
***Kamar tidur Rossy Hartono***
Gerakan telapak tangan Jackson yang sedang menggosok perut Rossy sangat ringan dan lembut.
Rossy merasakan sengatan listrik di sekujur tubuhnya.
Lama kelamaan sentuhan tangan hangat Jackson membuat kepala Rossy merasa pusing dan melayang-layang.
Tubuh Rossy terasa panas seolah-olah sedang berada di depan api unggun yang besar. Detak jantung Rossy pun berdetak dengan cepat.
Rossy menarik napas dalam-dalam supaya oksigen di sekitarnya bisa memadamkan perasaan hatinya yang gelisah.
Sementara itu Jackson juga merasakan penyiksaan batin yang tidak jauh berbeda dengan yang sedang di alami oleh Rossy.
Jackson bisa merasakan kulit Rossy yang lembut dan halus di bawah sentuhan telapak tangannya.
Hal itu membuat Jackson merasakan tenggorokannya kering dan rasa panas menjalar di sekujur tubuhnya.
Sama seperti yang Rossy lakukan, Jackson juga menarik napas dalam-dalam untuk menambahkan aliran oksigen di dalam tubuhnya.
Tangan kiri Jackson membuka satu kancing kemejanya bagian atas karena merasa gerah. Akan tetapi, dirinya masih tidak merasa nyaman.
Bibir Jackson terasa kering dan sesekali menelan ludah dengan susah payah.
Udara dingin di malam hari tidak bisa meredakan hawa panas di tubuh Jackson dan Rossy.
Jackson berusaha mengalihkan pemikirannya ke proyek besar yang di terima Perusahaan Wijaya belakangan ini. Beberapa saat kemudian Jackson tidak.bisa menahan diri lagi.
"Rossy," panggil Jackson dengan suara yang rendah dan serak.
Suara rendah dan serak Jackson mengalun lembut ke telinga Rossy dan terasa sangat seksi sehingga telinga Rossy terasa panas dan merona merah.
"I....iya," jawab Rossy dengan terbata-bata.
"Sudah baikkan?" tanya Jackson, masih dengan suara seraknya.
"Iya," jawab Rossy sambil menganggukkan kepala.
Walaupun Rossy tahu jelas anggukkan kepalanya tidak akan terlihat oleh Jackson karena gelap gulita, tetapi Rossy terhipnotis dengan suara Jackson yang seksi sehingga melakukan tindakan yang terlihat bodoh.
Tangan Jackson sudah berhenti menggosok perut Rossy dan hanya memegang perut Rossy.
"Kamu haus?" tanya Jackson.
"Hah?" ucap Rossy dengan bingung.
"Aku haus. Sekalian mengambilkan air untukmu," kata Jackson sambil menarik keluar tangan kanannya dari dalam selimut.
Rossy juga merasa haus sehingga tidak menolak niat baik Jackson.
"Bagaimana dengan cedera pinggangmu, tuan Jackson?" tanya Rossy dengan nada khawatir.
"Aku akan meminta Pak Lesmana mengambilkannya," jawab Jackson.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Rossy lagi, Jackson mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menyalakan senter di handphonenya. Kemudian menggerakkan kursi rodanya secara perlahan meninggalkan kamar tidur Rossy.
Rossy melihat kepergian kursi roda Jackson sambil meletakkan tangannya ke bagian perut yang di gosok oleh Jackson tadi.
Masih tersisa kehangatan dari telapak tangan Jackson di sana.
Rossy merasakan rasa sakit di perutnya berkurang. Rossy Hartono memejamkan matanya sambil membayangkan rasa hangat yang di rasakannya tadi.
Senyum tipis mengembang di sudut bibir Rossy. Rossy menunggu kedatangan Jackson yang berpamitan mengambilkan air sambil memeluk erat gulingnya.
Jackson masih belum kembali dalam waktu yang lama, sedangkan mata Rossy terasa berat sehingga akhirnya Rossy pun tertidur pulas di atas tempat tidurnya.
***
Dua puluh menit kemudian Jackson menggerakkan kursi rodanya masuk ke dalam kamar tidur Rossy.
Tangan kanan Jackson memegang segelas air putih hangat. Jackson menyalakan lagi senter handphonenya dan mengarahkannya ke arah tempat tidur dan terlihat Rossy memeluk erat guling yang menutupi wajahnya.
"Sudah tidurkah?" kata hati Jackson.
Jackson menggerakkan kursi rodanya menuju tempat tidur Rossy dengan perlahan.
Jackson menggunakan waktu yang lama untuk mengambil segelas air putih karena tidak meminta bantuan Pak Lesmana sama sekali melainkan melakukannya sendiri.
Jackson harus kembali ke kamar tidurnya untuk mengambil segelas air putih hangat. Kemudian menuju kamar tidur Rossy yang berada di bagian paling ujung.
Selama perjalanan mengambil segelas air putih ini, Jackson sudah bisa mengendalikan perasaan hatinya yang tidak karuan.
Kursi roda Jackson berada di samping tempat tidur.
"Rossy."
Jackson memanggil Rossy dengan lembut dan tidak ada reaksi apa pun dari wanita muda yang sedang tertidur pulas itu.
"Syukurlah kamu sudah bisa tidur nyenyak," gumam Jackson.
Jackson meninggalkan kamar tidur Rossy dan menutup pintu kamar dengan rapat.
Jackson menggerakkan kurso rodanya menuju ruang kerja dan menelepon Pak Lesmana.
"Malam tuan Jackson," sapa Pak Lesmana sewaktu berada di dalam ruang kerja.
"Pak Lesmana. Antar aku ke kamar tidur," ucap Jackson.
"Baik tuan Jackson," kata Pak Lesmana.
Pak Lesmana merasa heran dengan keadaan Jackson yang kelihatan sangat lelah padahal hanya setengah jam an berada di ruang kerja.
"Kasihan tuan Jackson. Pasti pekerjaan kantor sangat banyak dan menguras otaknya," kata Pak Lesmana dalam hati.
Pak Lesmana sama sekali tidak mengetahui Jackson mengunjungi kamar tidur Rossy dan kecapekan karena bolak balik mengambil segelas air putih untuk Rossy.
__ADS_1
***Kamar tidur Jackson Wijaya***
Jackson berbaring di atas tempat tidurnya sambil membaca buku 'Pakar Cinta' yang berada di atas meja nakas di samping tempat tidurnya. Kemudian hampir satu jam an Jackson berbaring di atas tempat tidur melihat langit-langit kamarnya sambil memikirkan kejadian di dalam kamar Rossy.
Sedikit demi sedikit Jackson mulai mengakui dirinya menyukai Rossy. Malam ini Jackson mengalami mimpi yang aneh lagi.
Di dalam mimpinya Rossy memegang satu buket bunga mawar merah yang berisi sembilan puluh sembilan tangkai bunga mawar merah sedang tersenyum ke Jackson.
"Tuan Jackson. Will you marry me?" tanya Rossy sambil berlutut dengan satu kaki di hadapan Jackson.
Jackson berpikir keras apakah akan menerima lamaran dari Rossy atau tidak.
Tiba-tiba muncul di hadapan Jackson, dua anak kecil yang mempunyai wajah mirip Chandra dan keduanya masing-masing memegang tangan kanan dan kiri Jackson.
"Daddy. Menikahlah dengan Aunty Chef. Kita bisa makan makanan enak setiap hari, " kata Chandra yang memegang tangan kanan Jackson sambil menganggukkan kepala dan tersenyum lebar, sedangkan Chandra yang memegang tangan kiri Jackson menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Tidak boleh! Daddy harus mencari Miss X dan mendapatkan darah tali pusat," kata Chandra yang menggelengkan kepala tadi.
Di dalam mimpinya, kedua Chandra yang berbeda pendapat saling berargumen mempertahankan pendirian mereka dan membuat kepala Jackson menjadi sakit dan pusing.
Rossy yang berada di dalam mimpinya pun menunjukkan raut wajah cemberut dan membuang buket bunga mawar merah ke lantai.
"Sudahlah. Aku tidak akan menjadi pelakor. Kamu cari Miss X saja," kata Rossy dengan nada datar dan berjalan meninggalkan Jackson.
Jackson menjadi panik melihat punggung Rossy yang menjauh. Jackson ingin berlari mengejar Rossy, tetapi kakinya terasa berat dan tidak dapat di gerakkan.
"Rossy! Rossy Hartono! Jangan pergi!" teriak Jackson dan terbangun dari tidurnya.
Jackson bangun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu kamar dengan tujuan ingin mengejar Rossy yang pergi seolah-olah mimpinya adalah kenyataan.
Belum sempat kakinya menginjak keluar dari kamarnya, Jackson tersadar.
"Itu hanya mimpi," gumam Jackson sambil menepuk dadanya sendiri.
Jackson merasakan sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya hari ini dan ketika matanya melihat kursi roda yang berada di dalam kamarnya, Jackson menjadi sadar apa yang berbeda dengan tubuhnya hari ini.
"Cedera pinggangku sudah sembuh," ucap Jackson dengan nada tidak percaya
***
Selamat malam readers,
Author Lytie yakin deh para readers pasti penasaran ketika melihat judul bab nya kan?
😁😁😁 Untuk sementara hanya imajinasi Jackson Wijaya dalam mimpinya saja ya 🤣🤣🤣.
Yeay... cedera pinggang Jackson sudah sembuh.
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya readers.
Akan mulai muncul konflik di dalam cerita ini setelah cerita sweet antara Rossy dan Jackson di beberapa bab ini.
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE