
***Ruang kerja Jackson Wijaya***
Walaupun tubuh lembut Rossy bersentuhan langsung dengan tubuhnya, Jackson tidak bisa merasakan sensasi apapun.
Jackson sedang menahan rasa sakit di dada, pinggang, dan punggungnya.
"Rossy! Kamu mau mengambil nyawaku ya!" geram Jackson sambil menggertakkan giginya.
"Bukan begitu. Ini karena rambutku," sangkal Rossy.
Rossy merasa bersalah ketika melihat wajah Jackson yang semakin pucat.
Rossy tahu Jackson pasti terluka karena menyelamatkannya tadi.
Kalau saja Jackson tidak mengulurkan lengan untuk menahan kepalanya, mungkin sekarang yang terbaring kesakitan di lantai adalah dirinya.
Rossy menggigit bibir bawahnya dan berusaha menarik rambutnya perlahan. Akan tetapi, rambutnya masih saja nyangkut di kancing baju Jackson.
"Tuan Jackson! Tolong tarik rambutku dengan keras,"pinta Rossy.
Rossy sudah pasrah akan rambutnya. Saat ini Rossy lebih mengkhawatirkan keadaan Jackson.
Jackson berpikir ide yang di berikan oleh Rossy tidaklah buruk dan ingin mencobanya.
Sewaktu Jackson ingin mengangkat tangannya untuk menarik rambut Rossy, siku tangannya terasa sakit.
"Sikuku terluka sewaktu jatuh tadi," kata hati Jackson.
"Sudahlah! Aku bukan pria yang kejam dan suka menarik rambut wanita," ujar Jackson.
"Atau kita pakai gunting saja?" tanya Rossy.
"Bagaimana cara kita mengambil gunting?" tanya Jackson dengan ketus.
Wajah Rossy merona merah dan malu karena sudah mengajukan usul yang tidak berguna. Dengan keadaan mereka berdua di lantai saat ini, sangat tidak mungkin bisa mengambil gunting.
"Someone, please help me!" kata hati Rossy
Bersamaan dengan harapan yang Rossy ucapkan di dalam hati, pintu ruang kerja terbuka.
Pak Lesmana berdiri di depan pintu.
"Apa yang terjadi tuan Jackson?" tanya Pak Lesmana sambil matanya memandang kesekeliling ruang kerja dan melihat dengan jelas dua sejoli yang bertumpuk di atas lantai.
Pak Lesmana tidak dapat menahan diri lagi untuk masuk ke dalam ruang kerja Jackson karena mendengar suara minta tolong dari Rossy dan suara benda jatuh yang keras dari dalam ruang kerja.
Pak Lesmana tidak menyangka Jackson yang biasanya terlihat dingin dan tenang bisa bersikap agresif ketika bersama Rossy.
"Ma...maaf tuan Jackson," ucap Pak Lesmana dengan suara terbata-bata dan berniat untuk keluar dari ruang kerja.
Jackson tahu Pak Lesmana sudah salah paham hubungannya dengan Rossy.
"Pak Lesmana. Masuk!" teriak Jackson.
"Baik tuan Jackson," jawab Pak Lesmana dengan patuh.
Pak Lesmana berjalan perlahan mendekati Jackson dan Rossy.
"My wish comes true," kata hati Rossy dengan gembira.
"Pak Lesmana. Tolong ambilkan gunting," pinta Rossy.
__ADS_1
Pak Lesmana terkejut mendengar permintaan Rossy.
"Nona Rossy mau gunting untuk memotong apa?" tanya Pak Lesmana dengan hati-hati.
"Aku akan memotong di bagian yang sakit," ucap Rossy sambil menahan rasa sakit kulit kepalanya yang ketarik.
"Nona Rossy. Tidak semua benda boleh di potong sembarangan." kata Pak Lesmana dengan nada khawatir.
Rossy mengira Pak Lesmana khawatir dirinya akan melukai Jackson ketika memotong rambutnya yang tersangkut di kancing baju Jackson.
"Tenang Pak Lesmana. Aku hanya memotong sedikit saja. Tidak akan melukai tuan Jackson," ucap Rossy dengan yakin.
"Potong sedikit juga tidak boleh. Bagaimana kalau rusak?" kata Pak Lesmana dengan wajah prihatin.
"Tidak apa-apa. Dia bisa tumbuh kembali kok," jawab Rossy.
"Bagaimana bisa tumbuh kembali?" tanya Pak Lesmana.
"Tumbuhnya sangat cepat. Aku sering memotongnya, " jawab Rossy.
"Nona Rossy sering memotongnya?" tanya Pak Lesmana dengan mata membulat besar menatap Rossy.
"Tentu saja!" jawab Rossy dengan enteng.
Pak Lesmana mundur dua langkah sewaktu mendengar perkataan Rossy.
"Tidak ku sangka nona Rossy yang berpenampilan baik dan jujur,bisa memiliki sisi yang kejam," kata hati Pak Lesmana.
Rossy dan Pak Lesmana tidak menyadari wajah Jackson sudah berubah warna menjadi hitam, sehitam wajan di dapur Mansion Wijaya ketika mendengar percakapan antara Rossy dan Pak Lesmana yang tidak nyambung.
Jackson memutuskan mengambil tindakan untuk mengakhiri pembicaraan dan kesalahpahaman yang tidak jelas antara Rossy dan Pak Lesmana.
Rossy berteriak dengan keras sambil menggosok gosok kepalanya yang sakit dengan tangannya.
"Rossy! Berdiri!" perintah Jackson tanpa memedulikan Rossy yang masih meringis kesakitan.
Rossy menatap Jackson dengan mata berkaca-kaca sambil memegang kepalanya, lalu melihat ke arah dada Jackson.
Terlihat dengan jelas sejumput rambutnya menempel di kancing baju Jackson.
"Kenapa kamu menarik rambutku? Aku kan sedang meminta gunting dari Pak Lesmana," ujar Rossy dengan kesal.
"Aku bisa kehabisan nafas ditindih olehmu kalau masih harus menunggu Pak Lesmana mengambil gunting. Cepat berdiri!"
Jackson memberikan perintah kepada Rossy tanpa merasa bersalah.
"Sehelai rambutnya senilai dengan sejumput rambutku." Rossy menggerutu di dalam hatinya sambil bangkit dari tubuh Jackson.
Pak Lesmana menatap Jackson dan Rossy secara bergantian sambil mencerna arti pembicaraan mereka berdua.
"Ternyata nona Rossy ingin gunting untuk memotong rambut ya? tanya Pak Lesmana dengan perasaan lega.
"Tentu saja. Selain untuk memotong rambut, mau digunakan untuk memotong apa?" tanya Rossy dengan polos ke Pak Lesmana.
"Bisa...untuk potong kuku," jawab Pak Lesmana.
"Ohh betul juga ya," kata Rossy.
Pak Lesmana merasa lega karena Rossy mempercayai perkataannya.
Wajah Jackson semakin muram melihat Rossy dan Pak Lesmana mengobrol tanpa memedulikan keberadaannya.
__ADS_1
"Bisakah kalian menghentikan mengobrol dan memapahku dulu?" tanya Jackson.
"Iya tuan Jackson. Apakah tuan Jackson baik-baik saja?" tanya Pak Lesmana dengan nada khawatir melihat Jackson yang berbaring di atas lantai.
"Menurutmu aku kelihatan baik-baik kah?" Jackson bertanya balik ke Pak Lesmana dengan jengkel.
Pak Lesmana menduga Jackson mungkin terkilir di bagian punggung dan pinggangnya sehingga tidak bisa berdiri sendiri.
"Nona Rossy. Mari bantu aku papah tuan Jackson," kata Pak Lesmana.
"Baik Pak Lesmana," jawab Rossy.
Pak Lesmana dan Rossy berada di sisi kiri dan kanan Jackson. Mereka berdua mencoba mengangkat badan Jackson dari lantai.
Sewaktu posisi tubuh Jackson dalam keadaan duduk dan Pak Lesmana serta Rossy ingin memapahnya berdiri, mereka menghentikan kegiatan mereka karena teriakan Jackson.
"STOP!" teriak Jackson sambil meringis kesakitan.
Jackson menutup matanya dan menggigit bibirnya sendiri untuk menahan rasa sakit di tubuhnya.
Pak Lesmana dan Rossy tidak berani bersuara dan menunggu dengan perasaan khawatir.
Perlahan Jackson membuka matanya dan menatap Rossy dengan tatapan tajam.
"Jika tulang belakangku terluka, kamu harus bertanggung jawab," kata Jackson.
"Hah? Tidak mungkin separah itu bukan?" kata Rossy dengan suara kecil.
Pak Lesmana yang mendengar perkataan Jackson pun merasa cemas.
"Mungkin kaki tuan Jackson kram karena kelamaan di lantai sehingga tidak bertenaga," kata Rossy.
"Iya tuan Jackson. Kita coba lagi. Aku akan menggunakan semua tenagaku untuk menarik dengan keras," kata Pak Lesmana.
"Jangan Pak Lesmana. Kita harus pelan-pelan memapah tuan Jackson berdiri. Kita tidak tahu bagian mana yang terluka," saran Rossy.
"Baik nona Rossy," jawab Pak Lesmana.
Rossy dan Pak Lesmana pun mencoba lagi memapah Jackson untuk berdiri dengan menggunakan semua tenaga mereka dan secara hati-hati.
Dengan susah payah akhirnya Jackson berhasil berdiri. Pak Lesmana dan Rossy memapahnya dan berjalan dengan perlahan menuju kamar tidur Jackson.
Kedua lengan Jackson bertumpu pada pundak Pak Lesmana dan Rossy.
Mereka bertiga merasakan perjalanan ke kamar tidur Jackson bagaikan melakukan perjalanan ke luar angkasa yang lama dan ketiganya berkeringat.
Rossy dan Pak Lesmana berkeringat karena kecapekan memapah tubuh Jackson, sedangkan Jackson berkeringat karena menahan rasa sakit di punggung dan pinggangnya.
***
Hi Hi Readers. Terima kasih dukungannya baik berupa vote, like, hadiah maupun komentar positif.
Jangan lupa untuk membaca kelanjutan ceritanya besok ya. Perlu seharian untuk bisa sampai di kamar tidur Jackson. he he he.
Salam sayang
Author : LYTIE
__ADS_1