
***Ruang kerja Jackson Wijaya***
Jackson menjadi semakin emosi mendengar argumen dari Rossy.
"Berani sekali dia melawanku. Aku harus memberinya pelajaran," kata hati Jackson
"Rambut adalah bagian dari tubuhku. Kamu mencabutnya dengan paksa tanpa persetujuanku. Itu sama dengan menyakiti tubuhku. Aku bisa menuntutmu," ucap Jackson dengan tegas.
Jackson sengaja mengancam Rossy karena ingin menakuti Rossy yang berani berargumen dengannya.
"OMG! Hanya masalah rambut dia mau menuntutku. Bagaimana kalau dia tahu aku membawa pergi salah satu putranya?" kata hati Rossy.
Rossy menarik napas dalam-dalam untuk menekan rasa kejengkelannya yang sudah hampir mencapai ubun-ubun.
"Cabut!" teriak Rossy sambil menyodorkan kepalanya ke arah Jackson.
"Apa maksudmu?" tanya Jackson.
"Kamu bisa mencabut rambutku juga. Terserah mau cabut yang mana," kata Rossy sambil melepaskan sanggulnya sehingga rambut panjangnya tergerai.
"Rambutmu tidak bisa dibandingkan dengan nilai rambutku yang telah kamu cabut."
Jackson menolak permintaan Rossy.
"Ayolah! Tuan Jackson bebas memilih rambut mana yang mau di cabut. Kalau sehelai rambut tidak cukup, silahkan cabut dua atau tiga helai. Aku ikhlas!" ucap Rossy.
"Tidak mau!" tolak Jackson dengan tegas.
"Cabut! "
"Tidak!"
"Cabut!"
"Tidak!"
Jackson dan Rossy sama-sama ngotot dengan keinginan masing-masing.
Rossy ngotot memberikan rambutnya, sedangkan Jackson ngotot tidak mau mencabut rambut Rossy.
Jackson dan Rossy tidak tahu kalau Pak Lesmana diam-diam menguping dari luar ruang kerja.
Sewaktu Jackson meminta Pak Lesmana memanggil Rossy ke ruang kerjanya, Pak Lesmana khawatir dan curiga ada sesuatu di antara mereka berdua sehingga memutuskan untuk mencoba menguping di luar ruang kerja.
Baru saja Pak Lesmana menempelkan telinganya di depan pintu ruang kerja, terdengar kata-kata 'cabut' dan 'tidak' yang berulang-ulang di ucapkan oleh Rossy dan Jackson.
"Nona Rossy meminta tuan Jackson mencabut apa? Dan tuan Jackson menolaknya?"kata hati Pak Lesmana.
Tanpa sadar Pak Lesmana menggigit kuku jarinya sambil menguping di luar pintu ruang kerja.
***
"Cabut!"
"Tidak! Menjauhlah dariku!" teriak Jackson dan ingin mendorong kepala Rossy yang berada di depan dadanya.
"AHHHH!!!" teriak Rossy kesakitan.
"Stop! Stop!" pekik Rossy sambil menarik tangan Jackson dari kepalanya.
Rossy menggengam erat tangan Jackson.
Jackson terdiam dan tidak bergerak karena mendengar suara kesakitan Rossy.
Jackson tidak mengerti kenapa Rossy kesakitan padahal dirinya tidak mendorong kepala Rossy dengan keras. Malahan sekarang kepala Rossy menempel erat di dada Jackson.
Jackson menghela napas panjang.
__ADS_1
" Ada apa Rossy?" tanya Jackson.
"Rambutku nyangkut di kancing bajumu," jawab Rossy.
"Kamu jangan mencari alasan untuk menempel di dadaku," tuding Jackson dengan nada tidak percaya.
Jackson mencoba mendorong kepala Rossy yang masih menempel di dadanya.
""Auh.... sakit..sakit... Stop tuan Jackson!" teriak Rossy sambil menahan air mata karena kulit kepalanya terasa sangat sakit.
***
"Ya Tuhan! Kenapa nona Rossy menjerit kesakitan? Apa yang telah tuan Jackson lakukan?" kata hati Pak Lesmana di luar ruang kerja.
Entah sudah kuku jari tangan yang keberapa sedang di gigit oleh Pak Lesmana karena ikut tegang menguping kejadian di dalam ruang kerja.
***
Sementara itu Jackson juga sakit kepala mendengar teriakan dan rengekan Rossy.
"Sampai kapan kamu mau menempel terus di dadaku?" tanya Jackson.
"Tuan Jackson bisa tolong membantuku melepaskan rambutku yang nyangkut di kancing bajumu. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas," pinta Rossy.
"Aku tidak akan menyentuh rambutmu."
Jackson menolak permintaan Rossy dengan tegas.
"Ya udah. Aku akan mencobanya sendiri," jawab Rossy dengan ketus.
Tangan Rossy meraba-raba di depan dada atletis Jackson untuk mencari kancing yang tersangkut rambutnya.
Jackson bisa merasakan sentuhan dari ujung jari Rossy menembus ke dalam kulitnya melalui kemeja yang dipakainya.
Sentuhan itu terasa sangat lembut dan menggelitik seluruh tubuhnya sehingga membuat jantung Jackson berdetak sangat kencang .
"Kamu mencari kesempatan untuk menyentuhku!" bentak Jackson.
"Aku hanya ingin rambutku terlepas dari kancingmu."
Rossy mencoba membela diri.
"Pakai cara lain!" kata Jackson.
"Arghhh... Ini tidak boleh. Itu tidak boleh. Please deh..." . Rossy mengeluh di dalam hatinya.
Rossy terdiam sambil memikirkan cara lain untuk melepaskan rambutnya.
Kesunyian sejenak di dalam ruang kerja membuat Jackson bisa berpikir jernih.
"Mungkin dia tidak berbohong. Rambutnya memang tersangkut di kancing bajuku," kata hati Jackson.
Jackson menundukkan kepalanya untuk melihat bagian mana dari rambut Rossy yang tersangkut.
Rambut panjang Rossy tergerai ke samping sehingga secara samar-samar Jackson bisa melihat tengkuk leher yang putih bersih.
Jackson merasakan godaan di dalam hatinya untuk menggigit tengkuk leher Rossy.
Wajah Jackson memerah dan berusaha mengalihkan matanya dari tengkuk Rossy.
"Aku ada cara lain," kata Rossy secara tiba-tiba.
"Cara apa?" tanya Jackson.
Rossy menarik napas dalam-dalam dan bersiap untuk berteriak sekuat tenaga.
"TOLONG...TOL..."
__ADS_1
Teriakan Rossy tidak terdengar lagi karena Jackson menggunakan tangannya menutup mulut Rossy dengan erat.
"Jangan berteriak. Kamu tahu tidak sekarang sudah malam? Kamu mau semua pelayan Mansion Wijaya menuju ke sini karena teriakanmu," kata Jackson dengan ketus.
"Umm..umm.uumm." Perkataan Rossy tidak terdengar karena tangan Jackson masih menutup mulutnya.
Jackson melepaskan tangannya dari mulut Rossy.
"Aku hanya ingin seseorang datang dan membantu kita," kata Rossy.
"Kamu ingin semua orang mencurigai di antara kita ada hubungan?" tanya Jackson.
"Tidak!" jawab Rossy dengan spontan.
"Setidaknya kamu masih mau menjaga harga dirimu," kata Jackson.
"Kalau begitu, aku hanya bisa menggunakan cara terakhir," kata Rossy.
"Cara terakhir?" tanya Jackson.
Hati Jackson menjadi was-was setelah mendengar perkataan Rossy karena semua ide dan rencana wanita muda itu tidak ada yang bagus dan benar.
Dugaan Jackson sangat tepat karena cara terakhir yang digunakan oleh Rossy adalah berusaha menarik kepalanya sendiri dengan keras .
Akibatnya tubuh Rossy menjadi tidak seimbang dan akan terjatuh langsung ke lantai.
Badan Jackson pun ikut terseret dan jatuh bersama Rossy.
"Ah!" teriak Rossy sambil memejamkan matanya. Rossy tidak berani membayangkan wajahnya akan berciuman dengan lantai sebentar lagi.
Secara refleks Jackson merentangkan lengannya yang panjang untuk melindungi kepala Rossy yang akan mendarat di lantai.
Buk!
Terdengar suara dentuman keras di lantai ketika tubuh mereka jatuh bersamaan.
Kepala Rossy terlindungi oleh lengan Jackson dan tubuhnya mendarat sempurna di atas tubuh Jackson.
Rossy merasakan tubuhnya mendarat di bantalan yang empuk dan tercium aroma maskulin khas Jackson.
Bau tubuh yang harum dan maskulin membuat Rossy merasakan nyaman serta rasa aman yang tidak bisa dijelaskan, sedangkan Jackson menahan rasa sakit di seluruh badannya.
"Tuan Jackson! Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Rossy sambil melirik ke wajah Jackson yang terlihat pucat.
"Ros...Rossy. Kamu berat sekali," kata Jackson dengan suara terbata-bata .
Jackson merasakan beban yang berat di dadanya dan juga pinggang serta punggungnya sangat sakit.
"Maaf maaf tuan Jackson," kata Rossy dan terburu-buru ingin bangun dari tubuh Jackson.
"Ahh..." teriak Rossy kesakitan dan terjatuh lagi di atas tubuh Jackson.
***
Rossy... Rossy... rambutmu masih nyangkut tuh. he he he.
Selamat siang readers. Sabar ya... bab besok masalah rambut Rossy yang nyangkut akan kelar ^~^
Penasaran kan bagaimana caranya rambut Rossy bisa bebas dari kancing baju Jackson? Apakah Pak Lesmana bisa menahan diri untuk tetap menguping di luar ruang kerja atau menerobos masuk ke dalam ruang kerja??
Semuanya ada di bab berikutnya ya
Jangan lupa klik like setelah selesai membaca ya readers
Thank You
Author : LYTIE
__ADS_1