama sekali.
"Maafin bibi ya. Bibi kasih kamu susu ini, " ucap Bi Siti dengan terpaksa.
Bayi yang berada pada pangkuan Bi Siti akhirnya terlelap tidur, Bi siti langsung menidurkannya, di kasur yang sudah dikususkan oleh Daniel.
__ADS_1
"Kamu tidur ya de, nanti kalau papah kamu pulang. Baru kita beli susu kusus buat bayi. "
Bi Siti tersenyum, di saat ia melihat bayi mungil yang baru saja tertidur dengan begitu lelap.
Wulan mulai keluar dari kamarnya, yakini tak mendengar lagi tangisan bayi, membuat suasana rumah terasa nyaman.
Melihat Bi Siti yang berjalan ke arahnya, membuat Wulan kini bertanya," ke mana bayi itu, bi?"
"Anu nyonya, dia sudah tidur dikamarnya!"
"Owh, baguslah. Jadi sekarang aku bisa tidur nyenyak. "
Bi Siti hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Wulan. Yang keterlaluan terhadap bayi tak berdosa itu, Wulan melangkahkan kaki melewati kamar bayi Sarla.
Terbesit dalam hatinya untuk melihat bayi mungil yang tengah tertidur nyenyak itu, melangkah mundur, Wulan masuk pada kamar bayi mungil itu.
" Aku tak menyangka jika Sarla melahirkan bayi dari suami, benar-benar membuatku iri kepadanya, apalagi bayi ini begitu persis dengan Daniel." Gumam hati Wulan, perlahan tangannya mulai menyentuh pipi mungil bayi itu.
"Hey bayi mungil, andai saja aku tidak keguguran, mungkin aku tidak akan menguruskan. "
Wulan tersenyum sinis, Iya lalu mencubit bayi yang tengah tertidur lelap itu hingga menangis.
"Cengeng."
Bi Siti yang mendengar tangisan bayi, dengan sikag berlari menghampiri bayi itu di dalam kamar.
Bi Siti kini meraih bayi mungil itu, menciumnya menenangkan dari setiap tangisan yang dirasakan sang bayi.
"Cup, cup sayang. "
Wulan melihat perhatian B Siti terhadap bayi mungil itu, membuat ia tak suka," ngapai sih Bi, pakai acara cium bayi sarla itu. "
Bi Siti mendekap bayi itu dengan penuh kasih sayang, mengayun-ayunnya agar bayi itu terlelap tidur kembali.
" Nyonya walaupun ini anak Sarla. Tetap saja nyonya harus memperlakukan bayi ini dengan baik, karena bagaimanapun bayi tidak mempunyai salah dan tak tahu apa-apa tentang kesalahan orang tuanya. " nasehat itu terlontar begitu saja pada mulut Bi Siti untuk Wulan.
Bukan malah kesadaran yang diperlihatkan oleh Wulan, Wulan malah pergi begitu saja dengan amarah yang meledak pada hatinya.
"Nyonya."
Melipatkan kedua tangan setelah mendengar panggilan dari pembantunya itu, " apa bi, Bibi mau menasehatiku lagi, tentang bayi haram itu."
Bi Siti memegang dadanya, iya merasa sakit hati dengan perkataan Wulan yang secara langsung menghina bayi tak berdosa itu.
Bi Siti langsung menurunkan niatnya untuk menasehati Wulan. "Ada apa bi, ayo katakan saja mumpung aku masih berdiri di sini. "
"Nyonya, apa Nyonya tidak kasihan terhadap bayi ini?" tanya Bi Siti mempelihatkan betapa lucunya bayi yang dilahirkan Sarla.
__ADS_1
Namun Wulan yang melihat bayi itu, malah mempelihatkan kekesalannya, karena yang ia lihat dan bayangkan adalah Sarla.
"Saat aku melihat bayi itu, serasa aku melihat wajah Sarla, wanita yang sangat sangat aku benci dalam hidupku, asal bibi tahu. Aku menerima tawaran dari Sarla hanya karena aku ingin bertahan dengan orang yang sangat aku cintai. " Ucap Wulan dari hatinya yang paling dalam.
Bagaimana pun Wulan menganggap bayi itu adalah pelampiasannya untuk balas dendam karena Sarla yang sudah berani menikah dengan Daniel.
"Apa belum jelas perkataanku ini, Bi Siti?" Tanya Wulan mempelihatkan keangkuhannya, di saat itulah Bi Siti hanya menundukkan pandangan, tak berani lagi berucap satu patah katapun.
"Kenapa bibi malah diam saja, ayo katakan?" tanya lagi Wulan pada Bi Siti.
Dimana wanita tua itu langsung menjawab dengan kegelisahannya. " Tidak ada nyonya, maafkan saya yang sudah lacang bertanya seperti itu. "
Tangisan bayi itu mereda, dimana Bi Siti tiba tiba meneteskan air mata. " Jadi Bi Siti harus menuruti perintahku dong, jangan menuruti perasaan bibi. Aku tidak suka bi. "
"Tapi nyonya, " Wulan menghentikan perkataan wanita tua itu, " Bi bukannya aku menyuruh bibi untuk menurut, bukan malah membantah, jelaskan perkataanku bi. "
"Baiklah nyonya. "
"Bagus, awas saja kalau Bibi tetap ngeyel, aku pastikan bibi akan kusebut penghianat. "
Wulan kini pergi dari hadapan Bi Siti, ia pergi dengan kesenangannya sendiri. Sedangkan Bi Siti menangis dengan meratapi nasib anak malang Sarla.
"Kenapa Sarla tidak mempetahankan bayinya saja, kalau keyataanya seperti ini, kasihan kamu nak. Tinggal dengan sosok wanita yang ternyata membenci kamu, bagaimana nasib kamu kedepannya, apa kamu kuat bersama ibu sambungmu. " Memeluk erat bayi itu, Bi Siti berusaha tenang, dengan mengusap perlahan air matanya yang terus jatuh ke dasar pipi.
Beberapa kali, mencium pipi mungil itu, hingga teriakan terdengar.
"Bi Siti. "
"Bi Siti. "
Ternyata sang nyonya memanggilnya, " iya nyonya ada apa?"
Bi Siti berusaha meletakan bayi mungil itu, dimana ia menangis dan tak ingin ditinggal.
"Aduh sayang, cup cup. Jangan nangis, Bibi tinggal dulu sebentar, nanti kalau bibi sudah melaksanakan tugas dari nyonya, nanti bibi gendong lagi kamu. "
"Bi Siti. " Teriakan Wulan semakin kencang, membuat Bi Siti berlari terburu buru. " Iya nyonya ada apa?"
"Lama banget sih, bi. "
Tangisan bayi Sarla kini terdengar lagi, dimana Bi Siti mulai berlari untuk menghampiri bayi mungil itu.
"Bi Siti, jangan ke sana. "
"Tapi nyonya. "
"Menurut atau .... ?"
__ADS_1