Anak Genius : CEO & His Private Chef

Anak Genius : CEO & His Private Chef
BAB 121. Trauma masa lalu


__ADS_3

**Mansion Wijaya***


###Flashback Off###


Wajah Jackson menjadi sangat pucat  dan matanya tidak bisa mengalihkan pandangannya dari steak sapi saus barbeque yang di hidangkan Rossy di hadapannya.


Semua kilas balik kejadian dua puluh tahun yang lalu muncul berulang-ulang dan tidak dapat di hentikan sama sekali.


Keringat bercucuran dengan deras dari kepala Jackson dan kedua tangannya mencengkram erat pegangan kursi rodanya. Napasnya menjadi sangat berat dan tidak beraturan.


Jackson menggigit bibir bawahnya dengan keras sampai berdarah dan Jackson sama sekali tidak menyadarinya maupun merasakan sakit.


Rossy terkejut melihat keadaan  Jackson dan segera memanggilnya.


"Tuan Jackson!"


Rossy berteriak dengan keras sehingga Felix yang sedang makan steak sapi saus barbequenya dengan lahap pun segera meletakkan pisau dan garpunya serta berlari menghampiri Jackson.


Pak Lesmana yang melihat keadaan Jackson ikut merasa tegang.


Selama ini baik Pak Lesmana maupun Rossy dan juga Felix pernah melihat gejala yang sama di Jackson ketika Jackson mencoba memakan sesuatu.


Tetapi gejala kali ini terlihat jelas lebih parah berkali kali lipat di bandingkan yang selama ini Jackson tunjukkan.


Mereka semua sadar kali ini adalah puncak dari semuanya yang selama ini selalu Jackson pendam dengan erat di lubuk hatinya yang paling dalam.


Selama ini Jackson tidak pernah menyakiti diri sendiri apabila teringat akan traumanya. Akan tetapi, kali ini Jackson tanpa sadar menggigit bibir bawahnya sampai berdarah dan sama sekali tidak menyadarinya.


"Jackson! Jackson!"


Felix berteriak memanggil Jackson dan tidak ada jawaban sama sekali dari Jackson.


"Tuan Jackson! Tuan Jackson!"


Pak Lesmana ikut berteriak dengan panik memanggil Jackson.


Jackson sama sekali tidak bisa mendengar panggilan dari Rossy, Felix maupun Pak Lesmana. Seolah-olah yang sedang duduk di atas kursi roda hanya tinggal badan jasmani Jackson, sedangkan alam bawah sadarnya terkurung di dalam steak sapi saus barbeque beserta kejadian dua puluh tahun yang lalu, yang terus menerus muncul di dalam ingatan Jackson.


Jackson merasakan seluruh tubuhnya sangat sakit seperti tertimpa batu besar dan dirinya sama sekali tidak bisa menyingkirkan batu besar itu.


Dada Jackson sangat sesak dan sakit sehingga secara tidak sadar memegang dadanya dengan ekspresi wajah yang kesakitan.


Rossy semakin panik dan cemas melihat keadaan Jackson karena yakin jika mereka tidak bisa menyadarkan Jackson secepat mungkin maka kemungkinan besar Jackson bisa terkena stroke.

__ADS_1


Mata Rossy mengikuti arah mata Jackson yang sedang menatap steak sapi saus barbeque di hadapannya dengan pandangan mata kosong.


Rossy teringat dengan perkataan Felix tentang memantau reaksi emosional Jackson terhadap beraneka ragam jenis makanan sehingga Rossy yakin steak sapi saus barbeque adalah makanan  yang di berikan oleh Susan ke Jackson dua puluh tahun yang lalu.


Rossy mengambil piring steak sapi saus barbeque dari hadapan Jackson dengan cepat dan juga piring steak sapi saus saus barbeque milik Felix pun di ambil oleh Rossy.


Rossy segera menyingkirkan kedua piring steak sapi saus barbeque dari ruang makan.


Felix pun menyadari steak sapi saus barbeque itu adalah masalah utama yang menyebabkan Jackson menjadi kehilangan kendali dan kesadarannya sehingga tidak mencegah Rossy.


"Tuan Jackson! Sadarlah! Tidak ada makanan apa pun di hadapannu sekarang. Kamu bukan lagi Jackson kecil yang berumur lima tahun. Kamu sekarang adalah Jackson yang kuat dan tegar!"


Rossy berusaha membuat Jackson sadar dari perangkap ilusi masa lalunya.


"Benar perkataan Rossy. Kamu sangat kuat dan tegar, Jackson. Aku bersama  kakekmu, Pak Lesmana,dan Rossy akan berada terus di sampingmu. Dan juga ada Chandra, putra kandungmu yang masih kecil dan sangat  membutuhkanmu untuk melindunginya," ucap Felix.


Pak Lesmana hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan keras menyetujui perkataan Felix karena bibirnya tidak bisa mengucapkan perkataan apa pun lagi.


 Mata Pak Lesmana berkaca-kaca menahan air matanya. Pak Lesmana sangat sedih dan syok melihat keadaan Jackson.


Beberapa saat kemudian Jackson mulai bisa mengerjapkan kedua matanya dengan pelan. Matanya terasa pedih karena terbuka dalam waktu yang lama.


"Aku harus tegar. Chandra masih kecil dan memerlukanku untuk melindunginya. Aku tidak mau Chandra mengalami penderitaan yang sama sepertiku karena kehilangan ayah dan ibu dua puluh tahun yang lalu," tekad hati Jackson.


Rossy segera berlari mengambil segelas air putih hangat dan mendekatkan gelas itu ke mulut Jackson.


"Minumlah tuan Jackson," ucap Rossy dengan suara lembut.


Jackson membuka mulutnya dengan perlahan dan Rossy menuangkan secara perlahan air putih hangat ke dalam mulut Jackson seteguk demi seteguk sampai air putih di dalam gelas itu habis.


Rossy merasa lega melihat wajah Jackson Wijaya tidak sepucat tadi.


"Felix."


Jackson memanggil Felix dengan suara yang lemah dan kecil.


"Iya Jackson," jawab Felix.


"Bantu dorong aku ke kamar tidur," pinta Jackson.


"Baiklah," jawab Felix.


Rossy menatap kepergian kursi roda Jackson yang di dorong oleh Felix.

__ADS_1


Rossy tahu hal utama yang di butuhkan oleh Jackson sekarang adalah ketenangan.


Rossy berharap Jackson mau menceritakan apa yang telah di alaminya dua puluh tahun yang lalu ke Felix sehingga beban batu besar yang menimpa Jackson selama ini bisa di singkirkan secara perlahan.


 


***Kamar tidur Jackson Wijaya***


Felix membantu memapah Jackson yang lemas ke atas tempat tidurnya. Kemudian mengambil satu kemeja baru untuk Jackson karena baju yang di kenakan  Jackson sudah basah oleh keringatnya.


Beberapa saat kemudian setelah Jackson selesai mengganti bajunya, Felix menarik kursi dan meletakkannya di samping tempat tidur Jackson. Felix duduk di atas kursi itu.


"Jackson. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Felix.


"Tidak baik dan sangat buruk," jawab Jackson sambil menghela napas panjang.


"Makanan yang di berikan oleh Susan kepadamu dua puluh tahun yang lalu adalah steak sapi saus barbeque kah?" tanya Felix dengan hati-hati.


Jackson terdiam dan tidak memberikan jawaban apa pun. Suasana kamar tidur Jackson menjadi tenang dan sepi.


Felix terdiam menunggu jawaban Jackson, sedangkan Jackson terdiam juga karena tidak ingin menceritakan apa pun ke Felix.


Sepuluh menit berlalu tanpa ada satu kata pun keluar dari mulut Jackson. Felix merasa tidak sabar sehingga membuka mulutnya terlebih dahulu.


"Jackson. Kamu tidak boleh menghindar lagi. Sudah dua puluh tahun kamu memendam semua perasaan luka dan sakit di lubuk hatimu. Kamu harus bisa menceritakan apa saja yang terjadi dua puluh tahun yang lalu. Kamu pasti ingin penyakit eating disordermu sembuh dan menjadi daddy yang sehat untuk Chandra. Hanya kamu sendiri yang bisa menolongmu saat ini. Ceritakanlah!" ujar Felix.


***


Selamat siang readers.


Author LYTIE sangat senang dengan dukungan readers untuk novel ini baik berupa vote, like, dan komentar positif.


Masih ada satu bab lagi yang akan author up malam ini. Di tunggu ya readers.


NOTE : Cover baru Novel Anak Genius : CEO &. His Private Chef sudah author up dari kemarin dan masih di review sampai sekarang 😅😅😅.


Mungkin NT akan memberikan cover esklusif ya ( 😆😆😆 harapan dari author nih).



THANK YOU


SALAM SAYANG

__ADS_1


AUTHOR : LYTIE


__ADS_2