Anak Genius : CEO & His Private Chef

Anak Genius : CEO & His Private Chef
BAB 78. Pria gila


__ADS_3

***Apartemen Royal Residence***


Beberapa saat kemudian kedua bodyguard kembali ke ruang makan.


"Lapor tuan Jackson. Tidak ada siapapun di dalam apartemen ini selain nona Rossy," kata salah satu bodyguard.


Rossy yang ikut mendengarkan laporan dari bodyguard menjadi sadar dirinya di tipu oleh penculik itu.


"Dasar pria gila! Pasti dia sudah pergi ketika menyuruhku makan semua mi di atas meja. Pantas saja dia membuka lagu di handphoneku dengan suara keras," kata Rossy dengan kesal.


"Dia menyuruhmu makan sambil mendengarkan lagu dari handphonemu?" tanya Jackson.


"Iya. Katanya lagu itu tidak boleh terputus. Dia akan menghukumku kalau terputus," jawab Rossy.


"Selama di culik, handphonemu ada di tangan dia kah?" tanya Jackson.


Rossy berpikir sebentar. Rossy ingat dirinya sedang berbicara dengan Chandra melalui  handphone dan di culik oleh pria gila itu. Handphonenya pasti di ambil oleh pria gila pada waktu itu.


"Chandra pasti mengkhawatirkanku pada saat itu. Aku harus menelepon Chandra," kata hati Rossy.


"Iya tuan Jackson. Handphoneku di ambilnya sejak di culik," jawab Rossy.


Jackson dan Bagaskara saling bertatapan. Mereka semakin yakin penculik itu sengaja menyalakan handphone Rossy karena tahu Jackson akan datang menyelamatkan Rossy.


Bagaskara menghubungi kedua bodyguard yang sedang memeriksa cctv dan memanggil mereka datang  ke apartemen Felix untuk melaporkan hasil yang mereka dapatkan ke Jackson.


"Oh ya tuan Jackson. Bagaimana kamu bisa tahu saya di culik dan di bawa ke rumah ini?" tanya Rossy dengan penasaran.


"Dari handphonemu," jawab Jackson dengan singkat.


"Dari handphoneku?" tanya Rossy dengan wajah bingung.


Bagaskara yang melihat Rossy kebingungan berinisiatif menjelaskannya ke Rossy.


"Aku dapat mengetahui lokasi nona Rossy jika handphone nona Rossy dalam keadaan menyala. Akan tetapi, sejak di culik handphone nona Rossy dalam keadaan mati sehingga ketika handphonenya menyala tadi, kita bisa segera menuju ke sini."


Bagaskara menjelaskan ke Rossy sambil melirik sekilas ke arah Jackson untuk melihat ekspresi wajah Jackson.


Bagaskara menjadi lega karena wajah Jackson terlihat tenang dan tidak marah ketika Bagaskara mewakilinya menjelaskan kepada Rossy.


"Oh gitu. Bagaimana tuan Jackson bisa tahu aku di culik?" tanya Rossy.


Jackson mengeluarkan handphonenya dan membuka video di dalamnya lalu menyerahkan handphonenya ke Rossy.


Rossy menerimanya dengan ragu-ragu karena tidak mengerti mengapa Jackson menyerahkan handphonenya.


Rossy terkejut melihat video dirinya yang sedang di culik oleh pria gila itu di dalam handphone milik Jackson.


Pada saat itu Rossy sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk melawan karena jarum suntik yang mengenai tangannya.


"Pria itu benar-benar gila," teriak Rossy dengan kesal.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu kedua bodyguard sudah berjalan masuk ke dalam apartemen.


"Maaf tuan Jackson. Pria itu sangat cerdik. Cctv tidak merekam wajahnya dengan jelas," kata salah satu bodyguard sambil menyerahkan rekaman cctv yang berhasil di dapatnya ke Jackson.


Rossy segera berlari mendekati Jackson dan ikut melihat rekaman cctv apartemen Royal Residance.


Di dalam rekaman cctv  pria itu masih berpenampilan sama seperti sewaktu menculik Rossy. Masker menutupi wajahnya dan dia selalu menunduk setiap kali melewati tempat yang ada cctv nya sehingga akan sulit untuk mengetahui wajah aslinya.


"Bagaimana ini? Kita tidak akan bisa menemukannya," kata Rossy dengan khawatir.


Rossy tahu tujuan pria gila itu adalah Jackson. Penculikan hari ini hanyalah pemanasan yang dilakukan oleh pria gila itu. Rossy takut pria itu akan melukai Jackson apabila tidak segera ditemukan.


"Kita pasti akan menemukannya . Dia sendiri yang akan menunjukkan identitas sebenarnya nanti," kata Jackson dengan tenang.


Jackson mempunyai firasat pria misterius itu pasti akan muncul di sekitarnya dalam waktu dekat.


"Tuan Jackson. Kita bisa mencoba memeriksa sidik jari  yang ada di dalam apartemen ini untuk mengetahui identitas penculik itu," kata Bagaskara.


"Iya benar," kata Rossy sambil menganggukkan kepala. Rossy sangat setuju dengan ide Bagaskara.


Mereka berdua merasa kecewa ketika melihat Jackson menggelengkan kepalanya.


"Sia-sia saja. Kalian lupa pria itu sangat cerdik? Dia pasti menggunakan sarung tangan dan tidak akan ditemukan sidik jarinya kecuali sidik jari Rossy," kata Jackson dengan yakin.


Bagaskara dan Rossy menundukkan kepala mereka secara bersamaan karena apa yang dikatakan oleh Jackson sangatlah benar.


Rossy juga yakin pria gila itu sengaja menyamarkan suara aslinya sewaktu berbicara dengannya sehingga dirinya pun tidak akan bisa mengenali pria itu jika mereka bertemu lagi.


"Siapa pemilik apartemen ini?  Tuan Jackson mengenalnya?" tanya Rossy dengan penasaran.


"Apartemen ini milik Felix," jawab Jackson.


"What? Apartemen ini milik Felix? Pria gila itu bisa masuk ke dalamnya dengan mudah," kata Rossy dengan nada tidak percaya.


Rossy yakin Felix pasti akan syok jika tahu apartemennya di gunakan oleh pria gila itu.


"Aku yang akan memberitahu Felix tentang hal ini," kata Jackson.


"Baik tuan Jackson," jawab Rossy.


Rossy berjalan ke ruang makan dan membawa semua piring yang ada di atas meja makan ke dapur.


Dengan terpaksa Rossy harus membuang semua  variasi indomie hasil masakannya yang tidak bisa di makannya lagi.


Sementara itu Jackson menelepon Felix untuk memberitahukannya tentang kejadian penculikan Rossy dan si penculik membawa Rossy ke apartemen Felix.


Felix sangat syok mendengarkan berita itu dan meminta tolong Jackson untuk menyuruh Bagaskara memasang beberapa cctv di dalam apartemennya dan juga mengubah kunci pintu apartemennya.


Rossy duduk di sofa untuk membereskan barang-barangnya yang berserakan di atas sofa setelah selesai membersihkan meja makan dan dapur.


Rossy melihat cek yang di berikan oleh Agung dalam keadaan lecek .

__ADS_1


Rossy ingat mendengar suara remasan kertas ketika matanya tertutup kain dan ternyata adalah suara cek yang diremas oleh pria gila itu.


Rossy mencoba merapikan cek itu dengan tangannya kemudian menyerahkan cek itu ke Jackson.


"Tuan Jackson. Cek ini diberikan oleh tuan Agung di perusahaan Wijaya sewaktu saya bertemu dengannya di depan ruang kantormu," kata Rossy.


Jackson tidak menerima cek itu dan hanya melirik sekilas nominal di dalam cek itu.


"Kakek yang memberikannya untukmu?" tanya Jackson.


"Iya," jawab Rossy dengan jujur.


"Karena kamu berhasil menyembuhkan penyakit eating disorderku?" tanya Jackson.


"He eh iya," jawab Rossy sambil menggaruk hidungnya yang tidak gatal.


Mereka berdua tahu pasti penyakit eating disorder Jackson belum sembuh sama sekali.


"Kamu terima saja. Jangan menolak pemberian kakek. Penolakkanmu akan membuatnya curiga nanti," kata Jackson.


"Baiklah tuan Wijaya," kata Rossy.


"Pulang ke Mansion Wijaya sekarang," kata Jackson.


Rossy mendorong kursi roda Jackson dan Bagaskara mengikuti mereka dari belakang.


Kelima bodyguard diperintahkan oleh Jackson untuk memasang cctv di apartemen Felix dan juga menukar kunci pintu apartemen.


Mereka juga memasang sensor alarm di dalam apartemen Felix.


***


Di depan Apartemen Royal Residence, Bagaskara menyimpan kursi roda di bagasi mobil setelah terlebih dahulu membantu memapah Jackson masuk ke dalam mobil.


Rossy duduk di samping Jackson dan Bagaskara mulai mengemudikan mobil menuju Mansion Wijaya.


Mereka tidak menyadari sepasang mata mengawasi dari kejauhan. Setelah mobil Jackson menghilang dari pandangannya, pria itu melepaskan masker yang menutup wajahnya.


Terlihat jelas wajahnya cukup tampan dan tidak akan ada yang menyangka dirinya baru saja melakukan tindakan kriminal yaitu menculik.


"Jackson Wijaya! Kita akan bertemu lagi," kata pria itu sambil membuang maskernya ke dalam tong sampah.


***


Selamat malam readers. Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya.


Thank You


UP 2 BAB UP 2 BAB UP 2 BAB


UP 2 BAB UP 2 BAB UP 2 BAB

__ADS_1


UP 2 BAB UP 2 BAB UP 2 BAB


__ADS_2