
***Restoran Italia***
Jackson seolah-olah terhipnotis oleh steak sapi saus barbeque di hadapannya. Tangan kanan dan kiri Jackson mengepal dengan kuat.
Indra menyadari ekspresi wajah tegang Jackson dan terlihat sangat senang bukannya merasa prihatin.
"Penyakit Jackson belum sembuh. Sebentar lagi Jackson pasti akan muntah," kata hati Indra.
Ekspresi wajah tegang Jackson sewaktu berhadapan dengan makanan pernah di lihat oleh Indra.
Jika Jackson muntah sekarang, maka Dilan pasti akan membatalkan kesepakatan kerjasama.
Indra tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. "Aku harus memaksa Jackson memakannya," kata hati Indra.
"Jackson! Kenapa kamu belum makan? Pak Dilan sudah memesan steak sapi terkenal restoran ini," kata Indra.
Dilan melirik sekilas ke arah Jackson yang masih menatap steak sapi saus barbeque di hadapannya dengan wajah tegang dan butiran-butiran keringat yang menempel di dahi Jackson.
"Ternyata traumanya terhadap steak sapi belum sembuh," kata hati Dilan.
Dilan merasa iba dengan Jackson, yang harus menghadapi trauma masa kecil selama dua puluh tahun.
"Jackson belum sembuh! Bagaimana Michael bisa sembuh sekarang?" kata hati Dilan.
Perkataan Indra sama sekali tidak terdengar oleh Jackson. Jackson sedang berusaha keras membuat pikirannya jernih.
"Muntahkan! SmAku suruh kamu muntahkan makanan itu!" Suara Susan berulang-ulang terdengar di telinga Jackson.
Jackson memejamkan kedua matanya dengan rapat. "Semua sudah berlalu! Susan sudah mati!" kata hati Jackson.
Jackson berusaha menghilangkan suara Susan dari pikirannya.
Jackson tidak mau belenggu yang mengikatnya selama dua puluh tahun ini, yang sudah di lepaskannya dengan perlahan dan susah payah akan muncul dan mengikatnya lagi.
"Aku harus kuat!" tekad hati Jackson.
Tiba-tiba Jackson bisa merasakan tiga buah cahaya terang sedang mengarah ke arahnya. Walaupun kedua mata Jackson terpejam rapat dan hanya kegelapan yang menghadangnya saat ini, ketiga cahaya terang itu bisa menyingkirkan kegelapan di sekitar Jackson.
"Jackson!"
"Daddy!"
"Daddy!"
Wajah Rossy, Chandra, dan Kelvin ikut muncul di dalam pikiran Jackson, yang merupakan perubahan wujud dari ketiga cahaya terang tadi.
Mereka bertiga memanggilnya dengan suara yang lembut dan terdengar jelas seolah-olah mereka sedang berada di sisinya saat ini.
"Keluarga kecilku! " teriak hati Jackson.
***
__ADS_1
Secara perlahan Jackson membuka kedua matanya. Kemudian Jackson menatap cincin emas putih yang melingkar di jari manisnya.
"Rossyku!" kata hati Jackson, lalu Jackson melihat jam tangan baru di pergelangan tangannya hadiah dari Chandra.
Dengan tangan kanan yang masih bergetar, Jackson menekan tombol kecil jam tangan di pergelangan tangan kirinya sehingga menampilkan tiga buah bulatan kecil yang berada di tempat sama.
Jackson menekan sekali lagi tombol kecil itu dan menunjukkan lokasi bulatan kecil berwarna merah muda, biru, dan coklat itu berada yaitu taman bermain.
Sudut bibir Jackson terangkat sedikit sambil menatap jam tangannya.
"Keluarga kecilku!" gumam Jackson dengan suara kecil.
Hanya melihat bulatan kecil di jam tangannya, Jackson bisa merasakan Rossy, Chandra, dan Kelvin sedang berada di sisinya.
Secara perlahan napas Jackson mulai teratur. Suara Susan yang selama ini menghantuinya hilang tanpa jejak.
Seolah-olah Susan hanyalah salah satu debu kecil yang pernah menempel di ingatan Jackson selama ini.
Masa depannya haruslah di lalui bersama Rossy dan kedua putra kembarnya, bukannya terjebak dengan masa lalu yang buruk.
Kemunculan Rossy dan keberadaan kedua putra kembarnya merupakan penyemangat hidup Jackson saat ini untuk menghilangkan trauma buruk dari Susan.
Setelah merasa lebih tenang, Jackson mengambil pisau dan garpu makan yang berada di samping piringnya.
Jackson memegang erat pisau dan garpunya serta mulai memotong steak sapi saus barbeque di hadapannya.
Jackson memasukkan satu potongan kecil steak sapi saus barbeque ke dalam mulutnya dan mengunyahnya secara perlahan sambil matanya menatap ketiga bulatan kecil di jam tangannya.
Dan keterjutan mereka berdua berlanjut lagi karena pada akhirnya Jackson berhasil menghabiskan satu piring steak sapi saus barbeque.
Jackson mengelap sudut bibirnya dengan napkin setelah menghabiskan steak sapi saus barbeque , kemudian memegang jam tangannya.
"Terima kasih keluarga kecilku," kata hati Jackson sambil menekan tombol kecilnya sekali lagi sehingga tampilannya berubah menjadi jam tangan biasa.
Tadi Jackson hampir saja terperangkap lagi ke dalam trauma masa lalunya dan kemunculan keluarga kecilnyalah yang menjadi penyelamatnya.
Indra Wijaya yang penasaran ingin melihat apa rahasia jam tangan Jackson, tetapi tidak berhasil.
"Maafkan sikapku tadi, Dilan! Aku baru saja sembuh dari penyakit eating disorder dan hanya bisa makan dalam porsi kecil sehingga sewaktu melihat steak sapinya, aku kira tidak akan berhasil menghabiskannya. Steak sapi saus barbeque ini memang sangat lezat!" kata Jackson.
Dilan menganggukkan kepalanya dan melanjutkan lunch di piringnya yang tinggal sedikit.
Sesekali Jackson dan Dilan mengobrol ringan sambil minum wine merah.
***Taman bermain***
Rossy dan kedua puta kembarnya di ikuti oleh Robin berada di taman bermain.
Rossy mengantri untuk membeli tiket masuk. Karena hari sabtu, banyak pengunjung taman bermain. Ada keluarga yang membawa anak dan orang tua. Ada juga pasangan kekasih.
Dua preman anak buah Boris ikut mengantri tidak jauh dari Rossy.
__ADS_1
Mereka berdua adalah Ale dan Udin. Ale dan Udin merasa takut dengan Robin, si Hercules yang terlihat kekar dan selalu mengikuti Rossy dan kedua putra kembarnya.
Robin semakin yakin mobil box hitam yang mengikutinya dari belakang pastilah mempunyai itikad tidak baik terhadap Rossy maupun kedua tuan mudanya karena kedua pria dari mobil box hitam ikut mengantri di taman bermain dan juga mencuri-curi pandang ke arah Rossy dan si kembar Chandra-Kelvin.
Ketika Rossy dan si kembar bermain wahana permainan di dalam taman bermain, Ale dan Udin masih mengawasi dari jauh untuk mencari kesempatan menculik Rossy.
Robin langsung menghampiri mereka berdua. Ale dan Udin terkejut melihat Robin berdiri di hadapan mereka secara tiba-tiba.
"Siapa kalian? Kenapa mengikuti kita? Apa tujuan kalian?" tanya Robin tanpa basa-basi.
"Mana ada?" Ale membantah perkataan Robin.
"Kamu cari gara-gara!" teriak Udin dan melayangkan tinjunya ke wajah Robin.
Walaupun Ale dan Udin merasa takut dengan Robin yang kekar seperti Hercules, namun mereka berdua lebih takut mendapat hukuman dari Boris jika gagal menjalankan tugas.
Dengan mudah Robin menangkap pergelangan tangan Udin. Ale pun tidak tinggal diam dan ikut menyerang Robin.
Robin yang masih memegang pergelangan tangan Udin, langsung mendorong tubuh Udin ke Ale dengan keras sehingga serangan Ale mengenai punggung Udin. Ale segera menghampiri Udin untuk memeriksa keadaannya.
"Jika berani lagi mengikuti kita, aku akan mematahkan kaki kalian!" ancam Robin dan berjalan meninggalkan kedua preman bawahan Boris.
Violet yang menguntit, melihat dengan jelas kedua anak buah Boris dengan mudah di kalahkan.
"Keduanya gak berguna! Pintar berkelahi? Beberapa detik aja sudah kalah sama si Hercules!" kata hati Violet.
Ale dan Udin yang di ancam oleh Robin menjadi hilang nyalinya untuk menculik Rossy.
"Bagaimana nih, Udin? Bos Boris pasti marah kalau kita gagal," kata Ale.
Udin masih memegang bagian punggungnya yang terkena tinjuan Ale sambil meringis kesakitan.
"Kita pantau aja dari jauh!" kata Udin.
"Oke!" jawab Ale.
Violet semakin kesal melihat kedua preman takut dengan ancaman Robin.
"Aku harus turun tangan langsung!" kata hati Violet.
***
FOLLOW AUTHOR LYTIE DI NOVELTOON / MANGATOON YA 🥰🥰🙏
IG : lytie777
FB : Lytie
SALAM SAYANG
__ADS_1
AUTHOR : LYTIE