Anak Genius : CEO & His Private Chef

Anak Genius : CEO & His Private Chef
BAB 74. Handphone Rossy menyala


__ADS_3

***Restoran Hartono***


Thomas bergegas menghampiri mobil mercedes benz putih  yang berhenti di depan Restoran Hartono.


Sopir membukakan pintu mobil  untuk Agung. Orang tua itu turun dari mobil bersama Chandra.


"Selamat datang tuan Agung," sapa Thomas sambil tersenyum.


"Halo Thomas," sapa Agung.


Thomas melihat ke arah Chandra yang sedang bergandengan tangan dengan Agung.


"Ini cicitku Chandra Wijaya,"kata Agung.


"Kakek," sapa Chandra dengan sopan ke Thomas.


"Kakek?" kata Thomas dengan ekspresi terkejut.


"Iya. Benar juga. Thomas hampir seumuran dengan anakku. Jadi tidak salah Chandra memangilmu kakek. Chandra memang pintar," kata.


"Eh.. iya iya," kata Thomas.


Thomas membawa mereka masuk ke dalam restoran menuju tempat duduk favorit Agung.


"Thomas. Dua mangkuk bakmi ayam . Masak yang lebih enak ya. Aku sengaja membawa cicitku datang untuk mencicipi bakmi ayam legendarismu," kata Agung.


"Baik tuan Agung. Silahkan tunggu sebentar," kata Thomas dan berjalan menuju dapur untuk memasak bakmi ayam.


***


Agung melihat sekeliling ruangan dan tersenyum senang ketika terlihat banyak foto polaroid yang tertempel di dinding ruangan.


Foto-foto polaroid itu tidak hanya ada di pojok ruangan seperti sebelumnya,melainkan juga menghiasi dinding ruangan yang lain.


"Thomas pasti menempelkan semua foto polaroid dari cabang restorannya yang lama," kata hati Agung.


Satria pernah bercerita kepadanya jika Restoran Hartono mempunyai cabang di beberapa kota besar.


Agung sempat mendengar dari pelayan Restoran Hartono bahwa cabang restoran yang lain sudah dijual lima tahun yang lalu dan restoran ini adalah satu-satunya Restoran Hartono yang masih ada.


Agung sangat bersyukur Thomas tidak menjual Restoran Hartono ini karena di dalam restoran ini tersimpan kenangan indah keluarga kecil Satria sebelum kejadian kecelakaan tragis itu.


Agung teringat akan foto keluarga kecil Satria yang menempel di pojok ruangan.


"Chandra. Ayo ikut kakek buyut," ajak Agung sambil berjalan ke pojok ruangan.


Chandra berjalan mengikuti Agung dari belakang menuju pojok ruangan dengan patuh.


"Kakek dan nenekmu pernah membawa daddymu makan bakmi ayam di sini. Ini foto mereka," kata Agung sambil menunjuk foto polaroid itu.


Chandra menatap foto polaroid itu dengan saksama.


"Ini daddy?" tanya Chandra dengan nada tidak percaya sambil menunjuk anak kecil laki-laki dengan cream cake menghiasi hidungnya.


"Iya. Ini daddymu. Jackson," jawab Agung sambil tertawa kecil.


"Daddymu berdebat dengan gadis kecil yang ulang tahun pada hari itu. Gadis kecil ini adalah putri dari Thomas. Namanya Rossy," jelas Agung sambil menunjuk gadis kecil berkepang dua di dalam foto polaroid. Cream cake menghiasi hidungnya, sama dengan hidung Jackson kecil.


"Rossy? Mommy?" kata hati Chandra.


Sewaktu mengucapkan nama Rossy, Agung teringat dengan koki pribadi Jackson yang bernama Rossy juga. Akan tetapi, mereka tidak mungkin adalah orang yang sama. Rossy kecil di dalam foto itu terlihat cantik dan berusia lebih muda dari Jackson, sedangkan Rossy koki pribadi Jackson adalah ibu-ibu yang berumur tiga puluh tahunan.


"Kebetulan saja nama mereka sama. Jackson memang berjodoh dengan orang yang bernama Rossy," kata hati Agung.


Chandra masih termenung melihat kedua anak kecil di dalam foto polaroid. Chandra tidak menyangka daddy dan mommynya sudah pernah bertemu ketika masih kecil.


Chandra melihat kakek dan neneknya yang sedang tersenyum di dalam foto.

__ADS_1


Sejak kecil Chandra sudah tahu  wajah Satria dan Eva karena foto-foto mereka selalu terpajang di Vila Wijaya.


Agung selalu menunjukkan foto-foto Satria dan Eva ke Chandra supaya Chandra bisa mengetahui wajah kakek dan neneknya walaupun mereka sudah meninggal.


Sebagian besar foto-foto yang ada di Vila Wijaya di ambil oleh Agung dari Mansion Wijaya setelah kecelakaan tragis itu terjadi.


Agung takut Jackson akan merasa bersalah setiap kali melihat foto ayah dan ibunya yang sudah meninggal karena kecelakaan mobil dalam perjalanan menyelamatkan Jackson dari Susan sehingga semua foto  mereka yang ada di Mansion Wijaya di ambil oleh Agung dan di simpan di Vila Wijaya.


***


Sementara itu Thomas yang sedang memasak bakmi ayam legendaris di dapur, pikirannya selalu teringat akan kata 'kakek' dari mulut Chandra tadi.


Thomas menebak usia Chandra sekitar lima tahunan. Bayi yang dibawa pulang oleh Rossy lima tahun yang lalu pastilah sekarang sudah sebesar Chandra.


Cuma satu kata 'kakek' sudah membuat Thomas merindukan Rossy dan juga cucunya yang tidak diketahui siapa ayah kandungnya.


Mengingat pria yang menghamili Rossy membuat Thomas semakin marah. Thomas menyesali sikap Rossy yang keras kepala dan tidak mau memberitahukannya siapa ayah kandung bayi yang dibawanya pulang.


Kalau saja Rossy mengatakan nama pria brengsek itu, Thomas pasti akan membawa Rossy menemui pria itu dan memintanya bertanggung jawab menikahi Rossy.


"Semuanya bukan kesalahan Rossy karena dia masih muda pada saat itu. Laki-laki brengsek yang menghamilinya yang salah!" kata hati Thomas.


***


Jackson yang  berada di ruang kantornya bersama Bagaskara  menunggu informasi tentang lokasi Rossy yang akan muncul saat handphone Rossy dinyalakan, tiba-tiba bersin tanpa henti dan telinganya terasa gatal.


Bagaskara mengambil beberapa tisu dan menyerahkannya kepada Jackson.


"Tuan Jackson baik-baik saja kah?" tanya Bagaskara.


"Tidak apa-apa. Mungkin karena AC nya terlalu dingin," jawab Jackson.


"Masih belum nyala kah handphone Rossy?" tanya Jackson.


"Belum tuan Jackson," jawab Bagaskara.


Jackson mulai mengkhawatirkan keadaan Rossy yang belum terlacak keberadaannya sampai saat ini.


 ***


Rossy berhasil memasak dua belas variasi indomie dan merasa sangat puas dengan masakannya.


"Bagaimana cara aku menyajikannya di meja makan?" kata hati Rossy.


Rossy tidak ingin tanpa sengaja melihat wajah pria itu dan akan mengakibatkannya kehilangan nyawa.


"Sudah selesai?"  Pria itu berdiri tepat di belakang Rossy.


"Su..sudah," jawab Rossy dengan terbata-bata.


Pria itu mengikat kembali mata Rossy dengan kain dan berjalan sambil menarik tangan Rossy.


Rossy mengikutinya dengan patuh dan mendengar suara kursi di tarik. Pria itu menekan pundak Rossy dengan kedua tangannya sambil berkata " duduk".


Rossy pun duduk di atas kursi itu dan tidak berani berkata apapun.


Beberapa saat kemudian Rossy bisa mencium wangi indomie yang di masaknya dari dekat karena pria itu mengambil semua indomie yang sudah dimasak dari dapur dan meletakkannya di atas meja.


Pria itu kagum dengan keahlian memasak Rossy. Dua belas variasi indomie terlihat sangat menggugah selera.


"Hmm.. masakanmu terlihat menarik," kata pria itu.


"Silakan dimakan," kata Rossy.


Rossy sudah tidak sabar ingin meninggalkan rumah ini dan terlepas dari pria gila di depannya.


Pria itu mengambil piring kosong . Dua belas variasi indomie di ambilnya sedikit dan diletakkannya di dalam piring kosong itu. Pria itu makan kedua belas variasi mi yang berada di piringnya.

__ADS_1


Rossy menunggu pria itu makan dengan perasaan gelisah. Rossy yakin masakannya sangat enak tetapi pria dihadapannya adalah pria gila yang tidak bisa dibaca pemikirannya.


"Lumayan enak. Tetapi bukan rasa yang aku cari selama ini," kata pria itu.


Wajah Rossy menjadi pucat dan sudah membayangkan jari tangannya akan dipotong.


Pria itu berjalan ke arah Rossy dan memegang jari tangan kanan Rossy.


"Jangan! Jangan!" teriak Rossy.


Rossy masih ingin menggunakan tangannya untuk memasak makanan yang enak. Jari tangan Rossy menyentuh sesuatu benda yang terasa dingin.


"Apa ini? Pisau kah?atau?" Rossy menebak-nebak benda apa yang ada di tangannya.


"Makanlah!" perintah pria itu.


"Apa?" tanya Rossy bingung.


"Aku menghukummu untuk makan indomie buatanmu sendiri," jawab pria itu.


"Jika kamu bisa menghabiskan dua belas piring indomie ini. Aku akan membebaskanmu!" lanjut pria itu.


"Crazy man! " Rossy berteriak di dalam hatinya.


"Tidak mau?" tanya pria itu karena tidak mendapat jawaban Rossy.


"Mau!" jawab Rossy dengan cepat.


Pria itu mengambil handphone Rossy dari saku celananya dan menekan tombol untuk menyalakan handphone tersebut.


Pria itu memilih file 'musik' dan memutar lagu di dalam handphone Rossy dengan volume yang keras.


"Makan sambil mendengar lagu ini. Aku tidak mau lagunya berhenti dan terputus," ancam pria itu.


"Baik," jawab Rossy dengan patuh.


Pria itu membuka kain yang menutup mata Rossy. Rossy melihat benda yang ada di tangannya terlebih dahulu.


"Ternyata garpu!" kata hati Rossy.


Rossy tidak berani membalikkan badannya untuk melihat pria itu.


Sekarang Rossy yakin seratus persen pria itu memang gila.


Hanya orang gila yang akan memaksa seseorang makan dua belas piring indomie diiringi suara musik yang keras.


"Bagaimanapun juga aku harus makan habis semua mi ini," kata hati Rossy.


Pria itu tersenyum puas melihat Rossy makan dengan patuh dan tidak berani melihat ke belakang.


"Good girl. Kita akan bertemu lagi," kata hati pria itu.


Pria itu membuka pintu rumah dan berjalan keluar dengan tenang.


 ***


Sementara itu di ruang kantor Jackson dan Restoran Hartono, Jackson dan Chandra bersamaan mengetahui lokasi Rossy karena handphone Rossy sudah menyala.


Lokasi yang muncul membuat Jackson dan Chandra terkejut karena mengetahui pemilik rumah itu.


***


Halo para readers. Bab kedua ini sudah author buat lebih panjang ya supaya para readers merasa puas membacanya.


Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok.


Klik 'like' ya setelah membaca bab ini. Thank you ^~^

__ADS_1


Author : LYTIE


__ADS_2