Anak Genius : CEO & His Private Chef

Anak Genius : CEO & His Private Chef
BAB 126. Keluarga baru


__ADS_3

**Kamar hotel***


Susan mengeluarkan satu map file dari dalam tas nya dan meletakkannya ke atas meja dengan hati-hati.


Michael kecil bisa melihat dengan jelas senyuman lebar di wajah Susan ketika melihat map file  itu  sehingga Michael kecil menduga isi map file itu pastilah sangat berarti bagi Susan.


"Jackson. Kamu sudah kenyang?" tanya Susan.


"Sudah ibu," jawab Michael kecil.


Susan berjalan ke arah tempat tidur dan  memesan dua piring steak sapi saus barbeque melalui telepon kamar hotel yang berada di samping tempat tidur.


Michael kecil melihat dengan saksama anak laki-laki yang sedang tertidur dan terikat di kursi. Tangan anak laki-laki itu tidak terikat sehingga Michael kecil menduga Susan memesan steak sapi saus barbeque untuk di makan oleh anak laki-laki itu.


Beberapa saat kemudian anak laki-laki itu bangun dan melihat sekeliling kamar hotel. Tatapan mata anak laki-laki itu sangat bingung.


Michael kecil melihat Susan meletakkan kedua piring steak sapi saus barbeque di atas meja dan meminta anak laki-laki itu makan salah satu steak sapi saus barbeque itu.


"Benar dugaanku. Ibu memberinya makan karena takut dia kelaparan menunggu ibunya datang," kata hati Michael kecil.


Anak laki-laki itu makan steak sapi saus barbeque itu menggunakan garpu dan pisau yang berada di tangannya.


Michael kecil tahu anak laki-laki itu pasti sudah sering makan makanan enak karena mahir menggunakan pisau dan garpu di tangannya.


"Dia pasti sangat kelaparan. Steak sapi saus barbeque yang begitu banyak bisa di habiskan olehnya," kata hati Michael kecil ketika melihat anak laki-laki itu menghabiskan semua steak sapi saus barbegue yang berada di piringnya.


Michael kecil merasa kagum dengan selera makan anak laki-laki itu yang sangat baik, lalu kejadian yang terjadi selanjutnya membuat Michael kecil terkejut dan merasa takut.


Michael kecil melihat dengan matanya sendiri Susan memaksa anak laki-laki itu memuntahkan steak sapi saus barbeque yang sudah di habiskan oleh anak laki-laki itu.


Anak laki-laki itu memuntahkan semuanya ke atas piring kosong di hadapannya.


Michael kecil merasa kasihan kepada anak laki-laki itu dan tidak bisa melakukan apa pun untuk mencegah Susan.


Michael kecil mengira Susan melakukan hal itu karena penyakitnya kambuh lagi.


Sewaktu di tempat kost, Michael kecil sering melihat emosi Susan yang berubah-ubah dengan cepat dan bertambah buruk setiap hari, tetapi Susan tidak pernah menyakitinya sama sekali.


Ketika Susan meminta anak laki-laki itu untuk makan steak sapi saus barbeque lagi, Michael kecil berdiri dari tempat duduknya dan ingin mencegah Susan.


Michael kecil semakin ketakutan dan mengurungkan niatnya ketika Susan berteriak histeris dan memaksa memasukkan steak sapi saus barbeque itu ke dalam mulut anak laki-laki itu.


Pada saat itu Michael kecil merasakan tidak mengenal sama sekali sosok ibu kandung yang selama ini selalu menemani dan menjaganya dengan sepenuh hati.


Michael kecil tidak percaya dengan penglihatannya dan menyangkal ibu kandungnya bisa bersikap kejam terhadap anak laki-laki yang seumuran dengannya.


Michael kecil hanya bisa duduk terpaku dan melihat semua hal yang di lakukan oleh Susan tanpa bisa mencegahnya.


Michael kecil mendengar Susan memberi perintah kepada anak laki-laki itu.


"Habiskan steak ini! Kalau tidak, aku akan memesan sepuluh piring lagi dan memaksamu menghabiskan semuanya," kata Susan.


"Makanlah! Ku mohon makanlah. Kalau tidak ibu pasti akan memesan sepuluh piring steak sapi saus barbeque untukmu," kata hati Michael kecil.


Michael kecil tahu jelas Susan sedang lepas kendali sekarang dan hanya tenang jika anak laki-laki itu melakukan perintah Susan.


Michael kecil merasa lega karena anak laki-laki itu tidak melawan Susan lagi dan memakan habis semua steak sapi saus barbeque dengan tangannya.


Wajah Michael kecil menjadi pucat ketika anak laki-laki itu memuntahkan semua makanannya tanpa di perintah oleh Susan  dan hal itu malahan membuat Susan tertawa keras dan menjadi lebih tenang.


Suasana kamar hotel menjadi tenang. Susan menepati janjinya dan tidak lagi memesan sepuluh piring steak sapi saus barbeque.


Anak laki-laki itu sangat tegar dan tidak menangis lagi. Michael kecil menunduk dan tidak berani melihat ke arah anak laki-laki itu. Michael kecil merasa malu karena tidak berani menolongnya tadi.


Ketenangan di dalam kamar tidaklah berlangsung lama. Dua jam kemudian Susan mulai gelisah lagi.


Susan berjalan mondar mandir di dalam kamar hotel sambil menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai. Sesekali Susan melirik ke arah anak laki-laki itu yang sedang duduk tenang dan menunduk.


Michael kecil khawatir Susan akan menyiksa anak laki-laki itu lagi dan bertekad dalam hatinya akan melindungi anak laki-laki itu.


Michael kecil tidak mau Susan menjadi wanita yang kejam dan suka menyiksa anak. Michael kecil ingin Susan tetap menjadi ibunya yang baik dan menyayanginya.


Ketika Susan bersikap histeris setelah menelepon dan berlari keluar dari kamar hotel sambil menarik anak laki-laki itu, Michael kecil sangat syok karena Susan melupakan dirinya.


Michael kecil berlari keluar dari kamar hotel untuk mengejar Susan  dan anak laki-laki itu, tetapi mereka berdua sudah menghilang dari hadapannya.


Kedua pipi Michael kecil basah oleh air matanya yang bercucuran dengan deras.


Michael kecil sama sekali tidak bisa menemukan Susan dan juga tidak tahu dirinya sedang berada di mana. Bahkan untuk pulang ke tempat kostnya yang terpencil, Michael kecil sama sekali tidak tahu arah jalan menuju tempat kost itu.


Michael kecil tidak bisa kembali ke dalam hotel karena dia melihat ada beberapa pria berpakaian polisi berada di dalam hotel itu.


Michael kecil mempunyai firasat buruk bahwa polisi itu pasti akan menangkapnya sehingga Michael kecil berlari tanpa arah di jalanan.


Mulai saat itulah Michael kecil hidup di jalanan dan menjadi pengemis selama dua bulan lebih.


Selama menjadi pengemis, Michael kecil selalu meminta-minta di sekitar hotel itu dengan harapan bisa menemukan sosok Susan.


Michael kecil yakin Susan pasti akan mencarinya ketika menyadari dia menghilang.


Michael kecil tidak pernah putus asa dan optimis dirinya bisa  berkumpul kembali dengan Susan.


Keinginan Michael kecil terkabul ketika sebuah mobil mewah berhenti di depannya.


Seorang wanita turun dari mobil itu dan berjalan ke arah Michael kecil.

__ADS_1


Wanita itu melihat Michael kecil dengan tatapan kasihan.


"Nak. Ayo ikut tante," ajak wanita itu.


Suara wanita itu sangat lembut dan menenangkan hati Michael kecil. Michael kecil tidak menolak ajakan wanita itu dan ikut masuk ke dalam mobil mewah.


Wanita itu membawa Michael kecil pulang ke sebuah rumah yang besar dan  mengandeng tangan Michael kecil ke ruang makan.


Wanita itu tidak merasa risih dan jijik dengan keadaan Michael kecil yang dekil, kumuh, dan bau karena tidak pernah mandi selama menjadi pengemis.


Beberapa saat kemudian semangkuk bubur ayam yang hangat di hidangkan di depan Michael kecil dan membuat perutnya berbunyi dengan keras.


"Nak. Ayo cuci tangan dulu sebelum makan," ajak wanita itu dan mengandeng Michael berjalan menuju toilet.


Di dalam toilet, wanita itu menggunakan handuk hangat mengelap wajah Michael kecil dengan lembut dan mencuci bersih tangan Michael kecil yang hitam dan kotor dengan sabun.


Beberapa saat kemudian wanita itu membawa Michael kecil kembali ke ruang makan.


"Nak. Makanlah bubur hangat ini," kata wanita itu.


"Terima kasih tante," jawab Michael kecil dan makan bubur ayam di hadapannya dengan lahap.


Wanita itu duduk dengan tenang di samping Michael kecil.


Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki menuju ruang makan.


"Arum. "


"Mama."


Seorang pria dan anak laki-laki  berjalan masuk ke dalam ruang makan dan memanggil wanita yang sedang duduk di samping Michael kecil.


"Kalian sudah pulang. Bagaimana raftingnya hari ini? Pasti sangat seru," kata Arum sambil tersenyum melihat dua jagoannya.


Salim menganggukkan kepalanya dan duduk di samping Arum.


"Seru sekali," ucap Dilan sambil ikut duduk di samping papa nya.


Dilan Adinata, berusia sepuluh tahun merupakan putra satu-satunya dari Arum Rahmadani dan Salim Adinata.


Beberapa saat kemudian dua mangkuk bubur ayam hangat pun di hidangkan di hadapan Salim dan Dilan.


Mereka berdua makan dengan tenang tanpa menanyakan asal usul Michael kecil yang sedang makan bubur ayam di ruang makan.


Mereka berdua mendukung apa pun yang di lakukan oleh Arum. Setelah Michael kecil menghabiskan bubur ayamnya, Arum menggengam tangan kanan Michael kecil dengan lembut.


"Nak. Di mana mama dan papa mu? Kenapa kamu bisa menjadi pengemis di jalanan?" tanya Arum.


Pakaian yang di kenakan oleh Michael adalah pakaian mahal dan bermerek. Arum mengenali merek pakaiannya karena  semua pakaian Dilan menggunakan merek ini.


"Tante bisa menolongku menemukan ibu?" tanya Michael kecil.


"Tentu saja bisa. Siapa nama ibumu dan di mana tempat tinggalmu? Tante akan mengantarmu ke sana," jawab Arum.


Michael kecil terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Arum karena Michael kecil sama sekali tidak tahu alamat tempat kost nya.


Michael kecil hanya mengingat nama Mansion Wijaya, yang selalu di sebut-sebut oleh Susan. Akan tetapi, Michael kecil tidak mau ke Mansion Wijaya karena merasa yakin Susan pasti tidak akan ada di sana.


Michael kecil teringat akan amplop laporan rumah sakit Susan yang berada di dalam ranselnya dan mengeluarkannya dengan cepat dari dalam ranselnya.


"Tante. Ibuku sakit. Ini laporan rumah sakitnya. Aku tidak tahu ibu sakit apa. Bisa kah Tante memberitahuku?" tanya Michael kecil.


Arum membuka amplop itu dan membacanya. Raut wajah Arum menjadi tegang, lalu Arum menyerahkan laporan rumah sakit itu ke Salim.


"Aku akan menelepon sebentar," ucap Salim setelah membaca laporan rumah sakit itu.


Tiga puluh menit kemudian, Salim kembali ke ruang makan dan menghela napas panjang.


"Nak. Nama ibumu Susan? " tanya Salim.


"Iya Om," jawab Michael kecil sambil menganggukkan kepala dengan keras.


Michael kecil yakin Salim sudah berhasil menemukan keberadaan Susan.


"Om tahu kamu masih kecil dan mungkin tidak bisa memahami semua hal yang akan Om katakan sekarang, tetapi Om rasa kamu mempunyai hak untuk mengetahui kebenaran," kata Salim.


"Salim!"


Arum berfirasat Salim akan mengatakan berita buruk ke Michael kecil sehingga Arum berusaha mencegahnya.


"Tidak apa-apa Tante. Aku mau mendengarkan semuanya dari Om," ucap Michael kecil.


"Ibumu menderita penyakit tumor otak yang sangat parah dan hanya bisa bertahan hidup selama enam bulan saja," kata Salim.


Michael kecil terkejut dan syok dengan perkataan Salim.


Ternyata alasan Susan membawanya ke Mansion Wijaya karena Susan akan meninggal tidak lama lagi sehingga ingin ada yang menjaga dan merawat Michael kecil setelah kematiannya.


Mata Michael kecol berkaca-kaca menahan air mata nya.


"Om. Di mana ibuku  sekarang?" tanya Michael kecil.


"Nak. Kamu harus tegar mendengar berita ini. Ibumu sudah meninggal karena bunuh diri di rumah sakit jiwa," jawab Salim.


"Tidak! Tidak mungkin! Ibu! Ibu! Aku mau ibuku!"

__ADS_1


Michael kecil berteriak keras dan menangis tersedu-sedu.


Arum segera memeluk Michael kecil dengan erat sambil menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkannya. Setelah menangis lama, Michael kecil tertidur dalam pelukan Arum.


Arum ingin mengendong Michael kecil ke kamar tamu.


"Arum. Aku yang gendong saja," kata Salim sambil mengendong Michael kecil ke kamar tamu.


"Dilan. Sudah waktunya tidur," ucap Arum.


"Baik mama," jawab Dilan dan mencium pipi Arum sebelum menuju kamar tidurnya.


Dilan merasa kasihan dengan Michael kecil yang kehilangan ibunya di usianya yang masih kecil.


Arum menyusul Salim ke kamar tamu. Michael kecil sudah terbaring di atas tempat tidur.


Arum memegang pipi Michael. "Nak. Kamu harus tabah," kata Arum.


Beberapa saat kemudian Arum melihat ke arah Salim.


"Salim. Kenapa ibunya bisa bunuh diri di rumah sakit jiwa? Apa yang sudah terjadi ?" tanya Arum.


Arum yakin Salim pasti sudah mendapatkan semua informasi tentang ibu Michael kecil dengan kekuasaannya.


Salim tidak pernah menutupi apa pun dari Arum.


"Kamu tahu Agung Wijaya bukan? Cucunya,Jackson Wijaya di culik oleh Susan. Susan meminta Satria Wijaya dan istrinya menemuinya di hotel dan mereka berdua meninggal dunia dalam kecelakaan mobil. Polisi berhasil menemukan Jackson dan menangkap Susan. Susan menjadi gila sehingga di masukkan ke rumah sakit jiwa. Dua bulan kemudian Susan bunuh diri di sana," jawab Salim.


Arum sangat syok setelah mendengar perkataan Salim dan menatap Michael kecil yang sedang tidur dalam waktu yang lama.


"Salim. Aku ingin mengadopsi anak ini," ucap Arum.


"Baiklah.  Besok kita akan menanyakannya dulu apakah bersedia menjadi anak kita," kata Salim.


Salim tidak pernah menolak permintaan Arum.


Arum menganggukkan kepalanya dan bergandengan tangan dengan Salim meninggalkan kamar tidur mereka.


Setelah mereka berdua pergi, mata Michael kecil terbuka lebar dan air mata mengalir dengan deras dari kedua sudut matanya.


Michael kecil mendengar jelas semua pembicaraan antara Salim dan Arum.


Michael kecil tidak menyangka selain Susan meninggal, ayah kandungnya dan wanita yang di lihatnya di Mansion Wijaya juga meninggal.


Sekarang Michael kecil mengetahui semuanya. Anak laki-laki yang di ikat di kursi itu adalah putra ayahnya juga.


Michael kecil hanya bisa menangis di atas tempat tidur dan berjanji dalam hatinya mulai besok dirinya harus tegar dan tidak boleh menangis lagi.


***


Keesokkan harinya Arum datang ke kamar Michael kecil dan memandikannya.


Arum mengandeng tangan Michael kecil yang sudah berpakaian rapi ke ruang tamu.


Salim dan Dilan sudah berada di ruang tamu menunggu kedatangan mereka.


"Nak. Siapa namamu?" tanya Salim.


"Namaku... Michael."


Michael kecil sama sekali tidak mau menggunakan nama Jackson lagi dan mengarang nama baru untuk dirinya sendiri.


"Michael. Mau kah kamu menjadi anak tante?" tanya Arum sambil tersenyum lembut.


"Mau!" jawab Michael kecil sambil menganggukkan kepala.


Dilan menghampiri Michael kecil dan merangkul pundaknya.


"Adik kecilku. Kamu harus memanggilnya mama bukan tante," kata Dilan.


"Mama!" panggil Michael kecil ke Arum.


"Papa!" panggil Michael kecil ke Salim.


"Kak...?"


"Panggil aku Kak Dilan," ucap Dilan sambil tersenyum.


"Kak Dilan!" panggil Michael kecil dengan patuh.


"Mulai sekarang namamu adalah Michael Adinata," kata Salim.


***


Selamat malam readers.


Bab ini lebih panjang ya karena author nge halu nya kejauhan 🤣🤣🤣.


Semoga para readers menikmatinya ya dan semakin mendukung novel ini.


Besok Jackson akan hadir kembali di dalam cerita ya 😘😘😘


Salam sayang


AUTHOR : LYTIE

__ADS_1


__ADS_2