
**Kamar pasien VVIP Kelvin Hartono***
Suasana kamar menjadi sangat dingin karena aura yang di pancarkan oleh Jackson.
Felix yang di tatap tajam oleh Jackson hanya bisa menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
Otak Felix berpikir keras bagaimana mengganti topik pembicaraan yang bisa menyelamatkan nyawanya sekarang.
Handphone Felix berbunyi di saat yang tepat dan menyelamatkannya dari keadaan saat ini. Dengan cepat Felix mengeluarkan handphone dari kantong jas dokternya dan berjalan menjauhi Jackson untuk mengangkat teleponnya.
Kelvin melihat sikap Felix Wilson yang sangat berhati-hati dan takut dengan Jackson seolah-olah Jackson adalah seekor singa yang sedang menatap mangsanya hanya bisa tertawa dalam hatinya.
Ternyata bukan hanya dirinya yang takut pada Jackson yang sedang marah. Kelvin sudah mendapat pelajaran berharga dari pantatnya yang di pukul oleh Jackson beberapa hari yang lalu.
Kelvin tahu jelas Jackson tidaklah mungkin menghukum Felix karena candaannya tadi. Felix pun mengetahuinya dengan pasti.
Hanya saja aura dingin yang dikeluarkan dari tubuh Jackson bisa membuat orang di depannya tidak berkutik. Hal itulah yang dirasakan oleh Felix.
"Halo. Benarkah? Kirim ke aku listnya sekarang!" Felix menjawab teleponnya dengan semangat.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pesan masuk ke dalam handphone Felix.
Felix membaca pesan yang masuk dengan saksama dan dalam sekejap dia tersenyum lebar. Felix berjalan ke arah Jackson dengan cepat.
"Jackson. Rencanaku berhasil!" teriak Felix kegirangan.
Felix sama sekali sudah lupa dengan keadaan di dalam ruangan sebelum dia mengangkat telepon.
Kelvin pun melongo melihat sikap Felix yang begitu cepat berubah. Felix berani mendekati 'singa' yang tadi di hindarinya.
"Rencana apa?" tanya Jackson dengan suara datar.
Wajah Jackson sangat tenang dan tidak lagi memancarkan aura dingin dari tubuhnya.
Sesuai dengan dugaan Kelvin, tadi Jackson hanya ingin menakuti Felix untuk menutup mulut Felix yang bawel.
"Suster Lisa akan menetap di Bali," jawab Felix dengan bangga sambil memperlihatkan list yang berisi nama-nama orang yang mendaftar untuk bekerja di Healing Hands Hospital di dalam handphonenya.
Jackson bisa melihat dengan jelas nama Lisa ada di dalam list suster yang membantu dokter kandungan.
"Jadi ini rencana yang kamu katakan waktu itu?" tanya Jackson.
"Benar sekali Jackson. Sekarang kita tidak perlu khawatir lagi dia akan pulang ke Medan. Aku mempunyai waktu yang cukup untuk menjalankan rencanaku selanjutnya," jawab Felix.
Healing Hands Hospital adalah milik ayah Felix sehingga sangat mudah bagi Felix untuk menjalankan rencananya.
Felix sengaja mengadakan pengumuman untuk merekrut beberapa orang suster yang membantu dokter spesialis di Healing Hands Hospital.
Salah satunya merekrut suster untuk membantu dokter spesialis kandungan. Felix melakukan hal itu untuk membuat Suster Lisa menetap di Bali.
__ADS_1
Selain itu Felix sudah memeriksa kemampuan dan pengalaman kerja Suster Lisa yang memang sangat baik dan tidaklah merugikan bagi Healing Hands Hospital untuk menerima Suster Lisa bekerja di sana.
Felix sudah memberi pesan kepada bagian HRD Healing Hands Hospital untuk mengabarinya segera apabila sudah ada suster yang mendaftar.
Telepon tadi berasal dari HRD Healing Hands Hospital. Hanya satu hari pengumuman itu di keluarkan, sudah banyak yang melamar ke Healing Hands Hospital.
Healing Hands Hospital termasuk salah satu rumah sakit besar dan terlengkap di Bali sehingga tidak mengherankan banyak yang melamar untuk bekerja di Healing Hands Hospital. Karena itu jugalah Felix bisa menggunakannya untuk menjalankan rencananya karena Suster Lisa tidak akan curiga sama sekali.
"Aku tunggu kabar baik darimu," kata Jackson.
"Pasti Jackson," jawab Felix sambil tersenyum senang.
Jackson melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah waktunya untuk berangkat ke Perusahaan Wijaya.
Jackson tidak mau Kusuma dan Indra mendapatkan alasan untuk menyerangnya lagi jika dirinya terlambat ke Perusahaan Wijaya.
"Chandra!" Jackson memanggil Kelvin.
"Iya daddy," jawab Kelvin dan berdiri di depan kursi roda Jackson.
"Daddy berangkat kerja dulu. Kamu harus mendengar perkataan dokter dan suster di sini. Kamu bisa menelepon daddy kapanpun," kata Jackson sambil memegang pundak Kelvin.
"Okay daddy. Bye bye," jawab Kelvin dengan patuh.
"Tenang saja Jackson. Aku akan membantumu memantau Chandra. Nanti siang aku akan lunch di sini bersama Chandra," kata Felix.
"Bye bye Om Felix," kata Kelvin yang melihat Felix mendorong kursi roda Jackson berjalan keluar dari kamar pasien.
***Ruang lab Healing Hands Hospital***
Michelle berjalan masuk ke ruang lab setelah membaca sms LINE dari Jennifer yang menyuruhnya untuk datang ke ruang lab saat Michelle sudah berada di Healing Hands Hospital.
"Ada ada Jennifer?" tanya Michelle.
"Ini untukmu," kata Jennifer sambil menyerahkan sebuah amplop lab.
Michelle membaca tulisan di depan amplop lab itu.
"Hasil Tes DNA."
"Wah! Hasil tes DNA nya sudah keluar secepat ini. Bukankah harus tiga hari?" tanya Michelle ke Jennifer.
"Aku tahu hasil tes DNA ini sangat penting bagimu karena kamu sendiri menyerahkannya langsung kepadaku sehingga aku prioritaskan terlebih dahulu," jawab Jennifer sambil tersenyum.
"Thank you cantik. You are the best," kata Michelle sambil membuat tanda love dengan kedua tangannya yang di arahkan dari dadanya ke Jennifer.
"Love you too," kata Jennifer.
__ADS_1
Jennifer menyentuhkan ibu jari dan telunjuknya membentuk 'love' ke arah Michelle.
Michelle dan Jennifer ketawa bersamaan.
"Aku kerja dulu ya Jennifer. Thanks a lot ya," kata Michelle.
"Oke Michelle," jawab Jennifer sambil tersenyum.
Hari ini suasana hati Jennifer sangat baik karena dirinya menemani Suster Lisa ke bagian HRD. Suster Lisa melamar sebagai suster di Healing Hands Hospital.
Jennifer percaya dengan kemampuan dan pengalamannya Suster Lisa pasti akan diterima oleh Healing Hands Hospital.
***
Michelle segera menelepon Rossy.
Handphone Rossy berbunyi pada saat wanita muda itu sedang berjalan menuju ruang bermain anak untuk menemui Chandra.
Rossy menjepit termos penghangat makanan dengan lengan kanannya dan tangan kiri membuka tas nya untuk mengambil handphonenya.
Rossy yang sedang kerepotan mengeluarkan handphonenya tidak menyadari seorang wanita berpapasan dengannya.
Wanita itu menghentikan langkahnya setelah berjalan beberapa langkah dari tempat Rossy dan berbalik melihat ke punggung Rossy yang sudah mulai menjauh.
"Dia adalah Miss X?" kata wanita itu dengan ragu-ragu.
Wanita itu adalah Suster Lisa.
Suster Lisa masih termenung melihat ke arah punggung Rossy yang sudah tidak kelihatan lagi.
Suster Lisa hanya melihat sekilas Rossy yang sedang berjalan sambil menunduk membuka tasnya sehingga Suster Lisa tidak melihat jelas wajah Rossy.
Suster Lisa hanya merasakan familiar dengan sosok tubuh Rossy yang hampir sama dengan Miss X.
"Tidak mungkin itu Miss X. Aku pasti salah lihat. Aku pasti berhalusinasi karena beberapa hari ini menjenguk Dokter Erik sehingga tanpa sadar mengingat kembali kejadian lima tahun yang lalu," kata hati Suster Lisa.
Suster Lisa berjalan menuju kamar pasien VVIP Dokter Erik.
***
Selamat siang readers.
Hari ini author LYTIE akan up 2 bab ya.
Jangan lupa membaca kelanjutan ceritanya nanti malam.
Salam sayang
Author : LYTIE
__ADS_1