
***Kantin Healing Hands Hospital***
Suster Lisa dan Jennifer tercengang mendengar perkataan Michael.
Suster Lisa tidak menyangka dunia ini sangatlah kecil. Dirinya bisa bertemu dengan dokter bedah yang mengoperasi Dokter Erik.
Jennifer semakin kagum kepada Michael dan menatap wajah Michael dengan mata berbinar-binar.
"Terima kasih Dokter Michael sudah menolong Dokter Erik," kata Suster Lisa dengan tulus.
"Wah Michael sangat hebat. Aku semakin kagum kepadamu," puji Jennifer dengan mata yang semakin 'bling bling' melihat wajah Michael dengan intens.
Suster Lisa menyiku lengan Jennifer perlahan untuk menyadarkan temannya supaya tidak menatap Michael dengan intens.
Michael hanya tersenyum melihat aksi mereka berdua.
"Aku hanya melakukan kewajibanku sebagai seorang dokter yaitu menyelamatkan nyawa pasien. Lagipula akh hanya membantu dokter bedah senior pada waktu itu," kata Michael sambil menatap ke arah Suster Lisa.
"Iya Dokter Michael," kata Suster Lisa.
"Panggil saja aku Michael. Sama seperti Jennifer memanggilku," kata Michael.
Wajah Jennifer bersemu merah mendengar Michael menyebutkan namanya .
"Iya benar Lisa. Michael baru saja bergabung di Healing Hands Hospital dan sifatnya tidak sombong. Michael memperbolehkan suster lain memanggil namanya secara langsung jika sedang tidak bekerja," kata Jennifer.
Suster Lisa menganggukkan kepala pertanda setuju. Walaupun merasa sungkan memanggil nama Michael secara langsung, Suster Lisa tidak bisa menolak perkataan Jennifer.
"Setahuku Dokter Erik adalah dokter kandungan. Kamu adalah suster yang membantunya di tempat praktek pribadinya?" tanya Michael ke Lisa.
"Dokter Erik adalah atasanku sewaktu aku bekerja di rumah sakit bersalin dulu. Aku sekarang bekerja di rumah sakit swasta di kota Medan," jawab Suster Lisa dengan jujur.
"Iya. Lima tahun yang lalu Lisa pulang ke Medan. Lisa datang ke Bali karena mengetahui kabar tentang Dokter Erik sedang koma," kata Jennifer.
"Oh begitu. Lima tahun yang lalu ya," kata Michael sambil tersenyum.
Michael melanjutkan lunchnya dan Jennifer pun dengan aktif mengajukan pertanyaan pribadi ke Michael.
Warna kesukaan Michael, zodiak Michael, tinggi dan berat badan Michael, tipe wanita kesukaan Michael, dan lainnya di tanyain oleh Jennifer dengan antusias.
Entah sudah berapa kali Suster Lisa menyenggol lengan Jennifer dengan perlahan untuk menghentikannya tetapi Jennifer tetap saja antusias menanyai hal-hal pribadi Michael.
Michael tidak marah dengan pertanyaan Jennifer yang sangat banyak melainkan menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh Jennifer tanpa merasa terganggu.
"Wah akhirnya aku mengetahui banyak hal pribadi tentang Michael di bandingkan rekan kerja yang lain," kata Jennifer dengan senang.
"Oh iya satu lagi. Aku hampir lupa. Apa makanan kesukaanmu?" tanya Jennifer ke Michael.
Walaupun Jennifer tidak pandai memasak, demi Michael dirinya akan belajar memasak makanan kesukaan Michael.
Sekarang banyak channel youtube yaang memposting berbagai jenis masakan. Jennifer yakin dirinya pasti bisa memasak makanan kesukaan Michael.
"Makanan kesukaanku?"tanya Michael.
Michael teringat akan sebuah masakan yang sering di masak oleh ibunya dan dirinya sangat mengingat rasa makanan itu.
Michael sering makan makanan itu walaupun rasanya tidak seperti yang ibunya masak.
"Aku menyukai semua jenis makanan," jawab Michael ke Jennifer.
"Oke," kata Jennifer sambil tersenyum.
"Aku akan mencari di youtube makanan yang mudah cara memasaknya," tekas hati Jennifer.
Waktu makan siang sudah selesai dan mereka berpisah di kantin menuju tempat mereka bekerja masing-masing, sedangkan Michelle dan Chandra sudah terlebih dahulu meninggalkan kantin setelah selesai lunch tadi.
*** Mansion Wijaya***
Felix pulang ke Mansion Wijaya setelah mengetahui Suster Lisa sudah pulang bersama Jennifer dari Healing Hands Hospital.
Rossy sudah menyiapkan masakan yang banyak di meja makan untuk dinner Felix sesuai dengan permintaan Jackson dan wanita muda itu sedang pergi ke Healing Hands Hospital untuk mengantarkan dinner Kelvin.
Felix mendorong kursi roda Jackson menuju ruang makan.
__ADS_1
Felix sangat senang melihat meja makan yang penuh dengan masakan Rossy yang terlihat sangat enak dan menarik. Karena Rossy sedang mengantarkan dinner ke Healing Hands Hospital, maka Pak Lesmana yang membantu mempersiapkan alat makan Felix dan meletakkannya di atas meja makan.
"Wow! Masakan Rossy sangat bervariasi setiap hari. Aku semakin betah tinggal di Mansion Wijaya," kata Felix sambil duduk di depan meja makan dan mulai melahap makanan di depannya.
Felix ingin menambah waktu menginap di Mansion Wijaya agar bisa makan masakan Rossy lebih lama.
Jackson tidak keberatan sama sekali jika Felix ingin menginap lebih lama di Mansion Wijaya.
"Jangan lupa dengan rencana yang kamu katakan tadi pagi," kata Jackson.
Felix tahu Jackson memperingatkannya tentang masalah Suster Lisa.
"Tenang saja Jackson. Aku sudah mendapatkan rencana yang lebih bagus lagi. Aku akan membuat Suster Lisa menetap di Bali," ucap Felix dengan yakin.
Satu minggu bukanlah waktu yang panjang. Felix khawatir dirinya masih belum bisa mendapatkan kepercayaan dari Suster Lisa dalam waktu seminggu sehingga Felix mencoba memikirkan cara lain yang bisa menahan Suster Lisa lebih lama tinggal di Bali.
"Aku percaya padamu. Lakukan sebisamu saja," kata Jackson.
Jackson tahu Felix ikhlas membantunya sehingga Jackson tidak mau terlalu memaksa Felix.
Jika Felix gagal membuat Suster Lisa menetap di Bali meskipun sudah menjalankan rencana Felix, Jackson tidak akan menyalahkan Felix.
Jackson akan mencari cara lain lagi untuk menemukan Miss X.
"Oke Jackson," kata Felix.
"Rapat direksi di Perusahaan Wijaya besok, kamu yakin tidak perlu di temani olehku?" tanya Felix.
"Iya. Rossy yang akan menemaniku ke rapat direksi," jawab Jackson.
"What?" teriak Felix yang hampir tersedak udang goreng yang sedang di kunyahnya.
Felix mengambil gelas yang berisi air dengan terburu-buru dan meminumnya.
"Kamu membawa Rossy ke rapat direksi dan menolakku menemanimu ke sana?" tanya Felix dengan nada tidak percaya.
"Iya. Rossy lebih di butuhkan pada saat itu," jawab Jackson dengan nada datar.
Jawaban Jackson yang tidak jelas membuat Felix semakin bingung.
"Kenapa Jackson membutuhkan Rossy hadir dalam rapat direksi? Apakah ingin mengumumkan kepada semua pemegang saham bahwa Rossy adalah calon istri CEO perusahaan Wijaya?" kata hati Felix.
"Hilangkan pemikiran yang tidak benar dari otakmu," kata Jackson dengan tegas.
Jackson bisa membaca dari wajah dan mata Felix yang penasaran pasti penuh dengan pemikiran yang tidak benar tentang hubungannya dengan Rossy.
Felix bisa merasakan seolah-olah tubuhnya di siram oleh air dingin ketika mendengar perkataan Jackson.
"He he he. Jadi apa dong tujuanmu membawa Rossy ke rapat direksi?" tanya Felix.
"RA HA SI A," jawab Jackson dengan singkat. Jackson sengaja ingin membuat Felix lebih penasaran.
Felix tahu Jackson tidak akan memberitahukannya apapun saat ini. Satu-satunya cara Felix mengetahuinya adalah menanyakannya secara langsung kepada Rossy besok siang.
Felix pun melanjutkan dinnernya dengan lahap.
*** Mansion Wijaya***
Pagi hari Rossy sudah menyiapkan breakfast untuk Felix dan Kelvin.
Pak Lesmana yang mengantarkan breakfast Kelvin ke Healing Hands Hospital karena Rossy akan menemani Jackson ke Perusahaan Wijaya.
Rossy memakai pakaian formal, kemeja dipadukan dengan rok selutut. Rambutnya tetap di sanggul rapi dan kacamata besar menghiasi bingkai wajahnya.
Semalam Rossy sudah menanyakan ke Chandra tentang siapa saja keluarga Wijaya yang akan di temuinya di rapat direksi nanti.
Agung Wijaya, Kusuma Wijaya, dan Indra Wijaya. Ketiga nama ini di ingat dengan jelas oleh Rossy.
***
Mobil Land Rover Range Rover Velar warna hitam berhenti di depan Perusahaan Wijaya.
Rossy dan Pak Kuncoro membantu memapah Jackson duduk di atas kursi rodanya.
__ADS_1
Rossy mendorong kursi roda Jackson dengan perlahan berjalan masuk ke dalam Perusahaan Wijaya.
Semua mata memandang ke arah mereka dan terkejut dengan keadaan Jackson yang duduk di kursi roda. Akan tetapi, tidak ada satupun yang berani berkata apa pun dan hanya memberikan hormat kepada Jackson sewaktu Jackson melewati mereka.
"Tuan Jackson."
"Tuan Jackson."
"Tuan Jackson."
Rossy mendengarkan sapaan itu berulang-ulang dari setiap karyawan Perusahaan Wijaya yang berpapasan dengan mereka.
Jackson duduk dengan tenang di kursi roda dan membalas panggilan mereka dengan anggukkan kepala.
Rossy mendorong kursi roda Jackson dan tiba di depan kantor Jackson.
Sekretaris Jackson, Venesia bergegas datang menghampiri Jackson dan terkejut melihat Jackson yang duduk di atas kursi roda.
"Tuan Jackson. Ada apa dengan kakimu?" tanya Venesia.
"Tidak apa-apa. Hanya terluka sedikit," jawab Jackson dengan singkat.
Venesia mengalihkan perhatiannya ke arah Rossy yang sedang mendorong kursi roda Jackson.
"Ibu bisa mendorong sampai di sini saja. Aku yang akan mendorong tuan Jackson sekarang," kata Venesia.
"Ibu?" teriak hati Rossy. Rossy pun memandang wajah Venesia dengan saksama.
"Sekretaris ini sudah berusia sekitar tiga puluhan dan memanggilku ibu. Emangnya dia kira aku umur berapa?" kata hati Rossy dengan jengkel dan berusaha menahannya karena salahnya sendiri yang berpenampilan seperti ibu-ibu sekarang.
"Baiklah," jawab Rossy sambil tersenyum tipis ke arah Venesia dan berjalan ke samping dua langkah menjauhi kursi roda Jackson.
"Venesia. Kamu ke ruang rapat direksi untuk persiapan rapat sekarang!" perintah Jackson.
"Baik tuan Jackson," jawab Venesia dengan patuh dan berjalan menuju ruang rapat direksi.
Jackson melihat ke arah Rossy Hartono.
"Kamu dorong aku ke ruang direksi!" kata Jackson dengan tegas.
"Baik tuan Jackson," jawab Rossy.
***
Rossy mendorong kursi roda Jackson masuk ke dalam ruang rapat direksi.
Para pemegang saham melihat ke arah mereka. Rossy berkeringat dingin karena merasakan tekanan yang besar dari dalam ruang rapat direksi.
Rossy membungkukkan badannya dan berbisik di telinga Jackson.
"Di mana tempat dudukmu, tuan Jackson?" tanya Rossy dengan pelan.
"Paling depan," jawab Jackson.
Rossy mendorong kursi roda Jackson ke tempat yang di katakannya. Kemudian berdiri di belakang Jackson. Rossy memberanikan diri menatap ke sekeliling ruangan.
Terlihat seorang kakek yang duduk di barisan kanan melihat Jackson dengan raut wajah khawatir.
"Ini pasti Agung Wijaya," kata hati Rossy.
Di barisan kiri terlihat dua orang pria yang hampir mirip wajah mereka sedang melihat ke arah Jackson sambil tersenyum sinis.
"Mereka pasti Kusuma Wijaya dan Indra Wijaya," kata hati Rossy.
***
Selamat malam para pembaca setia Novel Anak Genius : CEO & His Private Chef.
Author up bab kedua hari ini pada pukul 21.00 wita.
Penasaran kan apa yang akan terjadi di rapat direksi nanti?
Benarkah Rossy adalah Kartu AS Jackson untuk mempertahankan posisi CEO nya??
Baca ya kelanjutan ceritanya besok.
__ADS_1
Terima kasih banyak atas hadiah, like, vote dan komentar positifnya
Salam sayang dari Author : LYTIE