Anak Genius : CEO & His Private Chef

Anak Genius : CEO & His Private Chef
BAB 72. Rossy & Pria Misterius


__ADS_3

***Di dalam mobil Mercedes Benz putih Agung Wijaya***


Chandra berhasil menemukan jawaban untuk pertanyaan Agung dengan cepat.


"Aku menitipkan iphonenya ke Om Felix di Healing Hands Hospital karena sangat berharga. Handphone ini untuk bermain game. Aunty chef yang membantuku membelinya," jawab Chandra.


"Aunty chef? Nona Rossy kah?" tanya Agung.


"Iya kakek buyut. Setiap hari aunty chef mengantar makanan untukku ke Healing Hands Hospital. Aku sangat menyukai masakannya. Aku merasa semakin sehat sekarang," jawab Chandra sambil tersenyum.


Agung ikut tersenyum gembira.


"Restoran yang akan kakek buyut bawa kamu ke sana, masakan bakmi ayamnya sangat terkenal dan legendaris. Kamu pasti akan menyukainya juga," kata Agung.


Hal pertama yang ingin Agung lakukan ketika Jackson sembuh dari penyakit eating disordernya adalah membawa Jackson makan bakmi ayam di  Restoran Hartono tetapi Agung merasa khawatir dengan Jackson yang baru saja sembuh akan teringat kembali dengan trauma masa kecilnya sehingga Agung membatalkan niatnya dan menundanya terlebih dahulu.


"Apa nama restorannya, kakek buyut?" tanya Chandra.


"Restoran Hartono," jawab Agung.


"Restoran Hartono? Bukankah itu adalah restoran milik kakek?" kata hati Chandra.


Dari informasi rahasia yang berhasil didapatnya, Chandra tahu sekarang Thomas hanya mempunyai satu restoran saja yang tersisa dan merupakan restoran yang pertama kali dimiliki oleh Thomas.


Thomas tidak mau menjual restoran itu. Walaupun sudah banyak agen properti yang mencarinya dengan menawarkan harga yang tinggi.


"Mungkin aku akan bertemu dengan Violet Hartono di sana. Aku harus berhati-hati," kata hati Chandra.


*** Ruang kantor Jackson Wijaya***


Jackson sedang sibuk dengan pekerjaannya ketika bunyi sms masuk ke dalam handphonenya. Dengan tangan kirinya Jackson mengambil handphone dari atas meja, sedangkan tangan kanannya masih sibuk menulis dokumen.


Mata Jackson melirik sekilas ke layar handphonenya.


"Sebuah video?" kata Jackson.


Jackson menekan tombol 'play video' dan melihatnya. Tanpa sadar pulpen yang berada di tangan kanan Jackson patah sewaktu Jackson menonton video di handphonenya.


Pulpennya patah karena Jackson menggengamnya dengan kuat.


Setelah melihat videonya sampai selesai, Jackson menelepon Bagaskara.


"Halo tuan Jackson," sapa Bagaskara.


"Bagaskara. Aku akan mengirim sebuah video. Cari data pengirim video berserta  pria dan mobil hitam yang menculik Rossy. Datang ke kantorku segera untuk melaporkan semuanya!" perintah Jackson.


"Rossy? Maaf tuan Jackson. Siapa Rossy?" tanya Bagaskara dengan bingung.


"Koki pribadiku!" jawab Jackson dan menutup sambungan telepon.


Jackson tahu pasti Rossy diculik di depan Perusahaan Wijaya. Video rekaman cctv itu mungkin dikirim oleh penculik Rossy.


***


Beberapa saat kemudian Bagaskara sudah berada di ruang kantor Jackson.


"Maaf tuan Jackson. Akun hacker yang mengirim video itu tidak berhasil dilacak, sedangkan plat mobilnya adalah plat palsu," kata Bagaskara sambil menunduk.


"Apa cara lain untuk menemukan Rossy?" tanya Jackson.


"Di lihat dari video yang terekam, nona Rossy memegang handphonenya sewaktu di culik. Posisi handphone nona Rossy tidak diketahui sekarang karena dalam keadaan mati. Aku sudah memasang sistem yang akan langsung memberikan sinyal lokasi nona Rossy apabila handphonenya nyala nanti," jawab Bagaskara.


Chandra juga sudah melakukan cara yang dilakukan oleh Bagaskara sehingga Chandra pun akan mengetahui lokasi Rossy jika handphone Rossy dinyalakan.


Chandra mempunyai firasat si penculik sengaja membawa serta handphone Rossy dan tidak membuangnya.


Jackson berpikir sebentar setelah mendengar perkataan Bagaskara.


"Kirim orang untuk mengawasi Kusuma dan Indra. Selain itu siapkan beberapa bodyguard yang kuat. Kita akan menuju ke lokasi apabila handphone Rossy sudah nyala," perintah Jackson.

__ADS_1


Jackson menduga penculik Rossy adalah salah satu saingan bisnisnya atau mungkin juga Kusuma dan Indra.


 ***


Rossy berusaha membuka matanya dan tidak bisa melihat apapun disekitarnya karena matanya diikat dengan kain. Selain itu tangan dan kaki Rossy juga di ikat. Lakban menempel di mulutnya sehingga Rossy tidak bisa berteriak meminta pertolongan.


Rossy terbangun dalam kondisi duduk dan mencoba mengingat kejadian sebelumnya.


Rossy ingat dirinya sedang berbicara dengan Chandra melalui handphone. Kemudian sebuah mobil hitam avanza berhenti di depannya.


Rossy mengira mobil itu adalah taxi online yang dipesannya karena supir membukakan pintu penumpang mobil untuknya.


Pada saat itu Rossy melihat ke wajah pria itu yang memakai masker menutupi wajahnya kemudian pria itu menusukkan jarum suntik kecil ke tangannya. Setelah itu Rossy tidak bisa mengingat apa-apa lagi dan sekarang terbangun dengan kondisi terikat.


"Aku di culik," kata hati Rossy.


Rossy berusaha menajamkan pendengarannya untuk mendengar apakah ada orang lain yang berada di ruangan yang sama dengannya saat ini.


Rossy berusaha menenangkan diri ketika tidak mendengar suara apapun.


"Kenapa aku di culik? Siapa yang menculikku? Apa tujuan si penculik?"


Berbagai pertanyaan muncul di pikiran Rossy dan wanita muda itu tidak menemukan jawabannya.


Rossy berusaha membuka ikatan tangan dan kakinya tetapi tidak bisa. 


Rossy merasakan punggungnya bersandar pada sesuatu yang empuk sedangkan dirinya duduk di lantai.


"Apa ini?" kata hati Rossy sambil mencoba menyentuh sandaran dibelakangnya dengan pergelangan tangannya yang masih terikat. Setelah yakin apa yang dipegangnya, Rossy berdiri dan duduk lagi.


"Iya . Benar. Sandaran punggungku tadi adalah sofa," kata hati Rossy.


Rossy yakin dirinya di kurung di dalam sebuah rumah. Dari tekstur sofa yang dipegangnya tadi, Rossy menduga rumah ini termasuk rumah yang mahal.


"Orang kaya gila mana yang menculikku?" kata hati Rossy.


Sofa yang didudukinya cukup panjang sehingga Rossy mencoba bergeser-geser ke samping untuk mencapai ujung sofa.


"Eh. Apa ini?" kata hati Rossy ketika menabrak sesuatu yang berada di atas sofa juga.


"Kamu sudah bangun?"


Rossy terkejut mendengar suara pria itu dan menjauhkan badannya yang bertabrakan dengan pria itu.


"Em em em em!" 


Rossy berusaha berbicara dengan mulutnya yang masih menempel lakban.


"Au...," teriak Rossy dengan keras keras ketika pria itu menarik lakban yang menempel di mulutnya.


Rossy meringis kesakitan dan mengusap mulutnya dengan punggung tangannya karena kedua tangannya masih terikat. Sekarang mereka duduk bersampingan.


"Siapa kamu? Kenapa kamu menculikku? Apa tujuanmu?" Rossy mengajukan pertanyaan beruntun ke pria itu.


Rossy merasa kesal karena mulutnya masih terasa sakit dan sama sekali lupa dirinya sedang berhadapan dengan penculiknya.


"Kamu mau tahu siapa aku?" tanya pria itu.


"Iya," jawab Rossy dengan yakin.


"Jika melihat wajahku, kamu akan mati. Masih mau melihatnya?" tanya pria itu dengan serius.


"Tidak!" jawab Rossy sambil menggelengkan kepalanya.


Rossy merasa takut dengan ancaman pria itu. Rossy masih ingin hidup lebih lama lagi bersama kedua putranya.


Pria itu mengambil tas Rossy dari atas meja dan mengeluarkan isi di dalamnya.


"Pakaian pria? Hubunganmu dengan Jackson sudah sampai sejauh ini?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Jackson? Dia mengenal tuan Jackson!" kata hati Rossy.


"Aku adalah koki pribadinya. Baju itu kotor. Aku membawanya pulang untuk di cuci oleh pelayan," jawab Rossy.


Rossy tidak yakin apakah pria ini menculiknya karena dendam pribadi kepada Jackson atau bukan sehingga Rossy ingin mengklarifikasi hubungannya dengan Jackson sebatas tuan dan koki pribadi saja.


"Koki pribadi? Kamu pintar masak?" tanya pria itu.


"Iya. Masakanku sangat enak," jawab Rossy.


Pria itu mengeluarkan kertas cek dari dalam tas Rossy.


"Agung Wijaya. Nominal dua puluh juta!!" kata pria itu.


"Kamu boleh memiliki uang itu. Tolong lepaskan aku," kata Rossy dengan cepat .


Rossy ingat setiap penculik di dalam drakor yang pernah di lihatnya akan melepaskan korban setelah diberi uang tebusan.


"Tua bangka itu tidak pernah berubah!" teriak pria itu sambil meremas cek di tangannya dengan keras.


Rossy bisa merasakan pria ini sangat marah saat ini dan mulai merasa takut nyawanya akan terancam.


"Pria ini gila," kata hati Rossy.


"Kamu ingin pergi dari sini?" tanya pria itu.


Rossy mengangguk dengan pelan karena tidak tahu muslihat apa yang sedang dimainkan oleh pria ini.


"Boleh. Ada satu syarat!" kata pria itu.


"Apa syaratnya?" tanya Rossy.


"Masaklah dinner untukku!" jawab pria itu.


"What? Benar-benar crazy man. Menculik orang hanya untuk memasak dinner untuknya," kata hati Rossy.


"Hanya memasak dinner?" tanya Rossy untuk memastikan permintaan pria itu.


"Iya. Kalau tidak enak, jarimu akan aku potong!" kata pria itu.


Rossy segera menarik kedua tangannya yang masih terikat ke arah dadanya.


"Kamu bercanda kan?" tanya Rossy.


"Coba tebak!" kata pria itu sambil tertawa dengan suara rendah.


Sekujur tubuh Rossy merinding mendengar suara ketawa pria itu.


"Benar benar crazy man," kata hati Rossy.


"Oke. Aku akan memasak untukmu," jawab Rossy.


Rossy sangat yakin dengan keahlian memasaknya dan berani bertaruh dengan pria ini. Sekarang hanya ini satu-satunya cara Rossy untuk bebas.


***


Selamat malam para readers. Hari ini author up 3 bab ya.


Bab ini up pada pukul 20.00 wita. Semoga bisa segera muncul di aplikasi.


Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya ^~^


Author mau kasih info ke readers setia. Mulai besok novel ini tetap akan up setiap hari. Minimal satu bab. Maksimal dua bab ya.


Terima kasih


Author : LYTIE


UP 3 BAB UP 3 BAB UP 3 BAB

__ADS_1


UP 3 BAB UP 3 BAB UP 3 BAB


UP 3 BAB UP 3 BAB UP 3 BAB


__ADS_2