
(Sarla, tak ada di rumah, Bu.)
Pesan terkirim, sang ibunda membalas. (Loh, kenapa? Apa dia pergi dari rumah?) Kekuatiran kini dirasakan sang ibunda, dimana Daniel berusaha meluruskan kesalah pahaman yang terjadi.
(Ibu jangan salah paham dulu, Sarla minta izin padaku ingin kuliah, makannya. Aku izinkan bu, karena kasihan dia suntuk di rumah terus.) Balas Daniel, menghilangkan kekuatiran sang ibunda.
(Owh, jadi begitu. Nggak papa, ibu bakal tetap datang. Menunggu saja nanti di rumah.) jawaban sang ibunda membuat Daniel bernapas lega.
(Ya sudah terserah ibu.)
(Gimana, apa ada tanda tanda Sarla hamil?)
Mendengar perkataan sang ibunda tentu membuat Daniel terkejut. (Belum bu.)
(Mm, sayang sekali ya. Padahal tadi malam, ibu lihat Wulan muntah muntah bulak balik, ke kamar mandi seperti orang hamil.)
Deg ....
(Sekarang dia lagi apa?)
(Lagi tiduran, kayanya kecapean deh. Semalaman ibu bantu dia buatin air hangat, katanya setiap kali makan bawaannya mual terus.)
Bukan rasa senang kini di rasakan Daniel, yang ada kecurigaan semakin bertembah besar. Padahal Daniel belum menyentuh istrinya sama sekali, setelah kejadian perginya Wulan yang lumayan cukup lama.
(Apa sudah periksa ke dokter? )
(Ibu sudah ajak dia, tapi Sarla menolak, dengan alasan tak mau katanya.)
(Coba ibu bujuk dia.)
(Sudah berulang kali, kanyanya dia mau sama kamu, Daniel.)
(Sekarangkan jatah Daniel dengan Sarla bu, lima hari lagi.)
(Ya gimana lagi, ibu juga bingung ngebujuk istri kamu.)
(Ya sudah pulang kerja, Daniel ke sana. Malam ini ibu menginap dulu di rumah Sarla.)
(Baiklah, ibu berharap Wulan hamil.)
Deg ....
Tak ada harapan seperti itu bagi Daniel, karena jika Wulan hamil saat ini, pastinya bayi dalam kandungannya bukan anak Daniel.
karena sebulan ini tak ada sentuhan dilayangkan Daniel untuk Wulan, begitu pun dengan sentuhan bulan bulan lalu, selalu pakai pengaman.
Daniel terdiam sejenak, ia tak membalas pesan dari sang ibunda.
(Daniel, ibu mau berangkat dulu ke rumah Sarla. Oh ya ibu mau tanya sama kamu, kalau Wulan hamil apa kamu akan meninggalkan Sarla?)
Pertanyaan sang ibunda membuat rasa bingbang pada diri Daniel, karena baru seminggu Daniel menikah dengan Sarla. Rasanya tak puas jika harus menceraikan Sarla begitu saja, sebelum wanita itu mengandung anaknya.
__ADS_1
(Entahlah. BU.)
(Kamu kok begitu, sebagai lelaki harus tegas. Kasihan Wulan, kalau benar dia hamil. Kamu harus mencaraikan Sarla.)
Daniel seakan berat melepaskan Sarla, karena ia belum tahu dan belum yakin jika Wulan hamil anaknya.
(Ya, bu. Ibu tenang saja.)
(Ibu hanya memberi tahu kamu, jika menikah itu harus ada dasar keridoan seorang istri, jangan semena mena pada istri jika kamu punya segala galanya.)
Perkataan sang ibunda terkadang mengigatkan Daniel pada Sarla, yang selalu berceramah seperti Ustadzah.
(Iya bu, Daniel juga tahu.)
(Ya sudah, kamu hati hati di jalan. Ibu sudah mau menuju ke rumah Sarla.)
(Iya bu, ibu juga hati hati.)
Kecemasan kini dirasakan lelaki bergelar CEO itu, karena mendengar Wulan seperti sedang mengidam.
"Siapa yang menghamili Wulan? Apa lelaki bernama Angga itu?"
Pertanyaan terus mengelilingi pikiran Angga, bagaimana tidak, baru saja kemarin menemukan tanda merah kini mendengar Wulan muntah muntah, rasanya begitu cemas dan ketakutan.
Karena Wulan adalah sosok wanita yang sangat dicintai Daniel, tidak ada yang bisa mengantikan namanya di hati Daniel bagaimana pun.
Varel melihat kegalauan pada diri Daniel, membuat ia tersenyum senang dalam hati. karena akan ada kesempatan untuk memiliki hati Sarla.
Pertanyaan Daniel, membuat lamunan Varel membuyar saat mengigat Sarla.
"Jadwal hari ini, tidak ada. Pak!" Balas Varel hampir saja membuat mulutnya mengatakan hal yang akan membuat Daniel murka.
"Nanti kamu antarkan saya ke rumah Ibu," perintah Daniel kepada Varel.
"Baik, Pak."
********
Wulan terlihat berjalan sempoyongan, ia merasakan bertapa pusingnya kepalanya akhir akhir ini, badanya lemas.
Setiap kali mencium bau wewangian, membuat Wulan tak tahan dan rasanya ingin muntah. Mengeluarkan isi perut yang belum terisi dari semalam.
"Bu."
Wulan berteriak memanggil Alenta, namun sang pembantu datang, " ada apa nyonya?"
"Loh, bi. Mana Ibu Alenta?" tanya Wulan, menahan kepalanya yang terasa begitu sakit dan pusing.
"Ibu Alenta tadi pergi keluar!" jawab pembantu di rumah. Wulan mengira jika mertuanya ada di rumah, ia ingin meminta kepada wanita tua itu untuk menghubungi Daniel.
Karena seharian ini, Wulan menelepon Daniel tak aktif aktif terus. " oh ya sudah bi, tolong buatkan jus ya. Sama makanan, saya laper. "
__ADS_1
"Baik Nyonya."
Terkadang, Wulan juga merasakan perut terasa penuh dan kram. " Aduh, perutku sakit."
Pembantu di rumah dengan sigap membantu sang majikan untuk pergi ke kamar." Nyonya kenapa?"
"Entahlah bi, perut saya rasanya sakit sekali, kadang kram!"
"Coba bibi cek dulu, perutnya."
Wulan mulai mengijinkan pembantu yang sudah berumur itu memegang perutnya." Alhamdulilah nyonya hamil. "
Deg ....
Bukannya senang, Wulan malah terkejut dengan hal itu, bagaimana bisa ia hamil. Karena sudah sebulan Wulan belum berhubungan badan dengan Daniel.
Karena terakhir kali Wulan berhubungan badan dengan Angga yang sudah meninggalkannya di hotel. Membawa semua benda berharga milik Wulan.
"Yang benar bi, masa ia?" tanya Wulan masih tak percaya, karena ia ketakutan sekali. Jika Daniel sampai mencurigai anak yang kini dikandung Wulan.
"Ya Nyonya, soalnya kelihatan sekali, dari cara nyonya ngidam dan saat saya meraba perut nyonya."
Kekuatiran itu jelas dirasakan Wulan," Apa yang harus aku lakukan." Gerutu hati Wulan.
"Nyonya."
Pelayan datang, membawakan jus yang diminta oleh Wulan.
"Ini nyonya. Jusnya. "
Wulan masih terdiam sejenak, memang Daniel menunggu kedatangan seorang bayi, untuk dilahirkan dan menjadi garis keturunanya di masa depan.
Namun jika bayi itu bukan darah dangingnya, apa Daniel akan menerima? Wulan di ambang rasa takut yang berlebihan, apalagi kini ia mempunyai saiangan bernama Sarla. Istri kedua Daniel yang mungkin bisa mengambil posisinya saat ini.
"Nyonya kenapa?" tanya sang pembantu kepada majikannya, dimana pembantu itu memberikan racikan obat untuk di oleskan pada perut Wulan agar tidak sakit.
"Bi, apa bibi bisa membantu saya?" Petanyaan Wulan tiba tiba saja mengejutkan sang pembantu. " Membantu apa Nyonya?"
Sebenarnya Wulan ragu mengatakan hal itu, ia ketakutan sendiri. Tapi bagaimana lagi, ini mungkin cara terbaik, agar bisa menutupi aib dirinya sendiri yang sudah berani mengkhianti Daniel sang suami.
"Nyonya kok diam saja, ayo katakan pada bibi!" jawab sang pembantu yang terlihat begitu perhatian pada Wulan.
"Bibi tidak akan mengatakan apapun kan pada Daniel atau Bu Alenta?" tanya Wulan terlebih dahulu, walau sebenarnya ada rasa penasaran dalam diri pembantu itu.
Sampai tidak boleh di ceritakan orang lain.
"Sebenarnya ada apa sih, Non?" Pembantu yang bekerja sudah lama di rumah Alenta selalu perhatian terhadap Wulan.
"Wulan ragu bi, mengatakannya!" Jawab Wulan masih di ambang rasa takut. Akan menceritakan keinginannya.
Memegang tangan kedua pembantunya, Wulan menarik napas dan kini bercerita.
__ADS_1
Apa yang akan diceritakan Wulan saat itu?