Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Dua mahluk pengganggu


__ADS_3

Seketika ucapan Rifki tersebut membuat kedua pipi Nadhira memerah tomat karena malunya, entah sejak kapan suaminya itu berubah menjadi seperti itu, dan Nadhira berpikir bahwa mungkin ini adalah faktor pernikahan hingga membuat Rifki mendadak seperti itu kepadanya.


Tidak mau berlama lama lagi membuat Nadhira segera bangkit dari tidurnya dan langsung menuju kekamar mandi, berada berlama lamaan dihadapan Rifki membuat jantungnya sama sekali tidak aman hingga membuat kedua pipinya terasa panas.


"Apa anda butuh bantuan Nona? Saya juga bisa kok membantu anda selama 24 jam penuh termasuk juga melayanimu dikamar mandi dan diranjang" Tanya Rifki.


"Tidak!"


Melihat itu membuat Rifki terkekeh kekeh karena tingkah Nadhira yang malu malu tersebut, entah sejak kapan dia menjadi penggombal handal seperti ini, memang bakat yang tidak bisa diragukan lagi baginya itu.


Dan akhirnya hal itu membuat Nadhira segera menuju kekamar mandi, ia pun langsung melepas bajunya dan mengguyur tubuhnya dengan dinginnya air dipagi hari tersebut, Rifki menunggunya sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya.


"Rif!!" Teriak Nadhira dari dalam kamar mandi.


Teriakan tersebut membuat Rifki langsung menaruh ponselnya dan berlari kearah pintu kamar mandi, Rifki bersiap untuk membuka pintu kamar mandi itu untuk memeriksa keadaan Nadhira.


"Jangan masuk! Aku tidak menyuruhmu masuk kedalam sini!" Teriak Nadhira lagi sambil bersandar dibalik pintu agar Rifki tidak bisa masuk.


"Kenapa berteriak teriak seperti itu? Kau tidak apa apa kan didalam? Siapa yang berani menakut nakuti dirimu itu? Ya wajarlah aku langsung panik untuk masuk" Tanya Rifki.


"Mencuri kesempatan dalam kesempatan saja kau, tetap diluar jangan masuk"


"Lalu kenapa teriak seperti itu kalo bukan nyuruh aku untuk masuk kedalam?"


"Aku lupa membawa handuk, tolong ambilkan"


"Ngak mau, ambil sendiri" Jawab Rifki acuh tak acuh sambil berjalan menjauh dari pintu kamar mandi.


"Ya udah ngak usah keluar, dikamar mandi saja" Putus Nadhira.


"Sampai kapan dikamar mandi? Emang betah didalam sana terus terusan?"


Bener juga apa yang dikatakan oleh Rifki, mau sampai kapan dirinya berada didalam kamar mandi seperti ini? Apalagi dengan kondisi tubuh yang tidak memakai baju tersebut akan mudah membuatnya kedinginan begitu saja.


"Tolong ambilin handukku sama bajuku Rif"


"Minta tolongnya ngak bisa romantis dikit apa? Kalo seperti itu sia sia dong aku bergerak buat ngambilin apa yang kau minta"


"Rifki sayang, tolong ambilin bajuku dong, aku kedinginan didalam, pliss" Ucap Nadhira yang dibuat dengan nada sedikit merayu dan manja.


"Nah gitu dong baru sayangnya Rifki, lihatlah diatas rak dekat bak mandi, aku sudah menaruh baju gantimu disana, apa kau tidak melihatnya Dhira sayang?" Ucap Rifki.


Nadhira pun bergegas menuju kearah yang dimaksud oleh Rifki, ia begitu terkejut ketika pakaian dan handuknya telah tertata rapi disana, ia pun senyum senyum sendiri melihatnya.


"Sejak kapan ini ada disini? Kenapa aku tidak melihatnya sebelumnya?" Guman Nadhira pelan.


Nadhira bersiap siap untuk mengambil pakaiannya tersebut akan tetapi dirinya begitu terkejut ketika melihat pakaian yang diambilkan oleh Rifki itu, benar benar gaub yang tanpa lengan dan bahkan panjangnya hanya sampai dipahanya.


"Resek banget sih nih anak, pakai ngak ya, handuknya juga kecil banget, masak iya aku keluar dengan handuk sekecil ini untuk mengambil pakaian yang lainnya?"


Nadhira pun terlihat sedikit sebal dengan apa yang dilakukan oleh Rifki kepadanya saat ini, Rifki yang mendengar gumanan Nadhira dari balik pintu itu pun hanya bisa menahan tawanya.


Tok tok tok


"Dhira harus berapa lama lagi aku menunggumu? Sebentar lagi waktu subuh akan habis loh jika tidak buru buru sholat"


"Iya benar! Ngak sabaran banget sih"


Nadhira langsung bergegas untuk membalut tubuhnya dengan handuk setelahnya dia langsung memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Rifki untuknya itu dan keluar dengan sebuah senyuman yang sangat merekah indah.


"Apa kau berniat untuk menggodaku dengan pakaian seperti itu Dhira?" Tanya Rifki ketika melihat keluar dari kamar mandi dengan pakaian pendek yang telah ia sendiri siapkan.


"Siapa yang berniat untuk menggodamu? Kau sendiri yang memilihkan pakaian ini untukku, ngak nyadar" Gerutu Nadhira.


"Sama saja Dhira, dengan pakaianmu yang seperti itu membuatku tidak tenang"


"Buruan wudhu sana setelah itu sholat, keburu matahari terbit"


"Aku sudah wudhu dari tadi dikamar sebelah sayang, kenapa harus wudhu lagi? Kan belom batal"

__ADS_1


"Biar pikiranmu jernih"


"Apakah salah menggoda istri sendiri? Buruan pake mukenahmu, kita mulai sholatnya".


Nadhira segera mengambil mukenahnya dan langsung mengenakan mukenah tersebut, ini pertama kali bagi dirinya sholat diimami oleh Rifki, dirinya sendiri yang paling sulit untuk tetap istiqamah dalam sholat subuh pun merasa bahagia kerena ada yang akan membimbingnya mulai saat ini.


Keduanya pun melakukan sholat subuh berjamaah, setelahnya Rifki mengajak Nadhira untuk berzikir dipagi hari, alunan suara Rifki yang merdu dalam berzikir membuat Nadhira merasa tenang dan damai.


Setelah selesai Rifki berbalik arah menatap kewajah Nadhira yang saat ini sedang menatapnya, Nadhira pun menjabat dan mencium tangan suaminya tersebut, sementara Rifki lalu mencium kening Nadhira dengan penuh sayang.


"Aku menginginkanmu pagi ini Dhira, apa kau mau melakukannya bersamaku? Aku sudah tidak tahan lagi, mau melepaskannya sekarang juga, kamu mau ya? Plis" Ucap Rifki sambil merengek kepada Nadhira karena detak jantung yang tidak tenang dengan nafas yang tersengal sengal saat ini.


"Sejak kapan kamu jadi manja seperti ini? Udah kayak anak kecil saja"


"Manjaku hanya kepadamu Dhira" Rifki menyengir bagaikan kuda kearah Nadhira.


"Bisa ditunda dulu? Aku tidak tega melihat wajahmu seperti itu sayang"


"Ngak bisa lagi, apa kau mau menyiksaku? Ayolah Dhira, pliss"


Seketika ucapan Rifki membuat wajah Nadhira terlihat memerah, ia pun melepaskan mukenahnya dan tidak berani untuk menatap wajah Rifki saat ini, detak jantungnya sudah tidak karuan ketika mendengar nafas Rifki yang sedikit memburu.


Sebenarnya Nadhira sedikit takut dengan hal ini dan hal inilah yang dia takutkan sejak kemarin, tapi dia tidak punya pilihan lain untuk menolaknya, ia juga tidak mau kalau ada orang lain yang merebut Rifkinya itu dari dirinya.


"Aku tidak bisa menolakmu Rif, tubuhku sudah menjadi milikmu seutuhnya mulai saat ini" Jawab Nadhira dengan tersipu malu.


"Anak yang baik" Puji Rifki.


"Justru dirimu yang seperti anak kecil bukan aku"


"Kan aku bayi besarmu, jadi wajarlah"


Nadhira pun bangkit dari duduknya untuk berjalan ketepi ranjangnya dan duduk kembali disana, Rifki yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis kearah Nadhira dan ikut serta bangkit dari tikar sajadah menuju ke kasur.


Rifki langsung membaringkan tubuhnya didekat Nadhira, Nadhira pun ikut serta berbaling disebelah Rifki, Rifki melanjutkan aksinya menciumi wajah Nadhira hingga kelehernya.


Lidah Rifki masuk kedalam mulut Nadhira, tak beberapa lama kemudian Nadhira seakan akan tidak bisa bernafas hingga membuat Rifki melepaskan cium*an tersebut.


"Jangan lupa bernafas Dhira, nanti kau bisa lewat" Ucap Rifki sambil memandangi wajah Nadhira.


"Aku belum terbiasa soal itu, kau tidak mengizinkan diriku mengambil nafas" Ucap Nadhira.


"Aku tidak melarangmu bernafas, aku pun sama, ini adalah pertama kalinya aku melakukan hal itu hanya denganmu, kalo kau lewat nanti apa kau tidak cemburu kalo aku bersama orang lain?"


"Berani kau melakukan itu, ku gentayangi dirimu seumur hidup!" Ucap Nadhira sambil menekan kata kata terakhirnya.


"Ngak jadi plis jangan, mending aku sama kamu aja deh daripada harus digentayangi seperti itu"


"Anak pinter, tapi kenapa kau terlihat seperti sudah terbiasa melakukannya?" Mendengar pertanyaan itu membuat Rifki tertawa kecil.


"Aku sudah lama tinggal diluar negeri dan aku sudah terbiasa melihat itu disetiap ujung jalanan yang ada disana Dhira, ini pertama kalinya aku melakukan hanya dengan dirimu"


"Benarkah? Hanya denganku?"


"Mana mungkin aku berbohong denganmu, aku tidak akan bisa melakukan hal itu bersama yang lainnya selain dirimu Dhira, ikuti saja apa yang aku lakukan dan jangan lupa bernafas"


"Baiklah".


Rifki pun melanjutkan aksinya dan memegangi tengkuk Nadhira untuk memperdalam apa yang dilakukan itu, Nadhira memejamkan matanya dan sesekali mengikuti pergerakan dari Rifki tersebut.


Rifki menggerakkan tangannya untuk memeluk tubuh Nadhira, nafasnya benar benar tidak normal saat ini dan terlihat sangat berat, apalagi dirinya yang sudah tidak mampu lagi untuk dapat mengendalikan hasratnya tersebut.


Tiba tiba Nimas dan Raka muncul disaat yang tidak tepat, melihat itu membuat Nimas berteriak dan sontak membuat Rifki dan Nadhira menghentikan aksi mereka berdua, keduanya pun bisa melihat Nimas akan tetapi hanya Rifki yang bisa melihat Raka disebelah Nimas.


"Argh... Maaf telah menganggu ritual suci kalian berdua, kalian telah merusak mata suciku ini, ck.. ternyata aku masuk disaat yang tidak tepat" Ucap Nimas sambil menutupi wajahnya.


Rifki mengusap bibirnya dengan kasar yang saat ini sedang belepotan dengan lipstik Nadhira, teriakan itu rasanya sangat memancing emosinya saat ini, apalagi dirinya yang harus mati matian buat degup jantungnya kembali normal.


Rifki menatap sebal dengan satu mahluk yang berteriak tersebut yang berhasil mengusik dirinya, sementara Raka yang melihat tatapan tajam dari Rifki pun langsung berjalan kearah punggung Nimas untuk menyembunyikan dirinya dari tatap tajam tersebut.

__ADS_1


"Apakah dia marah?" Bisik Raka kepada Nimas.


"Kau sih, kan sudah aku bilang kita datang diwaktu yang sangat tidak tepat" Gerutu Nimas pelan dan hanya didengar oleh Raka.


"Kami merusak? Bukannya kalian berdua yang tiba tiba muncul begitu saja disini? Kalian yang merusak suasana saja!" Ucap Rifki dengan geramnya kepada kedua mahluk gaib itu.


"Kenapa tidak memberitahu kalo kalian mau melakukan itu? Seharusnya pasang tulisan didepan pintu biar kami tau" Gerutu Nimas.


"Emang kalian masuk dari mana? Apa lewat pintu? Tidak kan, jadi apa gunanya aku memasang tulisan didepan pintu? Biar semua orang tau kalo kami mau buat anak? Menganggu saja" Ceplos Rifki begitu saja


"Iya deh iya maaf, aku cuma mau memberikan ini" Nimas menggerakkan tangannya dan mengeluarkan sebuah benda dari udara kosong.


"Benda apa ini?" Tanya Rifki sambil menerima benda tersebut.


"Apa kau sudah buta hem? Sejak kapan kau buta? Udah tau itu adalah sebuah kalung dan bandul bunga mawar, masih aja nanya".


"Idih marah dong, udah serem pake marah lagi tambah serem tau, siapa yang ngak tau kalo ini kalu g woi, aku nanya maksudnya buat apa benda ini? Kenapa diberikan kepada kami?"


"Untuk mengikat kekuatan permata iblis agar tidak menyerang kalian berdua jika melakukan hubungan suami istri, dengan itu kalian bebas melakukan apapun nantinya" Jelas Nimas.


"Dari mana kau dapat ini?"


"Bukan urusanmu"


"Ketemu sama Bebeb ya" Tambah Nadhira yang sejak tadi memperhatikan percakapan keduanya.


"Bebeb pala kau! Dia musuh bebuyutanku"


"Berisik! Sudah ini doang? Keluar sana, ganggu orang saja" Gerutu Rifki.


"Emang pasangan gila! Siapa juga yang mau berlama lamaan disini, merusak mata suciku aja"


"Nah gitu kek dari tadi, sudah kalian keluar sana, jaga diluar jangan sampe ada yang masuk, atau ku masukkan kedalam botol jiwamu itu"


"Sudah dibantu pake ngancam segala lagi, nyuruh nyuruh lagi, emang Ratu iblis sepertiku ini adalah babu kalian? Bukannya berterima kasih malah mengusir kami begitu saja, nyesel aku masuk kedalam sini tadi"


"Apa kalian mau tetap disini dan menyaksikan apa yang kami lakukan nanti?"


"Ogah... Mending aku kembali ke desa Mawar Merah yang lebih damai dan sunyi daripada harus menyaksikan kejadian yang membuat mata suciku ternodai seperti ini"


"Baguslah kalau sadar, cepat pergi sana, jangan lupa jaga diluar sana dan jangan biarkan ada seseorang yang masuk" Usir Rifki.


"Males" Nimas memutar bola matanya menjauh dari tatap muka Rifki, manusia yang paling menyebalkan baginya setelah Dilham.


Nimas dan Raka lalu menghilang begitu saja dari tempat tersebut.


Rifki pun segera memasangkan sebuah kalung yang berbandul bunga mawar tersebut dileher Nadhira, Nadhira tiba tiba saja merasakan sesuatu yang aneh di jantungnya.


"Perasaan apa ini, kenapa aku merasa lebih nyaman setelah memakai kalung ini" Ucap Nadhira sambil memegangi bandul kalung yang berbentuk seperti bunga mawar itu.


"Jangan pernah lepaskan kalung itu Dhira, kau akan selalu aman jika memakainya, mereka yang menginginkan permata itu tidak akan mampu menembus keberadaan dari permata itu."


"Baiklah"


Nadhira memandangi sebuah kalung yang saat ini tengah melilit dilehernya, ia memegang sebuah bandul yang terukir sebuah bentuk bunga dengan hiasan beberapa kristal berwarna merah seolah olah kristal itu membentuk sebuah kelopak bunga mawar.


"Indah sekali Rif" Ucap Nadhira yang masih terkagum kagum dengan bandul kalung itu.


"Sangat indah jika kau yang memakainya Dhira"


Rifki pun kembali menciumi wajah Nadhira dan membenamkan wajahnya dileher istrinya itu, hal itu membuat Nadhira tidak bisa berkata apa apa lagi tentang apa yang tengah dirinya rasakan saat ini.


"Aku takut" Ucap Nadhira lirih.


"Kenapa takut? Aku akan melakukannya dengan pelan sayang, aku tidak akan menyakitimu" Bisik Rifki.


"Janji ya?"


"Iya janji, tapi jika tidak terbawa nafsu"

__ADS_1


__ADS_2