
***Ruang kerj Jackson Wijaya***
Pujian yang di berikan oleh Rossy sangat mengena di hati Jackson.
"Ternyata masa lalu nya sangat menyedihkan. Tunangannya bisa di rebut oleh adik tirinya pasti karena wajahnya yang tidak cantik sehingga dia ingin mempertahankan harga dirinya yang tersisa," kata hati Jackson.
Jackson mempercayai perkataan Rossy seratus persen.
"Karena aku adalah pria sempurna yang paling cocok menemanimu ke pesta pertunangan itu, aku akan mengabulkan permintaanmu dan akan membantumu mempertahankan harga dirimu di depan mereka," ucap Jackson dengan tegas.
Jackson merasa kasihan dengan Rossy sehingga memutuskan akan membantu Rossy di pesta pertunangan itu.
"Terima kasih tuan Jackson. Anda adalah orang yang paling baik di dunia ini," kata Rossy.
"Aku hanya akan menjadi pacarmu satu hari saja. Dua puluh empat jam. Tidak akan lebih satu detik pun," jelas Jackson.
"No problem," jawab Rossy dengan cepat.
Apa pun perkataan Jackson sekarang ini, Rossy akan mengiyakannya karena tidak ingin Jackson mengingkari janjinya secara tiba-tiba.
Jackson menganggukkan kepalanya dan melihat Rossy dari atas kepala ke ujung kaki.
"Berapa size baju dan size sepatumu?" tanya Jackson.
"Hah?" ucap Rossy.
Rossy melihat ke arah Jackson dengan raut wajah bingung karena tidak mengetahui apa alasan Jackson menanyakan size baju dan sepatunya.
"Aku mau memesan gaun pesta dan sepatu yang akan kamu kenakan di pesta pertunangan adik tirimu," jelas Jackson.
"Tidak perlu repot-repot tuan Jackson. Aku bisa menyiapkan gaunku sendiri," kata Rossy.
"Kamu menghadiri pesta pertunangan itu dengan status sebagai pacarku. Apakah kamu mau memakai gaun biasa di lemari pakaianmu untuk membuatku malu di sana?" tanya Jackson.
Rossy mengakui di dalam hatinya perkataan Jackson sangat benar. Dirinya tidak mungkin memakai gaun yang biasa-biasa saja bersama Jackson menghadiri pesta pertunangan Violet dengan Febrian.
Pasti akan ada yang mengenal Jackson di sana dan bisa membuat Jackson kehilangan muka karena membawa pasangan yang memakai gaun biasa.
Rossy sama sekali tidak berpikiran sampai sejauh itu. Untung saja perkataan Jackson mengingatkannya.
"Aku akan membeli gaun baru di mall," kata Rossy.
"Kamu yakin selera pakaianmu akan cocok dengan jas yang aku pakai nanti?" tanya Jackson.
Jackson percaya gaun baru di mall tidaklah akan sebagus gaun yang dia pesan di perancang busana langganannya.
"Rossy tidak memiliki wajah yang cantik. Jika tidak memakai gaun yang lebih bagus untuk menutupi kekurangan di wajahnya, bagaimana mungkin Rossy akan menang dari adik tirinya di pesta pertunangan nanti," kata hati Jackson.
__ADS_1
"Kalau begitu, terserah tuan Jackson saja. Akan tetapi, jangan pesan gaun yang terlalu mahal ya. Aku tidak sanggup membayarnya nanti," jawab Rossy dengan pasrah.
"Anggap saja gaun itu adalah bonus untukmu. Kamu tidak perlu membayarnya," ujar Jackson dengan tenang.
"Ah..baiklah tuan Jackson. Terima kasih," jawab Rossy.
Rossy tidak jadi menolak gaun pesta pemberian Jackson nantinya karena tidak ingin menyinggung perasaan pria arogan di depannya.
Beberapa saat kemudian Rossy melihat Jackson masih menatapnya dengan intens padahal dirinya tidak menolak pemberian Jackson.
"Ada apa tuan Jackson?" tanya Rossy dengan hati-hati.
"Size baju dan sepatumu," kata Jackson.
Rossy baru sadar dirinya belum mengatakan size baju dan sepatunya ke Jackson. Dengan cepat wanita muda itu memberitahukan semuanya ke Jackson.
Jackson mencatatnya di dalam notebook yang berada di samping laptopnya. Kemudian Jackson menyimpan dokumen di dalam laptopnya terlebih dahulu lalu mematikan laptopnya.
Jackson ingin kembali ke kamar tidurnya untuk beristirahat. Rossy menyadari hal itu dan dengan sigap berjalan menghampiri Jackson.
Felix masih belum pulang ke Mansion Wijaya sehingga saat ini hanya Rossy yang bisa membantu Jackson.
"Tuan Jackson. Aku akan mendorongmu ke kamar tidur," kata Rossy.
Jackson menganggukkan kepalanya pertanda setuju.
Rossy mendorong kursi roda Jackson dengan pelan menuju kamar tidur. Tangan Rossy masih memegang gelas kosong susu hangat tadi.
***Kamar tidur Jackson Wijaya***
Rossy mendorong kursi roda Jackson ke arah tempat tidur.
"Tunggu sebentar tuan Jackson," kata Rossy.
Rossy ingin memapah Jackson berdiri dari kursi rodanya menuju tempat tidur, tetapi masih ada gelas kosong di tangannya sehingga Rossy meletakkan gelas kosong itu di atas meja nakas samping tempat tidur terlebih dahulu sebelum memapah Jackson berdiri dari kursi rodanya.
Ketika Rossy berjalan kembali ke samping Jackson, dia melihat Jackson sedang termenung memikirkan sesuatu dengan ekspresi wajah yang sangat serius sehingga Rossy hanya berdiri di samping Jackson tanpa bersuara dan menunggu Jackson tersadar dari lamunannya.
Jackson sedang memikirkan ide Felix tentang bertatapan selama sepuluh detik.
Suasana kamar yang tenang membuat Jackson ingin mencobanya.
"Rossy." Jackson memanggil Rossy.
"Iya tuan Jackson," jawab Rossy sambil melihat ke arah Jackson.
"Ulurkan kedua tanganmu," kata Jackson.
__ADS_1
"Untuk apa, tuan Jackson?" tanya Rossy.
"Jangan banyak bertanya. Ulurkan saja kedua tanganmu," kata Jackson dengan tegas.
Walaupun banyak pertanyaan muncul di pikiran Rossy, wanita muda itu patuh dengan perintah Jackson dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Jackson.
Jackson menggunakan kedua tangannya menggengam erat kedua tangan Rossy Hartono, seperti yang Felix peragakan dengannya tadi pagi.
Rossy terkejut dan merasa canggung sehingga secara spontan menarik kembali kedua tangannya, tetapi genggaman Jackson sangat kuat sehingga Rossy tidak bisa melepaskan kedua tangannya melainkan tertarik maju ke arah Jackson, yang membuat wajah Rossy menjadi semakin dekat ke wajah Jackson.
"Jangan bergerak!" perintah Jackson.
"Iya," jawab Rossy dengan suara kecil sambil menunduk melihat ke arah tangannya yang sedang di genggam erat oleh tangan Jackson.
Rossy tidak berani bertatapan secara langsung ke wajah Jackson.
"Tatap mataku," kata Jackson.
"What?" teriak Rossy spontan.
"Diam dan tatap mataku. Hitung sepuluh detik di dalam hatimu. Hanya sepuluh detik saja!" perintah Jackson dengan tegas.
"Ba..baiklah tuan Jackson," jawab Rossy dengan terbata-bata.
Rossy mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata Jackson. Suasana kamar tidur menjadi hening dan tenang.
Rossy menarik napasnya dengan perlahan sambil melihat dua bola mata Jackson yang hitam dan pekat, tetapi terasa menghangatkan.
Sementara Jackson pun melihat dua bola mata Rossy dengan saksama. Kedua mata Rossy sangatlah besar dengan bulu mata yang lentik dan panjang.
***
Selamat malam Readers.
Pasti readers bisa menebak apa isi bab ini ketika membaca judulnya.
Sepuluh detik 😄
Finally Jackson Wijaya akan bertatapan sepuluh detik dengan Rossy Hartono.
Apa yang akan terjadi kah? Akan muncul percikan api atau...☺️☺️
Untuk sementara biarkan saja mereka berdua saling bertatapan.
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya.
TERIMA KASIH
__ADS_1
Salam sayang
Author : LYTIE