
**Rumah Hartono***
Selama beberapa hari ini, Violet sudah merencanakan bagaimana caranya mendekati Jackson.
Jackson terkenal sebagai CEO muda dan pekerja keras.
Sebagian besar waktu Jackson dihabiskannya di Perusahaan Wijaya sehingga Violet harus bekerja di Perusahaan Wijaya supaya bisa bertemu dengan Jackson dan melancarkan rayuan mautnya.😆
Violet sangat yakin dengan ungkapan 'Tidak ada kucing menolak ikan asin'.
Violet sangat percaya diri dengan tubuh seksinya bisa menggoda dan mengambil hati Jackson.
Violet sudah meminta bantuan temannya yang bekerja di Perusahaan Wijaya untuk mencarikan lowongan pekerjaan untuknya.
"Mom! Bagaimana kalau putra Rossy memang putra Jackson Wijaya?" tanya Violet.
"Tadi ayahmu bilang putranya Rossy tinggal bersama Michelle. Aku yakin deh anak haram itu bukan putra Jackson Wijaya," jawab Wulan Sari.
Sangat tidak masuk akal jika putra kandung Jackson di biarkan di luar dan tidak di jemput pulang ke Mansion Wijaya.
"Benar sekali mom! Putra kandung Jackson Wijaya masih di rawat di Healing Hands Hospital," kata Violet.
"Benarkah? Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?" tanya Wulan Sari.
"Sewaktu mengantar undangan ke Michelle. Michelle kan dokter umum di sana," jawab Violet.
Wulan Sari terdiam sebentar mendengar perkataan Violet dan terlihat sedang berpikir keras.
Beberapa saat kemudian senyum lebar menghias bibir Wulan Sari.
Violet tahu Wulan Sari pasti mempunyai rencana baru lagi, yang pastinya rencana yang menguntungkan mereka berdua.
"Violet. Aku yakin putra kandung Jackson Wijaya tidak tahu akan mendapatkan ibu tiri dan saudara tiri. Kita bisa ke rumah sakit menemui anak itu dan memberitahukannya tentang hal ini yang akan membuatnya membenci Rossy," usul Wulan Sari.
"Ide mom memang bagus, tetapi ada bodyguard yang berjaga di depan kamar pasiennya. Aku dan Febrian juga di usir oleh bodyguard itu," kata Violet sambil mengepalkan tangannya mengingat kembali ekspresi kaku dan dingin dari Robin, si bodyguard yang berjaga di depan pintu kamar pasien VVIP.
Pada saat itu, Robin juga menolak uang sogokan yang diberikan oleh Violet supaya memperbolehkannya dengan Febrian masuk ke dalam kamar pasien VVIP.
Bodyguard bertubuh gede seperti Hercules itu malahan mendorong mereka dengan kasar dan bersiap melayangkan tinjunya jika Febrian dan Violet tidak pergi dari sana.
"Ada bodyguard? Kita bisa memakai nama Rossy. Kita kan bisa mengaku sebagai ibu dan adik Rossy yang ingin menjenguk anak tirinya. Aku yakin bodyguard bodoh itu pasti akan membiarkan kita masuk," ucap Wulan Sari.
"Betul juga mom! Kita bisa memakai nama Rossy. Ayo Mom! Kita berangkat sekarang," ajak Violet dengan antusias.
"Tunggu sebentar!" ujar Wulan Sari sambil melihat jam tangan di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Ada apa mom? Mom masih mau pergi ke Vila Tante Siska sekarang? Itu kan bisa di tunda. Kita harus urus hal penting dulu," kata Violet dengan tidak sabaran.
"Violet! Aku kan sudah janjian sama mereka. Next time mereka tidak mau ajak-ajak lagi kalau aku ingkar janji sekarang," ucap Wulan Sari.
Wulan Sari sangat takut kepada Boris dan tidak berani mengingkari janjinya sehingga membuat alasan supaya Violet percaya dengan kebohongannya.
"Jam dua belas kita bertemu di Healing Hands Hospital. Aku akan langsung ke sana dari Vila Siska," kata Wulan Sari.
"Oke deh mom," jawab Violet.
"Anak itu di kamar pasien VVIP kan?" tanya Wulan Sari.
"Iya mom. Nanti mom telepon aku saja sewaktu tiba di sana," jawab Violet
"Oke," kata Wulan Sari.
***Supermarket***
Michelle sedang mendorong troli sambil memilih bahan-bahan makanan yang akan dimasak oleh Rossy untuk lunch.
Handphone Michelle berbunyi sehingga Michelle mengambil handphone dari dalam tas.
Nama panggilan yang muncul di layar handphone 'Rossy'.
"Iya Michelle. Aku dan Chandra baru saja tiba di rumah kontrakanmu," jawab Rossy.
"Bentar lagi aku pulang. Aku sedang memilih bahan makanan," kata Michelle.
"Kamu kepingin makan apa, beli saja bahannya. Nanti aku masak untukmu," ucap Rossy.
"Sip deh. Aku sedang berada di bagian daging. Tunggu sebentar ya," kata Michelle sambil melihat daging-daging yang kelihatan segar di dalam freezer.
"Rossy. Ada jual sirloin steak sapi yang segar nih. Aku beli ya. Ehm..saya beli lima potong. Buat aku, kamu, Chandra,Kelvin, dan suami tercintamu," ucap Michelle sambil tertawa kecil.
Michelle langsung mengambil lima potong sirloin steak sapi dan memasukkannya ke troli.
Tadi pagi Rossy sudah mengirimkan sms LINE ke Michelle untuk membeli bahan makanan yang lebih banyak karena Rossy akan mengantarkan lunch untuk Jackson ke Perusahaan Wijaya.
"Michelle! Beli empat potong saja sirloin steak sapi," kata Rossy dengan cepat.
"Empat potong? Kamu diet ya?" tanya Michelle.
"Jackson tidak suka steak sapi," jawab Rossy.
__ADS_1
"Oh gitu. Sip deh. Cuma steak sapi saja kan yang dia gak suka? Aku pilihin daging lain," kata Michelle Angela.
"Iya Michelle. Thank you ya. Aku dan Chandra tunggu kamu di rumah kontrakan. Hati-hati di jalan," ucap Rossy.
"Oke. See you soon," kata Michelle dan menutup sambungan telepon.
Ketika Michelle mau memasukkan kembali handphone ke dalam tas, Michelle Angela terkejut karena melihat sosok Michael berdiri di sampingnya sambil tersenyum.
Entah sudah berapa lama Michael berdiri di sana dan Michelle tidak menyadari sama sekali.
"Michael," sapa Michelle.
"Michelle. Tidak di sangka bisa bertemu denganmu di sini," kata Michael.
"Iya Michael. Supermarket ini paling dekat dengan rumah kontrakan dan barangnya juga lengkap," ucap Michelle sambil mengeluarkan satu potong sirloin steak dari trolinya dan meletakkannya kembali ke dalam freezer.
Mata Michael seperti terhipnotis dan menatap lama sirloin steak yang di letakkan kembali oleh Michelle ke dalam freezer.
"Michael! Michael!" panggil Michelle sambil menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Michael karena pria muda itu sedang melamun dengan tatapan mata kosong.
Michael tersadar dari lamunannya dan mengalihkan perhatiannya ke dalam troli Michelle.
"Michelle. Belanjaanmu banyak sekali," kata Michael sambil memberikan senyum khasnya ke Michelle.
"Iya nih. Rossy mau masak lunch di rumah kontrakanku. Kamu belanja apa aja?" tanya Michelle sambil melihat ke dalam troli Michael yang ternyata berisi bungkusan indomie dalam jumlah yang banyak.
"Indomie?" tanya Michelle dengan mata membulat besar.
"Iya. Aku cuma bisa masak indomie," jawab Michael tanpa merasa tersinggung dengan reaksi Michelle.
***
Malam readers tercinta.
Yeay...🥳🥳🥳 Tebakan readers benar. Michelle Angela bertemu dengan Michael Adinata di supermarket.
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah Wulan Sari dan Violet Hartono berhasil menjenguk Kelvin Hartono di Healing Hands Hospital?
Semuanya ada di bab besok ya.
Dukung terus novel ini dengan menekan favorit, like, tips iklan, hadiah, maupun komentar positif 🤗
TERIMA KASIH
__ADS_1
SALAM SAYANG
AUTHOR : LYTIE