
***Kamar tidur Jackson Wikaya***
Jackson berusaha tidur di atas tempat tidurnya. Karena sakit di punggung dan pinggangnya membuat Jackson tidak bisa tidur lelap dan terbangun beberapa kali.
"Semua gara-gara Rossy!" kata hati Jackson.
Jika saja Rossy tidak mencabut rambutnya maka mereka berdua tidak akan berdebat yang mengakibatkan tragedi rambut Rossy nyangkut di kancing bajunya.
Sampai sekarang pun Jackson tidak tahu alasan jelas mengapa dirinya menolong Rossy secara spontan sewaktu melihat kepala wanita muda itu hampir menyentuh lantai.
Mata Jackson memandang langit-langit kamar tidurnya sambil memikirkan perkataan Felix tentang cedera di pinggangnya.
Jackson tahu dirinya harus menjaga kesehatannya dan tidak boleh melakukan aktivitas yang berat sehingga memutuskan akan mengambil cuti dua hari.
Selama dua hari ini Jackson akan beristirahat total di Mansion Wijaya dengan harapan semoga pinggangnya bisa cepat sembuh karena pada hari ketiga dirinya harus menghadiri rapat direksi di Perusahaan Wijaya.
Beberapa saat kemudian Jackson merasakan keinginan untuk buang air kecil dan berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya tetapi tidak berhasil.
"Sudahlah. Aku pasti bisa menahannya," kata hati Jackson.
Jackson tidak menyangka semakin di tahan malahan membuat keinginannya untuk buang air kecil semakin kuat.
Jackson menyalakan lampu tidur yang berada di atas meja nakas di samping tempat tidurnya. Lalu tangannya meraba-raba di atas meja nakasnya untuk mengambil handphonenya.
Jackson mencari nomor kontak Pak Lesmana. Sewaktu ingin menekan panggilan ke Pak Lesmana, Jackson teringat akan ekspresi wajah Pak Lesmana yang kesakitan sambil memegang pinggangnya tadi.
Jackson mengurungkan niatnya untuk menelepon ke Pak Lesmana dan akhirnya menekan nomor handphone Rossy.
***Kamar tidur Rossy Hartono***
Rossy yang sudah tertidur lelap di bangunkan oleh suara dering panggilan masuk di handphonenya.
Rossy tidak mengangkat teleponnya karena tahu dari bunyi dering handphonenya, panggilan telepon itu bukan dari orang terdekatnya.
Malahan Rossy menarik selimutnya untuk menutupi wajah dan tubuhnya dengan erat.
Nomor handphone Kelvin, Chandra, dan Michelle sudah di setting bunyi ringtone yang sama di handphone Rossy.
Suara dering panggilan masuk berbunyi terus menerus tanpa henti sehingga membuat Rossy kesal dan mengangkat telepon itu.
"Siapa sih? Kamu tahu jam berapa sekarang?" teriak Rossy tanpa melihat nama penelepon di layar handphonenya.
"Rossy! Ke kamarku sekarang!" perintah Jackson dan menutup sambungan telepon.
Mata Rossy yang terpejam menjadi terbuka lebar dan melihat jam yang tertera di handphonenya.
"Crazy man! Sudah jam satu malam. Masa aku harus menjadi asisten pribadinya dua puluh empat jam?" keluh Rossy. Akan tetapi, wanita muda itu tidak berani menolak perintah Jackson dan segera keluar dari kamarnya menuju kamar tidur Jackson.
Baru saja Rossy berjalan beberapa langkah meninggalkan kamarnya, Rossy berbalik kembali ke dalam kamarnya lagi.
Rossy baru sadar dirinya berpenampilan asli dan belum membuat wajahnya menjadi jelek.
Rossy duduk di depan cermin dan mengacak-acak rambutnya dengan kedua tangannya.
"Aduh! Aku harus merias wajahku menjadi jelek lagi?" kata Rossy.
__ADS_1
Rossy melihat wajahnya di depan cermin sambil memikirkan cara untuk membohongi Jackson.
Mata Rossy tertuju ke benda yang berada di atas meja dan tersenyum kecil.
"Aku bisa memakai ini di wajahku," kata Rossy.
***Kamar tidur Jackson Wijaya***
Jackson sedang mengetuk-ngetuk jari tangannya di meja nakasnya sambil menunggu Rossy datang .
Mata Jackson terpejam untuk menahan emosinya karena tadi Rossy tidak mengangkat teleponnya segera.
Padahal Jackson sudah pernah berpesan kepada Rossy untuk mengangkat teleponnya secepat mungkin.
Jackson tidak membuka matanya ketika mendengar dengan jelas suara pintu kamar terbuka dan suara kaki yang menuju ke arahnya.
Jackson ingin membalas Rossy dengan cara mengacuhkannya.
Rossy berdiri di depan Jackson tanpa berani berbicara sepatah kata pun.
Suasana hati Jackson menjadi lebih baik karena merasa berhasil membalas Rossy.
"Tuan Jackson. Ada apa mencariku?" tanya Rossy setelah menunggu beberapa saat.
Jackson membuka matanya dan melihat Rossy yang berdiri di samping tempat tidurnya.
"WHAT THE HE..."
Rossy memakai sheet mask di wajahnya dan karena terkena pantulan cahaya lampu di atas meja nakas membuat Jackson berteriak terkejut. Ditambah lagi rambut panjang Rossy yang tergerai dan melambai-lambai.
#Sheet mask adalah masker wajah berbentuk lembaran yang terbuat dari serat alami, seperti katun#
###Sorry ya readers. Author tidak mendapatkan gambar cewek yang memakai sheet mask dengan rambut panjang yang tergerai. He He He ###
"Apa yang kamu pakai di wajahmu malam-malam? Kamu bisa membuat orang pingsan melihat penampilanmu," kata Jackson dengan ketus.
" Tuan Jackson. Ini adalah masker wajah," jawab Rossy.
Rossy sengaja memakai sheet mask di wajahnya sehingga Jackson tidak bisa melihat jelas wajah aslinya.
"Kenapa kamu malam-malam pakai masker wajah?" tanya Jackson.
"Kenapa pula kamu malam-malam memanggilku?" Rossy menggerutu di dalam hatinya.
"Aku selalu menggunakan masker wajah sebelum tidur tuan Jackson," jawab Rossy.
"Lepaskan sheet masknya!" perintah Jackson.
"Tidak bisa tuan Jackson. Sheet mask ini harus di pakai dua puluh menit supaya hasilnya maksimal. Aku kan kepingin menjadi cantik juga." Rossy berusaha mencari alasan untuk menolak permintaan Jackson.
"Dia pasti merasa risih karena harus berhadapan denganku yang tampan setiap hari sehingga berusaha keras untuk menjadi cantik," kata hati Jackson.
Jackson sangat percaya diri dan yakin dengan pemikirannya yang narsis sehingga tidak memaksa Rossy untuk melepaskan sheet masknya lagi.
__ADS_1
"Papah aku berdiri!" perintah Jackson ke Rossy.
Rossy teringat akan perkataan Felix bahwa Jackson tidak boleh banyak bergerak sehingga mencoba membujuk Jackson.
"Tuan Jackson ingin melakukan apa? Aku bisa membantumu melakukannya," kata Rossy.
Jackson menatap tajam ke wajah Rossy yang di tutupi sheet mask.
"Aku ingin buang air kecil. Kamu bisa menggantikanku melakukannya?" tanya Jackson dengan ketus.
"Tidak bisa tuan Jackson. Aku akan memapahmu ke kamar mandi sekarang," jawab Rossy.
Dengan perlahan dan berhati-hati Rossy memapah Jackson turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Lengan Jackson berada di atas pundak Rossy.
Sewaktu di dalam kamar mandi dan berdiri di depan toilet bowl, Rossy membalikkan badannya membelakangi Jackson dengan lengan pria itu masih berada di atas pundaknya.
Rossy tidak berani meninggalkan Jackson sendirian di dalam kamar mandi karena takut Jackson akan terjatuh dan menyebabkan cedera di pinggangnya semakin parah.
"Tuan Jackson bisa buang air kecil sekarang," kata Rossy sambil menunduk menatap jemari kakinya sendiri.
Jackson pun merasa lega karena Rossy inisiatif membalikkan badannya sendiri.
Dengan menahan rasa malu, Jackson mulai buang air kecil ke dalam toilet bowl.
Sambil menunggu Jackson buang air kecil, Rossy bernyanyi lagu 'pipis poopy dulu' di dalam hatinya.
Lagu 'pipis poopy dulu' sering di nyanyikan oleh Rossy ketika melatih Kelvin untuk buang air kecil dan buang air besar. Rossy mendapatkan lagu ini dari youtube.
Pipis poopy dulu, malam sebelum tidur
Pipis poopy dulu, pagi sebelum pergi Pipis poopy di kloset, di kamar mandi
Pipis poopy di kloset, duduk atau berdiri
Habis pipis, siram kloset dengan air Habis poopy, cebok pakai air dan sabun
Habis pipis, cuci tangan dengan sabun
Habis poopy, lap tanganmu dengan handuk"
#Readers yang mempunyai anak kecil dirumah, pasti pernah mendengar lagu ini ^~^ #
Rossy mengulang-ulang lirik lagu 'pipis poopy dulu' di dalam hatinya sambil menunggu Jackson.
"Sudah!" Suara Jackson membuyarkan nyanyian di dalam hati Rossy.
***
Selamat siang para pembaca setia Novel Anak Genius : CEO & His Private Chef.
Hari ini author akan up dua bab ya. Sambil menunggu bab berikutnya yang sedang author kerjakan dan ketik ceritanya, readers bisa mencoba menyanyikan lagu 'pipis poopy dulu' seperti Rossy 😄☺️
Jangan lupa klik 'like' ya setelah membaca cerita ini.
Thank You
Salam sayang dari Author LYTIE
__ADS_1