
***Kamar tidur Jackson Wijaya***
Dengan perlahan Rossy dan Pak Lesmana menyandarkan tubuh Jackson di atas tempat tidur, dengan posisi duduk sesuai permintaan Jackson.
"Pak Lesmana. Telepon Felix untuk datang ke Mansion Wijaya," kata Jackson.
Walaupun Felix Wilson adalah dokter psikiaternya tetapi kesehatan tubuh Jackson juga diatur oleh Felix sehingga Jackson ingin Felix datang memeriksa keadaannya.
"Baik tuan Jackson," kata Pak Lesmana sambil berlari kecil keluar dari kamar tidur Jackson untuk mengambil handphonenya menelepon Felix.
Sekarang di dalam kamar tidur hanya ada Jackson dan Rossy.
Rossy duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat tidur sehingga bisa melihat Jackson dengan jelas.
Jackson sedang memejamkan matanya berusaha menahan rasa sakitnya sambil menunggu kedatangan Felix.
Rossy duduk dengan tenang dan tidak berani mengganggu Jackson sama sekali. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, Felix masih belum datang sehingga Rossy merasa khawatir dengan keadaan Jackson.
Rossy mencoba melirik ke arah Jackson dan melihat wajah Jackson yang memerah menahan rasa sakit sehingga Rossy merasa iba dan bersalah.
Rossy ingin membalas budi Jackson yang telah menyelamatkannya di ruang kerja tadi.
"Tuan Jackson. Di bagian mana yang sakit?" tanya Rossy sambil mengangkat kursi yang didudukinya dan meletakkannya di samping tempat tidur Jackson.
Rossy duduk kembali di tempat duduknya.
"Apakah sakit di bagian ini? Atau di sini?" tanya Rossy sambil menyentuh punggung dan pinggang belakang Jackson.
"Aku bisa membantumu memijatnya sebentar supaya lebih baikkan," lanjut Rossy.
Jackson bisa merasakan telapak tangan Rossy yang hangat sedang memijat bagian punggung dan pinggangnya dengan perlahan dan lembut.
Rossy hanya berusaha meringankan rasa sakit yang dialami oleh Jackson sambil menunggu Felix datang.
Rossy tidak sadar sentuhannya membuat Jackson merasakan aliran listrik yang menyengat tubuhnya secara perlahan.
Jackson akui pijatan Rossy membuat rasa sakit di punggung dan pinggangnya berkurang sehingga tidak mencegah Rossy.
Rossy merasa lega karena Jackson masih menutup matanya dan tidak menolak bantuannya sehingga Rossy pun melanjutkan pijatannya dengan lembut.
Sambil memijat, Rossy melihat perubahan wajah Jackson yang tidak semerah sebelumnya sehingga wanita muda itu merasa senang karena bisa meringankan rasa sakit Jackson.
"Mungkin pijatanku akan lebih terasa apabila tanganku langsung menyentuh punggung dan pinggangnya," kata hati Rossy.
Rossy mengangkat baju Jackson ke atas sedikit sehingga memudahkan tangannya menyentuh langsung punggung dan pinggang Jackson.
Jackson membuka matanya ketika merasakan dengan jelas tangan lembut Rossy menyentuh kulitnya secara langsung.
Tangan Jackson memegang erat tangan Rossy .
"Rossy! Kamu mencari kesempatan untuk menyentuhku!" ucap Jackson.
Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu kamar yang dibuka dengan keras sehingga Jackson dan Rossy bersamaan melihat ke arah pintu.
__ADS_1
"Jackson. Bagaimana keadaanmu?" tanya Felix sambil berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Pak Lesmana.
Mata Felix dan Pak Lesmana membelalak besar melihat baju Jackson terangkat ke atas sedikit dan Jackson sedang memegang tangan Rossy.
"Kalian berdua sedang melakukan apa?" tanya Felix sambil tersenyum nakal.
Jackson melepaskan tangan Rossy dengan cepat. Rossy pun berdiri dari tempat duduknya dengan gugup.
"Aku memijat punggung dan pinggang tuan Jackson yang sakit," kata Rossy.
"Oh gitu," jawab Felix dengan nada tidak percaya.
"Jangan banyak ngomong. Cepat periksa!" perintah Jackson ke Felix.
Felix yang sudah terbiasa dengan sikap ketus Jackson hanya tersenyum nyengir dan mulai memeriksa keadaan Jackson.
Rossy berjalan menjauhi tempat tidur dan berdiri di samping Pak Lesmana.
Setelah memeriksa selama sepuluh menitan, Felix duduk di kursi dan menatap ke arah Jackson.
"Aku sarankan kamu mengambil cuti dan menginap di Healing Hands Hospital," kata Felix.
"Pak Felix. Apakah cedera tuan Jackson sangat parah sehingga harus tinggal di rumah sakit?" tanya Pak Lesmana .
"Pinggangnya keseleo sehingga akan susah melakukan aktivitas. Aku menyarankannya menginap di rumah sakit untuk kebaikkannya juga. Jackson bisa lebih cepat pulih karena akan ada suster yang membantu merawatnya di rumah sakit," jelas Felix.
"Berapa lama?" tanya Jackson.
"Aku tidak bisa mengambil cuti dalam waktu yang lama," kata Jackson.
Tiga hari lagi akan ada rapat direksi di Perusahaan Wijaya atas permintaaan pamannya, Kusuma Wijaya yang ingin mengambil posisi CEO nya sehingga Jackson harus hadir untuk mencegahnya.
"Jackson! Kamu harus tahu pinggang sangat berarti bagi seorang pria. Kamu tidak boleh melakukan aktivitas yang terlalu berat. Aku akan menulis resep dua macam salep untuk meredakan nyeri di punggung dan pinggangmu," kata Felix.
"Felix. Selama masa pemulihan, apakah ada pantangan makanan untuk tuan Jackson?" tanya Rossy.
"Dia tidak bisa makan makanan, jadi tidak ada pantangan makanan apapun," jawab dengan spontan.
"Harus mengingatkannya untuk beristirahat total dan tidak melakukan aktivitas berat dengan pinggangnya. Obat salepnya harus rutin digunakan supaya cepat sembuh," lanjut Felix.
"Baik Felix," jawab Rossy sambil menganggukkan kepalanya.
"Apakah kamu yakin tidak mau menginap di Healing Hands Hospital?" tanya Felix ke Jackson.
Felix masih berusaha untuk membujuk Jackson menginap di Healing Hands Hospital.
Jackson tahu Felix khawatir akan pinggangnya semakin parah karena tidak ada yang menjaganya di Mansion Wijaya.
"Aku bisa menjaga diri dengan baik. Tidak perlu menginap di rumah sakit. Aku mempunyai asisten pribadi," kata Jackson.
"Siapa asisten pribadimu? Aku tidak pernah mendengar dari Pak Lesmana kalau kamu mempunyai asisten pribadi," kata Felix.
Jackson mengalihkan perhatiannya ke wajah Rossy dan menatapnya dengan intens.
__ADS_1
Felix dan Pak Lesmana pun ikut melihat ke arah Rossy.
"A..aku asisten pribadi?" kata Rossy terbata-bata sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Nona Rossy! Aku bisa tenang sekarang karena ada nona yang menjaga tuan Jackson. Aku serahkan Tmtuan Jackson kepadamu. Kamu harus menjaganya dengan baik," ujar Pak Lesmana sambil menjabat tangan Rossy dengan hangat.
Felix yang mendengar perkataan Jackson pun setuju dengan adanya Rossy sebagai asisten pribadi Jackson.
"Baiklah kalau begitu. Pak Lesmana ikut denganku untuk mengambil resep obat salep. Besok pagi aku akan datang melihat keadaanmu lagi," kata Felix ke Jackson.
"Tuan Jackson. Aku akan menyuruh Pak Kuncoro membeli obat salep sesuai resep Pak Felix dan akan mengantarnya ke tuan Jackson nanti," kata Pak Lesmana.
"Pergilah," jawab Jackson dengan singkat.
Felix dan Pak Lesmana yang sudah mengenal Jackson dalam waktu yang lama sehingga tahu jelas keputusan yang diambil oleh Jackson tidak akan pernah bisa ditolak oleh siapapun sehingga mereka tidak lagi mempermasalahkan tentang menginap di rumah sakit.
"Bye Rossy. See you tomorrow morning," kata Felix.
Rossy masih belum sadar dari rasa terkejutnya, Pak Lesmana dan Felix sudah meninggalkan kamar tidur Jackson.
"Tuan Jackson! Sejak kapan aku menjadi asisten pribadimu?" tanya Rossy.
"Kamu lupa taruhanmu?" Jackson bertanya balik ke Rossy.
"Kan masih ada dua hari," jawab Rossy.
"Sekarang ataupun dua hari lagi, kamu tetap akan kalah taruhan," kata Jackson.
"Mungkin saja aku bisa membuat tuan Jackson makan masakanku dalam dua hari," bantah Rossy.
"Kamu tidak ada rasa kemanusiaan kah? Gara-gara siapa saya terluka? Kamu harus bertanggungjawab dengan menjadi asisten pribadiku mulai sekarang," kata Jackson dengan tegas.
Rossy menyalahkan dirinya sendiri yang kepedean mengajukan taruhan kepada Jackson sehingga sekarang harus rela menjadi asisten pribadi alias pembantu pribadi Jackson.
"Baiklah," jawab Rossy.
Rossy pasrah menerima nasibnya.
Jackson merasa puas mendengar jawaban Rossy.
***
Author kasih visual Pak Lesmana ya
He He He. Readers yang sudah nonton drakor Hotel De Luna pasti tahu deh
Sampai jumpa di bab berikutnya besok ya
Salam sayang
Author : LYTIE
__ADS_1