
***Kamar tidur Jackson Wijaya***
Rossy membalikkan badannya dan menekan tombol flush toilet. Kemudian Rossy memapah Jackson berjalan keluar dari kamar mandi dengan perlahan dan hati-hati.
Setelah membantu Jackson naik ke atas tempat tidur, Rossy menyelimuti tubuh Jackson yang sudah berbaring.
"Good night Tltuan Jackson," kata Rossy sambil berlari kecil meninggalkan kamar tidur Jackson.
Rossy langsung naik ke atas tempat tidurnya sewaktu masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah waktunya aku melepaskan sheet mask ini," kata Rossy.
Ketika Rossy hendak membuka masker wajah yang menempel di wajahnya, handphonenya berbunyi lagi.
"Halo."
Rossy menjawab panggilan telepon dengan perasaan kesal karena telepon itu berasal dari Jackson lagi.
"Ke kamarku sekarang!"
Seperti biasa Jackson langsung memutuskan sambungan telepon tanpa memberi kesempatan Rossy untuk menolaknya.
Dengan perasaan terpaksa, Rossy berjalan menuju ke kamar tidur Jackson. Sheet mask masih menempel di wajahnya.
***
"Tuan Jackson! Apakah kamu ingin buang air kecil lagi? Pria yang ingin buang air kecil terus menerus menandakan ada masalah di kelenjar prostatnya," ujar Rossy panjang lebar dengan nada kesal.
Jackson mengernyitkan alisnya sambil melihat ke arah Rossy.
"Kata siapa aku ingin buang air kecil lagi?" tanya Jackson ke Rossy.
"Kalau bukan ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil, mengapa tuan Jackson memanggilku lagi?" tanya Rossy.
"Aku haus. Tuangkan segelas air putih untukku!" jawab Jackson dengan suara datar.
Rossy menuangkan air ke dalam gelas dengan tangan kanannya dan mengepalkan tangan kirinya sambil menahan emosinya untuk tidak meninju wajah tampan Jackson.
"Ini airnya tuan Jackson," kata Rossy sambil menyerahkan gelas ke tangan Jackson.
Jacksonbminum air putih itu secara perlahan dan melihat wajah Rossy.
"Kenapa belum melepaskan maskernya?" tanya Jackson.
"Be..belum dua puluh menit tuan Jackson," jawab Rossy terbata-bata.
Jackson menyerahkan gelas kosong ke tangan Rossy.
"Kamu sudah boleh pergi," kata Jackson.
Rossy berjalan meninggalkan kamar tidur Jackson sambil menahan rasa kejengkelannya.
"Awas kalau masih meneleponku," kata hati Rossy.
Rossy sengaja berjalan agak lambat menuju ke kamar tidurnya. Baru saja Rossy Hmmenutup pintu kamarnya, terdengar lagi nada panggilan di handphonenya.
"Argh!" teriak Rossy dan berlari ke tempat tidurnya serta meninju bantalnya berulang kali sambil membayangkan wajah Jackson. Setelah melampiaskan amarah dan kesalnya, Rossy berlari menuju kamar Jackson tanpa mengangkat teleponnya terlebih dahulu.
__ADS_1
***
Rossy berjalan ke arah Jackson yang sedang memegang handphone dengan tergesa-gesa.
"Ada apa lagi tuan Jackson?" tanya Rossy dengan nada kesal.
Jackson Wijaya menekan tombol 'call end' di handphonenya.
"Aku haus lagi. Ambilkan segelas air putih," jawab Jackson.
Jackson melihat Rossy masih berdiri di depannya dan kelihatannya tidak ingin membantunya mengambil segelas air.
"Hanya segelas air saja kamu tidak mau mengambilkannya. Aku menyesal telah menolongmu tadi. Seharusnya aku biarkan saja kepalamu yang cedera yang kemungkinan besar gegar otak , daripada saya menjadi lumpuh seperti ini," gerutu Jackson.
Rossy menarik nafas dalam-dalam untuk meredam emosinya. Bagaimanapun juga Jackson mengalami cedera pinggang karena menyelamatkannya.
"Tuan Jackson! Aku tidak menolak mengambilkan segelas air untukmu. Aku hanya khawatir tuan Jackson akan bolak balik ke kamar mandi karena kebanyakan minum air dan akan membuat cedera di pinggang tuan Jackson semakin parah," kata Rossy.
"Gara-gara tidak bisa ke kamar mandi, aku harus menahan rasa hausku? Aku sudah tidak bisa makan makanan sama sekali. Apakah minum air juga tidak boleh?"tanya Jackson.
"Aku ada solusi yang baik untuk tuan Jackson. Tuan Jackson bisa minum air sebanyak apapun tanpa mengkhawatirkan masalah ke kamar mandi," jawab Rossy.
"Apa itu?" tanya Jackson dengan perasaan was-was.
Jackson yakin dengan kepintaran yang di miliki oleh Rossy, tidak akan bisa memberikan solusi yang baik.
"Aku akan membeli pispot bedpan untuk tuan Jackson. Kapan pun tuan Jackson ingin pipis bisa menggunakannya tanpa harus ke kamar mandi," jawab Rossy.
"Pispot? Pispot bedpan?" kata hati Jackson.
Jackson mulai membayangkan dirinya harus menggunakan pispot bedpan di atas tempat tidurnya setiap kali ingin buang air kecil dan bisa merasakan bulu roma di tubuhnya berdiri karena merasa ngeri dan ketakutan.
Harga dirinya yang tinggi akan hilang apabila dirinya setuju menggunakan bedpan.
"Aku sudah tidak haus lagi. Kamu boleh pergi," ujar Jackson.
"Baik tuan Jackson," jawab Rossy.
Rossy merasa senang karena berhasil menakuti Jackson.
Rossy yakin malam ini Jackson tidak akan berani lagi untuk minum setitik airpun.
"Tunggu sebentar. Kemarilah," kata Jackson ke Rossy yang sudah berjalan ke arah pintu kamar.
"Ada apa lagi nih?" pekik hati Rossy.
Rossy berjalan ke arah tempat tidur Jackson.
"Mendekatlah," kata Jackson ke Rossy yang berdiri tegak di samping tempat tidur.
Rossy membungkukkan badannya ke arah Jackson sehingga wajahnya berada tepat di depan pria itu.
Jackson mengamati sheet mask yang masih melekat di wajah Rossy.
"Aneh. Sudah dua puluh menit lebih dan dia belum membuka masker wajahnya," kata hati Jackson.
__ADS_1
"Apakah...?" Jackson mencurigai ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Rossy darinya.
Rossy merasa gelisah melihat tatapan mata intens Jackson ke wajahnya.
"Apakah dia mencurigai wajahku? Padahal sheet mask ini menutup semua wajahku," kata hati Rossy.
Rossy mulai merasa tidak tenang dan tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri.
Jackson menyadari sikap Rossy yang gugup menjadi semakin curiga dan penasaran.
Tangan Jackson menarik sheet mask dari wajah Rossy dengan cepat.
Rossy yang terkejut pun spontan menekan tombol lampu di atas meja nakas di samping tempat tidur Jackson sehingga keadaan kamar menjadi gelap gulita. Kemudian Rossy berlari kencang meninggalkan kamar tidur Jackson.
"Besok aku harus menyiapkan sarapan tuan muda. Selamat malam tuan Jackson," teriak Rossy dari luar kamar tidur Jackson.
Kamar tidur Jackson menjadi terang setelah Jackson menekan kembali tombol lampu tidur di atas meja nakasnya.
Jackson memandangi sheet mask yang berada di genggaman tangannya.
"Mungkin hanya perasaanku saja. Wajah Rossy yang jelek tidak mungkin akan berubah setelah memakai sheet mask ini," kata hati Jackson.
Jackson membuang sheet mask di tangannya ke lantai dan mengambil tisu dari atas meja nakasnya untuk mengelap tangannya. Pria itu memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur lagi.
***Kamar tidur Rossy Hartono***
Rossy sedang mencuci mukanya di dalam kamar mandi.
"Aku harus lebih berhati-hati lagi," kata Rossy sambil memandang pantulan wajahnya di depan cermin.
Rossy bertekat dalam hatinya akan tetap merias wajahnya menjadi jelek setiap kali berhadapan langsung dengan Jackson.
Rossy tidak ingin kejadian sheet mask yang di lepas oleh Jackson hari ini akan terulang kembali.
Rossy membuka tasnya dan mengeluarkan dua plastik kecil yang berisi rambut Kelvin dan Jackson.
"Besok aku harus menyerahkan kedua rambut ini ke Michelle untuk Tes DNA," kata Rossy.
***
Selamat sore readers. Akhirnya author bisa menyelesaikan bab kedua untuk up hari ini.
Semoga para pembaca menyukai ceritanya.
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya
Salam sayang dari author LYTIE
*UP 2 BAB UP 2 BAB UP 2 BAB*
*UP 2 BAB UP 2 BAB UP 2 BAB*
*UP 2 BAB UP 2 BAB UP 2 BAB*
__ADS_1