Anak Genius : CEO & His Private Chef

Anak Genius : CEO & His Private Chef
BAB 103. Pakar Cinta


__ADS_3

***Ruang makan Mansion Wijaya***


Jackson terdiam dan berpikir keras tentang perasaannya terhadap Rossy.


Felix tersenyum kecil melihat reaksi Jackson terhadap perkataannya.


"Pasti ada hubungannya dengan Rossy," kata hati Felix. Setelah berpikir lama, Jackson masih belum dapat menemukan jawabannya sehingga ingin meminta petunjuk dari Felix lagi.


"Jika tidak ada rasa suka dan juga tidak membencinya, apa artinya ?" tanya Jackson.


Felix meletakkan sendoknya di piring dan menatap Jackson dengan wajah serius.


"Jackson. Hal itu tidaklah mungkin. Tidak ada nilai tengah dalam perasaan cinta. Setiap orang pasti bisa membedakan dengan pasti suka atau tidak suka terhadap pasangan lawan jenisnya," jawab Felix.


"Coba jelaskan kepadaku. Bagaimana perasaan suka dan tidak sukamu terhadapnya?" tanya Felix.


Felix sengaja tidak menyebutkan nama Rossy karena tahu Jackson yang mempunyai sifat kaku dan dingin, pasti tidak akan mengakuinya dan bahkan mungkin membantahnya.


"Sewaktu melihatnya kadang saya akan merasakan jengkel tetapi jika tidak melihatnya aku akan merasa gelisah," jawab Jackson dengan jujur.


Felix semakin yakin Jackson mulai jatuh cinta kepada Rossy. Hanya saja Jackson yang kaku dan dingin masih belum menyadarinya sama sekali.


Felix m ingin membantu Jackson menyadari perasaan hatinya.


"Hm..begitu ya. Aku mempunyai cara untuk memastikan perasaan hatimu," ujar Felix.


"Cara apa?" tanya Jackson dengan spontan.


"Kamu harus berpegangan tangan dengannya dan saling menatap selama sepuluh detik. Dalam sepuluh detik itu jika jantungmu berdetak cepat, pipimu terasa panas dan sekujur tubuhmu merasakan aliran listrik maka itu artinya cinta," jawab Felix dengan yakin.


"Berpegangan tangan? Saling bertatapan? Itu bukannya hal yang biasa aku lakukan dengan kolega bisnis?" tanya Jackson.


Setiap kali Jackson melakukan kerjasama dengan kolega bisnisnya maka mereka akan melakukan pertemuan, saling bertatapan membahas tentang bisnis, dan di selesaikan dengan saling berjabat tangan setelah menandatangani kontrak kerja sehingga Jackson merasa ide Felix ini tidak bisa di terima oleh logikanya.


Felix menepuk jidatnya dengan telapak tangannya secara spontan setelah mendengar perkataan Jackson.


"Dia benar-benar pria yang kaku," kata hati Felix.


Felix tahu Jackson yang tidak pernah berpacaran sama sekali sehingga tidaklah mengerti bagaimana cara berpegangan tangan dan saling bertatapan dengan lawan jenisnya.


Felix berpikir sebentar bagaimana menjelaskan hal itu ke Jackson.


"Begini saja. Aku akan mempraktekkannya untukmu," kata Felix dan berjalan mendekati Jackson.

__ADS_1


Felix Wilson menarik tangan Jackson dengan cepat dan menggengamnya dengan erat. Kemudian Felix menatap mata Jackson dengan intens.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Jackson sambil berusaha menarik kembali tangannya dari genggaman tangan Felix.


"Aku sedang mempraktekkannya denganmu. Turuti perkataanku sekarang," jawab Felix.


Jackson menganggukkan kepala dan tidak menarik lagi tangannya dari genggaman Felix.


"Kamu harus memegang tangannya dengan erat seperti ini. Kemudian matamu menatap tepat di matanya," jelas Felix sambil menggunakan kedua jari tangannya menunjuk ke mata Jackson lalu ke matanya sendiri.


Jackson mengikuti perkataan Felix dan menatap ke mata Felix.


"Sekarang kamu bisa memulai hitung waktunya dalam hatimu. Sepuluh detik. Tidak lebih dan tidak kurang. Apa yang kamu rasakan selama sepuluh detik ini adalah perasaan hatimu yang paling dalam," saran Felix.


Jackson dan Felix saling bertatapan mata secara intens dan saling berpegangan tangan.


Pada hitungan detik kelima, Jackson sudah tidak tahan dan merasakan bulu roma di seluruh tubuhnya berdiri karena tatapan intens dari Felix. Jackson merasa canggung harus melakukan hal ini dengan sesama pria.


Tepat pada hitungan detik ke delapan di dalam hati Jackson, terdengar suara langkah kaki yang berjalan ke arah mereka.


"Tuan Jackson," sapa Pak Lesmana.


Pak Lesmana baru saja selesai makan bubur ikannya sehingga ke ruang makan untuk melayani Jackson karena Rossy sudah berangkat ke Healing Hands Hospital.


Pak Lesmana terkejut melihat Jackson dan Felix saling bertatapan satu sama lain dan berpegangan tangan.


Jackson tidak tahan lagi harus melanjutkan menatap mata Felix walaupun hanya tersisa dua detik.


"Ada apa Pak Lesmana?" tanya Jackson dengan suara datar.


Sementara itu Felix bersikap biasa saja dan berjalan kembali ke tempat duduk semulanya untuk melanjutkan makan breakfastnya.


"Nona Rossy sudah berangkat. Apakah tuan Jackson mau berangkat ke Perusahaan Wijaya sekarang?" tanya Pak Lesmana.


Jackson melihat jam tangan di pergelangan tangannya.


"Pak Lesmana. Tolong ambilkan tas kerjaku di ruang kerja," kata Jackson.


"Baik tuan Jackson," jawab Pak Lesmana.


Felix yang sudah menyelesaikan makan breakfastnya melihat ke arah Jackson setelah Pak Lesmana pergi meninggalkan ruang makan.


"Bagaimana Jackson? Kamu sudah mengerti bukan? Atau harus kita lanjutkan lagi dua detik tadi?" tanya Felix.

__ADS_1


Mendengar perkataan Felix, bulu roma di sekujur tubuh Jackson berdiri lagi.


"Cukup! Aku tidak tahan bertatapan denganmu. Bulu roma ku sudah berdiri di sekujur tubuhku ," kata Jackson dengan ketus.


Felix tertawa keras mendengar perkataan Jackson.


"Jackson. Itu menandakan kamu adalah pria lurus," ujar Felix sambil tersenyum lebar.


Jackson hanya memalingkan wajahnya ke samping dan tidak mau menatap Felix lagi.


"Jangan lupa praktekkan dengan wanita itu. Perasaan yang kamu rasakan pasti berbeda."


Felix sengaja menggoda Jackson.


"Siapa bilang aku mau mempraktekkannya?" ucap Jackson dengan ketus.


Jackson tidak akan mengakuinya di depan Felix jika dia akan menjalankan ide Felix tersebut.


Jackson tahu Felix pasti akan sangat penasaran ingin mengetahui dan mencari tahu siapa wanita itu nantinya.


"Oh ya? Kalau begitu aku akan membelikanmu beberapa buku mengenai Pakar Cinta yang sudah terbukti berhasil ," ucap Felix.


"Terserah kamu saja," jawab Jackson.


Jackson tidak menolak karena dirinya penasaran dan ingin mengetahui apa isi buku tersebut.


"Sip deh. Aku akan membelikan buku yang Hot Seller," lanjut Felix.


Felix berencana membeli dua buku Pakar Cinta. Satu untuk Jackson dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.


"Oh ya,Jackson. Nanti malam aku tidak bisa dinner di Mansion Wijaya. Aku harus menghadiri jamuan makan malam menggantikan ayahku," kata Felix.


Jackson menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak bisa makan dinner buatan Rossy yang lezat malam ini. Masakan di jamuan makan malam kalah jauh dengan masakan Rossy. Orang yang menikahi Rossy nantinya pasti akan sangat bahagia karena setiap hari dapat makan makanan yang enak," jelas Felix.


Jackson hanya terdiam setelah mendengar perkataan Felix tetapi Felix bisa merasakan aura dingin yang keluar dari tubuh Jackson sehingga membuat Felix semakin yakin Jackson sudah mulai menyukai Rossy dan masih belum menyadarinya.


Beberapa saat kemudian Pak Lesmana  datang sambil membawa tas kerja Jackson sehingga Jackson segera berangkat kerja ke Perusahaan Wijaya, sedangkan Felix berangkat ke Healing Hands Hospital.



Halo readers setia. Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya ya

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2