Anak Genius : CEO & His Private Chef

Anak Genius : CEO & His Private Chef
BAB 122. Putra Susan : Jackson


__ADS_3

**Kamar tidur Jackson Wijaya***


Jackson yang terdiam memikirkan dengan serius perkataan Felix.


"Benar yang di katakan oleh Felix. Aku sudah menghindar dan memendam semua rasa sakit itu di dalam hatiku selama dua puluh tahun. Sekarang sudah waktunya untuk melepaskan belenggu yang mengikatku ini," kata hati Jackson.


Jackson memutuskan menceritakan semua yang di lakukan oleh Susan terhadapnya dua puluh tahun yang lalu dan Felix mendengarkannya dengan saksama.


Jackson menceritakannya dengan ekspresi datar dan tanpa emosi apa pun  seperti menceritakan satu film yang baru saja selesai di tontonnya ke Felix. Seolah-olah kejadian yang di ceritakannya tidak ada sangkut paut dengannya. Akan tetapi, Felix tahu Jackson masih terpengaruh dengan trauma masa kecilnya itu dan sedang berusaha mengatasi perasaan hatinya yang tidak tenang.


Felix merasa bersyukur karena berhasil membujuk Jackson menceritakannya dan semua itu bisa terjadi dengan bantuan Rossy yang berhasil memasak masakan yang sama dengan masakan yang di berikan oleh Susan sehingga  Felix bisa dengan cepat  mengetahui jelas akar permasalahan yang membuat trauma masa kecil Jackson.


Beberapa saat kemudian setelah mendengarkan semua cerita Jackson, Felix merasakan kebencian besar terhadap Susan, si wanita gila itu yang bisa bertindak kejam terhadap anak laki-laki yang masih kecil.


Padahal Susan juga mempunyai anak laki-laki yang hanya berbeda beberapa bulan  dengan umur Jackson waktu itu.


"Selain Susan, apakah ada orang lain yang berada di dalam kamar hotel itu?" tanya Felix yang teringat akan putra Susan yang menghilang.


Jackson melihat ke arah Felix Wilson.


"Maksudmu putranya?" tanya Jackson.


"Iya," jawab Felix sambil menganggukkan kepalanya.


Mata Jackson melihat ke langit-langit kamar tidurnya dan melamun sambil menggali kembali ingatan yang sudah di pendamnya dalam waktu yang lama, apakah bisa menemukan sosok orang lain selain Susan.


Selama ini hanya ada Susan  yang selalu muncul dalam pikirannya beserta steak sapi saus barbeque yang di muntahkannya. Akan tetapi, karena pertanyaan Felix ini membuat Jackson ingin mengingat kembali apakah ada hal lain yang terjadi di dalam kamar hotel pada saat itu.


Suasana kamar menjadi hening lagi. Felix menyesal sudah mengajukan pertanyaan itu ke Jackson karena takut pertanyaannya itu akan membuat Jackson mengalami kejadian seperti di ruang makan tadi.


Felix menatap wajah Jackson dengan perasaan khawatir.


Beberapa saat kemudian Jackson mengalihkan perhatiannya dari langit-langit kamar tidur ke wajah Felix.


"Ada!" jawab Jackson dengan singkat.


Felix menahan napasnya dan menatap intens ke Jackson untuk melihat jelas apakah Jackson merasa tertekan dan terpukul ketika mengatakan hal itu.


Jackson terlihat lebih tenang dibandingkan sewaktu berada di ruang makan tadi sehingga Felix ingin bertanya lebih jauh lagi tentang putra Susan.


"Apa yang di lakukannya di dalam kamar?" tanya Felix dengan hati-hati.


"Dia duduk di depan meja yang sama denganku. Pakaian yang di kenakannya juga sama dengan pakaianku hari itu," jawab Jackson.


Mata Felix membulat besar mendengar perkataan Jackson.


"Dia...dia melihatmu makan?" tanya Felix terbata-bata.


Jackson menganggukkan kepalanya.


Jackson berhasil mengingat dengan jelas, putra Susan melihat dirinya makan steak sapi saus barbeque itu dan memuntahkan steak itu.


Anak laki-laki itu tidak ada reaksi apa pun akan perbuatan Susan terhadap Jackson pada waktu itu.


"Tadi kamu bilang Susan melepaskan tali ikatanmu dan membawamu keluar dari kamar hotel setelah menelepon. Dia tidak membawa putranya kah?" tanya Felix.


"Tidak! Dia hanya menarikku dengan kasar dan keluar dari kamar hotel," jawab Jackson.


"Benar-benar wanita gila. Dia meninggalkan putranya sendirian?" kata hati Felix.

__ADS_1


Felix tidak melanjutkan lagi bertanya tentang anak laki-laki itu karena bisa memastikan Susan sendiri lah yang meninggalkan putranya sehingga putranya menghilang sampai saat ini.


Tiba-tiba Jackson teringat akan sesuatu hal tentang anak laki-laki itu.


"Kamu tahu dia memanggil anaknya dengan nama apa?" tanya Jackson ke Felix.


Felix menggelengkan kepalanya.


"Jackson! Nama putranya Jackson," jawab Jackson dengan suara datar dan tenang.


Felix syok dengan perkataan Jackson dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


Jackson menganggukkan kepalanya memberi kepastian kepada Felix akan perkataannya yang benar dan bukan omong kosong belaka.


"Gila!" ujar Felix secara spontan.


 


***Ruang makan Mansion Wijaya***


Rossy duduk di kursi meja makan dengan gelisah. Sesekali Rossy melihat jam tangan di pergelangan tangannya.


Rossy sedang menunggu Felix yang sudah berada di dalam kamar tidur Jackson selama satu jam lebih.


Rossy ingin mengetahui keadaan Jackson sekarang melalui Felix. Rossy sangat mengkhawatirkan Jackson.


Rossy sengaja menunggu di ruang makan karena tahu Felix pasti akan ke sini melanjutkan dinnernya yang tertunda.


Beberapa saat kemudian terliha sosok Felix dari kejauhan.


"Felix!"


Rossy memanggil Felix yang sedang berjalan ke ruang makan , sesuai dugaan Rossy.


"Bagaimana keadaan tuan Jackson?" tanya Rossy dengan antusias ketika Felix duduk di sampingnya.


"Jackson sudah tidur dan lebih tenang sekarang. Akhirnya Jackson mau menceritakan kejadian dua puluh tahun yang lalu kepadaku," jawab Felix sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanya Rossy.


Rossy merasa senang karena Jackson bersedia menceritakan kejadian masa lalu yang membuatnya trauma.


Felix pun menceritakan semua kejadian dua puluh tahun yang lalu ke Rossy. Hanya tentang apa yang di lakukan oleh Susan dan tidak menceritakan tentang putra Susan. Setelah mendengarkan semuanya dari Felix, mata Rossy berkaca-kaca menahan air matanya.


Hati Rossy terasa sakit dan sedih dengan penderitaan Jackson sewaktu kecil.


"Rossy. Mulai sekarang, jangan memasak steak sapi saus barbeque lagi di Mansion Wijaya," pesan Felix.


"Aku mengerti Felix," jawab Rossy sambil menganggukkan kepala.


Felix pun melanjutkan dinnernya yang tertunda tanpa steak sapi saus barbeque karena sudah di singkirkan oleh Rossy tadi.


 


***Kamar tidur Rossy Hartono***


Rossy berguling-guling di atas tempat tidurnya karena tidak bisa tidur nyenyak.


Setiap kali Rossy memejamkan matanya, pikirannya akan terbayang wajah Jackson yang kesakitan dan menderita di ruang makan tadi.

__ADS_1


Rossy merasa gelisah dan ingin melihat dengan matanya sendiri keadaan Jackson sekarang.


"Bagaimana dengan bibirnya yang terluka karena gigitannya? Apakah Felix sudah memberinya obat?" kata hati Rossy.


Rossy ingat Jackson masih memakai kursi roda sehingga tidak mungkin bisa mengunci pintu kamarnya.


"Aku akan melihatnya sebentar saja," kata hati Rossy.


Rossy pun mengendap-ngendap di depan pintu kamar Jackson dan mencoba membuka pintunya dengan perlahan.


"Yes! Betul dugaanku. Pintunya tidak terkunci," kata hati Rossy.


Rossy berjalan perlahan mendekati tempat tidur Jackson.


Mata terpejam dengan rapat . Bibir bawahnya tidak terlihat lagi bekas darah kering yang menempel.


"Felix sudah membersihkan luka di bibirnya," kata hati Rossy dengan lega.


Rossy melihat  tangan kiri Jackson menjuntai ke sisi samping tempat tidurnya.


Rossy mengangkat tangan kiri Jackson secara perlahan dengan maksud ingin memasukkannya ke bawah selimut yang menyelimuti tubuh Jackson.


Baru saja Rossy berhasil memasukkan tangan kiri Jackson ke dalam selimut, Rossy terkejut dan hampir saja berteriak dengan keras.


Jackson membuka kedua matanya yang terpejam secara tiba-tiba dan melihat ke wajah Rossy.


"What? Dia belum tidur? Bagaimana nih?" kata hati Rossy dengan panik.


Wajah Rossy sekarang adalah wajah aslinya, tanpa foundation berwarna gelap dan flek-flek hitam.


"Rose?" kata Jackson dengan suara kecil.


Rossy menahan napasnya dan wajahnya berubah menjadi pucat.


Rossy tidak berani mengucapkan satu kata pun. Beberapa saat kemudian Jackson menutup kembali kedua matanya dengan rapat.


"Rose. Jangan mengganggu mimpiku dengan Rossy," ucap Jackson dengan suara yang lebih kecil.


Rossy tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan berlari secepat mungkin meninggalkan kamar tidur Jackson.


Rossy segera mengunci kamar tidurnya dengan panik dan melompat ke atas tempat tidurnya.


"Dia...dia hanya mengigau saja kan? Pasti benar. Dia tidak mungkin melihat wajah asliku," ucap Rossy sambil memegang wajahnya sendiri.


***


Selamat malam readers.


Readers pasti syok, kepo, dan penasaran kan membaca judul bab ini? 😆😆


Susan benar-benar gila ya, memberi nama Jackson ke putranya 😓😓


Rossy ketahuan atau tidak ya?


Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya.


Ada kejutan menanti 😁😁


TERIMA KASIH

__ADS_1


SALAM SAYANG


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2