
***Restoran Hartono***
Setelah menghabiskan bakmi ayam legendaris bersama Thomas, Rossy melihat ke arah meja makan yang lain.
Seorang pelayan restoran sedang memotret pelanggan yang duduk di sana dengan kamera polaroid.
"Ayah! Ayo kita foto bersama," kata Rossy sambil tersenyum.
"Baiklah," jawab Thomas dengan senang dan memanggil pelayan restoran yang sudah selesai memotret pelanggan lainnya.
"Rina!" panggil Thomas.
"Iya, pak Thomas. Ada apa ya?" tanya Rina.
"Tolong fotoin saya dengan ayah."
Rossy menjawab pertanyaan Rina duluan.
"Nona...nona putri sulung Pak Thomas?" tanya Rina.
Rina sudah bekerja di Restoran Hartono selama tiga tahun dan pernah mendengar gosip dari pelayan senior bahwa Thomas mempunyai satu putri lagi dari istri pertamanya yang sudah meninggal.
"Rina! Ini putri sulungku, Rossy," kata Thomas.
"Ternyata putri sulung Pak Thomas cantik sekali," puji Rina.
"Terima kasih pujiannya. Tolong fotoin dua lembar ya," kata Rossy sambil tersenyum.
"Baik nona Rossy," jawab Rina dengan semangat.
Rina memotret Rossy dan Thomas yang tersenyum ke arah kamera. Beberapa saat kemudian Rina menyerahkan kedua foto polaroid ke Rossy.
"Ini fotonya, nona Rossy. Sangat bagus," ucap Rina sebelum berjalan meninggalkan meja makan Rossy untuk memotret pelanggan yang lain.
Rossy melihat kedua foto di tangannya dengan saksama. Kemudian menoleh ke arah Thomas.
"Ayah! Aku akan menyimpan satu lembar foto ini. Yang satunya lagi di tempel di Restoran Hartono," kata Rossy.
"Baiklah," jawab Thomas sambil tersenyum bahagia.
"Aku akan menempelnya di dekat fotoku sama Michelle," kata Rossy dan berdiri dari kursinya berjalan menuju dinding yang penuh dengan foto polaroid.
Sewaktu Rossy menempel foto polaroid itu ke dinding, Bagaskara memotretnya lagi secara diam-diam dan mengirimkannya ke Jackson.
Bagaskara menarik napas lega karena Jackson tidak meneleponnya lagi.
***
"Ayah! Boleh pinjam handphone ayah sebentar?" tanya Rossy.
"Tentu saja," jawab Thomas dan mengeluarkan handphone dari kantong celana, lalu memberikannya ke Rossy.
Rossy memegang handphone Thomas dan menekan tombol angka di handphone.
Beberapa saat kemudian Rossy mengembalikan handphone Thomas.
"Ayah. Aku sudah menyimpan nomor handphone ku di dalam handphone ayah. Ayah bisa meneleponku kapan pun," kata Rossy.
"Baiklah," jawab Thomas sambil tersenyum senang.
Rossy melihat jam tangan di pergelangan tangannya dan teringat Kelvin serta Chandra masih menunggunya di Healing Hands Hospital.
"Ayah! Aku masih harus memasak lunch. Aku pulang dulu ya," kata Rossy.
__ADS_1
"Rossy. Kamu naik taxi online? Ayah akan mengantarmu ke tempat kerjamu," kata Thomas.
Thomas memiliki mobil mitsubishi kuda berwarna hitam, yang di parkirnya di depan Restoran Hartono.
Mobil mitsubishi kuda itu sudah berumur sepuluh tahun lebih dan masih dalam kondisi baik karena Thomas hanya menggunakannya untuk pulang pergi Restoran Hartono ke rumah Hartono saja.
"Tidak perlu repot, ayah. Tadi aku di antar oleh sopir ," jawab Rossy dengan jujur.
"Ayah akan mengantarmu sampai ke tempat parkir," kata Thomas.
Rossy menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua pun berjalan keluar dari Restoran Hartono.
Pak Benyamin yang melihat Rossy keluar dari Restoran Hartono, segera mengemudikan mobil avanza biru ke depan Restoran Hartono.
Pak Benyamin turun dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk Rossy.
"Nona Rossy," sapa Pak Benyamin.
"Terima kasih pak Benyamin," kata Rossy.
Di dalam mobil, Rossy membukakan kaca jendela mobil dan melambaikan tangannya ke arah Thomas.
Thomas masih berdiri di depan Restoran Hartono hingga mobil avanza biru tidak terlihat lagi.
"Bos Rossy sangat baik," kata hati Thomas.
Thomas bersyukur Rossy mendapatkan pekerjaan dan bos yang baik karena memberikan Rossy fasilitas mobil antar jemput 😅.
Sewaktu Thomas berjalan masuk ke dalam Restoran Hartono, Bagaskara sudah meninggalkan restoran karena tugasnya sudah selesai.
Bagaskara harus melanjutkan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Jackson untuk acara sabtu ini.
Jackson menatap foto terakhir yang dikirim oleh Bagaskara ke handphone nya dalam waktu yang lama.
Di dalam foto hanya terlihat punggung Rossy yang sedang menempelkan foto polaroid di dinding dalam Restoran Hartono.
Jackson merasa pernah melihat dinding yang penuh dengan foto polaroid sewaktu dirinya kecil.
Kemudian Jackson teringat lagi foto Rossy sedang makan bakmi ayam.
"Mungkinkah itu adalah restoran yang sama dengan restoran yang pernah aku kunjungi bersama ayah dan ibu?" kata hati Jackson.
Dalam sekejap kenangan indah dua puluh tahun yang lalu muncul dalam pikiran Jackson.
Pada saat itu Jackson kecil bersama Satria dan Eva berada di dalam mobil dan melewati sebuah restoran yang terletak di dekat pantai.
Jackson ingin bermain di pantai sehingga Satria memarkirkan mobilnya di depan restoran itu.
Satria ingin Jackson makan dulu sebelum bermain di pantai sehingga mereka bertiga pun makan bakmi ayam di restoran itu.
Di dinding dalam restoran itu banyak di tempel foto-foto polaroid para pelanggan yang makan di restoran itu.
Hal itu membuat Jackson menduga Restoran Hartono adalah restoran yang pernah dikunjunginya.
"Kalau memang benar itu adalah restoran yang sama, mungkin aku pernah bertemu dengan Rossy sewaktu kecil," kata hati Jackson.
Handphone Jackson berbunyi.
Jackson melihat nama yang muncul di layar handphone. 'Felix Wilson'
__ADS_1
"Halo," kata Jackson dengan suara datar.
"Jackson! Kenapa kamu sangat sibuk sekali sekarang? Sibuk pekerjaan kantor atau kamu sibuk lembur dengan Rossy setiap malam?" tanya Felix penasaran.
"Pekerjaan," jawab Jackson dengan singkat.
"Pekerjaan? Kamu gak lembur sama Rossy?" tanya Felix lagi😂
"Tidak!" jawab Jackson.
Felix terdiam sebentar setelah mendengar jawaban Jackson.
"Jackson! Kamu tidak perlu khawatir. Di Healing Hands Hospital ada banyak dokter spesialis yang bisa menyembuhkanmu," kata Felix.
"Aku tidak sakit!" jawab Jackson dengan ketus karena perkataan Felix yang tidak masuk akal.
"Sebagai sesama pria, aku tahu kamu malu untuk mengakuinya. Tenang saja! Aku tidak akan membocorkan rahasia ketidakmampuanmu kepada siapa pun," ucap Felix dengan antusias.
Jackson semakin jengkel dengan pikiran Felix yang melenceng ke mana-mana.
Jackson tahu jelas Felix salah paham terhadap kemampuannya 'lembur' bersama Rossy.
Jackson sangat yakin dan percaya diri dengan darah mudanya yang bergelora setiap malam saat tidur bersama Rossy, tetapi dirinya selalu berusaha menahannya.
Jackson ingin malam panas keduanya terjadi karena keinginannya dan Rossy, bukan semata-mata demi darah tali pusat untuk menyembuhkan Kelvin.
"Aku harus menyelesaikan semua pekerjaanku karena akan berkencan dengan Rossy sabtu ini," kata Jackson.
Jackson merasa perlu meluruskan arah pikiran Felix supaya tidak melenceng jauh lagi.
"Oh, begitu! Kamu ingin berkencan dengan Rossy untuk menjalin hubungan yang erat menuju ke arah 'lembur' di malam hari," kata Felix.
Sebagai seorang dokter psikiater yang profesional, Felix sudah bisa menebak maksud hati Jackson Wijaya yang terdalam.
"Iya," jawab Jackson.
Jackson mengakuinya secara terus terang kepada Felix.
"Kalian akan berkencan di mana?" tanya Felix.
"Taman bermain, bioskop, candle light dinner romantis di hotel," jawab Jackson.
"Wow! Sejak kapan kamu mengetahui tempat kencan yang disukai wanita?" tanya Felix.
"Dari kakek," jawab Jackson dengan jujur.
"Kakek Agung is the best," kata Felix sambil ketawa kecil.
"Jackson! Aku bisa memberimu ide supaya kencanmu semakin lancar," kata Felix dengan antusias.
"Oke," jawab Jackson dengan singkat.
Kali ini Jackson tidak menolak niat baik Felix. Mungkin saja ide dari Felix bisa membuat kencannya dengan Rossy semakin lancar.
***
Halo readers. Bab ini author up pukul 18.15 WITA.
Apakah ide dari Felix Wilson akan membantu acara kencan sabtu menjadi lancar?
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya nanti malam ya. Tentang kencan Jackson Wijaya dan Rossy Hartono 😍😍😍
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE