
**Mansion Wijaya***
Jam tujuh malam Jackson dan Felix tiba di Mansion Wijaya.
Felix dengan tidak sabaran turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam Mansion Wijaya.
Felix melupakan Jackson beserta kursi rodanya sehingga Pak Kuncoro lah yang membantu mendorong kursi roda Jackson ke ruang makan Mansion Wijaya.
Jackson hanya bisa menggelengkan kepala melihat Felix sudah duduk di depan meja makan dengan ekspresi wajah senang.
"Hmmm ... harum sekali. Aku sudah tidak sabaran makan masakan spesial Rossy malam ini," ujar Felix.
Pak Lesmana yang mengetahui Jackson sudah berada di Mansion Wijaya, segera membantu Rossy menghidangkan masakan ke atas meja makan.
Mata Felix semakin berbinar-binar melihat masakan yang di hidangkan di atas meja makan.
"Wow... spaghetti bolognese, chicken cordon blue, sup tomat italia. Semuanya adalah jenis masakan Mister Gordon yang terkenal di restoran Amerika nya. Benar-benar masakan yang spesial. Aku tidak sabar mencicipinya sekarang," ucap Felix dengan semangat.
Jackson menganggukkan kepalanya sambil melihat masakan spesial di atas meja makan.
Jackson pun ingin segera merasakan masakan spesial Rossy.
Jackson penasaran apakah masakan Rossy akan selalu terasa manis seperti rasa telur mata sapi yang di makannya tadi pagi.
"Pak Lesmana. Pasti masih ada masakan utama yang belum di hidangkan. Benar kan?" tanya Felix.
"Iya Pak Felix. Masih ada...."
Belum sempat Pak Lesmana melanjutkan perkataannya, dia melihat Rossy sudah membawa dua piring yang berisi steak sapi saus barbaque di kedua tangannya.
"Itu nona Rossy sedang menyajikannya," kata Pak Lesmana sambil menunjuk Rossy.
"Rossy! Sini. Ke sini dulu! Aku mau makan duluan," ujar Felix.
Rossy tersenyum kecil dan melirik sekilas ke arah Jackson. Jackson menganggukkan kepalanya sehingga Rossy menghidangkan piring steak sapi saus barbeque milik Felix terlebih dahulu.
Rossy tahu dengan pasti Jackson tidak akan keberatan membiarkan Felix mencicipi masakannya lebih dulu.
Pada saat Rossy meletakkan piring yang berisi steak sapi saus barbeque di hadapan Jackson, tubuh pria itu menjadi tegang.
Jackson menatap tajam ke steak sapi saus barbeque di hadapannya.
Ingatan menyakitkan yang di pendam oleh Jackson selama dua puluh tahun, muncul dalam hitungan detik dan tidak bisa dihentikan.
Jackson melihat dengan jelas di depan matanya semua kejadian yang di alaminya dua puluh tahun yang lalu.
Bagaikan film yang di putar di bioskop dan pemeran utamanya adalah Jackson kecil yang berusia lima tahun serta wanita gila itu. SUSAN.
###Flashback On###
***Dua puluh tahun yang lalu***
__ADS_1
Jackson yang masih berumur lima tahun berada di dalam sebuah kamar hotel.
Jackson kecil duduk di atas kursi dan badannya terikat dengan erat ke kursi yang di dudukinya sehingga tidak memungkinkan Jackson kecil untuk melarikan diri dari kamar hotel itu. Hanya kedua tangan mungil Jackson kecil yang tidak di ikat.
Susan tersenyum sambil membawa dua piring steak sapi saus barbeque yang masih hangat di tangannya dan meletakkannya di atas meja di hadapan Jackson kecil.
Kedua piring steak sapi saus barbeque itu di pesan oleh Susan melalui room service kamar hotelnya.
"MAKAN!" perintah Susan.
Susan meletakkan pisau dan garpu di tangan Jackson kecil dan menatapnya dengan tatapan tajam.
Jackson kecil merasa takut dengan Susan dan makan steak sapi saus barbeque yang ada di hadapannya dengan patuh.
Porsi steak sapi saus barbeque itu sangatlah banyak untuk anak kecil berumur lima tahun. Akan tetapi, Jackson kecil tidak berani menolak perintah Susan dan berusaha keras menghabiskan steak sapi saus barbeque itu.
Jackson kecil bisa merasakan Susan sedang berdiri di belakangnya dan sedang mengawasinya secara saksama.
Jackson kecil hanya bisa berdoa di dalam hatinya, mengharapkan ayah dan ibunya bisa segera datang menyelamatkannya dari wanita gila yang berdiri di belakangnya.
Beberapa saat kemudian setelah Jackson kecil berhasil menghabiskan semua steak sapi saus barbeque di atas piringnya, Susan yang berdiri di belakangnya mencengkram pundaknya dengan kasar dan berteriak keras kepadanya.
"MUNTAHKAN!MUNTAHKAN! Aki suruh kamu muntahkan makanan itu!"
Jackson kecil semakin ketakutan dan tanpa sadar mengikuti perintah Susan untuk memuntahkan steak sapi saus barbeque yang sudah di habiskannya ke atas piring kosong di hadapannya.
Air mata mengalir di pipi Jackson kecil bersamaan dengan makanan yang di muntahkannya keluar.
Keringat bercucuran deras di dahinya dan tubuhnya gemetaran.
Tubuh Jackson kecil terasa lemas dan tidak bertenaga.
Susan mendorong piring yang berisi muntahan Jackson ke samping dan meletakkan piring kedua yang berisi steak sapi saus barbeque yang sama ke hadapan Jackson kecil.
"Makan!" Susan memberi perintah kepada Jackson kecil lagi.
Jackson kecil menatap wajah Susan sambil menggelengkan kepalanya dengan keras.
"Tidak! Aku tidak mau makan lagi!" tolak Jackson kecil.
Jackson kecil yakin wanita gila ini pasti akan memintanya memuntahkan lagi steak sapi saus barbeque yang sudah di makannya nanti.
Susan marah dengan penolakan Jackson kecil dan memegang steak sapi dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya membuka mulut Jackson kecil dengan paksa.
"MAKAN! MAKAN!" Susan berteriak dengan keras.
Tangan mungil Jackson kecil meronta-ronta dan berusaha menarik tangan Susan yang memegang mulutnya.
Susan melemparkan steak sapi saus barbeque ke atas piring dan menatap tajam Jackson kecil.
"Habiskan steak ini! Kalau tidak, aku akan memesan sepuluh piring lagi dan memaksamu menghabiskan semuanya," gertak Susan.
__ADS_1
Jackson kecil tahu ancaman wanita gila ini bukanlah bohongan sehingga dengan terpaksa Jackson kecil mengambil steak sapi saus barbeque itu dengan tangannya dan langsung memakannya.
Kali ini Jackson kecil tidak menggunakan pisau dan garpu untuk memakan steak sapi saus barbeque itu.
Steak sapi saus barbeque itu tidak ada rasa sama sekali di dalam mulut Jackson kecil
Jackson kecil berusaha keras menahan air matanya. Dirinya tidak boleh terlihat rapuh di depan wanita gila ini karena wanita gila ini tidak akan mengasihaninya malahan akan merasa gembira melihat Jackson kecil tersiksa dan menangis.
Jackson kecil berusaha tegar. Setelah menghabiskan steak saus barbeque itu, Jackson kecil memuntahkannya kembali ke piring kosong di hadapannya tanpa perintah dari Susan.
Susan tertawa terbahak-bahak melihat tindakan Jackson kecil.
"Kamu sangat pintar dan patuh. Kalau nanti ibumu patuh juga sepertimu dan menandatangani surat perceraian, aku akan melepaskanmu," ucap Susan sambil telunjuk jarinya mengetuk-ngetuk sebuah map file yang berada di atas meja.
Jackson kecil hanya terdiam dan menunduk setelah mendengar perkataan Susan.
Dua jam kemudian, Satria dan Eva belum datang menemui Susan. Susan berjalan mondar mandir dan mengeluarkan handphonenya untuk menelepon Satria.
Seseorang mengangkat teleponnya setelah Susan menunggu lama. Jackson kecil yang masih terikat, melirik sekilas ke arah Susan.
"Halo? Di mana Satria Wijaya? Apa? Tidak mungkin!"
Jackson kecil ketakutan melihat Susan yang histeris dan berteriak-teriak sewaktu mengangkat telepon. Setelah menutup teleponnya, Susan berlari ke arah Jackson kecil dan melepaskan ikatan talinya, lalu menarik tangan Jackson kecil dengan kasar meninggalkan kamar hotel.
Jackson kecil terpaksa mengikuti Susan yang berlari keluar dari hotel.
Di tengah jalan Susan melepaskan pegangan tangannya di tangan Jackson kecil karena melihat beberapa polisi sedang berjalan ke arahnya.
Sebagian polisi mengejar Susan yang berlari dan berteriak seperti orang gila, sedangkan yang lainnya menghampiri Jackson kecil untuk memeriksa keadaannya.
Polisi membawa Jackson kecil pulang ke Mansion Wijaya menemui Agung.
Saat itulah Jackson kecil baru tahu Agung menghubungi polisi untuk membantu mencari Jackson kecil setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil.
Sewaktu di rumah sakit, Agung membaca sms Susan di handphone Satria sehingga mengetahui Susan menyuruh Satria dan Eva menemuinya di hotel.
Agung segera menghubungi polisi untuk menyelamatkan Jackson kecil. Para polisi yang sedang menuju ke hotel itu, bertemu dengan Susan yang sedang membawa Jackson kecil di tengah jalan.
Susan berhasil di tangkap dan di masukkan ke rumah sakit jiwa. Susan menjadi gila karena kematian Satria.
***
Selamat malam readers.
Jangan lupa baca kelanjutan ceritanya besok ya.
Thank You
UP 2 BAB UP 2 BAB UP 2 BAB
UP 2 BAB UP 2 BAB UP 2 BAB
__ADS_1
UP 2 BAB UP 2 BAB UP 2 BAB