Cinta Terakhir Dalam Hidupku

Cinta Terakhir Dalam Hidupku
Nadhira masih hidup


__ADS_3

Rifki memandangi bandul kalung tersebut dengan perasaan penuh berharap bahwa Nadhira memang masih hidup. Kalung yang diberikan oleh Nimas waktu itu kini terlihat rusak, ia lalu mengambilnya dan menggenggamnya dengan sangat erat seakan akan tengah menggenggam tangan Nadhira.


"Aku merasa curiga bahwa Nadhira memang masih hidup Rif, kalaupun dia sudah tiada mungkin jazadnya akan ditemukan seperti yang lainnya. Tapi aku juga merasa aneh bagaimana bisa hal itu terjadi, padahal tebing tersebut cukup tinggi." Bayu pun melanjutkan perkataannya itu.


"Apa mungkin memang benar bahwa Nadhira masih hidup?"


"Aku juga tidak tau, Rif. Kecil kemungkinan untuk hal itu, tapi tidak ada tanda tanda bahwa Nadhira meninggal ditempat. Jika dia terjatuh dijurang itu pasti kami akan menemukannya setelah memutari tempat itu,"


"Kapan kamu menemukan ini?"


"Sekitar 4 bulan yang lalu, aku ingin memberitahukan ini kepadamu tapi dirimu masih belum siuman waktu itu. Setelah kamu siuman aku ragu untuk memberitahukan hal ini kepadamu karena kondisimu, bahkan kau pun tidak mau bertemu dengan siapapun,"


"Cepat cari dia sampai ketemu, masih ada harapan bahwa dia memang masih hidup. Apapun yang terjadi temukan dia segera,"


"Iya Rif, kami akan berusaha semaksimal mungkin yang kami bisa. Untuk saat ini, sebaiknya kau merawat dirimu karena ketika dia kembali, dia tidak akan sedih melihat kondisimu seperti ini."


"Kau boleh pergi,"


Setelah mengucapkan itu, Rifki kembali menutup pintu kamarnya dan menguncinya dari dalam, dirinya tidak mau diganggu oleh siapapun dan dia tidak mau bertemu dengan siapapun juga.


"Ku harap kabar ini bisa membuatmu lebih baik lagi, Rif. Aku akan berusaha untuk mencari keberadaan Nadhira biar bagaimanapun juga itu, aku tidak ingin sahabatku tersiksa seperti ini."


Bayu lalu meninggalkan tempat tersebut, dan membiarkan Rifki berada didalam kamar itu sendirian. Sementara, Rifki sedang menatap dirinya didepan kaca, dia baru menyadari bahwa tubuhnya terlihat begitu menyedihkan. Ia mencoba untuk tersenyum didepan kaca itu akan tetapi justru air matanya yang mengalir dengan derasnya.


"Dhira, apakah benar kamu masih hidup sayang? Kamu dimana? Jika benar, maka kembalilah dengan segera. Aku sangat merindukan dirimu sayang,"


*****


Disebuah gubuk kecil, sosok seorang wanita tengah terbaring dengan kondisi perut yang sudah membuncit. Dirinya tertidur dengan nyenyaknya hingga tidak menyadari bahwa matahari pun sudah naik ke langit, udara dingin disebuah pedesaan membuatnya semakin nyaman untuk memejamkan matanya.


"Nak bangun, ini sudah siang. Sampai kapan kamu akan tertidur terus seperti ini? Ayo olah raga diluar, biar anak yang ada dalam kandunganmu sehat." Ucap seorang wanita yang tengah membereskan kamar tempat dimana wanita hamil itu terbaring.


"5 menit lagi, Bu. Aku masih ngantuk sekali," Wanita tersebut sedikit terusik dengan suara tersebut dan membuatnya menggeliat diatas kasurnya itu.


"Bangunlah, diluar matahari sudah tinggi. Nanti siang aja tidur lagi, sekarang ayo bangun,"


"Bu, aku ngantuk banget,"


"Ayo bangun, Nak. Bantu Ibu masak banyak hari ini,"


"Masak banyak? Memang Ibu mau masak banyak untuk apa?" Tanya wanita hamil itu sambil membuka kedua matanya dengan lebar.


"Syukuran atas 7 bulannya anak dalam perutmu, apa kau lupa soal itu?"


"Astaga, aku lupa Bu." Dirinya pun buru buru bangkit dari tidurnya akan tetapi sedikit kesusahan karena terhalang oleh perutnya yang sedikit besar.


"Pelan pelan bangunnya, Nak. Ingat didalam perutmu ada seorang anak,"


"Iya Bu."


Wanita tersebut langsung duduk ditepi ranjang yang terbuat dari anyaman bambu itu. Ia memegang perutnya yang membesar dan mengusapnya dengan perlahan lahan, terasa sebuah tendangan dari dalam perutnya hingga membuatnya dirinya tersenyum.


"Bu, dia menendang begitu kerasnya, kayak main sepak bola saja didalam," Ucapnya sambil terkekeh pelan mendengar ucapannya sendiri.


"Mungkin dia merasa senang saat ini, cepat lahir ya Nak. Ibumu sudah menunggu kehadiranmu disisinya," Ucap wanita yang tidak hamil itu sambil mengusap pelan perut wanita hamil itu.


"Dia anak Rifki, Bu. Tak terasa usianya sudah mencapai 7 bulan,"


Iya, wanita itu adalah Nadhira yang tinggal bersama dengan seorang wanita paruh baya dirumah yang sangat sederhana. Nadhira masih hidup, dan dirinya telah diselamatkan oleh Nimas dan juga Dilham.


*Flash back on*


Nadhira terjatuh kedalam jurang tersebut, dirinya sangat pasrah bahwa nyawanya akan berakhir saat itu juga, tapi takdir berkata lain. Sebelum dirinya jatuh terlalu dalam, Nimas mengirimkan sebuah telepati didalam pikirannya untuk memecahkan bandul kalung yang dirinya pakai saat ini.

__ADS_1


Bandul kalung tersebut terbuat dari energi yang ada didalam keris pusaka xingsi, meskipun keris tersebut berada ditubuh Rifki akan tetapi kekuatannya terkumpul kepada bandul kalung yang dipakai oleh Nadhira agar mengikat energi itu sehingga tidak menyakiti keduanya ketika berhubungan suami istri karena terbenturnya kedua energi itu.


Nadhira terus berusaha untuk memecahkan bantul kalung itu sesuai dengan arahan dari Nimas, akan tetapi terasa sangat sulit untuk melakukan itu apalagi dalam kondisinya yang semakin lama semakin mendekat kepada dasar jurang.


Ketika tubuhnya sudah tertutupi oleh gumpalan awan. Nimas, Dilham, beserta Panji pun mencoba untuk menolongnya. Oleh sebab itu, ketika Nadhira terjatuh, kesadaran Rifki pun kembali dengan cepatnya dan dirinya mampu untuk menyaksikan orang yang dicintainya itu terjatuh ke jurang tersebut.


Dilham dan Panji mencoba untuk membuat Nadhira melayang diudara sebelum dirinya benar benar terjatuh, sementara Nimas mencoba untuk membantu Nadhira memecahkan bantul kalung yang ada dilehernya itu.


Nimas tidak mampu untuk memecahkannya seorang diri, hal itu langsung membuat keduanya ikut serta membantunya. Jiwa mereka melebur menjadi satu, dan terciptalah kekuatan yang cukup kuat dan dahsyatnya, dalam proses penghancuran itu Nadhira merasakan sakit yang teramat sangat didadanya.


Tubuhnya masih melayang diudara saat ini, Nadhira pun memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri, penyatuan jiwa tersebut pun masih tidak mampu untuk menghancurkan bandul kalung itu. Tiba tiba sosok Pangeran Kian dan juga Nyi Ratih muncul disana, keduanya pun lalu membantu untuk melenyapkan bandul tersebut.


"Akh... Ini sangat sakit sekali," Pekik Nadhira yang merasakan nyeri yang teramat sangat mendalam.


"Bertahanlah, kita akan mengakhiri semuanya sampai disini," Ucap Pangeran Kian kepada Nadhira.


Nadhira pun menganggukkan kepalanya dengan susah payahnya, Nadhira pun membentangkan tangannya dan memejamkan kedua matanya seraya menikmati rasa sakit yang ada didadanya itu.


Rasa sakit itu tidak mampu tertahankan lagi, tubuhnya nampak begitu lemah saat ini. Ia merasa bahwa semakin lama tubuhnya seakan akan terus menuju kedasar jurang itu, keringatnya itu terus bercucuran dari dalam tubuhnya itu.


Duarr...


Tiba tiba tiba terdengar sebuah bunyi ledakan dari kalung yang dipakai oleh Nadhira itu, bunyi ledakan tersebut pun langsung diikuti dengan Nadhira yang memuntahkan seteguk darah dari dalam mulutnya itu, pandangannya mulai memburam kesadarannya perlahan lahan mulai menghilang.


Permata itu langsung meledak begitu saja, dan diikuti oleh jiwa jiwa mereka yang perlahan lahan musnah. Jiwa Nimas, Dilham, Pangeran Kian, Panji, Nyi Ratih, dan Nyi Detla pun lenyap begitu saja.


Disaat yang bersamaan itu, Rifki juga ikut serta memuntahkan seteguk darah. Hancurnya permata iblis tersebut juga telah membuat keris pusaka xingsi ikut lenyap bersamanya, jiwa jiwa pendahulunya pun ikut musnah dan mereka tidak akan mampu lagi untuk muncul didunia ini.


Nadhira yang tidak sadarkan diri itu pun perlahan lahan mulai terjatuh kembali, jiwa Nimas yang tersisa itu pun membawa tubuh Nadhira kedasar jurang dengan perlahan lahan, setelah Nadhira telah sampai didasar jurang dengan selamat, jiwanya itu langsung lenyap begitu saja.


Nadhira pun perlahan lahan mulai membuka kedua matanya disaat merasakan sesuatu yang menggeliat dikakinya itu, ia langsung bangun dari pingsannya. Ia melihat adanya seekor kelinci hutan ditempat itu yang membangunkannya.


Akan tetapi, kelinci itu langsung lari ketika Nadhira akan menangkapnya begitu saja. Ia baru menyadari bahwa dirinya berada didasar jurang dengan selamat saat ini, ia mengira bahwa dirinya tidak akan pernah selamat ketika jatuh dari ketinggian, tapi hal itu salah dan justru dirinya mendarat dengan keadaan baik baik saja.


Nadhira pun bangkit dari duduknya, ia tidak menyadari bahwa kalung miliknya terjatuh begitu saja ditempat itu. Nadhira lalu melangkah pergi dari tempat tersebut untuk meminta bantuan entah kepada siapa, setelah cukup lama melangkah tiba tiba sebuah batang pohon membuat bajunya tersangkut.


Nadhira pun lalu menariknya begitu saja sehingga membuat bajunya itu sobek dan akhinya ditemukan oleh anggota Gengcobra. Setelah cukup lama melangkah hingga matahari telah tenggelam akhinya dirinya menemukan sebuah rumah, dirinya telah melangkah jauh beberapa puluh kilo meter sampai bertemu dengan sebuah gubuk kecil.


"Assalamualaikum," Ucap Nadhira dengan lemahnya sambil mengetuk pintu rumah itu.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wa bharakatuh" Jawab seseorang dari dalam rumah.


Muncullah seorang wanita paruh baya dari dalam rumah tersebut, wanita paruh baya tersebut sangat terkejut ketika melihat seorang wanita yang datang dirumahnya dengan pakaian yang telah bersimbah darah, dan bahkan darah darah tersebut telah mengering.


"Astaghfirullah!" Seru wanita paruh baya tersebut ketika melihat Nadhira.


"Bolehkah saya meminta minum? Saya haus," Ucap Nadhira seperti sedang menahan rasa sakit.


"Silahkan masuk, Mbak."


Wanita paruh baya tersebut pun memberi jalan untuk Nadhira dan mempersilahkan Nadhira untuk masuk kedalam rumahnya, ketika Nadhira melangkah masuk mendadak kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai berkunang kunang.


Nadhira pun memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing itu, beberapa detik kemudian dirinya terjatuh tidak sadarkan diri, dan dirinya tidak mengetahui apa yang terjadi selanjutnya itu.


*Flash back off*


"Dan kurang beberapa minggu lagi, kau akan lahiran," Ucap Wanita paruh baya tersebut, panggil saja namanya adalah Bu Siti.


Bu Siti adalah seorang janda beranak satu, dan dirinya tinggal disebuah gubuk yang berada didesa terpencil. Anak Bu Siti bernama Siska dan semenjak Nadhira tinggal bersama mereka, Siska seperti saudara angkat baginya.


Dengan senang hati, Bu Siti telah menganggap Nadhira sebagai anaknya sendiri. Mereka bertiga tinggal dalam keluarga yang sederhana, akan tetapi mereka tidak pernah mengeluh akan kekurangannya itu, mereka justru bersyukur karena adanya Nadhira diantara mereka.


"Aku takut, Bu. Aku takut tidak bisa melahirkan anak ini dengan normal," Ucap Nadhira tiba tiba merasa sedih saat ini.

__ADS_1


"Kenapa seperti itu?" Tanya Bu Siti dengan penasarannya.


"Aku hanya memiliki satu ginjal, dan Dokter pernah bilang bahwa melahirkan dengan satu ginjal itu sangat sulit untuk lahiran normal. Aku tidak bisa kembali kepada suamiku, aku tidak ingin suami dan anakku akan celaka nantinya."


"Serahkan semuanya kepada Allah, semoga Allah memberikan kelancaran dalam proses melahirkan nantinya. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah,"


"Aamiin."


Keluarga tersebut memang sederhana, akan tetapi mereka sangat kaya dalam berilmu agama. Mereka dipandang sebagai keluarga terhormat didesa tersebut, bahkan Siska yang masih berusia 20 tahun itu pun memakai sebuah pakaian syar'i dan bercadar.


Meskipun mereka tinggal didesa, akan tetapi mereka tetap menjaga kehormatan seorang wanita. Melihat itu kadang kadang membuat Nadhira merasa insecure karena dirinya bahkan tidak memakai jilbab didalam rumah itu. Sudah hampir 6 bulan dirinya tinggal bersama mereka, dan perlahan lahan Nadhira juga terpengaruh untuk memakai jilbab.


"Kak Dhira, ini aku habis belanja dipasar. Aku lihat ada pakaian yang lucu untuk anak Kakak nantinya, jadi aku belikan deh," Ucap Siska yang baru tiba dari pasar.


Memang keluarga mereka cukup sederhana, akan tetapi mereka seperti tidak kekurangan suatu apapaun. Siska juga sudah bekerja disebuah pabrik rumahan yang berada didesa sebelah, sementara Siti adalah seorang petani didesa tersebut.


"Coba sini Kakak lihat," Ucap Nadhira.


"Ini Kak, bagus kan?" Ucap Siska sambil menyerahkan sepasang baju anak bayi yang sangat imut kepada Nadhira.


Melihat itu langsung membuat Nadhira tersenyum, Siska yang melihat Nadhira tersenyum itu pun ikut tersenyum dibalik cadar hitamnya. Ia sangat yakin bahwa Nadhira menyukai apa yang telah dibelikannya itu.


"Bagus banget, Sis. Terima kasih ya," Ucap Nadhira.


"Iya Kak, memang harganya tidak mahal, tapi aku yakin kalo kualitasnya bagus."


"Iya Kakak tau kok. Oh iya, setelah lahiran nanti, Kakak mau merubah identitas Kakak, jadi jangan panggil Dhira lagi."


"Kenapa Kak?" Tanya Siska yang tidak paham dengan maksud dari Nadhira itu.


"Kakak tidak ingin, ada orang yang tau bahwa Kakak masih hidup. Biarkan mereka mengira bahwa Kakak sudah mati, karena Kakak tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak yang ada diperut Kakak ini."


"Iya Kak, Siska paham kok. Jadi Siska harus panggil Kakak bagaimana?"


"Panggil saja Liana, atau Ana."


Nadhira pun memutuskan untuk mengubah identitasnya itu, mereka pun bangkit dari duduknya dan segera menuju ke dapur rumah tersebut. Mereka akan mengadakan syukuran atas 7 bulannya bayi yang ada didalam perut Nadhira saat ini.


Mereka masak cukup banyak untuk mengundang seluruh penduduk yang ada didesa terpencil itu, desa tersebut hanya terdapat 25 rumah saja. Memang desa itu adalah desa yang kecil sekaligus jauh dari desa desa yang lainnya akan tetapi penduduk disana cukup ramah dan saling menguatkan satu sama lain.


Mereka tidak hanya mengadakan syukuran atas 7 bulannya bayi yang ada di dalam perut Nadhira saja, melainkan ikut serta mengubah identitasnya itu. Liana adalah nama samaran dari Nadhira, nama tersebut diambil dari nama panjangnya yakni Novialiana yang disingkat menjadi Liana.


Nadhira benar benar ingin menyembunyikan identitasnya itu, agar tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya masih hidup sampai saat ini. Ia membiarkan bahwa keluarganya berpikir bahwa dirinya telah meninggal, dan tidak akan pernah kembali lagi.


Keputusan Nadhira tidak bisa dirubah, dirinya tidak ingin kehilangan anak yang ada didalam kandungnya saat ini, dia tidak mau nasib sama yang akan dialami oleh anaknya seperti sebelumnya. Nadhira tidak mau kehilangan anak tersebut, dia tidak mau kehilangan anaknya untuk yang kedua kalinya.


"Kamu bener bener tidak mau kembali kekeluargamu, Nak?" Tanya Siti kepada Nadhira.


"Tidak Bu, aku tidak bisa membiarkan dia kenapa kenapa hanya karena aku. Aku tidak mau sesuatu terjadi kepadanya,"


"Tapi dia berhak tau siapa anaknya, dan anakmu nantinya bakalan bertanya siapa Bapaknya. Lalu akan kau jawab seperti apa?"


"Katakan saja kepada anakku nantinya, Ayah dan Ibunya telah berpisah, dan tidak tau kemana perginya Ayahnya itu,"


"Apakah kau mau anakmu membenci Bapaknya sendiri? Bagaimana jika dia tau siapa Bapaknya yang sebenarnya,"


"Itu soal nanti, Bu. Untuk saat ini, biarkan semuanya seperti ini, aku tidak mau membahayakan nyawa anak dan suamiku."


"Kau telah berkorban begitu banyak, Nak. Dan kau berhak untuk bahagia bersama suamimu,"


"Bagiku, melihat dia baik baik saja sudah cukup, Bu. Aku tidak bisa membiarkan dirinya celaka, aku sangat mencintainya, dan akan melakukan apapun untuk dirinya."


"Ibu tidak tau apa yang telah terjadi dengan kalian, dan semoga kalian segera dipersatukan oleh takdir,"

__ADS_1


"Aamiin."


__ADS_2